THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Tuesday, May 17, 2011

Love Risk (Part 5)

“...Kelompok 3 itu Ashilla, Sivia, Obiet, dan Mario.”
Shilla sudah tidak dapat berbicara apa-apa lagi. Namun ia juga senang bisa satu kelompok dengan Sivia. Apalagi dengan Obiet yang notabene nya pintar dalam berbagai bidang.
“Jadi yang disebutkan tadi adalah kelompok untuk mencari jejak dan... jurit malam. Sekarang kelompok 1 silakan memulai mencari jejaknya.” Ucap Bu Ira.
Kelompok 1 segera beranjak dari pekarangan villa.
“Aduh males banget nih kayak beginian!” Dumel Rio.
Shilla hanya menoleh sekilas lalu melipat kedua tangannya.
Kini tiba giliran kelompok 3 untuk mulai mencari jejak.
“Eh, gue kan sakit-sakitan gitu... Jadi maaf ya kalo ntar malem gue gak bisa ikut jurit malam. Ya semoga sih bisa.” Ucap Obiet ketika mereka mulai keluar dari halaman villa.
“Loh? Kok gitu? Yah ntar gak ada yang pinter baca peta dong?” Sivia menatap Obiet dengan penuh harap.
“Ya gue juga gak terlalu jago kali. Makanya semoga aja gue bisa ikut.” Timpal Obiet.
Pos-pos mereka lewati dengan baik dan sukses. Dari kelompok 3 yang bersemangat tampaknya hanya Obiet saja. Sivia terkadang bersemangat. Sivia paling bersemangat saat mereka sampai di pos 3. Disana yang jaga posnya adalah Gabriel.
“Udah ngape, Vi. Gak usah norak please ya!” Ujar Shilla saat mereka berjalan mendekati pos 4. Yang terakhir pos 5.
“Yeee namanya juga lagi falling in love, Shill.” Sivia menimpali.
“Ya udah lah. Gak usah ribut.” Obiet menengahi.
Mereka menyelesaikan sisa pos-pos itu dengan sempurna dan kembali ke villa dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
“Kalian sekarang boleh balik ke kamar masing-masing. Jangan lupa nanti sore latihan.” Pak Duta memberi instruksi selanjutnya pada keempat anak didiknya itu. Mereka mengangguk dan berpisah di tempat itu juga.
***
“Lo lagunya apa, Shill sama Rio?”
“Cinta Takkan Salah.” Jawab Shilla sambil memutar kunci kamar mereka.
“Loh? Lagunya Kak Gita sama Kak Derby?” Sivia melangkah masuk ke kamar menyusul Shilla.
Shilla hanya mengangguk. Ia membuka kulkas, Menuangkan isinya dan meneguknya.
“Kalo lo lagu apaan?” Tanya Shilla.
“Ehm... Masih Cinta.” Jawab Sivia.
“Waw! Hahaha ati-ati tuh CLBK sama apin.” Canda Shilla.
“Ah apaan sih gak bakalaaaan! Gue kan udah sama Gabriel!” Sivia menerawang sambil tersenyum sendiri.
Drrrtt! Drrrtt!
Sivia mengambil HP nya yang bergetar.

Obiet: Vi, gw g di blhin ikut jurit mlm sm bu wnda. Gw g enak badan soalnya. Tktny gw skt.

Sivia mendesah.
“Yah, Shill. Obiet gak bisa ikut jurit malam.”
“Lah? Terus gimana dong?” Shilla mulai panik. “Gue gak bisa sama sekali loh baca peta serius deh!”
“Sama. Gue juga!” Sivia menimpali. “Coba tanya Rio ya. Eh, coba deh lo bbm-in dia.”
“Kenapa mesti gue? Kenapa gak lo aja?” Tanya Shilla.
“Ya elah rugi bener perasaan. Sini deh gue yang bbm-in.” Sivia hampir merebut HP Shilla ketika Shilla menahannya.
“Iya udah. Biar gue aja.”

Ashilla Zahrantiara: Nyuk, lo bs baca peta gak?
Rio Haling: Bisa lah. Emang gw bego kyk lo?
Ashilla Zahrantiara: Bnr? Obiet g bs ikut ntr mlm. Dia skt.
Rio Haling: Y udh lah gw jg bs kali bca gtuan doang.


“Vi, Rio bisa baca peta.” Kata Shilla mulai tenang.
“Siapa? Tadi lo ngomong apa? Oh jadi sekarang si ‘kunyuk’ udah berubah nama ya jadi ‘Rio’?” Canda Sivia.
“Maksud gue, Si Kunyuk bisa baca peta.” Shilla menghampiri Sivia di kasurnya.
“Huatchim! Iya deh apa kata lo! Duh kok gue jadi flu gini ya?” Sivia mengambil tissue di tasnya.
“Yah jangan dong!” Shilla merengek.
“Jangan apaan? Huatchim!” Sivia kembali bersin. Matanya berair.
“Tadi perasaan lo baik-baik aja deh!” Shilla menatap Sivia dengan cemas.
“Gue emang udah gak enak badan dari semalem, Shill. Gak tau nih baru bersin aja.”
Shilla meraba kening Sivia.
“Lo panas, Vi!” Seru Shilla bertambah cemas.
Handphone Shilla bergetar.

Rio Haling: Latihan woy! Skrg!

“Vi, lo latihan gak?” Tanya Shilla.
“Huatchim... Bilang Alvin latihan bareng guenya besok aja. Huatchim... Gue lagi gak enak badan.” Jawab Sivia.
“Tapi... Lo ikut jurit malam kan, Vi?” Shilla menyelimuti Sivia.
“Liat nanti.” Sivia menutupi seluruh tubuhnya. “Thanks, Shill. Good luck latihannya.”
Shilla mengangguk. “Ati-ati ya, Vi.”
***

Ku kira benar
Kau kira salah
Kita berbeda kita tak sama
Tak pernah searah

Ku bilang iya
Kau bilang tidak
Selalu begitu tak pernah setuju
Tak pernah menyatu

Namun ternyata
Tak pernah kukira
Disini kita memulai cerita

(*) Perbedaan jadi tidak berarti
Karena hati telah memilih
Di mataku kita berdua satu
Apapun yang mengganggu
Cinta takkan salah

Ku ingin yang ini
Ku ingin yang lain
Coba tuk mengerti
Coba tuk pahami
Saling melengkapi

Kini ternyata
Tak pernah kukira
Disini kita memulai cerita

(Back to *)


Shilla meneguk minumannya.
Rio masih terpukau dengan suara Shilla. Gadis itu memang sangat bertalenta.
“Apaan lo liat-liat?” Tanya Shilla menaruh minumnya di meja kecil.
“Suara lo bagus banget sumpah!” Jawab Rio jujur.
“Hahaha iya dong!” Shilla menganggap Rio hanya bercanda.
“Serius. Bagus parah deh.” Kali ini Rio menyelipkan nada bersungguh-sungguhnya.
“Hahaha thanks ya! Suara lo juga bagus kok!” Shilla tersenyum. “Eh, beneran nih lo bisa baca peta?”
“Bisa lah kalo sedikit-sedikit. Obiet sakit?” Tanya Rio.
“Iya. Dia gak dibolehin ikut sama Bu Winda.” Shilla terdiam sejenak. Tiba-tiba teringat pada sobat kentalnya itu. “Kalo Sivia nggak bisa juga gimana?”
“Loh? Emang Sivia kenapa?” Rio meneguk minumannya.
“Tadi dia bersin-bersin. Matanya berair. Badannya juga panas.”
“Shilla, Sivia mana ya?” Tanya seseorang yang menghampiri Shilla. Alvin.
“Sivia sakit, Vin. Dia bilang, besok aja latihannya.”
“Sivia sakit? Sakit apa?” Tanya Gabriel yang tiba-tiba muncul di belakang Alvin.
“Flu, kak. Badannya juga panas.” Jawab Shilla.
Gabriel manggut-manggut.
“Oh... Ya udah deh gue duluan.” Alvin berlalu pergi.
“Ada pesen buat Sivia, kak?” Tanya Shilla. Gabriel menggeleng.
“Eh? Nggak usah hehe udah lanjutin aja. Good luck kalian berdua!” Gabriel berlalu pergi. Shilla menatapnya aneh.
***
“Tadi gue ketemu Kak Gabriel, Vi. Dia nanya lo sakit apaan.” Shilla membuat susu hangat untuk Sivia.
“Iya? Dia tau darimana gue sakit?” Sivia tidak segirang biasanya.
“Gak tau. Mungkin dia nguping pas gue lagi ngomong sama Alvin.” Shilla memberikan susu hangat itu pada Sivia.
“Thanks.” Ucap Sivia.
TOK! TOK!
“Bentar ya gue buka pintu dulu.” Shilla beranjak dari kasur Sivia dan membuka pintu villanya.
“Shilla, Sivia. Ayo ke aula! Ada briefing buat jurit malam.” Bu Winda tersenyum.
Shilla melirik jam tangannya. 19.00.
“Bu, sini deh.” Shilla mempersilakan Bu Winda masuk.
“Ada apa, Shilla?” Tanya Bu Winda.
Shilla duduk di kasur Sivia.
“Bu, Sivia... Sakit kayaknya.”
Bu Winda memegang kening Sivia.
“Sivia? Kamu panas banget. Kamu gak bisa ikut jurit malam. Bisa-bisa nanti pihak sekolah yang kena.” Kata Bu Winda.
“Yaaa makanya saya ngajak ibu kesini.” Shilla geram lama-lama.
“Kamu ikut ibu ke ruangan khusus anak-anak yang kurang enak badan ya, Sivia. Cuaca disini memang labil jadi banyak yang sakit.” Bu Winda menyingkapkan selimut yang dipakai Sivia.
“Bu, Kelompok saya Cuma ada saya, Sivia, Obiet, sama... Rio, bu.” Ucap Shilla.
“Lalu?” Tanya Bu Winda.
“Obiet sama Sivia sakit. Saya gimana dong, bu? Masa Cuma.... berdua?”
“Ya sudah lah, Shilla. Mau diapakan lagi. Kita gak bisa maksain anak-anak yang sakit untuk ikutan acara ini. Nanti kalo pada pingsan di tengah jalan malah tambah ribet.” Bu Winda menuntun Sivia keluar dari cottage.
“Tapi aneh deh, Bu. Tadi pagi Sivia masih gak kenapa-kenapa kok!” Shilla berjalan mengikuti Bu Winda dan Sivia.
“Mungkin karena cari jejak tadi siang. Kan ibu bilang cuaca disini labil, Shilla.” Jelas Bu Winda.
Shilla mengunci pintu cottagenya.
“Ya udah deh bu, saya ke aula. Vi, gue duluan ya. Get well soon.” Shilla berjalan menuju aula sendirian.
Shilla mendengar langkah kaki orang ketika sedang berjalan menuju aula. Namun setiap ia berbalik, tidak ada seorangpun disana.
Kali ini Shilla merutuki kenapa jarak cottagenya dengan aula agak jauh.
Hening.
Shilla tiba-tiba merasakan ada sebuah tangan di pundaknya. Shilla memejamkan matanya lalu menoleh ke belakang.
“Actually, gue gak takut. Lo gagal.” Shilla nampak santai ketika mendapati Rio berdiri di belakangnya.
“Sivia mana?” Tanya Rio sambil menahan tawanya.
“Sakit. Jadi gak ikut.” Jawab Shilla.
Rio mengangguk-angguk.
Mereka sampai di aula dan mulai bergabung dengan briefing jurit malam itu.
***

Pukul 22.30
Anak-anak SMA Taruna Harapan berkumpul di depan aula. Berkelompok.
Shilla dan Rio melipat kedua tangan mereka. Menunggu untuk dipanggil dan melakukan 'perjalanan malam hari' itu.

“Kelompok 3...” Panggil Pak Duta setelah selang 5 menit semenjak kepergian kelompok 2.
Rio dan Shilla berjalan menghampiri Pak Duta.
“Cuma berdua?” Pak Duta menaikkan salah satu alisnya.
“Iya pak. Sivia sama Obiet sakit.” Jawab Rio.
“Ini. Petunjuk kalian Cuma ini. Hati-hati.” Pak Duta menyerahkan sebuah peta pada Rio.
“Pak, tapi saya gak terlalu bisa baca peta, Pak.” Ucap Rio.
Shilla mendelik tajam pada pemuda yang berdiri di sebelahnya itu.
‘Katanya nih anak bisa baca peta! Gimana sih? Tau gini gue tadi ikutan sakit dah!’ Rutuk Shilla dalam hati.
“Pengen bisa? Makanya belajar!” Pak Duta menirukan kata-kata di salah satu iklan.
“Ish serius, Pak!” Rio mulai kesal.
“Udah cepetan jalan!” Perintah Pak Duta.
Rio dan Shilla mau tidak mau berjalan keluar dari pekarangan Villa.
“Eh! Lo tuh sebenernya bisa gak sih baca peta?” Tanya Shilla.
“Bisa. Tapi dikit-dikit.” Jawab Rio mulai membuka petanya.
Matanya melebar melihat peta itu.
“Kanan.” Ucap Rio.
“Yakin lo?” Tanya Shilla.
Rio mengangguk yakin.
***
“Eh, serius nih kita kesini?” Shilla mulai cemas. Ia melirik jam tangannya. 23.30.
“Iya....... Mungkin.” Jawab Rio tidak yakin.
Kemudian terdengar daun bergesekkan.
Shilla meraih tangan Rio dan bersembunyi di punggung Rio.
“Yo... Suara apa itu... Gue gak mau mati muda....” Shilla masih terus bersembunyi.
“Ya elah. Cuma daun doang! Katanya pemberani? Gimana sih?”
“Kapan gue bilang gue pemberani?” Tanya Shilla.
“Kapan kek!” Jawab Rio asal.
Shilla melepas tangannya.
“Tau ah! Kesasar nih kita gue yakin!” Shilla mulai merasakan angin malam menembus tulang rusuknya. “Gila! Gue lupa pake jaket!”
Shilla memukul-mukul kepalanya. Menyesali kebodohannya sendiri.
“Kita gimana nasibnya dong nih?” Shilla terdiam. Tidak melanjutkan perjalanannya.
Rio mengamati si peta dengan saksama.
“Coba peta ini kayak petanya dora.” Kata Rio.
“HAAAA lawak lu!” Kata Shilla.
“Duh! Udah gelap banget nih! Gue gak bisa baca ginian!” Keluh Rio.
Shilla duduk di bawah pohon.
“Sini gue liat petanya siapa tau otak gue lebih berat daripada otak lo.” Kata Shilla.
Rio duduk di sebelah Shilla dan menyerahkan peta itu.
Shilla mengamatinya.
“Hmm... Kayaknya kita lagi ada disini.” Shilla menunjuk salah satu lokasi di peta itu.
“Sok tau lo!” Rio kembali merebut peta itu.
“Huatchim... Duh gue kok jadi bersin sih elah.” Shilla merasakan angin malam semakin bertiup lebih kencang.
Rio melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Shilla.
“Lo pake ini aja dulu.” Ucap Rio lembut.
“Lo gimana?” Tanya Shilla.
“Gue mah gampang.” Rio kembali mengamati petanya. “Kita lanjutin besok aja ya, cari jalannya?”
“Hah? Terus? Gimana dong?” Shilla mengeratkan jaket Rio yang hangat pada tubuhnya.
“Gak apa-apa kan?” Rio menatap Shilla lembut. Membuat Shilla salah tingkah.
“Hmm... Gue gak masalah. Gimana kalo kita dicariin sama yang lain?”
“Yang penting kita nemu jalan keluar. Kalo pagi, bakal lebih gampang nemuin jalannya.” Jelas Rio. Shilla mengangguk kecil. Ia memeluk lututnya dan memainkan tanah yang ada di sekitar tempatnya duduk.
Hening selama beberapa saat.
Tiba-tiba, Shilla merasa ikatan rambutnya mengendur. Shilla yang kaget langsung menoleh.
“Ngapain lo ngelepas kuciran gue?” Tanya Shilla pada Rio.
“Lo lebih cantik digerai rambutnya, Shill. Gue lebih suka lo digerai. Lo itu... Cantik.” Rio tersenyum pada Shilla.
Shilla kembali memainkan tanah di sekitarnya. Salah tingkah.
“Apa ada orangtua yang gak sayang sama anaknya?” Tanya Shilla tiba-tiba. Tiba-tiba teringat kedua orangtuanya yang entah berada dimana sekarang.
“Nggak. Semua orangtua sayang sama anaknya.” Jawab Rio.
“Gimana sama orangtua gue?”
“Mereka sayang sama lo, Shill.” Rio menatap Shilla lagi.
“Semoga.” Ucap Shilla pelan.
“Mending lo sekarang tidur. Biar besok bisa ngelanjutin perjalanan lagi.” Kata Rio.
“Tidur? Nggak ah. Gue takut. Kalo ada singa, harimau, atau apapun itu lah gimana? Gue masih pengen hidup. Gak mau mati muda.” Shilla terus nyerocos.
“Santai aja. Gue gak bakalan tidur. Gue jagain lo. Dijamin aman deh!” Sahut Rio.
“Eh? Jangan! Mending lo aja yang tidur. Gue gak ngantuk.” Shilla berbohong. Pada kenyataannya, ia memang sangat mengantuk.
“Udah, Shill. Tidur aja.” Rio terus memaksa Shilla untuk tidur.
Shilla menghela napas pelan. Akhirnya Shilla bersandar pada batang pohon dan memejamkan matanya. Namun ia tidak bisa, perasaan takut itu masih ada. Ia membuka matanya kembali.
“Gue beneran gak bisa tidur.” Ucap Shilla.
Rio menoleh. “Kenapa? Masih takut?”
Shilla menelan ludahnya kemudian mengangguk.
“Semua bakalan aman.” Rio ikut bersandar. Ia menarik kepala Shilla ke pundaknya. “Tidur di pundak gue aja. It’s okay.”
Shilla sempat kaget. Ia tersentak.
Perilaku Rio... tidak seperti biasanya. Namun Shilla tak kuasa untuk menolak. Ia mulai memejamkan matanya dan berdoa semoga besok ia dapat kembali ke villanya itu...

=TO BE CONTINUED=

HAIIIIIIIII ;;) kayaknya gak ada yg baca cerita ini lg ya? #MIRISSUMPAH \(-_-)/ bythewaaaaayyyyyy maaf ya postnya ngaret bgt huhu aku kan sibuk gmn gt (?) okelah tetep comment ya haha. Part 6 nya......... kapan ya? :p

-VALISHA

Saturday, May 7, 2011

Love Risk (Part 4)

“Shill, Lo tau gak ternyata isi surat itu apa?” Tanya Sivia dengan mata berbinar ketika ia sedang menemani Shilla packing pakaian untuk camping pada Sabtu siang itu.
“Hahah... Gak. Emang apa?” Shilla memasukkan potongan baju terakhirnya ke dalam sebuah koper yang hampir penuh.
“Di dalemnya ada nomor handphone dia sama pin BB nya. Katanya gue disuruh hubungin dia hahaha asik asik.” Sivia tersenyum sendiri.
“Cie deh... Ati-ati kalo jadian jangan lupa sama temen...” Shilla menutup pintu lemarinya.
Sivia nyengir. “Nggak bakalan lah... Makanya lo juga cari cowok dong, Shill. Eh, menurut looo... Rio suka sama lo gak?”
“Halah apaan deh. Ya nggak lah hahaha...” Shilla merebahkan dirinya di kasur.
“Kok feeling gue kuat banget ya lo bakal jadian sama dia?”
“Ngaco lo!” Shilla menimpuk Sivia dengan bantalnya. “Emang menurut lo... Rio suka sama gue? Gitu?”
Sivia mengangguk-angguk penuh semangat.
“Dia jealous loh.”
“Jealous? Kenapa?” Shilla menoleh ke arah Sivia yang sedang memainkan handphonenya.
“Dia kira lo ada something sama Gabriel, Shill. Dia gak tau aja Gabriel itu sama gue huahahahaha...” Sivia terbahak.
“Gak nyambung lo! Ah apaan deh cowok model Rio gitu kan sukanya cewek model feminim gitu ya like you know lah, Vi, misalnya Ify... Gitu.” Kata Shilla sok tahu.
“Apaaa coba, Shill. Kalo Rio suka sama cewek cablak kayak lo gimana?”
“Sialan lo! Gini-gini gue cewek, men!” Shilla menimpuk Sivia dengan bantalnya lagi.
“Bentar!” Sivia membuka HP nya yang bergetar lagi.
Gabriel Stevent: Hey :)
“AAAAAAAAAAAAAA Shillaaaaaaaaaaaaaaaa! Gue di greet iel!” Sivia loncat-loncat.
“Demi apa? Weeee congrats yaaa, Vi. Hahaha bentar lagi jadian nih.” Ucap Shilla mengambil iPod di meja belajarnya.
“Shill, besok kan Minggu.” Kata Sivia.
“So what? I know tomorrow is Sunday. Nothing special. Kenapa? Besok lo mau pergi kemana sama bokap nyokap?” Tanya Shilla, sedikit kecewa.
“Nggak! Gimana kalo besok kita olahraga pagi?” Ajak Sivia spontan.
Shilla terbelalak. Pasalnya, orang paling bodoh di kelasnya pun tahu bahwa Sivia tidak mungkin bersemangat jika hari itu ada pelajaran olahraga. Sivia sangat membenci pelajaran yang satu itu.
“Ngaco! Mimpi apa lo semalem, Vi?” Shilla kembali ke kasurnya.
“Gue serius. Ayo lah, Shill. Sekali-sekali boleh, kan?”
“Lo kenapa sih, Vi? Makan apa lo semalem?” Shilla masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Halah. Ayo dong, Shill. Temenin gue.” Sivia terus memohon tanpa menjawab pertanyaan Shilla satupun.
“Iye… Gue mau sih mau, Vi.” Ucap Shilla menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Asiiiikkk akhirnyaaaa.” Sivia tersenyum lega.
“Gue gak yakin ini atas kemauan lo sendiri.” Shilla menggelengkan kepalanya.
“Hehehe… Ini, Shill. Gabriel ngajak gue hehe…” Sivia nyengir tanpa dosa.
“Kupluk lo! Gak jadi mau deh gue! Ntar gue malah jadi obat nyamuk!” Dumel Shilla lalu memasang earphonenya.
“Ya terserah lo sih. Tapi katanya di Sudirman itu lagi seru-serunya Car Free Day loh, Shill.” Sivia memanas-manasi Shilla yang mulai mendengarkan lagu. Shilla melengos.
If you could see that
I’m the one who understands you
Been here all along
So why can’t you see…
You belong with me…
You belong with me…

(You Belong With Me – Taylor Swift)
Shilla tersenyum mengingat kejadian beberapa malam yang lalu. Malam itu. Dimana Rio menghibur Shilla. Saat dimana, Rio menyebut namanya untuk yang kedua kalinya.
“Heh! Ngapain deh lo senyam-senyum kayak orang gila?” Sivia memalingkan wajahnya dari handphone ketika ia sadar sedaritadi Shilla tidak berbicara sepatah katapun.
“Hah? Eh… Gak.” Shilla berpura-pura tak acuh.
“Haaaaaah bohooong! Denger lagu apa lo? Sini gue liat!” Sivia merebut iPod di tangan Shilla dengan paksa.
Now Playing…
You Belong With Me – Taylor Swift

Sivia menoleh kearah Shilla. “Ada apa sama lagu ini?”
“Apaan sih. Gak ada apa-apa kok.” Shilla merebut kembali iPodnya.
“Yaaa… You know what? Gue bukan anak kecil yang bisa dibohongin masalah ginian, Shill. Gue tau pasti ada sesuatu berhubungan sama lagu itu, kan?” Sivia menatapnya dengan mata yang berbinar-binar.
“Nggak! Gue Cuma lagi berkhayal… Gimana ya kalo gue jadi Taylor Swift? Hahahaha…” Tawa Shilla meledak. Ia juga tidak menyangka darimana kecerdasan ‘tiba-tiba’ yang dimilikinya itu.
“Yeh dasar, lo!” Sivia kembali fokus pada layar handphonenya yang seakan mencari perhatiannya.
‘Not this time, Vi. Later. Kalo semua pertanyaan hati gue udah kejawab.’ Shilla tersenyum dalam hati.
***
“Lo bisa baca bintang?” Shilla terkesiap saat melihat Rio menunjuk bintang-bintang di langit malam itu lalu seolah menyambungnya.
“Astrologi. Dulu gue sering diajarin sama nyokap tentang astrologi.” Sahut Rio enteng.
Air muka Shilla berubah. Cih. Apa-apaan ini? Semua seolah menyindirnya. Ia yang bahkan tidak pernah diajarkan apa-apa oleh kedua orangtuanya. Membaca aja ia bisa karena les private! Apalagi astrologi! Siapa yang mau mengajarkannya soal seperti itu?
Malam ini malam Minggu. Keluarga normal biasanya menjalankan malam ini dengan penuh santai dan derai tawa juga canda. Beberapa pasangan kekasih juga biasanya mengisi malam ini dengan pergi berdua.
Namun tidak dengan Shilla. Keluarganya saja sudah tidak normal –baginya. Apalagi kekasih?
Shilla pernah bermimpi. Pada suatu malam minggu, ia dan mama papanya duduk melingkar di sebuah meja makan dan makan malam bersama. Kemudian mereka menonton TV sambil memakan cemilan. Bermain monopoli bersama. Dan…
“Woy! Ngelamun aja lo!” Tegur Rio ketika melihat gadis di sampingnya itu sedang menerawang.
“Akh. Apaan sih lo ganggu aja.”
“Cewek tuh gak baik tau malem-malem di luar sendirian. Apalagi ngelamun!” Ucap Rio.
“Gue gak sendirian.” Elak Shilla.
“Emang lo sama siapaaa? Orang gak ada siapa-siapa.”
“Emang lo pikir lo apa? Setan?” Shilla mendelik pada Rio.
“Gue kan kunyuk.” Jawab Rio.
“Gue gak peduli rupa lo kayak apa. Yang penting gue gak sendirian.” Shilla membuang mukanya dari hadapan Rio.
“Gimana sama malem-malem sebelumnya? Sebelum gue tau lo ada disini?” Tanya Rio penuh selidik.
Shilla sedikit terkesiap. Dipikir-pikir, darimana Rio tahu ‘markas’ nya jika malam menjelang?
“Sebenernya lo tau darimana gue ada disini setiap malem?” Shilla mengingat-ingat bahwa tak seorangpun yang tahu tentang tempat ini. Kecuali supirnya yang memang sudah tahu kebiasaan Shilla semenjak kecil.
“Emang lo peduli, kalo lo tau gue tau darimana?” Rio menatap lurus ke depan.
Shilla tidak menjawabnya.
“Gue iseng aja jalan-jalan. Terus tiba-tiba nemu tempat ini. Ya udah gue kesini. Eh pas gue kesini, gue ketemu lo. Gue kira lo penunggu bukit ini.” Rio bergidik ngeri.
Shilla terpikir ide jahil.
Ia tersenyum mengerikan pada Rio.
“Apa deh. Gak takut.” Rio melengos namun dalam hati merinding juga.
“Kalo emang iya… Kenapa?” Tanya Shilla dengan suara yang dibuat-buat.
“MBAK, salah lokasi ya?” Rio berdiri dari tempatnya kesal karena dikerjai.
Shilla tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Rio yang ketakutan namun tetap sok cool itu.
***
Ironis. Shilla terbangun dari tidurnya saat merasakan getaran hebat di handphonenya.
Shilla menggeliat dan melihat ke arah jam bekernya.
06.13
Shilla menguap.
“Siapa sih nih.” Shilla melirik handphonenya. Ada bbm masuk.
Sivia Azizah | CFD: PING!!!
Sivia Azizah | CFD: PING!!!
Sivia Azizah | CFD: PING!!!
Sivia Azizah | CFD: PING!!!
Sivia Azizah | CFD: PING!!!
Sivia Azizah | CFD: Shill, gw udh d Sudirman. Ksini dong.

Shilla melengos mencoba mengingat kembali percakapan dengan Sivia kemarin. Seingatnya, sebelum mendengarkan iPod, Shilla menolak ajakan Sivia pergi ke Sudirman pagi itu untuk olahraga pagi.
Ashilla Zahrantiara: G ah. Gw mls bgt. Msh ngantuk. Mnding tdr lg.
Sivia Azizah | CFD: Ayo lah jgn gt. Tubuh lo butuh olahraga!!!!!
Ashilla Zahrantiara: G. Mls.
Sivia Azizah | CFD: Bentar doang
Ashilla Zahrantiara: Kpn22 aja.
Sivia Azizah | CFD: Trsrh deh. Yg jls lg seru bgt nih! Nyesel kl g dtg!!

Shilla menoleh lagi ke jam bekernya.
07.15
“HAH?!! Tadi perasaan masih jam enam?!! Kok tiba-tiba jadi jam tujuh sih? Ah gak mungkin banget gue tadi salah liat!” Shilla menendang selimut tebalnya kemudian mulai beranjak dan membuka gorden kamarnya.
Matahari tampak sedang melaksanakan tugasnya untuk menghangatkan dunia.
Shilla kembali ke kasurnya dan meraih handphonenya. Kemudian ia membuka akun twitternya.
New Tweet:
Sunday Morning. CFD jgn ya?
Sesungguhnya Shilla masih ragu. Bosan juga hanya berdiam di rumah hari Minggu begini. Ia langsung menyambar handuknya dan bergegas pergi ke kamar mandi.
***
“Duh mana deh Sivia. Katanya disini.” Shilla menengok ke kanan dan ke kiri.
“Gue tau dia dimana.” Sahut sebuah suara tiba-tiba.
Shilla menoleh dan tampak –tidak- terkejut mendapati Rio disana.
“Dimana dia? Lo ngapain disini? Ngikutin gue ya?” Shilla mendelik.
“Ya elah. Lo tuh GR banget sih jadi orang? Helloooooo bukannya ini tempat umum ya?” Rio melipat kedua tangan di depan dadanya.
Shilla berdecak kesal. “Ya udah sekarang lo tunjukkin dimana Sivia. Panas nih panas!”
“Iye tante mari saya antar.” Rio berjalan di depan Shilla. Sementara itu Shilla memelet-meletkan lidahnya di belakang Rio.
***
“Mana Sivia nya? Katanya ada disini?”
“Gak tau deh. Tapi sumpah tadi gue liat dia disini sama... Gabriel.” Rio memelankan suaranya ketika mengucapkan kata ‘Gabriel’.
“Sama siapa? Gak kedengeran!” Shilla agak berteriak. Selain karena Rio menyebutkan nama ‘Gabriel’ dengan suara pelan, suasana di tempat itu sangat ramai.
“Gabriel.” Ulang Rio lagi dengan suara lebih keras.
“Oh...” Shilla jadi terpikir kata-kata Sivia kemarin siang.
‘Dia kira lo ada something sama Gabriel, Shill. Dia gak tau aja Gabriel itu sama gue huahahahaha...’
“Hey, Shill! Gue cariin tau!” Sivia menepuk pundak Shilla. Shilla membalikkan tubuhnya dan menemukan Sivia disana. Bersama Gabriel.
“Yeh elo. Yang ada gue kali yang nyariin lo. Soalnya kata dia lo disini.” Shilla menunjuk Rio.
“Eh, ada elo, Yo.” Gabriel menepuk pundak Rio. Rio hanya tersenyum memaksa. “Udah berapa bulan lo, sama Shilla?”
Mata Shilla melebar. “HAH? Berapa bulan apaan? Berapa bulan adu bacot?”
“Ya nggak lah hahaha... Berapa bulan kalian udah pacaran?” Tanya Gabriel.
“Gue... gak pacaran sama dia kali.” Rio melengos.
“Loh? Kalian nggak pacaran?” Gabriel heran sendiri.
“Belum. Tapi bentar lagi.” Ujar Sivia lalu terkikik sendiri.
Shilla menoleh pada Sivia dengan tatapan seperti ingin membunuh.
“Oh... Jadi kalian lagi PDKT ya?” Tebak Gabriel.
Shilla dan Rio kompak menggeleng.
“Loh? Oh gak mau ngaku nih? Ya udah deh, Vi. Kita jangan ganggu mereka mendingan.”
Sivia mengangguk. “Duluan yaaaa! Daaah!”
“Loh? Vi! Hey, Vi! Katanya nyuruh gue kesini? Woy! Katanya mau nemenin gue?” Teriak Shilla.
“Noh udah ada temennya!” Sivia menoleh ke belakang sekilas.
“Wah wah wah sialan ini anak satu.” Shilla berkacak pinggang. “Bela-belain gue gak sarapan, dia bilang mau ngajakin gue sarapan. Eh malah pacaran.”
“Gabriel... Sama Sivia pacaran?” Tanya Rio hati-hati. Takutnya Shilla bilang ‘Bukan lah, gue kan gebetannya.’
Shilla menggeleng kecil. “Belom, sebentar lagi palingan.”
Rio menghela nafas. Ketakutannya selama ini ternyata tidak terbukti. Ia masih punya banyak kesempatan untuk menaklukan hati gadis itu.
“Eh, makan yuk. Gue laper nih belom makan. Temenin gue dong. Masa lo tega sih gue sendirian gini.” Shilla memasang tampang memelasnya.
“Kalo ada maunya aja, sok baik lo! Traktir ye?”
“Ya elah! Gak ada traktir-traktiran!”
“Ya udah gak gue temenin.” Kata Rio sok tak acuh.
“Ih. Ya udah deh gue traktir.” Shilla menyerah.
“Nah gitu kek daritadi! Ayo ah gue laper.” Rio berjalan mendahului Shilla.
***
“Lo pulang sama siapa?” Tanya Rio seusai Shilla membayar makanan mereka berdua.
“Supir.” Jawab Shilla singkat.
“Lo bisa nyetir gak sih?” Tanya Rio lagi.
“Bisa lah. Emang elo.” Jawab Shilla asal.
“Kok lo gak pernah nyetir sendiri?”
“Ya elah banyak nanya lo. Ya suka-suka gue lah. Ngapain juga nyetir sendiri? Males.”
Rio hanya manggut-manggut.
“Eh gue balik duluan ya!” Kata Shilla. Rio mengangguk.
“Ati-ati yo!”
Shilla pun berjalan ke arah dimana mobilnya diparkirkan.
Saat Shilla memasuki mobilnya, handphonenya bergetar.
Sivia Azizah | CFD: Shill, udh plg y lo?
Ashilla Zahrantiara: Y lah. Org lo nya jg kmn-_-
Sivia Azizah | CFD: Y maaf bgt y shil. Gw jg gmau ganggu lo sm rio
Ashilla Zahrantiara: Ah apaan sh gw kn g ngapa2in sm rio-_-
Sivia Azizah | CFD: Yah._. tp maafin gw dong y?
Ashilla Zahrantiara: Y udh kli vi santai aja. Gw jg gmau ganggu lo sm iel kok :)
Sivia Azizah | CFD: Thank you shil :*

***
“Lo udah packing?” Tanya Shilla pada Rio malam itu ketika di bukit.
Rio hanya mengangguk.
“Emang besok gimana sih? Ada kelompok gitu-gitu ya kayak tahun lalu?” Shilla bertanya lagi.
“Katanya iya. Tapi tahun ini satu kelompok itu temen-temen seangkatan.” Jawab Rio. Shilla hanya manggut-manggut.
“Semoga gue nggak sama lo deh ya!”
“Ogah gue juga satu kelompok sama lo! Bosen liat muka lo dimana-mana.” Timpal Rio.
“Apa-apaan? Bukannya lo yang selalu ngikutin gue kemana-mana ya?”
“Enak aja! Emang gak ada kerjaan yang lebih penting ya selain ngikutin lo?”
“Terus kenapa lo sekarang ada di bukit ini? Tiap malem lo kesini.”
“Yaaaa... Kan gue udah pernah bilang, gue betah disini.”
Lalu hening hingga malam semakin larut. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
***
“Shilla? Kamu hampir aja ketinggalan! Ayo cepat naik bis! Kamu masuk bis 2!” Ucap Bu Winda. Shilla datang telat hari itu. Ia benar-benar kesiangan bangun.
Shilla yang masih mengatur napasnya naik ke bis 2. Matanya melebar ketika seluruh kursi penumpang sudah terisi penuh.
“Bu? Saya gak salah masuk sini? Udah penuh bu!” Protes Shilla.
Bu Winda mengamati ke sekeliling.
“Anak-anak! Apa masih ada tempat yang kosong?” Tanya Bu Winda.
“Sebelah Rio masih kosong, Bu!” Bastian berseru dari kursi yang paling belakang.
“Dimana Rio?”
Rio mengangkat tangannya. Ia duduk di kursi kedua dari belakang.
“Bu, apa gak ada tempat lain?” Tanya Shilla enggan.
“Shilla, kamu lihat saja deh ya. Kalo kamu gak mau duduk disitu, mending kamu berdiri saja. Gak ada lagi tempat.” Jawab Bu Winda.
Ragu akhirnya Shilla menghampiri kursi yang diduduki Rio.
“Eh, gue mau deket jendela dong!” Pinta Shilla.
“Siapa cepat dia dapat. Udah daripada lo berdiri mending duduk di tempat yang ada aja!” Sahut Rio. Ia melahap makanan ringan yang dibawanya.
Shilla mengerucutkan bibirnya namun tetap duduk di satu-satunya kursi itu. Tepat saat bis mulai jalan meninggalkan pekarangan sekolah.
***
“Anak-anak, Kita sudah sampai di Villa Archalego. Selanjutnya, kita berkumpul di aula untuk pembagian kamar.” Pak Duta membimbing anak-anak didiknya ke aula. Shilla menaruh iPodnya di tas kemudian ikut bergabung dengan teman-temannya yang lain.
“Eh, liat Sivia gak?” Tanya Shilla pada Rio yang berada di sebelahnya.
“Dia di bis 1.” Jawab Rio.
Shilla menoleh ke kanan dan ke kiri. Berharap menemukan sosok Sivia. Namun, tidak didapatinya sosok itu di antara siswa dan siswi lainnya.
“Hey!” Seseorang menyapa Shilla. Ify. Teman sekelas Shilla juga.
“Fy, lo liat Sivia gak?” Tanya Shilla.
“Tadi bareng gue, tapi gak tau dia ilang.” Jawab Ify.
“Yeh kemana sih itu anak.”
Merekapun sampai di sebuah aula yang sangat besar.
“Shill!” Sivia menepuk pundak Shilla.
“Ah akhirnya. Kemana aja lo?”
“Gue nyariin lo!” Jawab Sivia.
Mereka berdua pun duduk di kursi-kursi yang telah disediakan. Anak-anak OSIS mulai sibuk berkeliling untuk mendata siswa-siswi, membagikan jadwal acara dan buklet, dan juga membagikan kunci kamar.
Shilla dan Sivia pastinya memilih untuk satu kamar. Mereka mengamati jadwal acara selama 3 hari itu. Mereka mendesah kecewa ketika melihat ada sebuah acara dengan judul “Sing it!”. Tahun lalu acara itu adalah acara semacam bernyanyi duet. Pasangannya bebas dan boleh memilih sendiri. Sementara tahun ini –Shilla dan Sivia melihat di buklet, Pasangan dalam acara itu ditentukan dan lagunya juga ditentukan oleh panitia camping. Ada juga mencari jejak, Jurit Malam, dan lain sebagainya.
“Baik anak-anak, sekarang kalian boleh ke kamar masing-masing untuk bersih-bersih dan istirahat sejenak. Jam 4 sore nanti, kalian kembali lagi kesini untuk melaksanakan acara selanjutnya.” Bu Ira turun dari podium. Semua anak-anak langsung berhamburan keluar dari aula.
***
“Liat jadwal deh, Vi. Kita sekarang ngapain?” Shilla dan Sivia berjalan berdampingan menuju aula.
“Pembagian pasangan ‘Sing It!’ di aula, Shill.” Sivia melengos. “Gue mungkin gak yaaa pasangan gue sama iel...”
“Mungkin, Vi! Gabriel kan anak OSIS. Bisa jadi dia yang bagiin pasangannya terus dia maunya sama elo!” Kata Shilla. “Tapi gue sama siapa dong?”
“Ah! Lo bener banget Shillaaaaaaa! Pinter ya lo! Kadang sih hahahaha...”
“Eh tapi tadi kemaren katanya si kunyuk, pasangannya itu bakalan seangkatan sama kita. Bukan adik atau kakak kelas.” Jelas Shilla.
“Demi apa? Yah gak seru banget! Ngomong-ngomong lo kemaren ngobrol sama Rio dimana?” Tanya Sivia.
Shilla berpikir keras.
“Pas di CFD kemaren.” Jawab Shilla berbohong.
Mereka sampai di aula tepat waktu.
“Anak-anak semua sudah berkumpul? Kalo sudah, kita sekarang mulai aja ya pembagian pasangannya.” Pak Duta membawa kertas yang berisi data di tangannya. “Hasil pasangan ini yang menentukan adalah guru-guru. Tidak ada campur tangan dari anak-anak OSIS.”
Shilla menggigit bibir. Takut dewi fortuna sedang tidak memihak kepadanya.
Pasangan-pasangan kelas 10 sudah dibacakan. Sekarang pembacaan pasangan untuk kelas 11. Angkatan Shilla.
Shilla menunggu dengan berharap-harap cemas.
“.... Ashilla Zahrantiara dengan...” Pak Duta berhenti sejenak dan mengernyit heran. “Mohon maaf sebentar ini tulisannya tidak jelas.”
Bu Winda menghampiri Pak Duta. Mereka berbincang sebentar. Sesaat kemudian, Bu Winda turun dari podium.
“Ashilla Zahrantiara dengan Mario Stevano...Lagunya Cinta Takkan Salah...”
Kaki Shilla langsung lemas seketika. Sebegitu kejamnya kah dunia? Apakah dewi fortuna memang tidak pernah menghampirinya?
Namun –harus Shilla akui, meskipun berat. Ada perasaan senang di dalam lubuk hatinya.
“Yaaaaahhh...” Sivia mendesah. Shilla menoleh pada temannya itu yang sedang memasang tampang memelas.
“Kenapa?”
“Lo gak denger tadi? Masa gue sama si Alvin?” Gerutu Sivia kesal.
“Wah bagus dong? Justru kayaknya anak-anak lain berharap pasangan sama si Alvin.” Timpal Shilla.
“Iya, Shill. Tapi kan gue males sama dia. Apa-apa sama dia apa-apa sama dia. Emang gak ada pilihan lain apa?”
“Ya elah. Berapa kali sih lo sama Alvin pasangan? Nah gue sama kunyuk? Udah...”
“BEK!” Teriak seseorang tepat di telinga Shilla.
“AW! Apaan sih nih siapa coba teriak-teriak di kuping gue mau gue budek apa ya?” Oceh Shilla.
“Lagian elo! Daritadi gue panggil kagak noleh-noleh!” Rio menempeleng kepala Shilla.
“Kan gue lagi ngomong sama Sivia! Gak liat ya lo?!!”
“Ng? Gak.” Rio memberikan selembar kertas pada Shilla. “Mulai besok latihannya. Awas loh sampe telat gue tampol lu!”
Shilla merengut kesal.
***
“Besok pagi sampe siang nyari jejak, Sorenya latihan buat pentas, Malemnya jurit malam.” Sivia membaca jadwal untuk esok hari. Shilla berbaring di kasurnya sambil mendengarkan iPod.
”Kelompok jurit malam sama cari jejak belom dibagiin ya?” Tanya Shilla.
“Belom. Duh semoga gue bareng sama lo, ya!” Ucap Sivia penuh harap.
Shilla hanya mengangguk kecil, tidak banyak berharap.
Shilla mencoba memejamkan matanya karena waktu telah menunjukkan pukul 9 malam.
“Shill, HP lo geter.”
Shilla mengambil HP nya yang berada di meja kecil dengan malas.
Rio Haling: Bsk jgn telat. Awas aj
Shilla menggeliat malas.
Ashilla Zahrantiara: Iy. Bawel lu kyk cwek.
“Siapa, Shill?” Tanya Sivia.
“Yang di ragunan.” Jawab Shilla asal kemudian menguap.
“Kejam amat. Siapa sih? Rio ya?” Tanya Sivia.
Tidak ada jawaban.
“Shill?” Sivia menoleh. Shilla sudah terpejam. “Hmm pantes aja ngomongnya ngawur.”

TO BE CONTINUED

haloooooooo semua maaf saya jam karet ya hahaha maaf nih saya amatir wakakakk penulis yang udah nulis 4 tahun tapi masiiiih aja otaknya amatir. padahal udah sering diikutin seminar sama workshop nulis -_- #curcol. oke however gue bakal tetep nepatin janji gue bakal terus lanjutin cerita ini. Keep comment :) -Valisha Nabila