THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Monday, July 11, 2011

Love Risk (Part 9) #LASTPART

Alvin menekan tombol untuk mengakhiri panggilan dan memberi ponsel itu pada pemiliknya.
“Vi, ikut gue. Gue tau gimana kita bisa dapet info rumah sakit Shilla.” Kata Alvin dan berjalan mendahului Sivia.
“Vin, Shilla bener kecelakaan? Yang bener aja! Tapi dia gak apa-apa kan?” Tanya Sivia cemas.
“Vi, gue gak tau. Kita semua gak ada yang tau. Makanya sekarang kita cek satu-satu rumah sakit. Firasat gue pasti rumah sakit itu deket sama lokasi kejadian.” Jelas Alvin sambil berjalan menuju mobilnya disusul Sivia.


***
Shilla membuka matanya perlahan. Pertama-tama ia melihat langit-langit berwarna putih. Tidak, ini bukan kamarnya. Langit-langit kamarnya berwarna biru langit dengan gambar awan-awan putih. Mata Shilla mulai berkeliling mengamati keadaan sekelilingnya dan ia terkesiap ketika mendengar suara seseorang.
“Kamu udah sadar...” Ucap sebuah suara lembut.
Shilla langsung menoleh ke samping kirinya. Disana seorang wanita dengan berpakaian putih-putih tersenyum. Dari pakaiannya seperti seorang... Suster?
“Saya dimana?” Tanya Shilla.
“Kamu di Rumah Sakit. Kemarin kamu kecelakaan.” Jawab seorang suster itu.
“Kecelakaan?” Shilla kembali mengingat kejadian terakhir yang dialaminya. Ia duduk dengan gelisah, ada sebuah truk kuning yang melaju cepat, hingga akhirnya... Semua berubah menjadi gelap.
“O... Oh... Terus supir saya dimana? Saya gak apa-apa kan? Udah berapa lama saya pingsan?” Tanya Shilla lagi.
“Supir kamu ada di kamar lain. Nggak kok kamu gak apa-apa. Kamu Cuma ngalamin sedikit benturan dan mungkin kamu kaget sampai koma satu hari.” Suster itu tersenyum lagi. “Kemarin ada temen kamu kesini.”
Shilla menoleh cepat kearah suster itu.
“Siapa? Cewek atau cowok?” Tanya Shilla bertubi-tubi.
”Cewek sama cowok. Semalem mereka pulang katanya mereka bakal kesini lagi hari ini pulang sekolah...” Jelas si suster.
Shilla hanya mengangguk lemah.
“Suster, boleh saya pinjem telepon? Pelayan-pelayan di rumah pasti khawatir karena saya dan supir saya belom pulang dari kemaren.” Kata Shilla.
“Orang-orang di rumah kamu udah kami hubungi kok. Mereka sempet panik, tapi udah kita bilang kalian berdua gak apa-apa. Oh Iya, mereka bilang mereka mau kirim satu pelayan kamu kesini hari ini.”
Shilla mengangguk-angguk lagi.
“Saya mau panggil dokter dulu.” Kata suster itu.
Shilla hanya mengangguk sementara si suster sibuk dengan telepon di kamar Shilla.
Beberapa saat kemudian seorang dokter datang dan memeriksa keadaan Shilla.
“Bagus. Kamu gak apa-apa kok, Cuma perlu istirahat aja. Saya permisi dulu ya.” Kata si dokter dan berlalu pergi.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu. Si suster yang –menurut Shilla- banyak bicara itu segera membukakan pintu kamar Shilla sementara Shilla meneguk segelas air putih yang berada di meja di samping ranjangnya.
“Non Shilla, Ya ampun non gak apa-apa?” Salah satu pelayan Shilla yang cukup sering Shilla lihat wajahnya memasuki kamar rawat Shilla.
Shilla tersenyum. “Iya. Saya gak apa-apa kok.”
“Terus gimana keadaan Pak Tono, Non?” Tanya pelayan itu lagi.
“Saya belom sempet liat.” Jawab Shilla kemudian bergerak meraih remote TV yang berada di sebelahnya.
“Saya permisi dulu, ya. Kalo ada apa-apa pencet bel aja.” Ucap suster itu dan segera meninggalkan kamar Shilla setelah Shilla mengangguk.
“Oh iya, Nama bibi siapa?” Tanya Shilla pada pelayan itu.
“Ijem, Non. Bay de wey on de wey in de baswey, Si non ini kenapa toh non akhir-akhir ini suka murung begitu? Den Rio juga sudah jarang main ke rumah ya, Non!” Kata Bi Ijem.
Shilla terbatuk sesaat.
“Saya gak apa-apa kok.” Jawab Shilla lagi.
“Memangnya Non Shilla sama Den Rio ada masalah ya? Eh bukannya saya mau urusan orang loh ya non.” Bi Ijem salah tingkah sendiri.
Shilla tertawa kecil. “Saya juga gak tau saya ada di masalah apa, Bi.”
“Loh? Kok bisa begitu non?” Tanya Bi Ijem.
“Karena apa yang kita rencanain, belum tentu sesuai sama yang tuhan rencanain.” Jawab Shilla sedikit menerawang.
***
“Kamu harus ngomong sama Shilla, Yo. Aku gak mau hubungan kita gak jelas gini Cuma karena kamu ragu.” Ucap Ify.
“Aku gak mau, Fy!” Sahut Rio sambil memalingkan wajahnya.
“Gimanapun juga kamu harus ngambil keputusan... Aku yang anter kamu ke rumah sakit nanti pulang sekolah...” Ify melipat kedua tangannya di depan dada.
Rio termenung sejenak. Memikirkan keputusannya sendiri.
***
“Siviaaaa, Shilla kemana?” Tanya Zahra, teman satu kelas Shilla dan Sivia.
“Shilla... kecelakaan, Zah.” Jawab Sivia lirih.
“Hah? Kecelakaan? Serius?” Tanya Zahra lagi.
“Iya, Zah. Kemaren kita jenguk dan keadaannya baik-baik aja kok. Walaupun dia belum sadar.” Jelas Alvin.
“Terus? Kalian nanti mau jenguk lagi?” Zahra memandang kedua temannya dengan cemas.
“Iya. Lo mau ikut?” Tanya Sivia.
Zahra tersenyum lebar namun sedetik kemudian air mukanya berubah. “Pengen sih, tapi gue ada les...”
“Hmm ya udah kita salamin aja deh. Gimana?” Usul Sivia sambil tersenyum.
“Wah! Boleh-boleh! Bilang sorry gak bisa jenguk. Kelas sepi banget gak ada dia!” Kata Zahra sambil merapikan poninya.
Tiba-tiba seorang pemuda masuk disusul seorang gadis.
Alvin dan Sivia ikut menoleh saat melihat Zahra menoleh ke samping kanan. Saat tahu siapa yang masuk Alvin langsung melengos.
***
Shilla sibuk menekan-nekan tombol yang ada di remote control. Memindahkan dari satu channel ke channel yang lainnya.
Ting! Tong!
Tiba-tiba bel kamar Shilla berbunyi dan segera dibuka oleh Bi Ijem. Sesaat Shilla terdiam ketika mendengar suara yang dikenalnya berbincang dengan Bi Ijem lalu sesaat kemudian Shilla kembali sibuk menekan-nekan tombol remote dengan kasar dan tanpa perasaan.
Selang beberapa saat kemudian, seseorang masuk dengan langkah ragu.
“Ehm...”
Shilla berusaha mengabaikan deheman itu dan tetap berkonsentrasi dengan remotenya.
“Shill?”
Shilla mulai hilang kendali dan akhirnya menghela napas. Ia menaruh remote di samping bantalnya.
“Eh, ada elo...” Sapa Shilla memaksakan sebuah senyuman.
Rio menghampiri ranjang Shilla dengan canggung. Perasaan menyesal, bersalah, rindu, semua bercampur menjadi satu.
“Kamu kenapa?” Tanya Rio singkat.
“Gue? Yaaa kayak yang lo liat.” Jawab Shilla.
“Kenapa bisa gini?” Tanya Rio lagi.
Shilla menghela napas. “Gitu deh... Sama siapa lo kesini? Ify mana?”
Suara Shilla tampak agak bergetar saat mengatakan nama itu. Nama gadis itu.
“Dia diluar...” Jawab Rio kemudian menelan ludah.
“Lho? Kok gak disuruh masuk?” Shilla melayangkan pandangannya ke arah pintu.
“Gak.” Rio menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Dia minta aku untuk ngomong sama kamu.”
Shilla mengerutkan keningnya. Shilla mengerti apa yang akan dikatakan oleh pemuda itu dan Shilla siap menerima apapun.
“Ngomong?” Shilla menatap Rio tepat di manik matanya, membuat Rio kehilangan kata-katanya. “Masalah apa?”
“Ng... Itu...” Rio mulai ragu. Pertahanannya mulai goyah. “Tentang... Maafin aku, Shill.”
“Untuk?” Shilla menaikkan kedua alisnya.
“Untuk...” Rio menghela napas sejenak lalu dihembuskannya perlahan. “Semuanya. Untuk semuanya. Maafin aku karena udah...”
Rio tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia sudah tidak sanggup. Seketika ia langsung memalingkan wajahnya. Tidak berani menatap kedua mata bening Shilla.
“Udah lah, masalah itu gak usah dipikirin lagi...” Ujar Shilla membuat Rio menatapnya kembali dan matanya melebar. “Lagian kan kita udah gak ada hubungan apa-apa, Yo. Bilang sama Ify, urusan kita udah selesai.”
“Maksud kamu apa?” Tanya Rio. Kedua alisnya menyatu dan keningnya berkerut.
“Kita udah putus, Rio. Hubungan kita udah berakhir!” Seru Shilla dan mencoba untuk tetap tenang. Keuda matanya tetap menatap Rio lurus-lurus.
“Aku gak pernah bilang gitu, Shill.” Ucap Rio lirih namun tetap dapat terdengar oleh gadis di depannya.
“Gue yang mutusin.” Shilla berujar kalem.
“Nggak. Aku gak mau.” Rio kembali memalingkan wajahnya.
“Please, Yo. Tolong ngertiin gue.” Ucap Shilla lemah.
“Aku tau ini salah aku. Semua ini salah aku.” Rio mengacak rambutnya.
“Nggak. Ini bukan salah siapa-siapa. Bukan salah lo, bukan salah dia, dan juga bukan salah gue. Cuma waktu yang salah. Dia yang dateng bukan di waktu yang tepat. Lo tau? Waktu itu kejam.” Jelas Shilla dalam satu helaan napas.
Rio tidak sepenuhnya mengerti. Apa maksudnya dengan waktu yang salah? Namun sedetik kemudian, ia menyadari maksud Shilla.
“Aku tau. Seandainya aja... Waktu itu kamu gak ngebiarin aku pulang sama dia. Seandainya aja waktu itu kamu gak ngebiarin aku jatuh cinta lagi sama dia. Seandainya aja waktu itu...”
“Stop, Rio! Kita ini hidup di realita! Gak ada kata ‘seandainya’! Take your own risk!” Suara Shilla mulai meninggi bahkan nyaris membentak.
Rio terdiam. Ia mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
“Udah. Mendingan sekarang lo pergi. Bilang dan jelasin sama Ify. Sampein salam gue buat dia.” Ucap Shilla kemudian meraih remote TV yang tadi ia letakkan di samping bantalnya.
Lagi-lagi Rio menghela napas kemudian mulai berjalan mundur lalu membalikkan badannya. Sampai di ambang pintu, Rio kembali menoleh pada Shilla yang sibuk dengan remote TV nya.
“Aku minta maaf. Aku sayang kamu. Banget, Shilla.” Ucap Rio lirih kemudian mulai menarik handel pintu. Ia keluar dari kamar rawat Shilla dengan wajah sendu.
“Gimana?” Tanya Ify yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
“Udah selesai. Balik, ya. Gue capek banget.” Rio terus berjalan disusul Ify menyusuri lorong rumah sakit itu.
“Terus? Sekarang gimana?” Tanya Ify lagi saat dirinya berhasil mensejajarkan langkahnya dengan langkah Rio yang panjang-panjang.
“Ya gak gimana-gimana. It’s over.” Jawab Rio setengah kesal. Sesaat kemudian ia menenangkan emosinya.
Pintu keluar –dan masuk- rumah sakit itu sudah terlihat beberapa meter di depan. Saat hampir menggapainya, tak disangka tak dikira mereka berpapasan dengan seorang gadis dan seorang pemuda yang sangat dikenalnya. Alvin dan Sivia.
Rio hanya menatap kedua teman sekelasnya itu sekilas kemudian dengan segera memalingkan wajahnya kembali ke depan. Ia tak memedulikan tatapan dingin Alvin dan tatapan bingung Sivia. Moodnya sedang jelek dan dia sedang tidak ingin cari gara-gara.
Pintu rumah sakit otomatis terbuka dan segera tertutup kembali setelah Rio dan Ify melewatinya. Rio berjalan ke arah mobilnya terparkir dengan perasaan kacau dan bercampur menjadi satu. Menyesal, Sedih, Marah, dan perasaan tidak enak lainnya. Sedangkan Ify berjalan dengan senyum yang tetap terhias di bibirnya semenjak Rio mengucapkan kalimat terakhirnya tadi.
***
“Vi, cepetan dikiiittt.” Alvin sudah bersiap di ambang pintu kelas siang itu.
“Iye iye bentarrrr.” Sivia memasukkan buku terakhirnya ke dalam tas kemudian menyusul Alvin yang sudah terlebih dahulu berjalan beberapa meter di depannya.
Merekapun sampai di tempat parkir dan segera menghampiri mobil Alvin yang terparkir di bawah pohon rindang.
“Lama banget tau gak sih lo?” Ucap Alvin kesal ketika Sivia sudah masuk dalam mobil.
“Sorry sorry... Gue tau gue salah. Abisan kan si Rio tadi ngilang, terus kan Shilla gak masuk... Jadi aja gue yang jadi korban kena tugas-tugas kelas dari Bu Winda.” Sivia memasang seatbeltnya.
Alvin hanya terdiam lalu mulai melajukan mobilnya.
“Gak mampir dulu? Beli buah atau apa gitu? Jam besuknya masih sisa banyak kok.” Kata Sivia menoleh pada Alvin.
“Hmm... Di depan ada toko buah. Lo aja yang turun ya... Gue tunggu di mobil.” Beberapa saat kemudian Alvin menghentikan mobilnya di depan sebuah toko buah.
“Cepetan ya, Vi!” Pesan Alvin. Sivia mengangguk dan dengan setengah berlari memasuki toko buah itu.
Setelah menunggu beberapa menit, Sivia pun keluar dari toko buah itu dengan sebuah jinjingan di tangan kirinya.
Alvin pun melajukan mobilnya kembali saat Sivia memasuki mobilnya.
Perjalanan ke Rumah Sakit tidak memakan waktu yang lama. Hanya butuh waktu empat puluh lima menit untuk sampai disana.
Alvin segera memarkirkan mobilnya di tempat yang kosong. Sivia terlebih dahulu turun disusul Alvin yang langsung mensejajarkan langkah Sivia di sebelah kanannya.
Merekapun mulai memasuki lobby Rumah Sakit dan terkejut mendapati Rio sedang berjalan bersama Ify. Rio dengan wajahnya yang tampak kusut dan Ify dengan sedikit senyum di bibirnya.
‘Rio? Ngapain dia disini? Ify? Dia juga ngapain? Wah pasti ada yang gak beres nih...’ Batin Sivia dalam hati. Ia terus menatap bingung pada Rio dan Ify.
Sedangkan Alvin yang juga melihat keberadaan kedua temannya itu hanya melihatnya dengan pandangan dingin.
Rio menatap keduanya sekilas, lalu memalingkan wajahnya lagi dan keluar dari Rumah Sakit.
Alvin dan Sivia sampai di depan kamar rawat Shilla. Sivia segera mengetuk pintu kamar itu. Tak lama kemudian, seseorang membukakan pintu itu. Bi Ijem.
“Bi, gimana keadaan Shilla?” Tanya Sivia begitu pintu di hadapannya terbuka.
“Eh? Mari masuk, non sama den nya juga...” Bi Ijem mempersilakan Sivia dan Alvin masuk sementara Bi Ijem menunggu di kursi di depan kamar rawat itu.
Sivia langsung menghampiri Shilla yang terbaring di ranjang rumah sakit.
“Shilla? Lo nggak apa-apa kan?” Tanya Sivia cemas.
Shilla menoleh dan mendapati Sivia dan Alvin. Ia hanya tersenyum.
“Gue nggak apa-apa...” Jawab Shilla.
Sivia menatap Shilla tepat di manik matanya. “Nangis, Shill. Nangis aja kalo emang itu bisa buat lo lega...”
Sivia segera memeluk Shilla dan Shilla pun menangis di pelukan sahabatnya itu.
***
Tangis Shilla reda setelah sekitar lima belas menit.
“Vin, tolong ambilin minum.” Ucap Sivia pada Alvin. Alvin pun segera mengambil segelas air mineral yang berada di meja di dekatnya dan menyerahkannya pada Sivia. Sivia menyerahkan gelas itu pada Shilla.
“Thanks ya, Vi, Vin.” Ucap Shilla tulus dan segera meneguk air mineral itu lagi.
“Santai aja, Shill. Hahaha... Udah mau cerita?” Tanya Sivia hati-hati.
Shilla meletakkan gelas yang sudah kosong itu di meja di samping ranjangnya kemudian mengangguk.
***
Shilla menghela napas di akhir ceritanya. Sivia segera memeluk sahabatnya itu lagi.
“Udah... Sabar aja ya, Shill. Cowok di dunia gak Cuma dia kok...” Ucap Sivia menenangkan.
“Iya, Vi. Gue tau...” Shilla memaksakan sebuah senyuman.
Sivia mengurai pelukannya.
“Kapan lo udah boleh pulang?” Tanya Alvin yang sedari tadi hanya diam.
“Malem ini udah boleh pulang kok!” Jawab Shilla bersemangat. “Gue udah gak sabar sekolah!”
“HAH? Gila lo! Jangan sekolah dulu lah!” Kedua mata Sivia membelalak lebar.
“Yah elah gue udah gak papa ini kali...” Tanggap Shilla.
“Tapi kan kondisi lo itu loh, Shill!” Kata Sivia.
“Iyaaa... Gue ngerti. Tapi beneran kok, gue udah gak apa-apa.” Shilla tersenyum pada kedua sahabatnya itu yang memandangnya aneh.
“Ya deh, terserah lo...” Ujar Alvin.
***
“Iya, ma, Ini Shilla...” Shilla menahan tangisnya saat mengangkat telepon itu. “...Baik, Ma, Mama sama papa gimana?...Paris?” Shilla tersentak kaget. “....Iya, Ma, Shilla masih disini...Hmm...Aku butuh waktu, Ma...Iya...Salam buat papa, Ma...Bye...”
Shilla terduduk lemas di kasurnya. Kepalanya terasa pening. Segalanya terlihat semakin memusingkan.
***
“Shillaaaa!!!” Koor cewek-cewek kelas 11 IPA 2 saat Shilla memasuki kelasnya itu. Seluruh anak-anak perempuan di kelas itu segera mengerumuni Shilla di depan papan tulis.
“Heeeeyy semuaaa haha gimana keadaan nih kelas tanpa gue? Pasti sepi ya? Ahahaha gue tau kok gak ada gue pasti gak rame dan pasti gue ngangenin banget kan kan kaaaannn?” Shilla yang ceria dan penuh dengan kejutan itu kembali ke sekolah keesokan harinya. Senyumnya tetap menghiasi wajah cantiknya.
“Iya banget, Shillaaaaaa! Kali ini gue jujur deh!” Kata Gita dengan nada seolah-olah sudah tidak bertemu Shilla bertahun-tahun.
“Iyaaa bener! Lo kemana aja sih, Shill? Kangen banget kita sama loooo!” Ucap Irva yang bertubuh agak besar.
“Wes gilaaa terharu banget gue hahaha gue sakittt doang koookkk...” Shilla memberikan cengiran kudanya.
“Sakit apa? Lo bisa sakit, Shill?” Celetuk Bastian dari meja pojok belakang yang mendengarkan percakapan teman-teman perempuan sekelasnya itu.
“Weeee si babas ya bisa dong bas! Gue juga manusia! Hahaha...” Tawa Shilla terdengar.
“Gue denger dari Sivia sama Alvin, lo kecelakaan, Shill?” Tanya Zahra pelan karena kebetulan ia berdiri di samping Shilla.
Tawa Shilla langsung terhenti. “Oh iya hehe tapi gak parah kok. Nih liat gue! Gak apa-apa kan? Gue masih cantik kan? Ahahahaha...”
Zahra hanya tersenyum canggung. Dalam hati ia tahu kalau Shilla hanya berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya. Siapa juga yang tidak tahu berita tentang keretakan hubungan Shilla dengan Rio yang dikarenakan orang ketiga?
“Eh, Zah, lo duduk di depan kan?” Tanya Shilla.
“Iyaaa... Kenapa?” Zahra menoleh pada Shilla.
“Sebelah lo siapa? Gita ya?” Tanya Shilla lagi.
“He-eh...” Jawab Zahra.
“Gitttt, gue boleh tukeran tempat sama lo nggak? Please bangeeeettt...” Mohon Shilla.
Zahra ternganga mendengar permohonan Shilla pada Gita itu yang begitu sungguh-sungguh.
“Hah? Tuker? Buat?” Tanya Gita sambil mengerutkan keningnya.
“Gue kan lama gak masuk tuh... Eh gak lama juga sih tapi kan gue kemaren-kemaren gak masuk tuuuh kalo gue duduk di tempat gue yang sekarang nanti gue gak masuk gitu pelajarannya makanya gue pengen duduk di depan... Boleh ya?” Pinta Shilla dengan sungguh-sungguh.
Gita menatap kedua bola mata Shilla. Bukannya tidak tahu, Gita tahu bukan itu alasan sebenarnya memintanya untuk bertukar tempat duduk. Dan Gita bisa memaklumi itu. Ia mengerjapkan kedua matanya kemudian tersenyum.
“Boleh, Shillaaaa... Apa sih yang nggak buat looo?” Gita dan Shilla tertawa bersama.
“Hahahah thanks banget, Git!” Ucap Shilla. Gita hanya mengangguk-angguk.
“Shill, kok gak duduk deket gue aja, sih?” Tanya Sivia sambil merengut.
“Sorry, Vi. Siapa tau lo sama Alvin lagi pedekate. Ahahahaha...” Shilla tertawa lagi dan semakin membuat bibir Sivia mengerucut.
Bel masuk pun berbunyi. Shilla segera duduk di tempat Gita dan Gita berpindah tempat duduk ke tempat Shilla.
Rio menaikkan sebelah alisnya ketika Gita duduk di tempat Shilla.
“Kok elo disini, Git?”
Gita menoleh dan menatap Rio dengan tatapan permohonan maaf.
”Duh, Yo... Sorry banget deeeh! Ini atas permintaan Shilla... Dia yang maksa...”
Rio mengalihkan pandangannya pada tempat duduk Gita yang sebelumnya dan mendapati Shilla duduk disana sedang mengobrol dengan Zahra. Tanpa sadar ia tersenyum. Tidak apa-apa baginya jika Shilla meminta Gita untuk bertukar tempat. Rio bisa memaklumi itu. Yang terpenting sekarang adalah Shilla sudah kembali bersekolah.
Pak Duta masuk untuk mengajar pada jam pertama di kelas 11 IPA 2. Seketika ia menyipitkan matanya ketika mendapati ada yang berubah di kelas itu. Pak Duta adalah guru yang betul-betul ahli dalam mengingat. Bahkan setiap letak tempat duduk murid-muridnya pun dia ingat. Apalagi letak tempat duduk yang berada tepat di depan meja guru.
“Shilla? Mengapa kamu duduk disitu?” Tanya Pak Duta saat menemukan kejanggalan pada kelas itu.
“Eeee... Itu pak... Kan saya gak masuk kemaren-kemaren terus saya kan ketinggalan pelajaran gitu pak... Jadinya saya minta tuker tempat supaya saya bisa duduk di depan terus ngejar ketinggalan saya...” Jelas Shilla.
Pak Duta mengingat-ingat tempat awal Shilla. Ia melayangkan pandangannya pada tempat duduk Shilla yang dulu yang kini ditempati Gita. Karena alasan yang cukup masuk akal, Pak Duta mengangguk-angguk.
“Shilla, tolong bagikan ini. Latihan soal sebelum Ulangan Akhir Semester...” Jelas Pak Duta seraya memberikan setumpuk kertas pada Shilla. Shilla mengangguk dan mulai membagikan kertas-kertas itu. Lalu sampailah ia di tempatnya yang dulu. Tempat strategis karena tempat itu berada tepat di depan Air Conditioner. Tak ayal kertas-kertas yang sedang dipegangnya berterbangan ketika sampai di tempat itu karena tertiup oleh angin dari Air Conditioner tersebut.
Seketika Shilla panik karena posisinya sekarang sedang tidak strategis. Di samping meja Rio.
Rio yang melihat kejadian itu segera membantu Shilla mengumpulkan dan merapikan kertas-kertas yang berterbangan itu. Kertas yang terjatuh di bawah kakinya, di bawah kursinya, di bawah kursi Gita, dan tempat-tempat terlarang lainnya bagi Shilla.
Seluruh murid 11 IPA 2 menahan napas melihat adegan itu.
Setelah Shilla dan Rio berhasil mengumpulkan seluruh kertas-kertas itu, Rio menyerahkan setumpuk kertas yang dipegangnya pada Shilla. Shilla terdiam sesaat. Namun sesaat kemudian...
“Eh? Thank you loh ya hahaha aduh tuh AC apa banget sih usil banget gangguin gue...” Seru Shilla spontan dan heboh membuat seluruh murid di kelas itu yang sedari tadi menahan napas tertawa-tawa.
Pak Duta yang tidak kuper-kuper amat dan mengikuti gossip sekolahan hanya geleng-geleng kepala melihat kejadian itu.
***
“Iya, Ma... Iya Shilla tau... Iya...” Shilla menghela napas sejenak. “Iya, Ma... Abis kenaikan kelas... Iya Shilla serius... He-eh... Bye...” Shilla memutuskan hubungan telepon itu.
“Semoga... Keputusan gue ini emang keputusan yang terbaik... Dan semoga keputusan gue ini keputusan yang bener...”
***
Hari ini adalah hari pembagian rapot setelah selama seminggu mereka berjuang mengerjakan soal-soal Ujian dan seminggu acara OSIS. Shilla mengambil rapotnya sendiri. Ia tersenyum puas saat melihat urutan ranking dan ia menduduki posisi pertama.
“Shill?” Sapa sebuah suara.
“Eh, Vi, hmm... Gue pengen ngomong... Sama elo sama Alvin... Tapi gak disini...” Ucap Shilla pelan.
“Ngomong? Ngomong apa deh? Ayo aja... Dimana?” Tanya Sivia menatap Shilla yang sedang mengigit bibirnya.
“Hmm... Rumah elo gimana?”
“Rumah gue? I... Iya deh... Bentar ya gue telepon Alvin dulu...” Sivia segera merogoh sakunya.
“Sivia, mama pergi dulu yaa... Kamu pulang sama Shilla, ya?” Ucap sebuah suara lembut di belakang Shilla dan Sivia yang berdiri memunggungi pintu kelas.
“Iya, Ma...” Sivia mengangguk-angguk pada mamanya kemudian ia mendekatkan ponselnya ke telinga.
“Vin, dimana lo?... Shilla ngajak kumpul di rumah gue, katanya mau ngomong sama gue sama elo... Jam sekarang... Oke oke... Byeeee...”
Shilla menatap sobat kentalnya itu. “Gimana?”
Sivia tersenyum manis. “Dia dateng koook. Yuk kita ke rumah gue...”
Shilla mengangguk seraya tersenyum. Ia yakin, setelah ini, tidak ada lagi sahabat sebaik Sivia.
***
“Udah, ngomong aja, Shill. Gak apa-apa kok. Lo mau curhat atau apa? Kita pasti dengerin koook...” Kata Alvin saat Shilla tak kunjung membuka mulutnya sejak mereka sampai di rumah Sivia.
Shilla hanya diam. Ia duduk gelisah dan sesekali menggigit bibirnya. Saat mulutnya terbuka, hendak mengatakan sesuatu, ia menutup mulutnya kembali.
“Ada apa sih, Shill? Cerita aja...” Sivia menepuk pundak Shilla lembut.
Shilla menghela napas kemudian mulai menenangkan hatinya.
“Gue mau pindah...” Ucap Shilla pelan.
Sontak mata Sivia dan Alvin melebar.
“P... Pindah?” Tanya Sivia seraya menatap Shilla tepat di manik matanya.
Shilla mengangguk perlahan. “Ke Paris, Vi, Vin... Orang tua gue yang nyuruh... Gue sebenernya gak mau ninggalin kalian. Tapi kalian tau kan kalo gue sama orangtua gue itu...”
Shilla mulai menitikkan air matanya.
“Iya... Kita ngerti kok...” Sivia mulai mengusap-usap punggung Shilla kemudian memeluknya.
“Iya, itu hak lo kok, Shill. Tapi... Lo bakal sering main kesini kan?” Tanya Alvin sambil tersenyum.
Shilla mengusap air matanya kemudian mengangguk. “Pasti... Pasti gue bakal sering main kesini...”
Sivia dan Alvin mengangguk lalu tersenyum.
Shilla menatap langit siang itu dari jendela ruang tamu rumah Sivia.
“Jadi... Kapan lo pindah?” Tanya Sivia.
Shilla menoleh pada Sivia kemudian menunduk. “Besok...”
“HAH? Kok mendadak banget sih, Shilll?” Alvin terlihat sangat terkejut.
“Gak mendadak... Gue Cuma baru kasih tau kalian aja...” Shilla tersenyum pahit. “Gue gak mau kehilangan kalian banget... Gue gak bakal dapet sahabat kayak kalian lagi nanti...”
Sivia langsung memeluk sahabatnya itu erat.
***
Sabtu, 9-Juli-2011
Soekarno-Hatta Airport, Jakarta.
“Shillaaaa... Sumpah gue pasti bakal kangen looooo banget!” Seru Sivia untuk yang kesekian kalinya.
“Iya, Gue juga pasti bakal kangen lo banget, Vi. Semoga aja disana gue gak lama. Setahun kek gituuu... Gue juga gak betah di negara orang mah!” Tanggap Shilla.
“Shill, dari sana kalo lagi main kesini, jangan lupa bawa oleh-oleh ye!” Sahut Alvin kemudian duduk di sebelah Sivia ketika sudah lelah berdiri selama beberapa menit.
“Hahaha masalah itu tenang aja!” Shilla mengacungkan kedua jempolnya.
“Elo, Vin! Gue lagi sedih juga mau ditinggal Shilla malah minta oleh-oleh!” Sivia merengut kesal.
“Lagian daripada sedih-sedihan! Dasar cewek!” Gerutu Alvin.
Shilla hanya tertawa kecil.
“Jangan lupain gue ya, Shill. Sering-sering lo contact gue! Pesen gue Cuma itu aja kok!” Kata Sivia lirih.
“Aaaah Viaaaa! Jangan bikin gue nangis lagi ahh!” Shilla memeluk Sivia lagi.
“Kok gue gak dipeluk deh, Shill?” Alvin menaikkan sebelah alisnya.
“Mau lo!” Sewot Sivia.
“Emang kenapa? Cemburu lo?” Tantang Alvin.
“Enak aja! Elo tuh kepedean!” Sivia semakin mengerucutkan bibirnya.
“Yayaya apa kata lo. Eh, Shill, take off jam 12 kan? Kayaknya lo udah harus check in deh!” Kata Alvin mengalihkan topik.
“Eh, Iya sih... Hmm... Kalian pulang duluan aja deh, Vin, Vi... Gue masih ada perlu... Lagian katanya lo ada acara keluarga kan, Vi?” Tanya Shilla kemudian menatap Sivia.
“Iya sih... Tapi gak apa-apa deh gue nemenin lo aja sampe masuk...” Sivia mengangguk-angguk.
“Eh...eeemm... Gak usah, lagi! Mending kalian duluan aja! Gue masih rada lama nih!” Sahut Shilla.
Alvin menatap kedua bola mata bening milik Shilla. Alvin mengerti, apa yang dimaksud dengan keperluan Shilla. Menunggu seseorang yang entah akan datang atau tidak. Jadi, Alvin segera mengambil tindakan.
“Vi, pulang aja deh, yuk! Gue juga udah capek nih, sakit perut! Belom lagi nganterin lo ke rumah!” Kata Alvin seraya memegangi perutnya.
“Aduh kan di toilet sini bisa!” Sivia menatap Alvin galak.
“Udah gak apa-apa kok, Vi! Kasian Alvin... mending kalian pulang aja...” Ucap Shilla lalu melihat jam yang menempel di pergelangan tangannya.
“Yakin lo gak apa-apa?” Tanya Sivia memastikan.
“Iyaaaa! Udah gue gak akan apa-apa koook!” Jawab Shilla sambil tersenyum.
“Ya udah deeeh... Shill, gue pamit dulu ya! Maaf bangeeet gak bisa anterin sampe lo masuk...” Sivia memeluk Shilla lagi.
“Gak apa-apa, Vi, take care ya! Jaga Alvin baik-baik... Dia ganas hahaha pokoknya kalo gue sampe disini lagi, kalian harus udah baikan! Oke oke?”
“Iyaaa... Ya udah deh, lo juga take care disana ya! Bye, Shill!” Sivia menatap nanar pada Shilla. Sedangkan Shilla membalas tatapan Sivia itu dengan sebuah senyuman.
“Hati-hati, Shill. Take care!” Kata Alvin. Shilla hanya mengangguk-angguk lalu menatap keduanya pergi sampai hilang dari pandangan.
***

Ashilla: Soekarno-Hatta Airport 10.30 terminal 2E

Rio belum sepenuhnya sadar ketika terbangun pada pagi hari itu. Ia mengucek matanya sekali lagi kemudian membaca pesan yang masuk ke handphonenya sekitar satu jam yang lalu. Terkejut Rio langsung melompat dari tempat tidurnya lalu melihat jam dinding yang tergantung di kamarnya.
Pukul sepuluh!!!
Walaupun dengan perasaan bingung Rio langsung menyambar handuknya dan bergegas mandi.
***
Rio terus berlari menyusuri bandar udara internasional di Jakarta itu sambil sesekali melihat jam tangannya.
Pukul sebelas!
Rio mempercepat langkahnya hingga dari kejauhan ia menemukan sosok itu. Gadis yang tengah duduk dengan kepala ditundukkan. Di sebelah gadis itu terdapat sebuah koper besar.
Rio menarik napas panjang kemudian mulai berjalan santai pada gadis itu.
“Shill...” Sapanya.
Gadis itu tersentak dan langsung menengadah untuk melihat siapa pemilik suara itu. Dan ternyata dugaannya benar. Ia langsung berdiri.

Let me hold you for the last time
It’s the last chance to feel again
But you broke me
Now I can’t feel anything


“Eh! Elo... Akhirnya dateng juga, yaaa walaupun agak telat sih...” Shilla melirik jam tangannya.
“Kamu mau kemana?” Tanya Rio sambil memalingkan wajahnya.

When I love you It’s so untrue
I can’t even convince myself
When I’m speaking It’s the voice of someone else


Shilla menghela napas sejenak. “Paris...”
“Ngapain?” Tanya Rio dingin.
Shilla menahan napasnya namun langsung dihembuskannya lagi.
“Pindah, Yo...”
“Kenapa? Kenapa kamu gak pernah kasih tau aku?” Tanya Rio lagi namun kali ini ia memberanikan diri untuk menatap Shilla.
“Gak ada alasan gue buat kasih tau lo...” Jawab Shilla ringan. Kali ini Shilla yang memalingkan wajahnya.

Oh it tears me up
I tried to hold but it hurts too much
I tried to forgive but it’s not enough
To make it all okay


“Aku berhak tau. Aku temen kamu juga kan?” Rio terus menatap Shilla.
Shilla membalas tatapan itu.
“Ya.” Jawab Shilla. “Ini keputusan orang tua gue, Yo. Sebenernya gue juga gak mau ninggalin Jakarta, ninggalin Indonesia... Tapi, yah... You know lah... Hubungan gue sama orangtua gue kan...”
“Aku ngerti... Tapi kamu harusnya ngasihtau lebih awal... Gak mendadak gini...” Kata Rio.

You can’t play our broken strings
You can’t feel anything
That your heart don’t want to feel
I can’t tell you something that aint real


“Gue harus pergi, Yo. Jaga Ify, ya. Gue yakin dia itu orang baik. Jangan pernah sakitin hati dia... Supaya kejadian kayak gini gak keulang lagi. Cukup satu orang aja yang terluka... Gue.” Ucap Shilla pelan.
“Kamu juga hati-hati... Jaga diri disana... Dan maafin aku...” Kata Rio menatap Shilla lurus-lurus.
“Udah, kan gue bilang gak ada yang salah. Bukan salah lo...” Sahut Shilla sambil tersenyum.

Oh the truth hurts and lies worse
I can’t like it anymore
And I love you a little less than before


Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari sebuah pengeras suara. Menandakan waktu Shilla habis. Ia harus segera masuk ke ruang tunggu pesawat dan siap untuk kehilangan.
“Itu pesawat gue... Gue udah harus masuk...” Kata Shilla dan sekali lagi melirik jam tangannya.
“Shill, boleh aku peluk kamu? Ng... Pelukan perpisahan?” Pinta Rio ragu kemudian ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
Shilla tertawa kecil kemudian mengangguk. Sebelum Rio sempat bergerak, Shilla sudah memeluk Rio terlebih dahulu sehingga membuat Rio terperangah.
“Aku bakal kangen banget sama kamu, Shill. Take care ya...” Ucap Rio pelan.
“Gue juga bakal kangen sama lo hahaha... Lo juga take care...” Tanggap Shilla kemudian melepaskan pelukannya.

Oh what are we doing
We are turning into dust
Playing house in the ruins of us


“Sahabat?” Rio mengulurkan kelingkingnya.

Running back through the fire
When there’s nothing left to say
It’s like chasing the very last train
When it’s too late


Shilla yang kali ini terperangah. Namun detik berikutnya ia segera menyambut uluran kelingking itu dan mengaitkannya dengan kelingkingnya.
“Sahabat!” Shilla tertawa geli kemudian segera mengurai kaitan kelingking itu. “Gue masuk deh ya... Take care! Bye!”
Shilla mulai meninggalkan Rio dan berjalan menuju pintu masuk ruang check-in.
“Shilla!” Panggil Rio sebelum Shilla benar-benar masuk. Shilla mengusap setetes airmatanya yang turun tanpa diperintah kemudian menoleh.
“Gue bakal tunggu lo! Sampai kapanpun lo balik kesini!” Seru Rio.
Shilla hanya membalasnya dengan senyuman kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Senyuman terakhirnya di Indonesia... Atau mungkin di dunia?

Oh it tears me up
I tried to hold but it hurts too much
I tried to forgive but it’s not enough
To make it all okay...


=== THE END ===






.
.
.
.
.

Fiuuuuhhh finally lega bangeeet akhirnya ini cerbung tamat jugaaaa setelah sekian lama gue nunggu-__- kecepetan yak? Iya ini cerbung pendek yang amat sangat gaje... Daaannnn I would likd to say thank you to you all my readers muah muah yang udah setia banget dan sabar banget baca ini cerita dan gue juga gak ngerti kenapa kalian masih betah aja baca hahaha gue juga gatau kalo ternyata ada pembaca yang melarikan diri kali ya-_- thanks juga buat temen-temen gue semua yang udah nyemangatin gue terutama tiga huruppppp <3 I LOVE YOU ALL! dan plusplus buat mba janice jangan melupakan saya dan bianglala ya ;p. Oh iya kalo ada yang tanya kenapa ini cerbung tamatnya cepet banget gapake aja ya karena kan gue udah pernah bilang kalo gue tahun ini kelas 9 KYAAAAAAA belom masuk sekolah aja gue udah stress BANGET gapake aja! Soooooooo, wish me luck yaaaa <3 and keep waiting for my next story ahahaha maybe next year *itupun kalo ada yang mau baca*. Makasih ya semua yang sampe mau baca kata-kata mutiara (?) gue ini dan silakan TINGGALKAN KRITIK DAN SARAN!


XOXO,


-vlshnbl

Tuesday, July 5, 2011

Love Risk (Part 8)

Shilla memasuki lift tanpa berkata apa-apa. Pikirannya kacau. Kepalanya pusing. Otaknya seakan berputar, berlari mencari alasan yang masuk akal.

***


Ting!
Akhirnya pintu lift terbuka. Shilla membuang napasnya yang –baru disadarinya- sedari tadi ia tahan.
Shilla berjalan dengan langkah yang panjang. Terus berjalan.
Bruk!
Tiba-tiba ia menabrak seseorang di pintu kelasnya. Shilla sontak mengangkat wajahnya.
“Somplak! Elo Vin! Hampir aja jantung gue copot!” Shilla memegang dadanya kemudian berkacak pinggang.
“Eh? Hehehe sorry boss gue gak liat. Salah elo juga sih yaa jalan gak liat-liat. Eh Rio mana?” Alvin menoleh ke kanan dan kiri.
Bum!
Tiba-tiba sesuatu menghantam kepala Shilla lagi. Bertubi-tubi. Memperingatkannya kembali dengan kenyataan.
Bum! Bum! Bum!
Shilla memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing. Kemudian ia merasa tubuhnya sedikit oleng.
“Eh eh! Loh? Lo kenapa Shill?” Tanya Shilla memegangi siku Shilla.
“Ng? Eh gak papa hehe eh minggir gue mau masuk nih!” Shilla memasuki kelasnya dengan hati yang bertambah gelisah. Udara di sekeliling Shilla mulai terasa berkurang. Rasanya ia butuh udara segar dengan sesegera mungkin. Tiba-tiba tenggorokannya terasa tercekat. Ia butuh air untuk diminum dengan sesegera mungkin. Terlalu banyak pikiran yang berkecamuk dalam otaknya. Semakin lama semakin menohok. Mulai mengerti apa yang mungkin sedang terjadi.
***
“Shilla? Lo kenapa?” Tanya Sivia begitu Shilla duduk di tempatnya.
Shilla hanya menggeleng.
“Kenapa sih? Ayo cerita, Shill.” Sivia menopang dagunya dengan kedua tangan.
Shilla menatap sahabatnya itu ragu kemudian beberapa saat kemudian ia menceritakan apa yang baru saja dilihatnya. Sivia nampak terkejut, seperti apa yang sudah diduga Shilla.
“Hah? Ah yang bener? Hmm... Mungkin aja mereka...” Sivia sudah tidak dapat memberikan penyanggahan dan kemungkinan terbaik dari masalah itu. Kemudian ia bungkam. Berpikir lagi untuk menenangkan sahabatnya hingga bel masuk berdering nyaring memekakkan telinga. Entah kenapa bel yang berbunyi hari itu lebih nyaring dari biasanya. Setidaknya itulah yang dirasakan Shilla.
***
Rio tidak memberikan penjelasan apa-apa pada Shilla. Shilla pun hanya diam walau sebenarnya dalam hati sangat ingin penjelasan dari Rio.
Hari terus berganti. Shilla dan Rio tidak pernah lagi saling menghubungi. Jika berpapasan, Rio selalu membuang muka. Membuat luka di hati Shilla terasa semakin perih. Tapi apa yang bisa diperbuatnya? Menangis? Bahkan menangis pun tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi memberi jawaban atas segala perubahan itu.
***
BUG!
Satu pukulan mendarat tepat di rahang Rio. Membuatnya terlonjak kaget. Sore itu sekolah sudah sangat sepi dan Rio tengah membereskan barang-barangnya.
“Udah gila ya lo? Apa-apaan pake mukul gue segala? Apa masalah lo sama gue?” Rio mulai naik darah saat tahu siapa yang memukulnya.
“Elo yang gila! Gue kan udah pernah bilang, sampe suatu hari lo nyakitin Shilla, gue yang bakal turun tangan!” Alvin berkacak pinggang. Membiarkan Rio tenang sejenak.
“Maksud lo ituuu apaaaaa? Gak ada angin gak ada hujan ujug-ujug lo jalan, gandengan tangan, dan sama Ify. Doesn’t make sense, Yo!” Alvin membuang napas keras. “Terserah deh! Gak ada gunanya ngomong sama orang keras kepala kayak lo!”
Rio hanya menatap kepergian Alvin.
***
Satu minggu telah berlalu sejak Alvin memukulnya tempo hari. Jika dihitung, sudah hampir satu bulan ia tidak berhubungan dengan Shilla. Rio tahu pasti itu salahnya. Penyebabnya karena saat itu, saat Rio mengantar Ify pulang, lalu...
Rio menghela napas. Tiba-tiba, ia merasa rindu pada Shilla. Ingin menatap wajahnya, mengobrol santai dengannya, atau bahkan menonton TV dan mengomentari gossip yang sedang panas kala itu.
Semakin lama perasaan rindu itu semakin membuncah. Hingga akhirnya Rio memutuskan untuk mengambil ponselnya.
Rio Haling: Hey 
Rio terus menatap ponselnya. Berharap mendapat balasan. Rio mulai menerawang saat tak kunjung mendapat balasan.
Ting!
Kemudian Rio dengan sigap membuka bbm itu.
Ashilla: Hey
Rio mulai menatap ponselnya tanpa minat. Ia tahu ia salah. Tapi ia tidak tahu sesakit apakah perasaan gadis itu? Rio melirik jam dinding bergambar tim sepak bola favoritnya. Pukul 6 sore. Rio mulai mengetik balasan lagi.
Rio Haling: Aku pengen ngomong. Dateng ke bukit, jam 7. Aku tunggu.
***
Shilla menengok ke belakang sesekali. Seperti ada yang mengikutinya sejak ia turun dari mobil tadi. Tapi setiap Shilla menoleh ke belakang. Tadaaa! Tidak ada siapapun.
Shilla kembali membalikkan badannya. Seketika sekujur tubuhnya beku. Melihat siapa yang duduk membelakanginya.
Shilla berjalan pelan menghampiri Rio.
“Ehm” Shilla berdeham. Rio menoleh dan tersenyum canggung.
“Hey, ehm... Apa kabar?” Tanya Rio sambil bangkit.
“Ya... Gitu lah.” Shilla menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Aku mau...”
“Rio!” Tiba-tiba seseorang muncul. Orang itu lagi. Bersama seorang gadis. Alvin dan Sivia.
BUG!
Lagi-lagi satu pukulan mendarat di rahangnya.
“Eh? Vin! Vin! Stop! Kok gitu sih?” Shilla berusaha menahan Alvin.
“Udah deh, Shill. Mending lo pulang aja. Gak pantes lo ada disini. Masa lo mau dateng saat dia butuhin lo, dan dia gak mau dateng saat lo butuhin dia?” Alvin menunjuk Rio saat mengatakan kata ‘dia’ dan menunjuk Shilla saat mengatakan kata ‘elo’.
“Vin, sabar vin...” Sivia yang berdiri di samping Alvin mulai panik.
“Udah udah mending kita pulang aja!” Sivia menarik tangan Alvin menjauh.
Shilla melangkah menyusul Sivia dan Alvin. Baru selangkah Shilla berjalan, ia menoleh ke belakang lagi.
“Sorry...” Ucap Shilla dengan gerakan mulutnya pada Rio.
Rio hanya membuang muka tak acuh.
Cih. Bahkan Shilla meminta maaf pada dirinya. Membuat dirinya semakin terpuruk dan rasa bersalah itu semakin membesar mengisi ruang hati Rio.
Sekejam itukah dirinya sehingga Alvin, yang notabene adalah sahabatnya sendiri, berani memukulnya. DUA KALI dalam kurun waktu seminggu.
***
Shilla mengaduk es teh manisnya tanpa minat. Ia terus memperhatikan es batu dalam gelasnya.
“Shill! Kenapa lo? Bengong aja sih.” Sivia yang duduk di depan Shilla bersama Alvin membuyarkan lamunan Shilla.
“Eh? Nggak kok. Nih, gue lagi ngitungin es batu hehehe...” Shilla hanya nyengir.
“Kurang kerjaan amat dah luuu mending juga dagang nih kayak nci-nci sebelah gue. Cina-cina gak mau rugi. Diambil baksonya aja ngamuk kayak nci-nci glodok hahahahahahaha...” Alvin tertawa terpingkal-pingkal sementara Sivia terus memukulinya tanpa ampun.
“Tolong ya engko sadar diri bisa kali! KO ALVIN!” Sivia masih memukuli Alvin.
Shilla tertawa sendiri melihat tingkah kedua sahabat yang duduk di depannya ini. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Terkadang memang ia merasa beruntung memiliki sahabat-sahabat seperti mereka. Tapi tetap saja, luka di hatinya masih belum bisa terobati. Luka yang ditorehkan oleh pemuda yang duduk tak jauh dari tempatnya.
***
Rio terus mengamati gadis itu. Beberapa saat kemudian ia menghela napas dan terus begitu. Gadis itu mengaduk es teh manisnya dengan tekun dan pandangan matanya kosong. Terluka. Hati Rio miris. Tatapan terluka Shilla itu, yang dulu pernah disembuhkannya. Namun sekarang malah ia yang membuat gadis itu kembali jatuh. Kembali terluka. Malah Rio seakan memperparah luka yang dulu tersimpan di hati Shilla. Sejak saat Shilla membiarkan Rio pulang dengan Ify. Membiarkan Rio jatuh lagi. Jatuh cinta lagi pada gadis berdagu tirus itu.
Gadis itu kini tengah tertawa kecil melihat tingkah laku kedua orang sahabat yang duduk di depannya. Alvin dan Sivia yang mungkin saja sedang melontarkan kata-kata penghibur. Entahlah, Rio tidak dapat mendengar apa-apa.
‘Apa ini sepenuhnya salah aku, Shill? Kamu gini karena aku? Tapi kamu yang dulu ngebiarin aku jatuh cinta lagi sama Ify... Kamu yang nyuruh aku pulang bareng dia dan...’ Rio memejamkan matanya sejenak. Pikirannya kembali melayang pada beberapa minggu yang lalu...
<<<<<< “Yo, anterin gue sampe gang yang biasa aja ya! Yang dulu lo masih inget kan?” Tanya Ify saat mereka –Rio dan Ify- sedang berjalan menuju tempat parkir. Rio hanya mengangguk. Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di dalam mobil dan mobil Rio pun berjalan membelah jalanan Jakarta. Ify terus terdiam selama perjalanan. Ia hanya menatap jalanan lewat kaca jendela mobil. “Jadi... Apa kabar lo selama ini?” Tanya Rio memecah keheningan dalam mobil itu. Ify menoleh sekilas dan tersenyum samar. “Ya... Baik...” Ify kembali mengalihkan pandangannya. “Sampe sekarang gue belom tau, alasan lo mutusin gue. Waktu itu...” Rio terus memfokuskan pandangan pada jalanan di depannya. Meskipun sesekali Rio melirik ke arah Ify. “Waktu itu...” Ify terdiam sejenak. “Gue ngerasa gak pantes. Gue ngerasa gue gak pantes buat elo, Yo. Gue takut lo bilang sayang sama gue itu Cuma bohong. Gak tau lah. Gue ngerasa gue bukan cewek yang baik buat elo.” Rio terdiam sejenak. Ia menelan ludah kemudian melirik gadis di sebelahnya lagi dan tertegun. Gadis itu terdiam menatap jalanan di samping kirinya lewat kaca jendela mobil. Rambutnya terkena kilauan sinar matahari yang keemasan. Matanya yang besar, Rambutnya yang ikal, Dagunya yang tirus, semua membuat Rio teringat akan masa lalunya. Membuatnya ingin kembali pada masa lalu, melupakan apa yang sudah ada di depan mata dan mungkin akan hilang dalam kesunyian. Sejak hari itu, ia tidak tahu bahwa akan ada seorang lagi yang terluka. >>>>
“Yo?” Suara lembut seseorang membuyarkan lamunannya.
Rio segera tersadar dan menoleh pada si pemilik suara. Dia. Si cewek dengan dagu tirus itu.
Tiba-tiba Rio merasa kembali lagi pada realita. Dirinya yang tega melukai Shilla, lalu Ify yang berada di sampingnya kini.
“Eh? Ya?” Rio memaksakan sedikit senyuman.
“Balik ke kelas yuk!” Ify tersenyum.
Rio melirik Shilla sekilas. Ternyata gadis itu sedang menatapnya juga dan sedetik kemudian langsung memalingkan wajahnya. Ia menghela napas kemudian mengangguk.
***
Shilla menggeliat kecil saat handphonenya bergetar. Ia meraba-raba bawah bantalnya dan membuka bbm yang masuk.
Rio Haling: Shillaaa, ke Saint Cinnamon ya jam 4 sore. Aku tunggu. Pastiin kamu dateng sendirian.
Shilla mengerutkan keningnya. Rio lagi? Perih itu mulai terasa lagi. Ia kecewa. Ya, tentu saja kecewa. Tetapi memang apa lagi yang bisa diperbuat Shilla selain menuruti kemauan Rio?
Ia melirik jam dinding di kamarnya. Pukul 3 sore. Sebaiknya ia bergegas mandi dan pergi ke tempat yang disebutkan Rio.
***
Shilla mendorong pintu kaca cafe itu. Sore itu, keadaan cafe tidak begitu ramai. Shilla melirik jam tangannya. Sudah pukul empat lewat lima belas menit. Seharusnya, Rio sudah sampai di cafe ini.
Shilla mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe dan lagi-lagi sekujur tubuhnya kaku. Hatinya serasa dicabik-cabik ketika melihat sosok itu. Rio sedang menekuni Hot Lemon Tea nya. Bahkan tanpa melihat isi cangkir di hadapan Rio pun, Shilla mengetahui isi cangkir tersebut.
Shilla mulai berjalan perlahan. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan Rio. Apakah itu suatu kabar yang mengecewakan hatinya lagi? Tapi apa? Berita bahwa Rio sudah memiliki hati Ify lagi? Shilla tahu Rio tidak sejahat itu.
“Sorry, gue telat.” Shilla menarik kursi di depan Rio.
Rio terkesiap karena dua hal. Pertama, karena Shilla tiba-tiba muncul. Kedua, Apa tadi? Gue? Rio harap ia hanya salah mendengar. Bagaimanapun keadannya, Rio tidak ingin melepaskan Shilla. Bagaimanapun keadaannya. Rio sayang Shilla. Tapi, Ify...?
Rio hanya tersenyum samar. Ia kembali menekuni Hot Lemon Tea nya. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Ada apa dengannya? Apakah ia... Gugup? Tak pernah sebelumnya ia gugup di hadapan Shilla. Sekalipun saat Rio menyatakan perasaannya pada Shilla.
Rio mendengar Shilla memesan Hot Chocolate pada pelayan yang baru datang menghampiri mereka, kemudian hening lagi. Hanya terdengar suara gelas beradu dengan sendok.
“Lo... Mau ngomong apa?” Tanya Shilla setelah sebelumnya menghela napas panjang.
Rio hanya terdiam. Tidak tahu apa yang ingin dikatakannya pada Shilla. Ia hanya rindu pada gadis itu. Apakah salah?
Sebenarnya ada hal lain yang ingin disampaikan Rio. Apa itu? Permintaan maaf? Cih, Rio tidak yakin dirinya mendapat perlakuan pantas dari Shilla. Jadi ia memutuskan untuk diam.
Seorang pelayan datang dan membawakan segelas Hot Chocolate yang dipesan Shilla.
“Makasih ya, Mba...” Gadis itu tersenyum ramah pada pelayan itu. Shilla mulai meniup-niup Hot Chocolatenya kemudian menyeruputnya perlahan.
“Jadi... Lo mau ngomong apa?” Tanya Shilla sekali lagi menatap Rio yang menunduk. Tidak berani membalas tatapan Shilla. Pengecutkah dirinya?
Dan Rio tetap diam. Perasaannya kacau balau. Semua yang ingin diungkapkannya serasa meluap begitu saja.
Shilla pun akhirnya memutuskan untuk diam dan meniup-niup Hot Chocolatenya saja ketimbang terus bertanya dan tak kunjung mendapat jawaban.
15 menit berlalu tanpa suara. Rio sibuk dengan Hot Lemon Tea nya dan Shilla sibuk dengan Hot Chocolatenya.
“Gue masih tunggu jawaban lo, lho...” Ucap Shilla memecah keheningan tanpa menatap Rio.
Rio menyerah dan akhirnya menghela napas. Ia mencoba menatap kedua mata Shilla.
“Aku Cuma mau...”
Tiba-tiba terdengar intro lagu You Belong With Me mengalun dari handphone Shilla disaat Rio tengah berjuang menguatkan hatinya untuk berkata kejujuran.
Shilla menatap layar LCD ponselnya dan mengangkat tangan untuk mengisyaratkan agar Rio berhenti sebentar. Ia pun menekan tombol untuk menerima panggilan.
“Halo... Ehm, Kenapa?” Shilla berbicara dengan si penelepon –yang entah siapa- itu. Beberapa saat kemudian Shilla melirik jam tangan yang bertengger di pergelangan tangan kirinya. “Oke... Iya deh... Hahahah iya-iyaaaa... Sip! Bye!” Shilla menekan tombol untuk mengakhiri panggilan.
“Eh, sorry ya, Yo. Gue harus pergi sekarang. Ada urusan. Bye!” Shilla berdiri dari kursinya dan melangkah meninggalkan Rio yang melongo. Shilla menarik pintu kaca itu dan keluar dari cafe. Baru dua langkah ia berjalan, ia menatap langit di atasnya kemudian menghela napas lalu mulai melangkah lagi...
***
“Sorry guys I’m lateeee!” Shilla menghampiri Sivia dan Alvin yang telah menunggunya.
“Yeeee kemana aja sih looo?” Tanya Sivia mengambil kacang dalam toples.
“Ehm? Ke... dari rumah kok.” Shilla duduk di samping Sivia.
“Eh sebentar ya gue ambil minum dulu...” Sivia berdiri dan pergi ke dapur untuk membuat syrup.
“Tadi lo dari rumah, Shill? Kok cepet banget sih sampe sininya?” Tanya Alvin seraya mengambil beberapa kacang lagi dari toples.
“Iya. Ngebut dong haha.” Shilla ikutan mengambil kacang.
Tak lama kemudian Sivia datang membawa tiga gelas syrup.
“Eh iya ngomong-ngomong besok pada ke PS yaaaaa!” Kata Shilla.
“Kenapa? Ada apa?” Tanya Sivia.
“Gue besok mau konser gitar hahahahaha nggak deeeh bukan konser. Yaa gue jadi diundang gitu sama majalah Star Teen. Dateng dooong yayaya?” Pinta Shilla sedikit memelas.
“Waaaah pastinya dooong! Eh gimana bisa lo diundang sama mereka? Lo kok gak pernah cerita?” Tanya Alvin kemudian meneguk syrupnya.
“Hahaha... Seminggu yang lalu mereka nelepon gue, katanya mereka pernah liat gue main gitar. Ngakunya sih liat di pensi tahun lalu...” Jelas Shilla. “Deg-degan nih hahaha wish me luck ya!”
Sivia tersenyum. “Haha apa sih yang nggak buat Ashilla Zahrantiaraaaa?”
Kemudian mereka tertawa bersama.
“Gak ngundang Rio, Shill?” Tanya Sivia sambil membuka-buka halaman majalah.
Shilla yang sedang meneguk syrup langsung tersedak mendengar kata-kata yang dilontarkan Sivia.
“Eh? Shill? Lo gak apa-apa?” Sivia menutup majalahnya.
Shilla menggeleng dan mulai mengatur napasnya.
‘Rio? Haha gue aja gak yakin dia bakal dateng.’ Pikir Shilla dalam hati.
***
“Vin, lelet banget sih looo! Ayo cepetannnn nanti kita ketinggalan!” Sivia buru-buru menaiki tangga berjalan.
“Santai dikit kenapa deh, Vi? Ini juga gue udah lari!” Sahut Alvin.
Tak berapa lama kemudian, merekapun sampai di lantai 3, tempat acara majalah itu berlangsung.
Shilla melambaikan tangan ketika melihat Sivia dan Alvin. Merekapun balas melambaikan tangan.
“Dan... Eh iya, ini kita kedatengan seorang cewek nih yang jago ngegitar ceilahh hahaha... Ya udah kita sambut aja yuk, Ashilla Zahrantiara dari SMA Taruna Bintang!” Seorang pembawa acara yang pandai berbicara itu mempersilakan Shilla naik ke atas panggung.
Sivia dan Alvin mengacungkan jempol mereka yang dibalas Shilla dengan senyuman.
“Siang semua. Gue Shilla dari SMA Taruna Bintang. Ehm... Hari ini gue mau bawain lagu dari Audy, Judulnya Menangis Semalam. Selamat menikmati!”
Shilla mulai memetik gitarnya dan mulai bernyanyi.
“Kau sempat ucapkan pisah
Saat ku beranjak pergi
Tapi perasaanku
Tak berpaling darimu

Kau ucapkan jangan pergi
Saat kudatang kembali
Tapi luka ini
Telah membeku tak mencair

*Tahukah kamu semalam tadi
Aku menangis
Mengingatmu mengenangmu
Mungkin hatiku terluka dalam
Atau selalu
Terukirkan kenangan kita

Kau telah hadirkan dia
Untuk menggantikan aku
Tanpa kau sadari
Aku tak kan pernah terganti

Kau ingin tinggalkan dia
Dan menyandingku kembali
Ini tak kan adil
Untukku ataupun dirinya

(back to *)”
( Audy – Menangis Semalam)
Tepuk tangan riuh langsung terdengar begitu Shilla menyelesaikan bait terakhirnya.
Shilla tersenyum pada seluruh hadirin lalu menundukkan kepalanya dan turun dari atas panggung.
“Wow wow woooww! Itu dia penampilan dari temen-temen kita. Guys, Kalo pengen jadi kayak Shilla...” Sementara si pembawa acara tadi terus berbicara di depan para hadirin, Shilla menghampiri Sivia dan Alvin.
“Heeey Shill! Tadi keren bangeeet aaaaa mau deeeh kayak elooo!” Sivia memeluk Shilla sebentar lalu melepaskannya lagi.
“Thankssss Vi! Hahaha...” Ucap Shilla kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya. “Eh iya makan yuk!”
“Hmm ayo ajaaa tapi traktir yaa? Kan tadi udah sukses tampilnyaaaa.” Kata Alvin.
“Hahaha ayooo deeeh!” Shilla pun berjalan mendahului Sivia dan Alvin.
***
“Eh, gue mesti balik duluan niiih. Gue gak enak badan. Sorry banget yaaa gak bisa nemenin kalian terlalu lama.” Kata Shilla setelah mereka makan.
“Yaaah... Gitu ya, Shill? Iya deh gak papa get well soon yaaa!” Ucap Sivia.
Shilla tersenyum dan mengangguk.
“Sip laaah. Duluan yaaa Vi, Vin. Bye!” Shilla pun berlalu dari hadapan mereka berdua.
“Hhhh kadang gue kasian sama dia, Vin. Gue tau dia kecewa banget sama Rio...” Sivia menatap Alvin yang berdiri di sebelahnya.
Alvin tertawa kecil.
“Emang. Rio tuh kenapa sih? Sampe sekarang gue masih gak ngerti, Vi. Gue tau dia pernah ada hubungan sama Ify. Tapi kan sekarang dia udah sama Shilla. Masa iya dia ngelepas Shilla gitu aja demi... Ify?” Alvin memalingkan wajahnya.
***
Rio menekan klakson mobilnya dengan tidak sabar dan langsung memarkirkan mobilnya. Ia mengecek ponselnya lagi dan membaca ulang pesan yang dikirimkan oleh gadis itu.
Ashilla: Yo, kalo mau dateng aja ke PS jam 1 siang nanti lantai 3. Gue tampil gitar. Thanks
Rio mempercepat langkahnya dan menaiki eskalator.
Sesaat kemudian ia sampai di lantai tiga dan melihat Sivia dan Alvin sedang mengobrol hendak menuju eskalator untuk turun.
“Alvin! Sivia!” Panggilnya.
Alvin dan Sivia menoleh pada orang yang memanggil mereka.
“Rio?” Sivia mengerutkan keningnya dan menoleh pada Alvin yang sedang tersenyum sinis.
“Vin, Vi, Shilla mana? Katanya dia mau tampil, kan?” Kata Rio seraya mengatur napasnya.
Alvin melirik jam tangannya. Pukul dua siang.
“Udah jam dua. Kayaknya jam lo perlu diservice. Shilla udah tampil satu jam yang lalu. MEMUKAU tanpa kehadiran lo!” Alvin membuang mukanya. Menahan untuk tidak memukul Rio untuk yang ketiga kalinya. “Vi, cabut deh yuk!”
Alvin dan Sivia pun melangkah meninggalkan Rio yang tetap terdiam ditempat menatap kepergian mereka berdua.
Akhirnya Rio memutuskan untuk pergi dari sana. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.
***
“Pak, jalannya cepet dikit ya pak!” Shilla membenarkan posisi duduknya.
“Iya, Non. Ini juga saya udah berusaha cepat. Ono opo toh ya, Non, sampe buru-buru begitu?” Tanya Pak Tono. Ia menjadi resah karena majikannya terlihat gelisah.
Shilla hanya menggeleng. “Nggak, Pak. Saya mau istirahat. Cepetin dikit lagi ya, Pak.”
Pak Tono pun segera mempercepat laju mobilnya.
Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul sebuah truk dengan kecepatan yang lebih cepat. Sepertinya supir truk itu tengah mabuk. Pak Tono langsung membanting setirnya ke kiri, tetapi terlambat...
***
Rio terus melajukan mobilnya. Sesekali ia menggigit bibir dan membunyikan klaksonnya dengan tidak sabar.
Tak lama kemudian, Rio melihat orang-orang tengah berkerumun di satu titik. Rio mempunyai firasat tidak enak dan langsung memarkirkan mobilnya dekat sana. Rio turun dari mobilnya dan sekujur tubuhnya kaku seketika ketika melihat bagian depan mobil yang dikenalinya hancur yang –sepertinya- ditabrak oleh truk yang bagian depannya juga hancur.
Pikiran Rio kacau. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Entah menelepon Alvin, Sivia, atau apa?
Akhirnya Rio memutuskan untuk menghampiri kedua mobil itu dengan hati-hati. Jantungnya berdegup kencang.
Rio melihat ke dalam mobil dan tidak menemukan siapapun. Ia pun bertanya pada seseorang yang berada di dekatnya.
“Misi, Pak. Kalo boleh tau... Orang yang ada di mobil ini sekarang kemana ya, Pak?” Tanya Rio menunjuk mobil APV yang tertabrak itu. Mobil Shilla. Ia yakin itu mobil APV Shilla dengan plat nomor B 4551 LLA.
“Adik kenal dengan pemilik mobil ini? Atau yang mengendarai mobil ini?” Tanya bapak itu.
Rio mengangguk dengan tidak sabar. “Kemana orangnya, Pak? Apa dia baik-baik aja?”
“Wah maaf, dek. Saya tidak tau. Tadi kedua korban yang berada di mobil ini langsung dilarikan ke rumah sakit.” Jelas bapak tersebut.
“Bapak tau rumah sakit mana?” Tanya Rio lagi.
“Saya juga gak tau, dek. Tadi mereka dilarikan ke rumah sakit pakai taksi. Kebetulan orang yang membantu mereka itu juga supir taksi.” Bapak tersebut menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Rio mengangguk. “Makasih, Pak.”
Rio pun berjalan menjauh dari kerumunan orang itu dan mulai berpikir apa yang harus dilakukannya. Rio sama sekali tidak tahu dimana Rumah Sakit tempat Shilla dan supirnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Alvin.
Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Kemudian ia mengetik beberapa nomor yang ia hafal. Ia mendekatkan ponsel ke telinganya.
Nada sambung pertama... Nada sambung kedua...
“Vin, please angkat, Vin. Ini penting, Vin. Lo harus bantu gue.”
Nada sambung ketiga...
Kemudian terdengar nada terputus pendek-pendek. Dimatikan.
“SHIT!” Rio kembali berpikir. Alvin... Sivia... AH! Sivia!
Rio langsung mencari kontak Sivia di ponselnya.
“Viaaa angkat, pleaseeee.” Rio mendekatkan ponsel ke telinganya.
Nada sambung pertama... Nada sambung kedua...
“Halo?” Tanya Sivia yang akhirnya mengangkat telepon dari Rio.
“Via!” Kata Rio lega bercampur panik.
“Iya? Tenang, Yo, Tenang. Ada apa?”
“Shilla, Vi! Shilla!” Rio tetap panik.
“Shilla kenapa, Yo? Ngomong yang jelas!” Sivia mulai terdengar cemas.
“Shilla kecelakaan, Vi! Gue liat mobilnya yang APV tabrakan disini!” Shilla melirik lagi mobil APV Shilla dan truk berwarnya kuning itu.
“APA? Shilla kecelakaan?” Setelah Sivia mengucapkan kata-kata itu, terdengar suara Sivia dan Alvin sedang mengobrol panik kemudian ponselnya berpindah tangan.
“Ini gue. Shilla kecelakaan? Jangan bohong lo!” Kata Alvin ikutan panik.
“Sumpah, Vin! Gak ada guna gue bohooong. Kalo gak percaya lo dateng aja kesini. Jalan Sudirman.” Kesabaran Rio mulai berkurang.
“Ya udah. Terus lo mau ngapain?” Tanya Alvin.
“Vin, please. Gue lagi gak nyari ribut. Shilla sama supirnya udah dibawa ke rumah sakit. Tapi gue gak tau rumah sakit mana dan orang-orang disini gak ada yang tau!” Kata Rio.
“Ya udah mending lo sekarang pulang. Biar gue sama Via yang urus semua.” Ucap Alvin dingin kemudian memutuskan hubungan telepon itu.
***
Alvin menekan tombol untuk mengakhiri panggilan dan memberi ponsel itu pada pemiliknya.
“Vi, ikut gue. Gue tau gimana kita bisa dapet info rumah sakit Shilla.” Kata Alvin dan berjalan mendahului Sivia.
“Vin, Shilla bener kecelakaan? Yang bener aja! Tapi dia gak apa-apa kan?” Tanya Sivia cemas.
“Vi, gue gak tau. Kita semua gak ada yang tau. Makanya sekarang kita cek satu-satu rumah sakit. Firasat gue pasti rumah sakit itu deket sama lokasi kejadian.” Jelas Alvin sambil berjalan menuju mobilnya disusul Sivia.

=TO BE CONTINUE=

HALOOOOO!!! Apa masih ada yg baca cerita random ini? Oh gak ada oke lalalala tenang aja bentar lg tamat haha apa bgt ya baru berapa part udah tamat mba janis aja sampe 35 gitu mana ABCDE lagi._. oke saya tau saya abal, terimakasih pujiannya. Anw yang mau copy cerita ini tolong blg gue dulu yaaa ada contact personnya (?) kan di blog gue? part 9 nya ntar ya kapan-kapan (?) paling kalo gak sempet sampe gue msk sekolah dan mulai penderitaan gue sebagai siswi kelas 9 gue lanjutin tahun depan-_- LEAVE COMMENT ;)



XOXO,


VALISHANBL