“Aku gak suka kamu deket-deket Sivia, yel!” Kata-kata yang sedari tadi terasa tertahan dalam hatinya akhirnya dikeluarkannya juga.
“Yas! Kamu jangan gitu dong! Sivia itu temen aku, sahabat aku! Harusnya kamu sebagai pacar aku bisa ngertiin aku dong!” Cowok bertubuh tegap itu membalas perkataan sang pacarnya itu.
“Tapi, Sivia itu cewek!”
“Terus kenapa? Aku tau dia cewek! Kamu tuh kenapa sih yas? Posesif banget!”
“Aku cuma takut, Yel! Aku takut!” Mata beningnya mulai berkaca-kaca. “Aku takut kehilangan kamu..”
“Aku gak suka. Terlalu lebay. Kayak sinetron tau gak.” Gabriel memandang Ayas, kekasihnya dengan tatapan dingin.
“Aku serius yel!”
“Terserah kamu! Aku mau pulang! Capek!” Akhirnya Gabriel pun melangkah meninggalkan koridor sekolahnya itu.
***
“Sialan banget tau gak? Lagi-lagi Sivia, Shill! Dia lagi yang bikin hubungan gue sama Iyel jadi berantem terus!” Ayas mengeluarkan keluh kesahnya pada sahabatnya.
“Kurang ajar banget sih tuh cewek! Maunya apa coba? Bikin hubungan orang berantakan aja!” Gadis dengan rambut hitamnya yang terurai panjang itu berceloteh.
“Kasih pelajaran aja kali! Susah amat! Amat aja gak susah!” Tiba-tiba gadis dengan wajah blasteran yang kental bergabung dalam percakapan itu.
“Tapi pris, kasih pelajaran apa?” Ayas mulai gelisah.
“Gue tau apa yang harus kita lakuin..” Gadis dengan wajah blasteran yang dipanggil ‘pris’ itu tersenyum misterius. Ia lalu menyuruh kedua sahabatnya mendekat.
***
“Vi, gimana? Proposalnya udah jadi?” Tanya Gabriel pada gadis di depannya.
“Belom nih, tapi aku janji hari ini bakal jadi deh.” Gadis dengan lesung pipi itu tersenyum.
“Vi, sambil lo kerja sambil gue curhat boleh dong ya..” Gabriel mengambil kursi di dekatnya dan duduk di depan gadis itu.
“Hmm... Oke! Cerita aja lah..” Pandangan gadis itu tidak terlepas dari layar monitor komputer, namun ia masih sempat memberikan senyuman pada Gabriel.
“Gini Vi... Gue kemaren berantem lagi sama Ayas..” Gabriel memulai ceritanya.
“Loh? Kenapa lagi yel? Gara-gara aku lagi ya?” Sivia, gadis yang duduk di depan layar monitor komputer itu memandang Gabriel sekilas lalu fokus pada pekerjaannya lagi.
“Eh, bukan gitu juga kali, Vi... Emang dia yang over possesif banget!” Gabriel mendesah.
“Iyel...” Terdengar suara lembut dari ambang pintu ruangan OSIS.
Seketika Gabriel dan Sivia langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu. Saras , atau yang biasa dipanggil Ayas itu tengah berdiri di ambang pintu.
Gabriel memberikan isyarat pada Sivia untuk meminta izin menemui Ayas. Kemudian Sivia mengangguk lalu tersenyum pada Ayas.
***
“Hey Vi! Sendirian aja lo?” Seseorang masuk ke ruangan OSIS tanpa permisi pada saat Sivia merapikan mejanya.
“Eh, Shill.. Iya nih hehe..” Sivia tersenyum lalu melanjutkan merapikan mejanya.
“Emang... Jadi pengurus OSIS gak capek ya?” Tanya Shilla. Lagi-lagi Sivia tersenyum.
“Kalo kita niat, ngelakuin segala sesuatu itu ga ada yang capek..”
“Oh... Hehe..” Shilla menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
“Shill, kalo boleh tau... Kamu ada keperluan apa ya kesini? Hehe ya bukannya gimana sih.. Tapi tumben aja gitu...” Sivia jadi tidak enak sendiri.
“Gini Vi.. Lo mau gak gabung di tim cheers kita?”
“Tim cheers? Maaf hehe... Aku belom berminat ikutan cheers..” Lagi-lagi Sivia mengeluarkan senyum manisnya.
“Loh? Kenapa? Ayo lah, Vi... Dengan lo masuk tim cheers, lo bisa jadi populer loh! Disukain banyak cowok, Banyak temen, wah banyak deh pokoknya! Ikut aja yuk?” Shilla tetap memaksa Sivia agar bergabung dengan tim cheers nya.
“Maaf ya, Shill... Mungkin lain kali aja ya..” Sivia menolak sehalus mungkin.
“Hmm... Ya udah deh, Vi. Gue juga gak bisa maksa lo. Kalo lo berubah pikiran, dateng ke kelas gue aja yaa..” Shilla tersenyum.
“Oke deh. Makasih yaa..”
“Sip. Sama-sama.”
***
Sivia mengambil tasnya dan segera berdiri setelah semuanya beres. Kemudian ia berjalan menuju pintu ruang OSIS setelah mematikan lampu ruangan itu.
Sekolah sudah sepi. Sore itu hanya tersisa beberapa anak-anak yang masih mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Sivia memandang langit yang terbentang luas di atasnya. Mendung. Kemudian setetes demi setetes air hujan turun. Anak-anak yang sedang bermain sepak bola langsung berlari untuk berteduh.
“Duh... Hujan nih. Masa aku harus nunggu sampai hujannya berhenti?” Sivia mendesah kecewa.
“Ikut gue aja kali, Vi.” Sebuah suara menyapanya.
“Iyel? Kamu belom pulang?”
“Belom. Vi, Gue putus sama Saras..”
“Hah?!! Iyel! Kok...........”
“Iya, dan gue yang mutusin. Udah yuk cabut!”
“Aku beneran gak apa-apa nih nebeng kamu?” Tanya Sivia hati-hati.
“Ya elah Vi, santai aja lagi.. rumah kita kan searah ini..”
“Hmm... Ya udah deh” Sivia mengangguk sambil tersenyum. Gabriel terpana sesaat. Sivia memang sering tersenyum padanya. Tapi entah kenapa, senyuman Sivia kali ini membuat hati Gabriel berdesir.
***
“Gue nggak habis pikir sama dia, Vi. Gue gak ngerti kenapa dia mesti segitunya sih?” Curhat Gabriel saat mereka dalam perjalanan pulang.
“Kamu sama Saras kan udah pacaran hampir tiga bulan, Yel. Kayaknya emang bener gara-gara aku ya? Sumpah deh aku minta maaf ya kalo emang gara-gara aku..” Sivia sangat merasa bersalah. Kemudian ia menunduk.
Gabriel melirik Sivia sekilas lalu tersenyum.
“Udah gak apa-apa kali, Vi. Malah gue seneng banget bisa putus sama dia hehehe... Gue juga udah males lagian.. Dia itu bukan cewek yang baik-baik.” Gabriel menenangkan hati Sivia.
“Kenapa? Kok kamu bilang gitu?”
“Kalo lo tau... Sebelom gue pacaran sama dia, gue sering ke clubbing gitu.. Apalagi setelah gue pacaran sama dia, gue tambah sering kesana. Ya hitung-hitung buat ngilangin stress juga sih..” Gabriel menceritakan kehidupannya sebelum dan selama ia menjalin hubungan dengan Saras.
“Hmm.. Terus? Kenapa kamu bilang dia cewek gak baik kalo memang sebelum kamu pacaran sama dia pun kamu udah kayak gitu?” Sivia menatap Gabriel.
“Dulu gue sempet mau berhenti kayak gituan, Vi. Tapi gara-gara gue keburu jadian sama dia, gue malah jadi tambah parah.”
“Oh... Yaudah kalo gitu kamu berhenti aja mulai sekarang. Gak baik loh ke clubbing gitu, apalagi kalo sampai kamu mabok berat. Kamu gak tau kan apa yang bakal terjadi sama kamu setelah itu?” Sivia tersenyum. “Lagian kalo kamu stress, kamu bisa cerita masalah kamu itu ke siapapun kan? Bahkan kamu juga bisa cerita ke aku tanpa kamu harus mabok-mabokan gitu..” Sivia tahu. Sebenernya Gabriel adalah cowok yang baik. Hanya saja ia terbawa oleh lingkungan sekitarnya.
“Hmm.. Oke deh. Gue gak bakal dateng ke tempat itu lagi. Hehehe... Makasih ya, Vi. Lo emang baik banget.” Sebersit rasa kagum muncul di hati Gabriel.
“Ah, gak usah berlebihan gitu hehe..” Sivia menunduk kembali. Gabriel menatap Sivia yang sedang menunduk. Terlihat semburat merah yang muncul di pipinya.
***
“Makasih ya, Yel, udah nganterin aku pulang. Nggak mampir dulu?” Tanya Sivia begitu mereka sampai di depan sebuah rumah yang terkesan minimalis namun sangat sepi.
“Iya.. Sama-sama, Vi. Mm.. Gak usah dulu kali ya. Maybe next time.” Gabriel tersenyum.
“Oke. Sekali lagi thanks ya!” Sivia berseru. Gabriel mengangguk dan tersenyum untuk yang kesekian kalinya.
Gabriel menutup kaca mobilnya lalu segera pergi dari hadapan gadis itu.
Gabriel tersenyum. Ia sangat beruntung mempunyai teman atau mungkin sahabat yang sangat baik. Dan ia baru menyadari satu hal, Sivia sangat cantik.
***
“Demi apa lo putus?!! Gila ya emang tuh cewek!” Pricila menggebrak meja.
“Iya, Priss. Gue juga gak ngerti gue harus ngapain lagi.” Saras terlihat stress sore itu.
“Aduh, Yas. Gimana dong nih, gue juga belom berhasil ngebujuk dia biar masuk tim cheers kita.” Shilla terlihat khawatir.
“Guys, gue punya ide lagi. Dan semoga aja kali ini kita berhasil.” Prissy tersenyum penuh makna.
***
“Vi, kemaren kok keliatannya rumah lo sepi banget sih? Pada kemana?” Tanya Gabriel di ruang OSIS siang itu.
“Mmm... Emang rumah aku selalu sepi.”
“Pada kemana? Nyokap? Bokap?”
“Mama sama papa kerja. Jarang pulang.” Sivia menjawab tenang.
“Oh.. Maaf ya aku gak bermaksud apa-apa loh. Ya mungkin aja lo tersinggung. Sorry yaa..” Gabriel lama-lama jadi tidak enak. Masa iya Sivia berbicara sopan dengan aku-kamu nya sementara Gabriel menjawab dengan gue-elo nya. Kesannya jadi tidak sopan.
“Gak apa-apa iyel... Kamu gak salah apa-apa kooook..”
“Eh iya, aku suka curhat ke kamu, tapi kamu kok gak pernah curhat ke aku sih? Ayo doong cerita dong!”Pinta Gabriel setengah memaksa.
“Mau cerita apa? Aku lagi ngga suka sama cowok manapun.” Sivia tersenyum dan langsung terlihat lagi semburat merah di pipinya.
“Gak usah cerita tentang cowok juga nggak apa-apa kok, Vi.” Kata Gabriel.
“Mungkin ini saatnya, aku harus cerita ke iyel. Semoga dia bisa kasih solusi buat aku..” Batin Sivia.
“Aku jarang banget ketemu mama sama papa aku. Dari kecil aku emang jarang banget ketemu mereka..” Sivia menghentikan men-stapler kertas pengumuman dari OSIS tersebut.
“Loh? Kenapa? Kok bisa?” Gabriel berhenti mencatat dan menatap Sivia sekilas.
“Jadi ceritanya gini. Aku itu bukan yang diharapin dari mereka. Mereka pengen anak cowok, tapi malah aku yang ada. Yaa mereka sih ngga ngebuang aku kayak yang di sinetron-sinetron gitu. Cuma... Aku kayak nggak diperhatiin gitu sama mereka. Aku juga gak pernah ngerasain kasih sayang mereka. Kadang aku iri sama anak-anak lain. Mereka dapet kasih sayang yang layak mereka dapetin. Kenapa aku nggak? Tapi aku gak mau negative thinking juga sih.. Buktinya mereka masih kasih aku tempat tinggal,makanan,sekolah, dan fasilitas lainnya.. Gak kayak yang di sinetron-sinetron itu.” Sivia bercerita sambil sedikit malu-malu.
“Oooh jadi gitu. Hmm kamu sabar aja ya, Vi. Lagian aku rasa disini banyak kok yang sayang sama kamu.”
Lagi-lagi Sivia tersenyum. Dan untuk kesekian kalinya hati Gabriel berdesir.
***
Sivia baru akan pulang setelah menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai wakil ketua osis hari itu. Gabriel ada latihan basket sehingga tidak dapat mengantar Sivia pulang. Sebenarnya sih, Gabriel ingin mengantar Sivia pulang dan tidak ikut latihan siang itu. Namun, Sivia memaksa Gabriel untuk tetap latihan. Akhirnya Gabriel membiarkan Sivia pulang sendiri setelah memastikan semua baik-baik saja.
Sivia sudah sampai di gerbang sekolahnya ketika seseorang menariknya dan menutup mulutnya. Sivia mencoba memberontak namun tidak bisa.
***
“Oh. Jadi sekarang lo sama Gabriel ya.” Shilla menatap Sivia tajam. Sivia menggeleng takut tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun.
“Lo tau nggak sih, Vi, kalo apa yang lo lakuin itu SALAH BESAR!” Pricila mendekati Sivia. “Lo secara gak langsung udah ngerusak hubungan Gabriel sama Saras! NGERTI LO?!!”
Sivia kaget. Ia sangat ketakutan. Ia merasa hidupnya tidak seperti sinetron-sinetron Indonesia yang ditayangkan di TV. Namun khusus untuk kali ini, ia merasa adegan ini lebih mirip adegan sinetron yang sering ditonton Bik Minah setiap malam.
“Sekarang biarin Saras ngelakuin apa yang seharusnya dia lakuin ke lo. Dia punya hak untuk hukum lo dengan CARA APAPUN.” Shilla ikut mendekati Sivia.
Kaki Sivia bergetar. Ia tidak berani menatap mata teman-temannya itu.
“Vi, gue sayang sama Gabriel. Gak seharusnya lo ngerebut dia dari gue. Bagi gue... Dia itu hidup gue, VI.” Saras mendekati Sivia dan menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Gue gak bakal ngebiarin lo deket sama dia!”
Saras mengangkat tangannya. Mirip seperti adegan sinetron jika pemeran antagonis akan menampar pemeran protagonis.
Sivia memejamkan matanya. Dalam hati ia berdoa dengan sungguh-sungguh.
“Ya tuhan, aku mohon lindungi aku. Apapun yang akan mereka lakukan, tolonglah lindungi aku.”
Saras melayangkan tamparannya pada Sivia. Tamparan itu belum mendarat sempurna di pipi Sivia saat seseorang menahan tangan Saras.
“Apa-apaan lo? Jangan pernah ganggu dia lagi atau lo semua bakal berhadapan sama gue!!” Gabriel mengancam Saras, Shilla, dan Pricila. Ya. Gabriel lah yang menahan tangan Saras tadi.
Saras, Shilla, dan Pricila menggigit ujung bibir mereka.
Gabriel segera menarik tangan Sivia yang masih shock.
***
“Kamu tuh. Kan tadi aku udah bilang, kamu langsung pulang. Ngapain kamu sore-sore gini kamu masih di sekolah? Untung tadi aku udah selesai latihan pas denger suara Pricila marahin kamu.” Kata Gabriel sambil menyalakan mesin mobilnya.
Sivia sama sekali tidak punya kekuatan untuk menjawabnya. Ia masih sangat shock dengan apa yang baru saja dialaminya. Namun dalam hati ia pun sangat bersyukur doanya telah dikabulkan oleh tuhan.
***
“Sekarang cerita, apa yang udah mereka bilang ke kamu. Semuanya.” Gabriel membuka suara ketika mereka sampai di depan rumah Sivia. Sivia menggeleng.
“Mereka gak ngomong apa-apa, Yel. Aku yang salah. Emang seharusnya aku nggak terlalu deket sama kamu. Jadi mereka gak curiga.” Sivia mulai meneteskan air matanya yang langsung dihapus oleh Gabriel.
“Kamu nggak salah apa-apa, Vi. Mereka yang salah! Lagian Saras udah bukan siapa-siapa aku lagi kan? Terserah aku dong mau deket sama siapa aja. Lagian kita kan Cuma temenan!” Gabriel menenangkan Sivia.
“Nggak, Yel. Mereka nggak salah. Aku yang salah. Biarin aja tadi Saras tampar aku. Itu hak dia, Yel.” Sivia meneteskan air matanya lagi.
“Bukan, Vi! Dia gak berhak nampar lo! Lo nggak salah apa-apa, Sivia. Gue... Gue kasian sama lo.” Gabriel menatap mata Sivia yang terluka.
“Aku nggak butuh belas kasihan kamu, Gabriel. Aku gak butuh dikasihanin. Tanpa kamu pun aku masih bisa hidup!” Sivia meninggikan nada suaranya. Ia membuka pintu mobil Gabriel lalu turun dan masuk ke rumahnya.
“Shit! Saras emang keterlaluan! Ergh! Ini semua salah gueeeeee!!” Gabriel memukul setir mobilnya. Ia merasa kehilangan semua. Kehilangan senyum Sivia.. Kehilangan tatapan mata Sivia yang lembut.. Kehilangan semburat merah yang terkadang muncul di wajah Sivia.
- To Be Continued-
Haloooooooooooooooooo semua saya muncul dengan cerbung saya lagi haha. Kali ini jangan khawatir saya tidak menyelesaikannya wkwk soalnya semua part sudah tersimpan rapi di microsoft word :p
anyway keep comment tetep yaaa masih butuh komentar dan saran. Lewat blogwalking, twitter, FB, YM, MSN, BBM, Fme,dll. boleeeeh. Ditunggu!
Cheers,
Valisha Nabila
Saturday, March 26, 2011
Just The Way You Are (Part 1)
Posted by Valisha Nabila at 4:37 PM 0 comments
Subscribe to:
Comments (Atom)

