THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Tuesday, July 5, 2011

Love Risk (Part 8)

Shilla memasuki lift tanpa berkata apa-apa. Pikirannya kacau. Kepalanya pusing. Otaknya seakan berputar, berlari mencari alasan yang masuk akal.

***


Ting!
Akhirnya pintu lift terbuka. Shilla membuang napasnya yang –baru disadarinya- sedari tadi ia tahan.
Shilla berjalan dengan langkah yang panjang. Terus berjalan.
Bruk!
Tiba-tiba ia menabrak seseorang di pintu kelasnya. Shilla sontak mengangkat wajahnya.
“Somplak! Elo Vin! Hampir aja jantung gue copot!” Shilla memegang dadanya kemudian berkacak pinggang.
“Eh? Hehehe sorry boss gue gak liat. Salah elo juga sih yaa jalan gak liat-liat. Eh Rio mana?” Alvin menoleh ke kanan dan kiri.
Bum!
Tiba-tiba sesuatu menghantam kepala Shilla lagi. Bertubi-tubi. Memperingatkannya kembali dengan kenyataan.
Bum! Bum! Bum!
Shilla memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing. Kemudian ia merasa tubuhnya sedikit oleng.
“Eh eh! Loh? Lo kenapa Shill?” Tanya Shilla memegangi siku Shilla.
“Ng? Eh gak papa hehe eh minggir gue mau masuk nih!” Shilla memasuki kelasnya dengan hati yang bertambah gelisah. Udara di sekeliling Shilla mulai terasa berkurang. Rasanya ia butuh udara segar dengan sesegera mungkin. Tiba-tiba tenggorokannya terasa tercekat. Ia butuh air untuk diminum dengan sesegera mungkin. Terlalu banyak pikiran yang berkecamuk dalam otaknya. Semakin lama semakin menohok. Mulai mengerti apa yang mungkin sedang terjadi.
***
“Shilla? Lo kenapa?” Tanya Sivia begitu Shilla duduk di tempatnya.
Shilla hanya menggeleng.
“Kenapa sih? Ayo cerita, Shill.” Sivia menopang dagunya dengan kedua tangan.
Shilla menatap sahabatnya itu ragu kemudian beberapa saat kemudian ia menceritakan apa yang baru saja dilihatnya. Sivia nampak terkejut, seperti apa yang sudah diduga Shilla.
“Hah? Ah yang bener? Hmm... Mungkin aja mereka...” Sivia sudah tidak dapat memberikan penyanggahan dan kemungkinan terbaik dari masalah itu. Kemudian ia bungkam. Berpikir lagi untuk menenangkan sahabatnya hingga bel masuk berdering nyaring memekakkan telinga. Entah kenapa bel yang berbunyi hari itu lebih nyaring dari biasanya. Setidaknya itulah yang dirasakan Shilla.
***
Rio tidak memberikan penjelasan apa-apa pada Shilla. Shilla pun hanya diam walau sebenarnya dalam hati sangat ingin penjelasan dari Rio.
Hari terus berganti. Shilla dan Rio tidak pernah lagi saling menghubungi. Jika berpapasan, Rio selalu membuang muka. Membuat luka di hati Shilla terasa semakin perih. Tapi apa yang bisa diperbuatnya? Menangis? Bahkan menangis pun tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi memberi jawaban atas segala perubahan itu.
***
BUG!
Satu pukulan mendarat tepat di rahang Rio. Membuatnya terlonjak kaget. Sore itu sekolah sudah sangat sepi dan Rio tengah membereskan barang-barangnya.
“Udah gila ya lo? Apa-apaan pake mukul gue segala? Apa masalah lo sama gue?” Rio mulai naik darah saat tahu siapa yang memukulnya.
“Elo yang gila! Gue kan udah pernah bilang, sampe suatu hari lo nyakitin Shilla, gue yang bakal turun tangan!” Alvin berkacak pinggang. Membiarkan Rio tenang sejenak.
“Maksud lo ituuu apaaaaa? Gak ada angin gak ada hujan ujug-ujug lo jalan, gandengan tangan, dan sama Ify. Doesn’t make sense, Yo!” Alvin membuang napas keras. “Terserah deh! Gak ada gunanya ngomong sama orang keras kepala kayak lo!”
Rio hanya menatap kepergian Alvin.
***
Satu minggu telah berlalu sejak Alvin memukulnya tempo hari. Jika dihitung, sudah hampir satu bulan ia tidak berhubungan dengan Shilla. Rio tahu pasti itu salahnya. Penyebabnya karena saat itu, saat Rio mengantar Ify pulang, lalu...
Rio menghela napas. Tiba-tiba, ia merasa rindu pada Shilla. Ingin menatap wajahnya, mengobrol santai dengannya, atau bahkan menonton TV dan mengomentari gossip yang sedang panas kala itu.
Semakin lama perasaan rindu itu semakin membuncah. Hingga akhirnya Rio memutuskan untuk mengambil ponselnya.
Rio Haling: Hey 
Rio terus menatap ponselnya. Berharap mendapat balasan. Rio mulai menerawang saat tak kunjung mendapat balasan.
Ting!
Kemudian Rio dengan sigap membuka bbm itu.
Ashilla: Hey
Rio mulai menatap ponselnya tanpa minat. Ia tahu ia salah. Tapi ia tidak tahu sesakit apakah perasaan gadis itu? Rio melirik jam dinding bergambar tim sepak bola favoritnya. Pukul 6 sore. Rio mulai mengetik balasan lagi.
Rio Haling: Aku pengen ngomong. Dateng ke bukit, jam 7. Aku tunggu.
***
Shilla menengok ke belakang sesekali. Seperti ada yang mengikutinya sejak ia turun dari mobil tadi. Tapi setiap Shilla menoleh ke belakang. Tadaaa! Tidak ada siapapun.
Shilla kembali membalikkan badannya. Seketika sekujur tubuhnya beku. Melihat siapa yang duduk membelakanginya.
Shilla berjalan pelan menghampiri Rio.
“Ehm” Shilla berdeham. Rio menoleh dan tersenyum canggung.
“Hey, ehm... Apa kabar?” Tanya Rio sambil bangkit.
“Ya... Gitu lah.” Shilla menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Aku mau...”
“Rio!” Tiba-tiba seseorang muncul. Orang itu lagi. Bersama seorang gadis. Alvin dan Sivia.
BUG!
Lagi-lagi satu pukulan mendarat di rahangnya.
“Eh? Vin! Vin! Stop! Kok gitu sih?” Shilla berusaha menahan Alvin.
“Udah deh, Shill. Mending lo pulang aja. Gak pantes lo ada disini. Masa lo mau dateng saat dia butuhin lo, dan dia gak mau dateng saat lo butuhin dia?” Alvin menunjuk Rio saat mengatakan kata ‘dia’ dan menunjuk Shilla saat mengatakan kata ‘elo’.
“Vin, sabar vin...” Sivia yang berdiri di samping Alvin mulai panik.
“Udah udah mending kita pulang aja!” Sivia menarik tangan Alvin menjauh.
Shilla melangkah menyusul Sivia dan Alvin. Baru selangkah Shilla berjalan, ia menoleh ke belakang lagi.
“Sorry...” Ucap Shilla dengan gerakan mulutnya pada Rio.
Rio hanya membuang muka tak acuh.
Cih. Bahkan Shilla meminta maaf pada dirinya. Membuat dirinya semakin terpuruk dan rasa bersalah itu semakin membesar mengisi ruang hati Rio.
Sekejam itukah dirinya sehingga Alvin, yang notabene adalah sahabatnya sendiri, berani memukulnya. DUA KALI dalam kurun waktu seminggu.
***
Shilla mengaduk es teh manisnya tanpa minat. Ia terus memperhatikan es batu dalam gelasnya.
“Shill! Kenapa lo? Bengong aja sih.” Sivia yang duduk di depan Shilla bersama Alvin membuyarkan lamunan Shilla.
“Eh? Nggak kok. Nih, gue lagi ngitungin es batu hehehe...” Shilla hanya nyengir.
“Kurang kerjaan amat dah luuu mending juga dagang nih kayak nci-nci sebelah gue. Cina-cina gak mau rugi. Diambil baksonya aja ngamuk kayak nci-nci glodok hahahahahahaha...” Alvin tertawa terpingkal-pingkal sementara Sivia terus memukulinya tanpa ampun.
“Tolong ya engko sadar diri bisa kali! KO ALVIN!” Sivia masih memukuli Alvin.
Shilla tertawa sendiri melihat tingkah kedua sahabat yang duduk di depannya ini. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Terkadang memang ia merasa beruntung memiliki sahabat-sahabat seperti mereka. Tapi tetap saja, luka di hatinya masih belum bisa terobati. Luka yang ditorehkan oleh pemuda yang duduk tak jauh dari tempatnya.
***
Rio terus mengamati gadis itu. Beberapa saat kemudian ia menghela napas dan terus begitu. Gadis itu mengaduk es teh manisnya dengan tekun dan pandangan matanya kosong. Terluka. Hati Rio miris. Tatapan terluka Shilla itu, yang dulu pernah disembuhkannya. Namun sekarang malah ia yang membuat gadis itu kembali jatuh. Kembali terluka. Malah Rio seakan memperparah luka yang dulu tersimpan di hati Shilla. Sejak saat Shilla membiarkan Rio pulang dengan Ify. Membiarkan Rio jatuh lagi. Jatuh cinta lagi pada gadis berdagu tirus itu.
Gadis itu kini tengah tertawa kecil melihat tingkah laku kedua orang sahabat yang duduk di depannya. Alvin dan Sivia yang mungkin saja sedang melontarkan kata-kata penghibur. Entahlah, Rio tidak dapat mendengar apa-apa.
‘Apa ini sepenuhnya salah aku, Shill? Kamu gini karena aku? Tapi kamu yang dulu ngebiarin aku jatuh cinta lagi sama Ify... Kamu yang nyuruh aku pulang bareng dia dan...’ Rio memejamkan matanya sejenak. Pikirannya kembali melayang pada beberapa minggu yang lalu...
<<<<<< “Yo, anterin gue sampe gang yang biasa aja ya! Yang dulu lo masih inget kan?” Tanya Ify saat mereka –Rio dan Ify- sedang berjalan menuju tempat parkir. Rio hanya mengangguk. Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di dalam mobil dan mobil Rio pun berjalan membelah jalanan Jakarta. Ify terus terdiam selama perjalanan. Ia hanya menatap jalanan lewat kaca jendela mobil. “Jadi... Apa kabar lo selama ini?” Tanya Rio memecah keheningan dalam mobil itu. Ify menoleh sekilas dan tersenyum samar. “Ya... Baik...” Ify kembali mengalihkan pandangannya. “Sampe sekarang gue belom tau, alasan lo mutusin gue. Waktu itu...” Rio terus memfokuskan pandangan pada jalanan di depannya. Meskipun sesekali Rio melirik ke arah Ify. “Waktu itu...” Ify terdiam sejenak. “Gue ngerasa gak pantes. Gue ngerasa gue gak pantes buat elo, Yo. Gue takut lo bilang sayang sama gue itu Cuma bohong. Gak tau lah. Gue ngerasa gue bukan cewek yang baik buat elo.” Rio terdiam sejenak. Ia menelan ludah kemudian melirik gadis di sebelahnya lagi dan tertegun. Gadis itu terdiam menatap jalanan di samping kirinya lewat kaca jendela mobil. Rambutnya terkena kilauan sinar matahari yang keemasan. Matanya yang besar, Rambutnya yang ikal, Dagunya yang tirus, semua membuat Rio teringat akan masa lalunya. Membuatnya ingin kembali pada masa lalu, melupakan apa yang sudah ada di depan mata dan mungkin akan hilang dalam kesunyian. Sejak hari itu, ia tidak tahu bahwa akan ada seorang lagi yang terluka. >>>>
“Yo?” Suara lembut seseorang membuyarkan lamunannya.
Rio segera tersadar dan menoleh pada si pemilik suara. Dia. Si cewek dengan dagu tirus itu.
Tiba-tiba Rio merasa kembali lagi pada realita. Dirinya yang tega melukai Shilla, lalu Ify yang berada di sampingnya kini.
“Eh? Ya?” Rio memaksakan sedikit senyuman.
“Balik ke kelas yuk!” Ify tersenyum.
Rio melirik Shilla sekilas. Ternyata gadis itu sedang menatapnya juga dan sedetik kemudian langsung memalingkan wajahnya. Ia menghela napas kemudian mengangguk.
***
Shilla menggeliat kecil saat handphonenya bergetar. Ia meraba-raba bawah bantalnya dan membuka bbm yang masuk.
Rio Haling: Shillaaa, ke Saint Cinnamon ya jam 4 sore. Aku tunggu. Pastiin kamu dateng sendirian.
Shilla mengerutkan keningnya. Rio lagi? Perih itu mulai terasa lagi. Ia kecewa. Ya, tentu saja kecewa. Tetapi memang apa lagi yang bisa diperbuat Shilla selain menuruti kemauan Rio?
Ia melirik jam dinding di kamarnya. Pukul 3 sore. Sebaiknya ia bergegas mandi dan pergi ke tempat yang disebutkan Rio.
***
Shilla mendorong pintu kaca cafe itu. Sore itu, keadaan cafe tidak begitu ramai. Shilla melirik jam tangannya. Sudah pukul empat lewat lima belas menit. Seharusnya, Rio sudah sampai di cafe ini.
Shilla mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe dan lagi-lagi sekujur tubuhnya kaku. Hatinya serasa dicabik-cabik ketika melihat sosok itu. Rio sedang menekuni Hot Lemon Tea nya. Bahkan tanpa melihat isi cangkir di hadapan Rio pun, Shilla mengetahui isi cangkir tersebut.
Shilla mulai berjalan perlahan. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan Rio. Apakah itu suatu kabar yang mengecewakan hatinya lagi? Tapi apa? Berita bahwa Rio sudah memiliki hati Ify lagi? Shilla tahu Rio tidak sejahat itu.
“Sorry, gue telat.” Shilla menarik kursi di depan Rio.
Rio terkesiap karena dua hal. Pertama, karena Shilla tiba-tiba muncul. Kedua, Apa tadi? Gue? Rio harap ia hanya salah mendengar. Bagaimanapun keadannya, Rio tidak ingin melepaskan Shilla. Bagaimanapun keadaannya. Rio sayang Shilla. Tapi, Ify...?
Rio hanya tersenyum samar. Ia kembali menekuni Hot Lemon Tea nya. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Ada apa dengannya? Apakah ia... Gugup? Tak pernah sebelumnya ia gugup di hadapan Shilla. Sekalipun saat Rio menyatakan perasaannya pada Shilla.
Rio mendengar Shilla memesan Hot Chocolate pada pelayan yang baru datang menghampiri mereka, kemudian hening lagi. Hanya terdengar suara gelas beradu dengan sendok.
“Lo... Mau ngomong apa?” Tanya Shilla setelah sebelumnya menghela napas panjang.
Rio hanya terdiam. Tidak tahu apa yang ingin dikatakannya pada Shilla. Ia hanya rindu pada gadis itu. Apakah salah?
Sebenarnya ada hal lain yang ingin disampaikan Rio. Apa itu? Permintaan maaf? Cih, Rio tidak yakin dirinya mendapat perlakuan pantas dari Shilla. Jadi ia memutuskan untuk diam.
Seorang pelayan datang dan membawakan segelas Hot Chocolate yang dipesan Shilla.
“Makasih ya, Mba...” Gadis itu tersenyum ramah pada pelayan itu. Shilla mulai meniup-niup Hot Chocolatenya kemudian menyeruputnya perlahan.
“Jadi... Lo mau ngomong apa?” Tanya Shilla sekali lagi menatap Rio yang menunduk. Tidak berani membalas tatapan Shilla. Pengecutkah dirinya?
Dan Rio tetap diam. Perasaannya kacau balau. Semua yang ingin diungkapkannya serasa meluap begitu saja.
Shilla pun akhirnya memutuskan untuk diam dan meniup-niup Hot Chocolatenya saja ketimbang terus bertanya dan tak kunjung mendapat jawaban.
15 menit berlalu tanpa suara. Rio sibuk dengan Hot Lemon Tea nya dan Shilla sibuk dengan Hot Chocolatenya.
“Gue masih tunggu jawaban lo, lho...” Ucap Shilla memecah keheningan tanpa menatap Rio.
Rio menyerah dan akhirnya menghela napas. Ia mencoba menatap kedua mata Shilla.
“Aku Cuma mau...”
Tiba-tiba terdengar intro lagu You Belong With Me mengalun dari handphone Shilla disaat Rio tengah berjuang menguatkan hatinya untuk berkata kejujuran.
Shilla menatap layar LCD ponselnya dan mengangkat tangan untuk mengisyaratkan agar Rio berhenti sebentar. Ia pun menekan tombol untuk menerima panggilan.
“Halo... Ehm, Kenapa?” Shilla berbicara dengan si penelepon –yang entah siapa- itu. Beberapa saat kemudian Shilla melirik jam tangan yang bertengger di pergelangan tangan kirinya. “Oke... Iya deh... Hahahah iya-iyaaaa... Sip! Bye!” Shilla menekan tombol untuk mengakhiri panggilan.
“Eh, sorry ya, Yo. Gue harus pergi sekarang. Ada urusan. Bye!” Shilla berdiri dari kursinya dan melangkah meninggalkan Rio yang melongo. Shilla menarik pintu kaca itu dan keluar dari cafe. Baru dua langkah ia berjalan, ia menatap langit di atasnya kemudian menghela napas lalu mulai melangkah lagi...
***
“Sorry guys I’m lateeee!” Shilla menghampiri Sivia dan Alvin yang telah menunggunya.
“Yeeee kemana aja sih looo?” Tanya Sivia mengambil kacang dalam toples.
“Ehm? Ke... dari rumah kok.” Shilla duduk di samping Sivia.
“Eh sebentar ya gue ambil minum dulu...” Sivia berdiri dan pergi ke dapur untuk membuat syrup.
“Tadi lo dari rumah, Shill? Kok cepet banget sih sampe sininya?” Tanya Alvin seraya mengambil beberapa kacang lagi dari toples.
“Iya. Ngebut dong haha.” Shilla ikutan mengambil kacang.
Tak lama kemudian Sivia datang membawa tiga gelas syrup.
“Eh iya ngomong-ngomong besok pada ke PS yaaaaa!” Kata Shilla.
“Kenapa? Ada apa?” Tanya Sivia.
“Gue besok mau konser gitar hahahahaha nggak deeeh bukan konser. Yaa gue jadi diundang gitu sama majalah Star Teen. Dateng dooong yayaya?” Pinta Shilla sedikit memelas.
“Waaaah pastinya dooong! Eh gimana bisa lo diundang sama mereka? Lo kok gak pernah cerita?” Tanya Alvin kemudian meneguk syrupnya.
“Hahaha... Seminggu yang lalu mereka nelepon gue, katanya mereka pernah liat gue main gitar. Ngakunya sih liat di pensi tahun lalu...” Jelas Shilla. “Deg-degan nih hahaha wish me luck ya!”
Sivia tersenyum. “Haha apa sih yang nggak buat Ashilla Zahrantiaraaaa?”
Kemudian mereka tertawa bersama.
“Gak ngundang Rio, Shill?” Tanya Sivia sambil membuka-buka halaman majalah.
Shilla yang sedang meneguk syrup langsung tersedak mendengar kata-kata yang dilontarkan Sivia.
“Eh? Shill? Lo gak apa-apa?” Sivia menutup majalahnya.
Shilla menggeleng dan mulai mengatur napasnya.
‘Rio? Haha gue aja gak yakin dia bakal dateng.’ Pikir Shilla dalam hati.
***
“Vin, lelet banget sih looo! Ayo cepetannnn nanti kita ketinggalan!” Sivia buru-buru menaiki tangga berjalan.
“Santai dikit kenapa deh, Vi? Ini juga gue udah lari!” Sahut Alvin.
Tak berapa lama kemudian, merekapun sampai di lantai 3, tempat acara majalah itu berlangsung.
Shilla melambaikan tangan ketika melihat Sivia dan Alvin. Merekapun balas melambaikan tangan.
“Dan... Eh iya, ini kita kedatengan seorang cewek nih yang jago ngegitar ceilahh hahaha... Ya udah kita sambut aja yuk, Ashilla Zahrantiara dari SMA Taruna Bintang!” Seorang pembawa acara yang pandai berbicara itu mempersilakan Shilla naik ke atas panggung.
Sivia dan Alvin mengacungkan jempol mereka yang dibalas Shilla dengan senyuman.
“Siang semua. Gue Shilla dari SMA Taruna Bintang. Ehm... Hari ini gue mau bawain lagu dari Audy, Judulnya Menangis Semalam. Selamat menikmati!”
Shilla mulai memetik gitarnya dan mulai bernyanyi.
“Kau sempat ucapkan pisah
Saat ku beranjak pergi
Tapi perasaanku
Tak berpaling darimu

Kau ucapkan jangan pergi
Saat kudatang kembali
Tapi luka ini
Telah membeku tak mencair

*Tahukah kamu semalam tadi
Aku menangis
Mengingatmu mengenangmu
Mungkin hatiku terluka dalam
Atau selalu
Terukirkan kenangan kita

Kau telah hadirkan dia
Untuk menggantikan aku
Tanpa kau sadari
Aku tak kan pernah terganti

Kau ingin tinggalkan dia
Dan menyandingku kembali
Ini tak kan adil
Untukku ataupun dirinya

(back to *)”
( Audy – Menangis Semalam)
Tepuk tangan riuh langsung terdengar begitu Shilla menyelesaikan bait terakhirnya.
Shilla tersenyum pada seluruh hadirin lalu menundukkan kepalanya dan turun dari atas panggung.
“Wow wow woooww! Itu dia penampilan dari temen-temen kita. Guys, Kalo pengen jadi kayak Shilla...” Sementara si pembawa acara tadi terus berbicara di depan para hadirin, Shilla menghampiri Sivia dan Alvin.
“Heeey Shill! Tadi keren bangeeet aaaaa mau deeeh kayak elooo!” Sivia memeluk Shilla sebentar lalu melepaskannya lagi.
“Thankssss Vi! Hahaha...” Ucap Shilla kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya. “Eh iya makan yuk!”
“Hmm ayo ajaaa tapi traktir yaa? Kan tadi udah sukses tampilnyaaaa.” Kata Alvin.
“Hahaha ayooo deeeh!” Shilla pun berjalan mendahului Sivia dan Alvin.
***
“Eh, gue mesti balik duluan niiih. Gue gak enak badan. Sorry banget yaaa gak bisa nemenin kalian terlalu lama.” Kata Shilla setelah mereka makan.
“Yaaah... Gitu ya, Shill? Iya deh gak papa get well soon yaaa!” Ucap Sivia.
Shilla tersenyum dan mengangguk.
“Sip laaah. Duluan yaaa Vi, Vin. Bye!” Shilla pun berlalu dari hadapan mereka berdua.
“Hhhh kadang gue kasian sama dia, Vin. Gue tau dia kecewa banget sama Rio...” Sivia menatap Alvin yang berdiri di sebelahnya.
Alvin tertawa kecil.
“Emang. Rio tuh kenapa sih? Sampe sekarang gue masih gak ngerti, Vi. Gue tau dia pernah ada hubungan sama Ify. Tapi kan sekarang dia udah sama Shilla. Masa iya dia ngelepas Shilla gitu aja demi... Ify?” Alvin memalingkan wajahnya.
***
Rio menekan klakson mobilnya dengan tidak sabar dan langsung memarkirkan mobilnya. Ia mengecek ponselnya lagi dan membaca ulang pesan yang dikirimkan oleh gadis itu.
Ashilla: Yo, kalo mau dateng aja ke PS jam 1 siang nanti lantai 3. Gue tampil gitar. Thanks
Rio mempercepat langkahnya dan menaiki eskalator.
Sesaat kemudian ia sampai di lantai tiga dan melihat Sivia dan Alvin sedang mengobrol hendak menuju eskalator untuk turun.
“Alvin! Sivia!” Panggilnya.
Alvin dan Sivia menoleh pada orang yang memanggil mereka.
“Rio?” Sivia mengerutkan keningnya dan menoleh pada Alvin yang sedang tersenyum sinis.
“Vin, Vi, Shilla mana? Katanya dia mau tampil, kan?” Kata Rio seraya mengatur napasnya.
Alvin melirik jam tangannya. Pukul dua siang.
“Udah jam dua. Kayaknya jam lo perlu diservice. Shilla udah tampil satu jam yang lalu. MEMUKAU tanpa kehadiran lo!” Alvin membuang mukanya. Menahan untuk tidak memukul Rio untuk yang ketiga kalinya. “Vi, cabut deh yuk!”
Alvin dan Sivia pun melangkah meninggalkan Rio yang tetap terdiam ditempat menatap kepergian mereka berdua.
Akhirnya Rio memutuskan untuk pergi dari sana. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.
***
“Pak, jalannya cepet dikit ya pak!” Shilla membenarkan posisi duduknya.
“Iya, Non. Ini juga saya udah berusaha cepat. Ono opo toh ya, Non, sampe buru-buru begitu?” Tanya Pak Tono. Ia menjadi resah karena majikannya terlihat gelisah.
Shilla hanya menggeleng. “Nggak, Pak. Saya mau istirahat. Cepetin dikit lagi ya, Pak.”
Pak Tono pun segera mempercepat laju mobilnya.
Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul sebuah truk dengan kecepatan yang lebih cepat. Sepertinya supir truk itu tengah mabuk. Pak Tono langsung membanting setirnya ke kiri, tetapi terlambat...
***
Rio terus melajukan mobilnya. Sesekali ia menggigit bibir dan membunyikan klaksonnya dengan tidak sabar.
Tak lama kemudian, Rio melihat orang-orang tengah berkerumun di satu titik. Rio mempunyai firasat tidak enak dan langsung memarkirkan mobilnya dekat sana. Rio turun dari mobilnya dan sekujur tubuhnya kaku seketika ketika melihat bagian depan mobil yang dikenalinya hancur yang –sepertinya- ditabrak oleh truk yang bagian depannya juga hancur.
Pikiran Rio kacau. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Entah menelepon Alvin, Sivia, atau apa?
Akhirnya Rio memutuskan untuk menghampiri kedua mobil itu dengan hati-hati. Jantungnya berdegup kencang.
Rio melihat ke dalam mobil dan tidak menemukan siapapun. Ia pun bertanya pada seseorang yang berada di dekatnya.
“Misi, Pak. Kalo boleh tau... Orang yang ada di mobil ini sekarang kemana ya, Pak?” Tanya Rio menunjuk mobil APV yang tertabrak itu. Mobil Shilla. Ia yakin itu mobil APV Shilla dengan plat nomor B 4551 LLA.
“Adik kenal dengan pemilik mobil ini? Atau yang mengendarai mobil ini?” Tanya bapak itu.
Rio mengangguk dengan tidak sabar. “Kemana orangnya, Pak? Apa dia baik-baik aja?”
“Wah maaf, dek. Saya tidak tau. Tadi kedua korban yang berada di mobil ini langsung dilarikan ke rumah sakit.” Jelas bapak tersebut.
“Bapak tau rumah sakit mana?” Tanya Rio lagi.
“Saya juga gak tau, dek. Tadi mereka dilarikan ke rumah sakit pakai taksi. Kebetulan orang yang membantu mereka itu juga supir taksi.” Bapak tersebut menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Rio mengangguk. “Makasih, Pak.”
Rio pun berjalan menjauh dari kerumunan orang itu dan mulai berpikir apa yang harus dilakukannya. Rio sama sekali tidak tahu dimana Rumah Sakit tempat Shilla dan supirnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Alvin.
Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Kemudian ia mengetik beberapa nomor yang ia hafal. Ia mendekatkan ponsel ke telinganya.
Nada sambung pertama... Nada sambung kedua...
“Vin, please angkat, Vin. Ini penting, Vin. Lo harus bantu gue.”
Nada sambung ketiga...
Kemudian terdengar nada terputus pendek-pendek. Dimatikan.
“SHIT!” Rio kembali berpikir. Alvin... Sivia... AH! Sivia!
Rio langsung mencari kontak Sivia di ponselnya.
“Viaaa angkat, pleaseeee.” Rio mendekatkan ponsel ke telinganya.
Nada sambung pertama... Nada sambung kedua...
“Halo?” Tanya Sivia yang akhirnya mengangkat telepon dari Rio.
“Via!” Kata Rio lega bercampur panik.
“Iya? Tenang, Yo, Tenang. Ada apa?”
“Shilla, Vi! Shilla!” Rio tetap panik.
“Shilla kenapa, Yo? Ngomong yang jelas!” Sivia mulai terdengar cemas.
“Shilla kecelakaan, Vi! Gue liat mobilnya yang APV tabrakan disini!” Shilla melirik lagi mobil APV Shilla dan truk berwarnya kuning itu.
“APA? Shilla kecelakaan?” Setelah Sivia mengucapkan kata-kata itu, terdengar suara Sivia dan Alvin sedang mengobrol panik kemudian ponselnya berpindah tangan.
“Ini gue. Shilla kecelakaan? Jangan bohong lo!” Kata Alvin ikutan panik.
“Sumpah, Vin! Gak ada guna gue bohooong. Kalo gak percaya lo dateng aja kesini. Jalan Sudirman.” Kesabaran Rio mulai berkurang.
“Ya udah. Terus lo mau ngapain?” Tanya Alvin.
“Vin, please. Gue lagi gak nyari ribut. Shilla sama supirnya udah dibawa ke rumah sakit. Tapi gue gak tau rumah sakit mana dan orang-orang disini gak ada yang tau!” Kata Rio.
“Ya udah mending lo sekarang pulang. Biar gue sama Via yang urus semua.” Ucap Alvin dingin kemudian memutuskan hubungan telepon itu.
***
Alvin menekan tombol untuk mengakhiri panggilan dan memberi ponsel itu pada pemiliknya.
“Vi, ikut gue. Gue tau gimana kita bisa dapet info rumah sakit Shilla.” Kata Alvin dan berjalan mendahului Sivia.
“Vin, Shilla bener kecelakaan? Yang bener aja! Tapi dia gak apa-apa kan?” Tanya Sivia cemas.
“Vi, gue gak tau. Kita semua gak ada yang tau. Makanya sekarang kita cek satu-satu rumah sakit. Firasat gue pasti rumah sakit itu deket sama lokasi kejadian.” Jelas Alvin sambil berjalan menuju mobilnya disusul Sivia.

=TO BE CONTINUE=

HALOOOOO!!! Apa masih ada yg baca cerita random ini? Oh gak ada oke lalalala tenang aja bentar lg tamat haha apa bgt ya baru berapa part udah tamat mba janis aja sampe 35 gitu mana ABCDE lagi._. oke saya tau saya abal, terimakasih pujiannya. Anw yang mau copy cerita ini tolong blg gue dulu yaaa ada contact personnya (?) kan di blog gue? part 9 nya ntar ya kapan-kapan (?) paling kalo gak sempet sampe gue msk sekolah dan mulai penderitaan gue sebagai siswi kelas 9 gue lanjutin tahun depan-_- LEAVE COMMENT ;)



XOXO,


VALISHANBL

0 comments: