THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Monday, June 13, 2011

Love Risk (Part 7)

“Jujur gue bingung loh, Yo, sama perubahan sikap lo yang drastis gitu! Semenjak kita tersesat di hutan itu...”
Rio hanya berdehem. “Ada sesuatu yang harus gue sampein sebenernya. Tinggal nunggu waktu.”
Shilla hanya menatap Rio bingung.


***

25 Februari 2011.
Shilla terbangun dari tidurnya kemudian tersenyum kecil. Ia membuka handphonenya. Beberapa ucapan ‘Happy Birthday’ lewat bbm diterimanya.
Sivia Azizah: Happy birthday my bestie Ashilla Zahrantiara, Wish you all the best and may god bless you always all day and night long. Longlife ya Shill hehe cepet dapet pacar ;p TRAKTIR GAK MAU TAU!
Ashilla Zahrantiara: Thank you Sivia my bestie! Hahaha amin yaaa tp yg masalah traktir msh mikir-mikir haha ;p
Shilla tersenyum setelah membaca bbm dari Sivia. Selanjutnya ucapan kedua. Tebak dari siapa? Shilla mengerutkan keningnya ketika melihat nama Rio Haling mengiriminya bbm pada jam 00.01. Satu menit setelah Sivia mengucapkan ‘Happy Birthday’ pada Shilla.
Rio Haling: Happy birthday Shill! Wish you all the best and longlife! May gbu always 
Ashilla Zahrantiara: Thanks yo! Hehe..
Shilla terus membuka bbm-bbm yang masuk dan membalasnya satu persatu.
Setelah kelar, Shilla melirik jam dindingnya. Pukul 06.05. Shilla segera bergegas mandi dan pergi sekolah.
***
“Lo ngapain jemput gue lagi?” Tanya Shilla ketika melihat Rio di depan rumahnya.
“Ih dibilangin pendekatan! Hahaha... Happy birthday ya, Shill!” Ucap Rio.
“Iyaaaa thanks ya! Bentar gue bilang supir gue dulu.” Shilla memasuki rumahnya lagi lalu tak lama kemudian keluar.
“Nanti pulangnya bareng gue lagi, ya?” Tawar Rio.
“Aduh... Mau lo itu apa sih?” Shilla geleng-geleng kepala.
“Pokoknya ikut aja deh.” Kata Rio.
“Iya deh apa kata lo aja!”
***
“Shillaaaaaa! Happy birthday yaaa! Sumpah gue semalem begadang nungguin jam 12 hahaha...” Sivia memeluk Shilla ketika Shilla sampai di kelas.
“Aduh, Vi... Hahaha... Thank you loh ya!” Ucap Shilla.
“Traktir dong ya tapi haha...” Sivia menepuk pundak Shilla.
“Halah iya iya nanti istirahat gue traktir haha tapi diem-diem aja ya!” Kata Shilla.
Sivia mengangguk sambil terkikik geli.
“Eh, akhir-akhir ini lo sering berangkat bareng Rio, ya? Kok sering dateng bareng?” Tanya Sivia penuh selidik.
“Ya... Gitu deh.” Shilla menaruh tasnya di atas meja.
“Ceilaaah ada kemajuan nih! Cie cieeee...” Sivia menyenggol Shilla.
“Apaan sih hahaha...” Shilla hanya tertawa.
***
“Dan pemenang hari ini adalaaaahh... RIO!!!!” Seru Alvin heboh.
Shilla melengos.
“Yeeee si bocah ulang tahun ngambek hahaha...” Tawa Rio.
“Gak deh yaaaa! Bosen gue menang terus jadi gue kalah-kalahin aja!” Shilla merapikan kembali mejanya. Satu persatu anak-anak kelas 11 IPA 2 mulai keluar dari kelas untuk pergi ke kantin. Shilla melirik Sivia, mengisyaratkannya untuk keluar menepati janji Shilla yang akan mentraktirnya siang itu.
“Eh, gue ikut dong!” Kata Rio memasukkan iPodnya ke dalam saku. Shilla dan Sivia yang berada di ambang pintu langsung berpandangan heran.
“Ikut? Kemana? Kita mau ke toilet cewek!” Shilla menyikut Sivia.
“Alaaah udah deh gue ikut kemanapun kalian pergi. Nanti pasti kalian ke kantin kan? Shilla mau nraktir lo kan, Vi?” Rio menghampiri Shilla dan Sivia lalu merangkul keduanya sok asyik.
“Ewh gak pake rangkul-rangkulan bisa kali!” Sivia menepis tangan Rio dari pundaknya. Begitupun Shilla.
***
Rio Haling: Gw g bs dtg ke bukit hari ini. Sorry yaaa 
Ashilla Zahrantiara: Yeeee emang gw pikirin sih yaaa

Shilla memasukkan handphonenya ke dalam saku jeansnya. Kemudian ia menatap langit malam. Langit malam itu terlihat sangat cerah, namun tak secerah hati Shilla. Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam. Itu berarti 4 jam lagi, hari akan berganti. Sedari pagi Shilla menanti ‘sesuatu’. Ya. ‘Sesuatu’ itu adalah telepon dari kedua orangtuanya. Shilla benar-benar berharap bahwa kedua orangtuanya ingat hari ulang tahunnya. Ini adalah ulang tahunnya ke-17. Kata orang, umur 17 itu umur dimana seseorang dianggap benar-benar dewasa. Shilla sudah bisa membuat KTP, SIM, bisa ikut PEMILU, dan lain sebagainya. Tetapi...
Shilla menghela napas panjang. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada Rio.
‘Sepi juga gak ada lo disini, Yo.’ Shilla jadi tersenyum sendiri. Kemudian ia berpikir. Selama ini, selain Sivia, Rio-lah yang menghiburnya. Dalam keadaan apapun dan tanpa disadari oleh Shilla. Getar itu semakin membuncah di hati Shilla ketika mengingat semua perlakuan Rio pada Shilla malam itu. Malam dimana Rio ‘mengistimewakan’ nya.
Shilla menghembuskan napasnya perlahan. Apa ini yang namanya cinta?
***
Rio menghembuskan napasnya perlahan-lahan.
“Ini waktu gue. Dan gue harus berhasil”
***
“You’re on the phone with your girlfriend she’s upset....”
Shilla menggeliat kecil. Matanya terbuka perlahan-lahan. Ia melihat jam dinding yang terletak di kamarnya. Pukul 1 malam.
“Siapa sih yang nelepon malem-malem gini? Orang gila kali ya? Ganggu Orang tidur aja.” Shilla mengerang kecil lalu mengangkat telepon itu tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
“Shill bisa liat ke bawah sebentar?” Terdengar suara seseorang di seberang sana.
“Gak. Siapa nih? Gue ngantuk.” Shilla menguap.
“Please. Sebentar aja deh.”
“Ini siapa sih? Ganggu gue tidur tau?”
“Ayo dong liat ke bawah sebentar. Gue di bawah. Jangan buat gue nunggu, Shill.”
Klik.
Sambungan telepon terputus. Shilla mengerang dan meletakkan handphone di sampingnya.
Shilla berniat mengabaikan telepon tadi dan tidur lagi. Lamat-lamat terdengar suara petikan gitar mengalun. Tampaknya seseorang disana telah menunggu Shilla masuk ke alam mimpi. Namun Shilla masih belum bisa terpejam sungguhan. Akhirnya Shilla terdiam. Petikan gitar itu semakin terdengar.
“Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu...”
Shilla membuka matanya lebar-lebar. Suara itu...
Shilla segera bangkit dari kasurnya. Ia membuka pintu balkon kamarnya dan melongok melihat ke bawah.
Pemuda itu. Memetik gitarnya dan melantunkan sebuah lagu indah. Membuat Shilla tak kuasa menahan untuk tidak menutup mulutnya yang ternganga.
“Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu... Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Oh karena hati telah letih

Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Oh bayangmu seakan-akan

Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang
Dan sepi
Dan sepi

Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Selalu ada, kau selalu ada
Selalu ada, kau selalu ada...”
Rio tersenyum pada Shilla yang masih menatapnya dengan pandangan tak percaya.
“Shilla! Do you want to be my everlasting love?”
Shilla masuk ke dalam kamarnya. Ia tersenyum lalu segera bergegas keluar kamar. Ia menuruni anak tangga dengan sangat tergesa. Sesampainya di lantai bawah, Shilla berlari dan membuka pintu taman belakang yang remang. Shilla berlari dan memeluk Rio.
“Lo...” Shilla mengeratkan pelukannya dan menangis.
“Kenapa? Kok nangis? Gak suka ya? Ya udah gak apa-apa kok tapi jangan nangis dong!” Rio mulai panik. Ia balas memeluk Shilla dan membelai rambut gadis itu.
“Lo itu baik banget, Rio. Lo yang selalu nyemangatin gue, tanpa gue sadarin. Gue sekarang baru sadar, kalo selama ini, sedikit demi sedikit lo udah bikin kesedihan gue berkurang.” Shilla terisak.
Rio tersenyum. “Itu emang tugas gue. Gue gak mau liat lo sedih lagi. Janji ya, Ini terakhir kalinya lo nangis di hadapan gue?”
Shilla hanya terdiam.
“Jadi gimana jawaban lo?” Tanya Rio menggaruk belakang telinganya.
“Jawaban apa?” Shilla melepaskan pelukannya.
“Ya... Itu... Yang tadi.” Rio menjadi gugup.
“Aku yakin kamu gak sebodoh itu. Apa sikap aku tadi gak cukup untuk ngasih kamu jawaban?” Shilla tersenyum dan berlari masuk ke dalam rumah. Ia menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Rio hanya bengong. Ia terdiam dan tak percaya akan apa yang baru saja terjadi. Ia meraih ponselnya dan mengirimi Shilla sebuah pesan bbm.
Rio Haling: Jadi kamu nerima aku Shill?
Rio menunggu sampai Shilla menjawab pesannya itu. Tak lama kemudian, muncul balasan dari Shilla.
Ashilla Zahrantiara: Asdfghjkl
Rio Haling: Ih serius dong. Aku deg-degan tau!
Ashilla Zahrantiara: Iyaaaaaa Rioooo iyaaaa 

Rio tersenyum puas dengan balasan dari Shilla. Usahanya tidak sia-sia ternyata.
Ashilla Zahrantiara: Thanks yo udh kasih aku kado yg paling indah 
Rio Haling: Aku yg makasih shill. Km udh mau terima aku. Kamu skrg tdr aja. Aku gak ganggu km tdr lg kok :p byeeee sweet dream ya ;)
***
Shilla terbangun dan langsung melihat handphonenya.

Rio Haling: Good morning! Have a nice day, Ashilla Zahrantiara 

Shilla tersenyum membaca pesan itu. Hari ini hari Sabtu dan tentu saja Shilla tidak berangkat ke sekolahnya.

Ashilla Zahrantiara: Good morning too, Rio! Have a nice day ;)

Kemudian ada sebuah bbm masuk lagi. Bukan dari Rio. Dari Sivia.

Sivia Azizah: I heard you’re not single anymore?????? You must tell me the story!!! Gue ke rmh lo jam 10. Be there don’t go anywhere!!!!

Shilla mengerutkan keningnya. Lalu ia membuka recent updates dan masih tersisa updates dari beberapa jam yang lalu.
Rio Haling
Ashilla Zahrantiara’s

Dan lagi-lagi Shilla tersenyum. Ah. Rasanya ia akan terus tersenyum sepanjang hari karena ulah-ulah Rio. Iya! Rio yang sekarang resmi menjadi miliknya.
***
“Oh my god... So sweet...” Sivia memeluk bantal Shilla setelah Shilla selesai bercerita tentang kejadian semalam. “Tuh kan Shill, gue bilang juga apa. Akhir-akhirnya lo juga bakalan jadi tuh sama Rio. Bener kan?”
Shilla hanya tersenyum dang mengangguk sambil terus memerhatikan layar handphonenya.
“Ih ya nih anak! Gue dikacangin lagi! Eh lo kok agak kayak sialan gitu ya, Shill? Masa gue belom jadian sama Iel lo udah ngeduluin gue sih? Huuuu!” Sivia melempar bantal pada Shilla.
“Hahaha... Itu sih derita lo!” Kata Shilla.
“Tapi gue agak bingung juga sih, Kenapa lo mau sama Rio?”
“Tanpa gue sadarin, dia selama ini udah bikin kesedihan gue berkurang, Vi. Ya... You know that problem lah. Dan gue juga tau... Dia beda sama cowok-cowok lainnya.” Jelas Shilla.
“Ecieeee... Tapi... Kalo nih ya, Kalo misalnya Rio nyakitin lo suatu hari nanti gimana, Shill?” Tanya Sivia.
“Dia gak akan nyakitin gue, Vi. Gue percaya sama dia.”
***
Berita tentang hubungan Shilla dan Rio langsung menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru sekolah. Semua sempat ragu dan tidak percaya.
Shilla berjalan memasuki gedung sekolahnya diiringi tatapan tidak percaya tetapi disertai senyum dari orang-orang yang dilewatinya.
“Shilla! Lo jadian sama Rio?” Tanya Alvin saat mereka berpapasan di koridor sekolah.
“Umm.... Ya? Kenapa?” Shilla mengerutkan keningnya.
“Jadi... Beneran?” Alvin meyakinkan Shilla.
“I...Iya!” Shilla mengangguk-angguk.
Alvin tersenyum. “Congrats ya, Shill. Semoga kalian langgeng.”
“Aaaaa thank you Alvin hehe lo juga ya semoga cepet dapet pacar.” Shilla nyengir. Ia segera berjalan menyusuri koridor dan menaiki lift.
“Shill.” Sapa seseorang dalam lift.
Shilla menoleh dan mendapati Rio. Di lift sedang sepi. Hanya ada Shilla, Rio, dan seorang siswi yang entah kelas berapa.
“Hey!” Shilla tersenyum ceria.
“Tadi... Alvin ngomong apa sama kamu?” Tanya Rio.
“Dia nanya... Aku beneran jadian sama kamu atau nggak.” Shilla membuka buku yang dipegangnya.
“Terus... Kamu jawab apa?”
Shilla mengernyit heran.
“Ya... Iya lah!”
Drrrt... Drrrt!
Rio meraba saku celananya dan mengambil handphonenya yang bergetar.
Alvin JS: Congrats. Lo berhasil dptin dia. Trnyta gue kalah cpt ya sama lo? Haha semoga langgeng ya. Ok gue ga bakal rebut dia. Tp inget, skali lo nyakitin dia, liat aja nanti.
***
“Eh ke kantin yuk, Shill.” Sivia menepuk pundak Shilla. “Udah... Pacarannya dilanjut nanti aja deh ya?”
“Yeee apaan sih, Vi. Orang gak lagi pacaran.” Shilla tersenyum malu-malu.
“Apaan deh lo, Shill, pake acara malu-malu gitu hahaha... Kocak lo!” Sivia menoyol kepala Shilla. “Yo, Gue pinjem dulu ya, Shilla nya!”
“Hmm... Iya deh. Balikin ya!” Canda Rio.
“Hmmm tau deh yang lagi kasmaran haha sip sip.” Sivia menggandeng tangan Shilla keluar dari kelas mereka menuju kantin.
“Seriously, gue masih bingung kenapa lo mau sama Rio, Shill. Lo harus tau, lo sama Rio itu udah kayak apaan tau berantem mulu.” Kata Sivia.
“Dia itu baik tau! Lucu lagi!” Shilla tersenyum sendiri.
“Cieeee tau deeeeh...” Goda Sivia.
***
“Shill, kamu pulang bareng aku aja ya?” Rio menepuk pundak Shilla.
“Katanya kamu gak bawa mobil!” Shilla merengut.
“Emang gak bawa sih!” Seru Rio.
“Terus, ngapain aku pulang bareng kamu?”
“Kan aku bawa motor!”
“Terus kenapa tadi kamu gak jemput aku?” Shilla mengembungkan pipinya.
“Iya-iya maaf deeeeh. Kan aku gak mau kamu naik motor.” Rio mengacak rambut Shilla.
“Kenapaaaaa?” Tanya Shilla gemas.
“Ntar kamu masuk angin iiih!” Jawab Rio.
“Orang nggak masuk angin!”
“Iyaaa kan kamu belom tau kamu bakal masuk angin atau ngga!”
“Terus kenapa kamu sekarang ngajak aku pulang bareng kamu?” Tanya Shilla.
“Ng... Gak apa-apa sih.” Rio nyengir.
“Ih kamu tuh!” Shilla mencubit pipi Rio gemas.
“Udah pokoknya kamu ikut aku ya?” Pinta Rio.
“Terus supir aku gimana?”
“Hmm... Ya telepon!” Rio nyengir lagi.
Shilla meraih handphonenya.
“Pak... Aku pulang sama temen... Iya... Hmm...”
“Udah?” Tanya Rio begitu Shilla memasukkan handphonenya ke dalam saku.
“Iya.” Jawab Shilla.
“Ayo!” Rio menggandeng tangan Shilla keluar.
---
Detik berlalu berganti menit. Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan.
Tak terasa, sudah 7 bulan Rio dan Shilla menjalani hubungan mereka. Rio benar-benar membuktikan bahwa ia sangat menyayangi Shilla, begitupun Shilla.
Hubungan mereka berjalan. Biasa. Seperti pasangan yang lainnya.
Kabarnya, Sivia juga sudah berhasil mengambil alih hati Gabriel. Ya, Gabriel si ketua OSIS.
Dan, mungkin justru dari sini lah kisah mereka dimulai.
---
“Shill, gue hari ini pulang bareng iel nih. Gue gak bisa ke rumah lo deh.” Ucap Sivia sambil membolak-balikkan majalah yang dibelinya pagi tadi.
“Yaaah... Ya udah deh gak apa-apa. Nanti gue pulang sama Rio aja kayak biasa.” Sahut Shilla. “Eh iya gue baru inget hari ini...”
“Ada apaan deh, Shill?” Tanya Sivia.
“Gue ada perlu nih sama Bu Winda...” Jawab Shilla.
“Hmmm?”
“Gue pulang sama siapa dong?” Shilla merengut.
“Ya Rio lah!” Jawab Sivia enteng.
“Gak ah. Kasian dia kalo lama nunggu.”
***
“Yo, kamu pulang duluan aja ya?” Kata Shilla sambil merapikan alat tulisnya.
“Loh? Kenapa?”
“Aku ada urusan sama Bu Winda. Agak lama.”
“Yaaah. Aku tungguin deh.”
“Nggak usah, Yo. Lama loh!” Ucap Shilla
“Gak apa-apaaa...” Rio mengusap rambut Shilla pelan.
“Eh, Shill, lo pulang bareng supir kan? Gue nebeng ya? Mobil gue di bengkel nih. Boleh?” Seorang gadis berdagu tirus, Ify, menghampiri Shilla.
“Eh gimana ya, Fy? Gue juga masih ada urusan sama Bu Winda. Ehm... Lo pulang bareng Rio gak apa-apa kan?” Tanya Shilla.
“Eh? Kok gitu, Shill? Kan kamu yang pulang bareng aku?” Rio mengernyitkan keningnya.
“Aku pulang sendiri gak apa-apa, kok. Udah kamu bareng Ify dulu ya? Kasian dia...” Jelas Shilla.
“Yaaah aku nungguin kamu deh.”
“Ck... Rio...” Decak Shilla.
“Hhh oke. Tapi nanti kamu pulang sama siapa?” Tanya Rio dengan cemas.
“Gampang lah. Gimana nanti.” Jawab Shilla sambil tersenyum.
“Tapi...” Rio agak berat melepas Shilla. Ia masih ragu. Namun melihat wajah Shilla, akhirnya Rio menyerah. “Oke oke aku pulang. Kamu hati-hati.”
Shilla mengangguk. Kemudian Rio berjalan menjauhi Shilla dan Ify.
“Duluan ya, Shill.” Ify mengangguk pada Shilla. Shilla tersenyum dan mengangguk.
***
Shilla menatap jam dinding di kamarnya dengan kening berkerut. Sudah pukul delapan malam. Ia mengusir pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam otaknya dan kembali mcemfokuskan pikirannya pada lembar kerja di depannya.
Pecah. Konsentrasinya pecah. Shilla meletakkan pulpennya kemudian meraih ponselnya.
Nada sambung pertama terdengar. Nada sambung kedua....
“Halo?”
“Rio? Kamu udah sampe?” Shilla menghela napas.
“Eh, iya. Maaf ya aku gak ngabarin kamu.”
“Iya gak apa-apa.” Shilla melirik benda bulat dengan tiga jarum dan dua belas angka itu lagi.
Seperti ada yang berbeda. Seperti ada yang berubah.
“Rio?” Ucap Shilla lirih.
“Ya? Kenapa?” Suara di seberang sana. Tampaknya agak berbeda. Shilla tidak mengetahui pasti apa yang telah –atau mungkin- sedang terjadi.
“Are you okay?”
“Yea I’m fine. Udah kamu tidur dulu yaa.”
“Hmm.” Shilla menekan tombol untuk mengakhiri panggilannya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Perasaannya galau. Tahu bahwa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Apa itu?
***
Keanehan itu tidak hanya berlangsung hari itu saja. Namun di hari-hari selanjutnya. Terus menerus seperti itu dan semakin lama, semakin terlihatlah keanehan itu. Janggal. Hingga sampailah pada hari itu...
***
“Eh gue mau nanya sama lo, Shill. Agak private sih... Boleh?” Sivia mengaduk es jeruknya.
“Halah elo, Vi. Kayak ke siapa aja sih hahaha lanjut laaah” Shilla tahu apa yang akan dikatakan soulmatenya itu. Pasti. Pasti menyangkut masalah itu. Perubahan itu. Keanehan itu.
“Lo ada apaan sama Rio? Kayaknya hubungan kalian gak sedeket dulu, ya? Eh jangan tersinggung ya... Gatau Juga atau Cuma perasaan gue?”
Shilla menatap sekelilingnya lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. Lebih dekat dengan Sivia.
“Gue juga gak ngerti, Vi. Ada yang berubah. Tapi gue gak tau apa itu. Dan gue juga gak tau apa yang menyebabkan perubahan itu. Semenjak gue ada urusan sama Bu Winda waktu itu. Semenjak dia... pulang bareng Ify?” Shilla sendiri tak yakin dengan ucapannya.
“Hmm... Tapi lo masih sering pulang pergi bareng dia kan?” Tanya Sivia kemudian menyeruput es jeruknya.
Shilla mengangguk-angguk setengah menerawang.
“Eh iya, ngomong-ngomong soal Ify, dia sekarang jarang masuk les loh!” Kata Sivia yang memang satu tempat les bahasa inggris dengan Ify.
“Oh ya? Kenapa?” Tanya Shilla.
Sivia hanya mengedikkan bahunya. “Gatau deh.”
***
Shilla melirik jam tangan biru yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia mendesah panjang.
“Non, belum dijemput?” Tanya Pak Tono.
Shilla menggeleng resah.
“Sama saya aja gimana toh, Non?”
Shilla berpikir sejenak. Kemudian mengangguk.
“Ya udah deh pak, saya berangkat sama bapak aja.”
Shilla berjalan menuju mobilnya. Ia membuka pintu penumpang belakang kemudian duduk dengan gelisah. Semenjak hari itu, semenjak hatinya dimiliki seseorang, Shilla memang menjadi gadis yang cukup riang di rumahnya. Ia tidak lagi menutup diri pada orang-orang di rumahnya. Pak Tono dan pelayan-pelayan di rumah Shilla yang lainnya tentu senang dengan perubahan pada Shilla itu. Namun, akhir-akhir ini, Shilla mulai terlihat sering gelisah dan resah. Membuat orang-orang rumahnya ikut resah. Takut-takut nona mudanya kembali seperti dulu.
***
5 menit lagi masuk! Shilla berlari-lari kecil menyusuri lorong sekolahnya yang mulai terlihat ramai. Ia memencet tombol lift berkali-kali dengan tidak sabarnya. Dan ketika pintu lift terbuka, Shilla terperangah. Terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya.
***
Rio melepaskan tangannya yang terpaut dengan gadis lain itu. Tidak menyangka bahwa saat itu akhirnya datang juga.
Saat rahasianya mulai terbongkar dengan sendirinya...
***
Shilla memasuki lift tanpa berkata apa-apa. Pikirannya kacau. Kepalanya pusing. Otaknya seakan berputar, berlari mencari alasan yang masuk akal.

=TO BE CONTINUE=

Oh the truth hurts and lies worseeee I can't like it anymore and I love you a little less then beforeeeee~~~ eh? lah? udah selesai ya? Oh oke saatnya saya menerima komentar dan protes dari anda semua. Iye gue tau kok ceritanya sangat amat bosenin, random, dan amat sangat singkat -_- YOU MUST KNOWWWW, ini gue cepetin alurnya soalnya bulan depan udah kelas 9 jadiiii aja gabisa terlalu sering pegang laptop dan otomatis jarang ngetik. Ini ngebut karena ya begitulah kalo saya lambatin bisa-bisa cerita ini tamat 2 tahun lagi-_- Kira-kiraaaa kayaknya tinggal countdown buat ke tamat nih mau aku cepetin aja biar bisa selesai bulan depan. So, keep comment ya buat nyemangatin saya yang udah loyo -_-

Xo,

Valisha

0 comments: