THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Tuesday, May 17, 2011

Love Risk (Part 5)

“...Kelompok 3 itu Ashilla, Sivia, Obiet, dan Mario.”
Shilla sudah tidak dapat berbicara apa-apa lagi. Namun ia juga senang bisa satu kelompok dengan Sivia. Apalagi dengan Obiet yang notabene nya pintar dalam berbagai bidang.
“Jadi yang disebutkan tadi adalah kelompok untuk mencari jejak dan... jurit malam. Sekarang kelompok 1 silakan memulai mencari jejaknya.” Ucap Bu Ira.
Kelompok 1 segera beranjak dari pekarangan villa.
“Aduh males banget nih kayak beginian!” Dumel Rio.
Shilla hanya menoleh sekilas lalu melipat kedua tangannya.
Kini tiba giliran kelompok 3 untuk mulai mencari jejak.
“Eh, gue kan sakit-sakitan gitu... Jadi maaf ya kalo ntar malem gue gak bisa ikut jurit malam. Ya semoga sih bisa.” Ucap Obiet ketika mereka mulai keluar dari halaman villa.
“Loh? Kok gitu? Yah ntar gak ada yang pinter baca peta dong?” Sivia menatap Obiet dengan penuh harap.
“Ya gue juga gak terlalu jago kali. Makanya semoga aja gue bisa ikut.” Timpal Obiet.
Pos-pos mereka lewati dengan baik dan sukses. Dari kelompok 3 yang bersemangat tampaknya hanya Obiet saja. Sivia terkadang bersemangat. Sivia paling bersemangat saat mereka sampai di pos 3. Disana yang jaga posnya adalah Gabriel.
“Udah ngape, Vi. Gak usah norak please ya!” Ujar Shilla saat mereka berjalan mendekati pos 4. Yang terakhir pos 5.
“Yeee namanya juga lagi falling in love, Shill.” Sivia menimpali.
“Ya udah lah. Gak usah ribut.” Obiet menengahi.
Mereka menyelesaikan sisa pos-pos itu dengan sempurna dan kembali ke villa dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
“Kalian sekarang boleh balik ke kamar masing-masing. Jangan lupa nanti sore latihan.” Pak Duta memberi instruksi selanjutnya pada keempat anak didiknya itu. Mereka mengangguk dan berpisah di tempat itu juga.
***
“Lo lagunya apa, Shill sama Rio?”
“Cinta Takkan Salah.” Jawab Shilla sambil memutar kunci kamar mereka.
“Loh? Lagunya Kak Gita sama Kak Derby?” Sivia melangkah masuk ke kamar menyusul Shilla.
Shilla hanya mengangguk. Ia membuka kulkas, Menuangkan isinya dan meneguknya.
“Kalo lo lagu apaan?” Tanya Shilla.
“Ehm... Masih Cinta.” Jawab Sivia.
“Waw! Hahaha ati-ati tuh CLBK sama apin.” Canda Shilla.
“Ah apaan sih gak bakalaaaan! Gue kan udah sama Gabriel!” Sivia menerawang sambil tersenyum sendiri.
Drrrtt! Drrrtt!
Sivia mengambil HP nya yang bergetar.

Obiet: Vi, gw g di blhin ikut jurit mlm sm bu wnda. Gw g enak badan soalnya. Tktny gw skt.

Sivia mendesah.
“Yah, Shill. Obiet gak bisa ikut jurit malam.”
“Lah? Terus gimana dong?” Shilla mulai panik. “Gue gak bisa sama sekali loh baca peta serius deh!”
“Sama. Gue juga!” Sivia menimpali. “Coba tanya Rio ya. Eh, coba deh lo bbm-in dia.”
“Kenapa mesti gue? Kenapa gak lo aja?” Tanya Shilla.
“Ya elah rugi bener perasaan. Sini deh gue yang bbm-in.” Sivia hampir merebut HP Shilla ketika Shilla menahannya.
“Iya udah. Biar gue aja.”

Ashilla Zahrantiara: Nyuk, lo bs baca peta gak?
Rio Haling: Bisa lah. Emang gw bego kyk lo?
Ashilla Zahrantiara: Bnr? Obiet g bs ikut ntr mlm. Dia skt.
Rio Haling: Y udh lah gw jg bs kali bca gtuan doang.


“Vi, Rio bisa baca peta.” Kata Shilla mulai tenang.
“Siapa? Tadi lo ngomong apa? Oh jadi sekarang si ‘kunyuk’ udah berubah nama ya jadi ‘Rio’?” Canda Sivia.
“Maksud gue, Si Kunyuk bisa baca peta.” Shilla menghampiri Sivia di kasurnya.
“Huatchim! Iya deh apa kata lo! Duh kok gue jadi flu gini ya?” Sivia mengambil tissue di tasnya.
“Yah jangan dong!” Shilla merengek.
“Jangan apaan? Huatchim!” Sivia kembali bersin. Matanya berair.
“Tadi perasaan lo baik-baik aja deh!” Shilla menatap Sivia dengan cemas.
“Gue emang udah gak enak badan dari semalem, Shill. Gak tau nih baru bersin aja.”
Shilla meraba kening Sivia.
“Lo panas, Vi!” Seru Shilla bertambah cemas.
Handphone Shilla bergetar.

Rio Haling: Latihan woy! Skrg!

“Vi, lo latihan gak?” Tanya Shilla.
“Huatchim... Bilang Alvin latihan bareng guenya besok aja. Huatchim... Gue lagi gak enak badan.” Jawab Sivia.
“Tapi... Lo ikut jurit malam kan, Vi?” Shilla menyelimuti Sivia.
“Liat nanti.” Sivia menutupi seluruh tubuhnya. “Thanks, Shill. Good luck latihannya.”
Shilla mengangguk. “Ati-ati ya, Vi.”
***

Ku kira benar
Kau kira salah
Kita berbeda kita tak sama
Tak pernah searah

Ku bilang iya
Kau bilang tidak
Selalu begitu tak pernah setuju
Tak pernah menyatu

Namun ternyata
Tak pernah kukira
Disini kita memulai cerita

(*) Perbedaan jadi tidak berarti
Karena hati telah memilih
Di mataku kita berdua satu
Apapun yang mengganggu
Cinta takkan salah

Ku ingin yang ini
Ku ingin yang lain
Coba tuk mengerti
Coba tuk pahami
Saling melengkapi

Kini ternyata
Tak pernah kukira
Disini kita memulai cerita

(Back to *)


Shilla meneguk minumannya.
Rio masih terpukau dengan suara Shilla. Gadis itu memang sangat bertalenta.
“Apaan lo liat-liat?” Tanya Shilla menaruh minumnya di meja kecil.
“Suara lo bagus banget sumpah!” Jawab Rio jujur.
“Hahaha iya dong!” Shilla menganggap Rio hanya bercanda.
“Serius. Bagus parah deh.” Kali ini Rio menyelipkan nada bersungguh-sungguhnya.
“Hahaha thanks ya! Suara lo juga bagus kok!” Shilla tersenyum. “Eh, beneran nih lo bisa baca peta?”
“Bisa lah kalo sedikit-sedikit. Obiet sakit?” Tanya Rio.
“Iya. Dia gak dibolehin ikut sama Bu Winda.” Shilla terdiam sejenak. Tiba-tiba teringat pada sobat kentalnya itu. “Kalo Sivia nggak bisa juga gimana?”
“Loh? Emang Sivia kenapa?” Rio meneguk minumannya.
“Tadi dia bersin-bersin. Matanya berair. Badannya juga panas.”
“Shilla, Sivia mana ya?” Tanya seseorang yang menghampiri Shilla. Alvin.
“Sivia sakit, Vin. Dia bilang, besok aja latihannya.”
“Sivia sakit? Sakit apa?” Tanya Gabriel yang tiba-tiba muncul di belakang Alvin.
“Flu, kak. Badannya juga panas.” Jawab Shilla.
Gabriel manggut-manggut.
“Oh... Ya udah deh gue duluan.” Alvin berlalu pergi.
“Ada pesen buat Sivia, kak?” Tanya Shilla. Gabriel menggeleng.
“Eh? Nggak usah hehe udah lanjutin aja. Good luck kalian berdua!” Gabriel berlalu pergi. Shilla menatapnya aneh.
***
“Tadi gue ketemu Kak Gabriel, Vi. Dia nanya lo sakit apaan.” Shilla membuat susu hangat untuk Sivia.
“Iya? Dia tau darimana gue sakit?” Sivia tidak segirang biasanya.
“Gak tau. Mungkin dia nguping pas gue lagi ngomong sama Alvin.” Shilla memberikan susu hangat itu pada Sivia.
“Thanks.” Ucap Sivia.
TOK! TOK!
“Bentar ya gue buka pintu dulu.” Shilla beranjak dari kasur Sivia dan membuka pintu villanya.
“Shilla, Sivia. Ayo ke aula! Ada briefing buat jurit malam.” Bu Winda tersenyum.
Shilla melirik jam tangannya. 19.00.
“Bu, sini deh.” Shilla mempersilakan Bu Winda masuk.
“Ada apa, Shilla?” Tanya Bu Winda.
Shilla duduk di kasur Sivia.
“Bu, Sivia... Sakit kayaknya.”
Bu Winda memegang kening Sivia.
“Sivia? Kamu panas banget. Kamu gak bisa ikut jurit malam. Bisa-bisa nanti pihak sekolah yang kena.” Kata Bu Winda.
“Yaaa makanya saya ngajak ibu kesini.” Shilla geram lama-lama.
“Kamu ikut ibu ke ruangan khusus anak-anak yang kurang enak badan ya, Sivia. Cuaca disini memang labil jadi banyak yang sakit.” Bu Winda menyingkapkan selimut yang dipakai Sivia.
“Bu, Kelompok saya Cuma ada saya, Sivia, Obiet, sama... Rio, bu.” Ucap Shilla.
“Lalu?” Tanya Bu Winda.
“Obiet sama Sivia sakit. Saya gimana dong, bu? Masa Cuma.... berdua?”
“Ya sudah lah, Shilla. Mau diapakan lagi. Kita gak bisa maksain anak-anak yang sakit untuk ikutan acara ini. Nanti kalo pada pingsan di tengah jalan malah tambah ribet.” Bu Winda menuntun Sivia keluar dari cottage.
“Tapi aneh deh, Bu. Tadi pagi Sivia masih gak kenapa-kenapa kok!” Shilla berjalan mengikuti Bu Winda dan Sivia.
“Mungkin karena cari jejak tadi siang. Kan ibu bilang cuaca disini labil, Shilla.” Jelas Bu Winda.
Shilla mengunci pintu cottagenya.
“Ya udah deh bu, saya ke aula. Vi, gue duluan ya. Get well soon.” Shilla berjalan menuju aula sendirian.
Shilla mendengar langkah kaki orang ketika sedang berjalan menuju aula. Namun setiap ia berbalik, tidak ada seorangpun disana.
Kali ini Shilla merutuki kenapa jarak cottagenya dengan aula agak jauh.
Hening.
Shilla tiba-tiba merasakan ada sebuah tangan di pundaknya. Shilla memejamkan matanya lalu menoleh ke belakang.
“Actually, gue gak takut. Lo gagal.” Shilla nampak santai ketika mendapati Rio berdiri di belakangnya.
“Sivia mana?” Tanya Rio sambil menahan tawanya.
“Sakit. Jadi gak ikut.” Jawab Shilla.
Rio mengangguk-angguk.
Mereka sampai di aula dan mulai bergabung dengan briefing jurit malam itu.
***

Pukul 22.30
Anak-anak SMA Taruna Harapan berkumpul di depan aula. Berkelompok.
Shilla dan Rio melipat kedua tangan mereka. Menunggu untuk dipanggil dan melakukan 'perjalanan malam hari' itu.

“Kelompok 3...” Panggil Pak Duta setelah selang 5 menit semenjak kepergian kelompok 2.
Rio dan Shilla berjalan menghampiri Pak Duta.
“Cuma berdua?” Pak Duta menaikkan salah satu alisnya.
“Iya pak. Sivia sama Obiet sakit.” Jawab Rio.
“Ini. Petunjuk kalian Cuma ini. Hati-hati.” Pak Duta menyerahkan sebuah peta pada Rio.
“Pak, tapi saya gak terlalu bisa baca peta, Pak.” Ucap Rio.
Shilla mendelik tajam pada pemuda yang berdiri di sebelahnya itu.
‘Katanya nih anak bisa baca peta! Gimana sih? Tau gini gue tadi ikutan sakit dah!’ Rutuk Shilla dalam hati.
“Pengen bisa? Makanya belajar!” Pak Duta menirukan kata-kata di salah satu iklan.
“Ish serius, Pak!” Rio mulai kesal.
“Udah cepetan jalan!” Perintah Pak Duta.
Rio dan Shilla mau tidak mau berjalan keluar dari pekarangan Villa.
“Eh! Lo tuh sebenernya bisa gak sih baca peta?” Tanya Shilla.
“Bisa. Tapi dikit-dikit.” Jawab Rio mulai membuka petanya.
Matanya melebar melihat peta itu.
“Kanan.” Ucap Rio.
“Yakin lo?” Tanya Shilla.
Rio mengangguk yakin.
***
“Eh, serius nih kita kesini?” Shilla mulai cemas. Ia melirik jam tangannya. 23.30.
“Iya....... Mungkin.” Jawab Rio tidak yakin.
Kemudian terdengar daun bergesekkan.
Shilla meraih tangan Rio dan bersembunyi di punggung Rio.
“Yo... Suara apa itu... Gue gak mau mati muda....” Shilla masih terus bersembunyi.
“Ya elah. Cuma daun doang! Katanya pemberani? Gimana sih?”
“Kapan gue bilang gue pemberani?” Tanya Shilla.
“Kapan kek!” Jawab Rio asal.
Shilla melepas tangannya.
“Tau ah! Kesasar nih kita gue yakin!” Shilla mulai merasakan angin malam menembus tulang rusuknya. “Gila! Gue lupa pake jaket!”
Shilla memukul-mukul kepalanya. Menyesali kebodohannya sendiri.
“Kita gimana nasibnya dong nih?” Shilla terdiam. Tidak melanjutkan perjalanannya.
Rio mengamati si peta dengan saksama.
“Coba peta ini kayak petanya dora.” Kata Rio.
“HAAAA lawak lu!” Kata Shilla.
“Duh! Udah gelap banget nih! Gue gak bisa baca ginian!” Keluh Rio.
Shilla duduk di bawah pohon.
“Sini gue liat petanya siapa tau otak gue lebih berat daripada otak lo.” Kata Shilla.
Rio duduk di sebelah Shilla dan menyerahkan peta itu.
Shilla mengamatinya.
“Hmm... Kayaknya kita lagi ada disini.” Shilla menunjuk salah satu lokasi di peta itu.
“Sok tau lo!” Rio kembali merebut peta itu.
“Huatchim... Duh gue kok jadi bersin sih elah.” Shilla merasakan angin malam semakin bertiup lebih kencang.
Rio melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Shilla.
“Lo pake ini aja dulu.” Ucap Rio lembut.
“Lo gimana?” Tanya Shilla.
“Gue mah gampang.” Rio kembali mengamati petanya. “Kita lanjutin besok aja ya, cari jalannya?”
“Hah? Terus? Gimana dong?” Shilla mengeratkan jaket Rio yang hangat pada tubuhnya.
“Gak apa-apa kan?” Rio menatap Shilla lembut. Membuat Shilla salah tingkah.
“Hmm... Gue gak masalah. Gimana kalo kita dicariin sama yang lain?”
“Yang penting kita nemu jalan keluar. Kalo pagi, bakal lebih gampang nemuin jalannya.” Jelas Rio. Shilla mengangguk kecil. Ia memeluk lututnya dan memainkan tanah yang ada di sekitar tempatnya duduk.
Hening selama beberapa saat.
Tiba-tiba, Shilla merasa ikatan rambutnya mengendur. Shilla yang kaget langsung menoleh.
“Ngapain lo ngelepas kuciran gue?” Tanya Shilla pada Rio.
“Lo lebih cantik digerai rambutnya, Shill. Gue lebih suka lo digerai. Lo itu... Cantik.” Rio tersenyum pada Shilla.
Shilla kembali memainkan tanah di sekitarnya. Salah tingkah.
“Apa ada orangtua yang gak sayang sama anaknya?” Tanya Shilla tiba-tiba. Tiba-tiba teringat kedua orangtuanya yang entah berada dimana sekarang.
“Nggak. Semua orangtua sayang sama anaknya.” Jawab Rio.
“Gimana sama orangtua gue?”
“Mereka sayang sama lo, Shill.” Rio menatap Shilla lagi.
“Semoga.” Ucap Shilla pelan.
“Mending lo sekarang tidur. Biar besok bisa ngelanjutin perjalanan lagi.” Kata Rio.
“Tidur? Nggak ah. Gue takut. Kalo ada singa, harimau, atau apapun itu lah gimana? Gue masih pengen hidup. Gak mau mati muda.” Shilla terus nyerocos.
“Santai aja. Gue gak bakalan tidur. Gue jagain lo. Dijamin aman deh!” Sahut Rio.
“Eh? Jangan! Mending lo aja yang tidur. Gue gak ngantuk.” Shilla berbohong. Pada kenyataannya, ia memang sangat mengantuk.
“Udah, Shill. Tidur aja.” Rio terus memaksa Shilla untuk tidur.
Shilla menghela napas pelan. Akhirnya Shilla bersandar pada batang pohon dan memejamkan matanya. Namun ia tidak bisa, perasaan takut itu masih ada. Ia membuka matanya kembali.
“Gue beneran gak bisa tidur.” Ucap Shilla.
Rio menoleh. “Kenapa? Masih takut?”
Shilla menelan ludahnya kemudian mengangguk.
“Semua bakalan aman.” Rio ikut bersandar. Ia menarik kepala Shilla ke pundaknya. “Tidur di pundak gue aja. It’s okay.”
Shilla sempat kaget. Ia tersentak.
Perilaku Rio... tidak seperti biasanya. Namun Shilla tak kuasa untuk menolak. Ia mulai memejamkan matanya dan berdoa semoga besok ia dapat kembali ke villanya itu...

=TO BE CONTINUED=

HAIIIIIIIII ;;) kayaknya gak ada yg baca cerita ini lg ya? #MIRISSUMPAH \(-_-)/ bythewaaaaayyyyyy maaf ya postnya ngaret bgt huhu aku kan sibuk gmn gt (?) okelah tetep comment ya haha. Part 6 nya......... kapan ya? :p

-VALISHA

0 comments: