THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Wednesday, June 1, 2011

Love Risk (Part 6)

Perilaku Rio... tidak seperti biasanya. Namun Shilla tak kuasa untuk menolak. Ia mulai memejamkan matanya dan berdoa semoga besok ia dapat kembali ke villanya itu...

***

“Baik, semua kelompok sudah berkumpul lagi?” Pak Duta melirik jam tangannya. “Kelompok 1 ada?”.
Beberapa anak mengangkat tangan mereka.
“Kelompok 2?”
Beberapa anak yang lainnya mengangkat tangan mereka.
“Kelompok 3?”
Hening.
”Kelompok 3?” Pak Duta mengulangi panggilannya.
Tetap hening.
Suara bisik-bisik anak-anak mulai terdengar.
Pak Duta melirik jam tangannya lagi.
“Harusnya kelompok 3 sudah sampai beberapa menit yang lalu.”
“Ada apa, Pak?” Tanya Bu Winda yang baru datang dari cottage khusus anak-anak yang sakit.
“Kelompok 3 belum sampai, Bu Winda. Seharusnya mereka sudah sampai beberapa jam yang lalu!” Raut wajah Pak Duta berubah cemas. “Bisa tolong ibu lihat siapa saja anggota kelompok 3?”
Bu Winda membuka lembaran demi lembaran kertas di tangannya.
“Ashilla, Sivia, Obiet, Mario.” Bu Winda membaca sederet nama pada sebuah halaman.
“Kalo nggak salah, Obiet dan Sivia sakit kan, Bu? Berarti yang tadi berangkat hanya Shilla dan Rio.” Jelas Pak Duta.
“Betul, Pak Duta. Terus sekarang bagaimana?” Bu Winda tampak terlihat panik.
“Saya absen dulu kelompok lainnya takut-takut ada yang belum sampai juga.”
Pak Duta mulai melanjutkan mengabsen kelompok yang lainnya.
“Bu, semua kelompok sudah hadir. Tinggal kelompok 3 yang masih belum hadir.” Pak Duta melirik jam tangannya untuk yang kesekian kali.
Pukul 02.18
“Kalo gitu, kita suruh beberapa security untuk mencari mereka ke dalam hutan. Bagaimana?” Tanya Bu Winda.
Pak Duta hanya mengangguk sementara Bu Winda langsung menghubungi beberapa security.
“Anak-anak kalian boleh kembali ke cottage masing-masing untuk istirahat. Terima kasih atas partisipasi kalian dalam acara ini. Selamat malam.”
Anak-anak langsung keluar dari aula dan menghambur ke cottage masing-masing.
***
“Apa? Shilla sama Rio belum balik bu?” Sivia terkejut saat mendapati kabar itu.
“Iya. Tapi kalian tenang saja, ya. Security udah ibu suruh nyari mereka kok.” Bu Winda menenangkan Sivia dan Obiet.
“Tuh kan, Biet. Gue daritadi punya feeling gak enak, tau!” Bisik Sivia khawatir.
“Ya tapi... Gimana, Vi? Kita kan gak boleh ikut jurit malam!” Obiet menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Aduh... Semoga mereka baik-baik aja deh.” Sivia memejamkan matanya.
***
Shilla mengerjapkan matanya. Cahaya matahari yang menerobos masuk lewat pepohonan membuatnya terbangun. Shilla menegakkan kepalanya kemudian menoleh ke sampingnya.
Rio tertidur dengan tenang.
“Yeh katanya mau jagain gue! Katanya gak bakalan tidur! Sok sweet banget deh! Akhir-akhirnya juga tidur ni orang!” Dumel Shilla.
Shilla mulai melihat ke sekelilingnya. Tempat ini benar-benar membingungkan! Dimana-mana hanya ada pohon, pohon, dan pohon.
“Duuuh gimana nih kalo gue gak bisa pulang?” Cemas Shilla. Ia lupa tidak membawa HP nya yang sedang di charge di cottage semalam.
Rio terbangun dari tidur lelapnya.
“S... Shill... Kita masih disini?” Rio melihat sekelilingnya dengan mata setengah terbuka.
“Iya lah! Kecuali semalem ada yang ngangkut kita ke cottage! Lo sih pake bilang bisa baca peta segala! Coba aja kalo lo mmph... hmmppph...” Rio membekap mulut Shilla.
“Bawel lo ya? Kalo ada singa lewat lo mau dimakan?” Rio menakut-nakuti Shilla. Akhirnya ia membuka bekapannya.
“Gila! Gak bisa napas!” Shilla mengatur napasnya.
“Sekarang gimana?” Tanya Rio. Shilla hanya mengangkat bahunya.
“Hey hey! Disana ada orang!” Teriak sebuah suara dari kejauhan.
Shilla dan Rio menoleh. Mereka tersenyum lebar ketika mendapati beberapa satpam dengan lambang SMA Taruna Harapan berlari ke arah mereka. Shilla tahu salah satunya. Kalau tidak salah, namanya Pak Asep.
“Aduh neng Shilla... Darimana aja sih neeeng? Semua pada nyariin neng! Mas nya ini juga darimana aja?” Pak Asep menghampiri mereka dengan terengah-engah.
“Pak, kita itu tersesat pak!” Jelas Shilla.
“Kok bisa neng? Kan ada peta?” Pak Satpam lainnya bertanya.
“Iya. Orang sebelah saya ini ngakunya bisa baca peta. Padahal dia nggak bisa. Sok kepinteran aja kali!” Sindir Shilla.
Rio hanya tak acuh.
“Ya udah neng, mas, sekarang pulang ayo! Semua udah pada nanyain neng sama mas.”Ucap Pak Asep.
Rio dan Shilla pun berdiri dan mengikuti langkah para satpam itu. Dalam hati mereka memikirkan kejadian semalam. Apa mungkin kejadian itu......
“Gue banyak salah sama lo ya, Shill?” Tanya Rio tiba-tiba.
“Hm? Salah? Ya banyak bangeeeetttt kaliiii!” Jawab Shilla kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.
“Gue serius.” Ucap Rio dengan wajah yang bersungguh-sungguh.
“Yaaa... Gue juga serius!”
“Kalo gitu... Sorry ya kalo gue sering bikin lo marah atau bete atau apa lah namanya.” Kata Rio.
Shilla mengernyitkan keningnya. “Mimpi apa lo? Ini beneran?”
“Iya. Udah lah, gue kali ini serius.”
“Hmm... Oke lah. Gue juga minta maaf ya kalo gue banyak salah sama lo hahaha...” Shilla terkikik geli.
“Serius dong, Shill.” Ucap Rio.
“Iyaaaa gue juga serius! Eh ngomong-ngomong sejak kapan lo panggil gue ‘Shill’ atau ‘Shilla’ atau apa kek gitu yang ada unsur nama asli guenya?” Tanya Shilla heran.
“Hmm? Mungkin sejak gue suka sama lo.” Jawab Rio keceplosan.
“Hah?” Shilla menatap Rio. Memintanya untuk mengulang kata-katanya lagi.
“Eh? Nggak kok. Ya nggak apa-apa emang gak boleh? Kan bosen. Lagian gue juga capek berantem terus sama lo hahahaha.” Rio menghela napas.
“Hmm...” Shilla manggut-manggut.
“Tapi bener kan lo maafin gue?” Tanya Rio sekali lagi.
“Iiiih iyeeee gue maafin.” Jawab Shilla gregetan.
***
“Shilla? Rio? Kalian gak apa-apa? Kemana aja kalian?” Bu Winda menghampiri Shilla dan Rio yang baru sampai di villa.
“Maaf bu, kita gak apa-apa kok. Semalam kita tersesat.” Jawab Shilla.
“Syukurlah kalau kalian gak apa-apa. Semua disini cemas gara-gara kalian belum balik.” Ucap Pak Duta.
“Maaf, Pak. Lagian kemaren saya bilang saya gak bisa baca peta malah disuruh belajar.” Elak Rio.
“Heh! Itu sih memang benar! Sudah-sudah, sekarang kalian kembali ke cottage masing-masing. Bersih-bersih dan packing. Setelah itu, kalian balik lagi kesini untuk acara ‘Sing It!’ pukul 1.” Perintah Pak Duta.
Rio dan Shilla pun kembali ke cottage mereka masing-masing.
***
“Sivia?” Shilla melongokkan kepalanya di pintu kamar.
“Shilla? AAAAAA lo kemana aja sih? Semua pada panik tau nyariin lo sama Rio!” Sivia yang sedang merpikan baju-bajunya segera bangkit mendengar suara Shilla.
“Gue tersesat, Vi. Gila! Yang gue takutin gue gak bisa pulang kesini lagi. Untung aja ada satpam-satpam yang nyariin kita.” Jelas Shilla.
“Hahaha... Ngapain aja lo sama Rio?” Tanya Sivia kembali duduk dan memasukkan potongan-potongan bajunya ke dalam koper.
“Yeee! Gak ngapa-ngapain lah! Berantem.... mungkin?” Jawab Shilla tidak yakin. “Lo udah sembuh, Vi?”
“Hmm... Ya kayak yang lo liat lah. I’m fine. What about you?”
“Yea. I’m fine too.”
***
“Duh... Duduk sini aja gak apa-apa deh, Vi. Gak ada tempat lain nih.” Kata Shilla ketika mereka sampai di aula yang sudah ramai itu.
“Ya udah deh.”
Akhirnya merekapun duduk di kursi ketiga dari belakang.
Drrrt... Drrtt...
Handphone Shilla bergetar. Shilla segera membuka bbm yang masuk.

Rio Haling: Woy ngapain lo duduk disitu. Udh ke dpn aja gue ada di paling dpn.

Shilla mengerutkan keningnya.
“Kenapa, Shill?” Tanya Sivia. Shilla menggeleng sambil menutup layar handphonenya agar tidak dilihat Sivia.
“Cieeee... Ada apaan tuh ditutupin segalaaaa?” Goda Sivia.
“Apaan sih lo, Vi!” Shilla segera membalas bbm itu.

Ashilla Zahrantiara: Sivia gmn?

“Eh, Shill. Ke depan yuk. Gabriel ada di depan, katanya gue disuruh duduk disana aja. Masih ada tempat kosong.” Ajak Sivia.
“Lo duluan aja. Rio juga di depan.” Kata Shilla.
“Siapa? Rio?” Tanya Sivia.
Shilla mengangguk.
“Cieeee ternyata si ‘Kunyuk’ udah berubah jadi ‘Rio’ beneran toooh.” Goda Sivia lagi. Shilla lama-lama tersipu juga.
“Udahan ah, Vi. Gue ke depan ya!” Shilla beranjak dari kursinya dan berjalan menuju bagian paling depan deretan kursi.
Shilla menengok ke kanan dan kiri untuk mencari sosok Rio. Kemudian matanya menangkap seseorang dengan balutan kaus biru muda dan kemeja biru tua. Shilla terkesiap sesaat namun segera sadar dan menghampiri sosok itu.
“Sivia mana?” Tanya Rio.
“Sama Kak Gabriel.” Jawab Shilla.
Beberapa saat kemudian, acarapun dimulai. Pasangan-pasangan duet bergantian maju ke depan panggung. Dan tiba saat giliran Rio dan Shilla maju ke depan panggung.
“Pasangan selanjutnya adalah... Ashilla Zahrantiara dan Mario Stevano!” Bu Winda yang sedang menjadi pembawa acara itu mempersilakan Rio dan Shilla maju ke depan panggung.
“Selamat siang semuanya. Saya Shilla dari kelas 11 IPA 2 dan teman saya Rio dari kelas 11 IPA 2 juga akan membawakan sebuah lagu berjudul ‘Cinta Takkan Salah’. Enjoy!” Shilla membuka penampilannya.
Intro lagu dari gitar Rio mulai terdengar.

Ku kira benar
Kau kira salah
Kita berbeda kita tak sama
Tak pernah searah

Ku bilang iya
Kau bilang tidak
Selalu begitu tak pernah setuju
Tak pernah menyatu

Namun ternyata
Tak pernah kukira
Disini kita memulai cerita

(*) Perbedaan jadi tidak berarti
Karena hati telah memilih
Di mataku kita berdua satu
Apapun yang mengganggu
Cinta takkan salah

Ku ingin yang ini
Ku ingin yang lain
Coba tuk mengerti
Coba tuk pahami
Saling melengkapi

Kini ternyata
Tak pernah kukira
Disini kita memulai cerita

(Back to *)


( Cinta Takkan Salah – Gita Gutawa ft. Derby Romero )

Hening.
Sesaat kemudian tepuk tangan dari siswa-siswi lain dan guru-guru lain terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan. Shilla tersenyum puas.
“Wah wah wah, memukau sekali ya penampilan dari Shilla dan Rio ini. Baik terima kasih untuk Shilla dan Rio. Sekali lagi tepuk tangan yang meriah untuk Shilla dan Rio!” Bu Winda berseru. Tepuk tangan terdengar meriah lagi. Rio dan Shilla turun dari panggung.
“Hahaha sukses nih!” Rio mengajak Shilla toss .Shilla menyambut toss itu kemudian mereka tertawa bersama.
“Cie sukses niiih selamat ya!” Seorang teman mereka –Ify memberi ucapan selamat pada Rio dan Shilla.
“Thanks ya!” Ucap Shilla.
“Weeee keren-keren! Congrats ya Shill, Yo!” Ucap Sivia ketika Rio dan Shilla sampai di tempat duduk mereka.
“Thank you, Vi! Eh tuh giliran lo nyanyi! Hihi sukses ya Vi, Vin!” Shilla tersenyum pada Sivia dan Alvin.
“Siap bos!” Kata Sivia kemudian tertawa.
***
“Dan kini tibalah acara yang kita tunggu-tunggu... Pengumuman juara!” Seru Bu Winda heboh. Anak-anak bertepuk tangan dengan meriah.
“Juara ketiga... Ternyata diraih oleh..... Sivia Azizah dan Alvin Jonathan dari kelas 11 IPA 2!”
Tepuk tangan meriah langsung terdengar.
Sivia dan Alvin menaiki panggung dengan senyum mereka.
“Juara kedua... Diraih oleh... Gabriel Stevent dan Zahra Damariva dari kelas 12 IPS 1!”
Gabriel dan Zahra menaiki panggung. Sivia tersenyum pada Gabriel dan Gabriel membalas senyum itu.
“Selamat ya!” Ucap Sivia pada Gabriel.
“Iya, Vi. Hahaha... Lo juga ya!” Ucap Gabriel.
“Dan ini dia... Juara pertama kita tahun ini... Juara pertama... Diraih oleh.......... Ashilla Zahrantiara dan Mario Stevano dari kelas 11 IPA 2!”
Tepuk Tangan semakin riuh terdengar.
Shilla dan Rio hanya melongo sesaat. Tidak menyangka akan menjadi juara PERTAMA. Akhirnya, merekapun menaiki panggung.
“Great job! Congrats ya!” Ucap Sivia dan Alvin.
Shilla yang masih shock hanya tersenyum dan mengangguk.
“Selamat ya, Yo, Shill.” Ucap Gabriel disertai anggukan Zahra.
“Thank you! Kalian juga selamat, ya.” Ucap Rio disusul anggukan dan senyuman Shilla.
***
“Semua harap di cek kembali barang-barang bawaannya.” Perintah Bu Winda pada anak-anak yang berada di Bis 2.
Bis mulai berjalan meninggalkan Villa itu. Shilla mendengarkan iPodnya dengan mata terpejam. Begitupun dengan Rio.
Shilla terbayang percakapannya tadi pagi dengan Rio. Apa benar yang tadi Shilla dengar?
“Mungkin sejak gue suka sama lo.”
Shilla yakin kupingnya masih sehat dan dapat mendengar dengan jernih. Tapi apa mungkin?
Shilla kembali menikmati lagu yang sedang didengarkannya

Ku tak tahu
Mengapa aku malu
Disetiap aku tahu dia di dekatku
Aku susah bila dia tak ada
Tak ingin jauh ku darinya

Reff:
Ada rasa yang tak biasa
Yang mulai kurasa
Yang entah mengapa
Mungkinkah ini pertanda
Aku jatuh cinta
Cintaku yang pertama

Tuhan tolong berikanlah isyarat
Semoga ada jawaban atas doaku
Tak bisa aku mengenang cinta
Yang indah tanpa airmata

(Back to reff)


(Cinta Pertama – Mikha Tambayong)
***

Shilla melihat kalender di kamarnya. Satu hal yang baru disadarinya, hari ini adalah tanggal 24 Februari 2011. Berarti, besok adalah tanggal 25 Februari 2011. Ulangtahunnya yang ke 17.
Shilla terdiam.
“Gak bakalan ada yang special di hari ulangtahun gue. Setiap tahun juga gitu kan? Cuma ucapan ‘Happy Birthday’ dari temen-temen dan kado-kado. Mama sama papa juga gak bakalan inget. Sama kayak tahun-tahun sebelumnya.” Shilla memandangi pantulan dirinya di cermin kemudian segera turun ke bawah untuk sarapan dan pergi sekolah.
Shilla merasakan handphonenya bergetar.

Rio Haling: Gw d dpn rmh lo. Cpt turun ga pake lama.

Shilla mengerutkan keningnya.

‘Ngapain si Rio di depan rumah gue?’ Pikirnya.
Shilla mempercepat langkahnya. Ia membuka pintu dan melihat sebuah mobil Jazz berwarna biru terparkir di depan rumahnya.
“Lo ngapain disini?” Tanya Shilla sambil mengerutkan keningnya.
“Mau... Jemput lo!” Jawab Rio.
“Gue gak minta perasaan...” Shilla jadi bingung sendiri.
“Yeee emang gak boleh? Kebetulan aja gue lewat sini.” Kata Rio.
“Hmm... Bentar ya gue bilang supir gue dulu.” Shilla kembali memasuki rumahnya dengan segaris senyum.
“Non? Udah mau berangkat?” Tanya Pak Tono, Supir pribadi Shilla.
“Pak, saya berangkat bareng temen. Jadi, bapak gak usah anterin saya, ya!” Kata Shilla.
“Loh? Terus pulangnya piye, non?” Tanya Pak Tono lagi.
“Nanti saya telepon.” Jawab Shilla lalu melangkah keluar rumahnya.
“Udah?” Tanya Rio yang bersandar di mobilnya. Shilla hanya mengangguk kecil.
Kemudian mereka memasuki mobil Jazz biru milik Rio.
***
“Kenapa sih lo tumben banget pake acara nganter gue ke sekolah segala?” Tanya Shilla masih bingung.
“Gak tau ya! Pendekatan kali! Hahaha...” Jawab Rio asal.
“Ih lo tuh gak bisa serius ya?” Shilla meninju lengan Rio pelan.
“Yeee... Orang serius! Hahaha...” Rio tertawa lagi.
Shilla mengerucutkan bibirnya. Kemudian Shilla mendesah ketika menyadari lagu yang sedang diputar Rio di mobilnya.
“Yo, ganti dong lagunya! Bosen tau masa ini-ini mulu lagunya?” Protes Shilla ketika lagu Dealova itu mengalun lagi untuk yang kesekian kalinya.
“Yeee... Gue gak punya lagu Justin Bieber!” Kata Rio.
Shilla terdiam lagi mengamati kendaraan-kendaraan pagi itu. Kemudian ia melirik jam tangannya. 06.50.
“Besok tanggal 25 ya?” Tanya Rio.
“Iya. Kenapa?”
“Gak.”
Hening lagi.
“Hari ini gak ada PR kan?” Tanya Rio lagi.
“Aduh, Yo... Please deh ya sejak kapan lo jadi tukang tanya gini? Yang harus lo tau, sekarang tuh lo lebih bawel daripada bebek, tau!” Kesal Shilla.
“Yeee ngambek si non. Sejak gue suka sama lo kali ya! Hahaha...” Canda Rio lagi. Tapi sebenarnya itulah yang dirasakan Rio.
***
“Cie besok ulang tahun yaaa?” Goda Sivia saat istirahat, setelah pertandingan panco Rio vs Shilla yang dimenangkan oleh Rio.
“Hahaha inget cieeee...” Shilla menyenggol Sivia.
Rio yang sedang mendengarkan iPod dengan mata terpejam diam-diam mendengarkan pembicaraan kedua gadis di sebelahnya.
“Iya dong gue selalu inget hahaha... Eh ke kantin yuk! Gue laper!” Ajak Sivia. Shilla mengangguk.
Rio membuka matanya lalu tersenyum penuh rahasia.
***
“Bosen deh lo tiap malem gini mulu! Main tap-tap yuk!” Celetuk Rio di bukit pada malam itu.
“Hmm? Boleh boleh! Hahaha gue suka banget nih main tap-tap!” Seru Shilla.
Mereka mulai memainkan permainan ‘Tap Tap’ di iPod Rio sambil mengobrol.
“Kira-kira orangtua gue masih inget sama gue gak ya?” Tanya Shilla, teringat ulang tahunnya esok hari.
“Ya masih lah! Masa ada orang tua yang gak inget sama anaknya? Aneh lo!” Jawab Rio berpendapat.
“Ada aja kali. Mungkin lo gak tau...” Desah Shilla. Orangtuanya belum pulang ke rumah selama 3 bulan.
“Mereka bukan gak inget. Mereka kan sibuk kerja. Kerja juga buat kita-kita juga kan akhirnya?”
“Tapi emang kerja harus sampai 3 bulan non stop gak pulang ke rumah, gitu? Malah mereka gak ngehubungin anaknya sama sekali!” Kata Shilla. “Pernah gak ulangtahun lo dirayain?”
“Pernah. Waktu kecil pastinya.” Jawab Rio.
“Ulang tahun gue aja gak pernah dirayain kayak anak-anak lainnya waktu kecil. Waktu gue kecil, gue tuh sering banget iri sama temen-temen seumuran gue. Gue tuh kayak haus kasih sayang tau gak?” Cerita Shilla.
“Hmm...” Tanggap Rio.
Lalu hening. Hanya ada suara dari iPod Rio.
“Yes! Gue menang lagi! Hahaha...” Seru Rio tiba-tiba.
“Udahan ya? Capek gue!” Kata Shilla.
“Oke.” Sahut Rio.
“Jujur gue bingung loh, Yo, sama perubahan sikap lo yang drastis gitu! Semenjak kita tersesat di hutan itu...”
Rio hanya berdehem. “Ada sesuatu yang harus gue sampein sebenernya. Tinggal nunggu waktu.”
Shilla hanya menatap Rio bingung.

TO BE CONTINUE

EHEM, sebelumnya... Saya.... mau minta maaf karena ngepost part 6 nya lama bgt haha \(-_-)/ dandandaaann kan gue jg lagi ujian gitu jd aja gitu deh belajarrrrrr terusssss. dan sebenernya juga sekarang masih ujian sampe rabu depan huhu doain yaaaaa *Curcol dikit ya-_-*. Anyway makasih banjeeettss yang udah baca apalagi yg udh comment cerita random gue ini. Maklum otak gue cuma setengah jadi cuma bisa buat cerita amatiran gini awkay-_- big thanks to Mba Janice Nathania (@janicenathania -Love Command Writers) yang udah promosiin cerita random saya ini. Dan untuk part ini, gue bakal hargain bgt kalian yang udah baca dan kalo punya waktu please ya sempetin comment satu atau dua kata aja. Di blogwalking boleh, Twitter, FB, dsb. Oke cukup sekian yaaa kayaknya kata-kata mutiara gue lebih panjang daripada ceritanya ya-______________- sip thankyou all! Part 7 nya............................................................ sabar aja ya sampe gue mau post lg *u*

-Valisha

0 comments: