Alvin menekan tombol untuk mengakhiri panggilan dan memberi ponsel itu pada pemiliknya.
“Vi, ikut gue. Gue tau gimana kita bisa dapet info rumah sakit Shilla.” Kata Alvin dan berjalan mendahului Sivia.
“Vin, Shilla bener kecelakaan? Yang bener aja! Tapi dia gak apa-apa kan?” Tanya Sivia cemas.
“Vi, gue gak tau. Kita semua gak ada yang tau. Makanya sekarang kita cek satu-satu rumah sakit. Firasat gue pasti rumah sakit itu deket sama lokasi kejadian.” Jelas Alvin sambil berjalan menuju mobilnya disusul Sivia.
***
Shilla membuka matanya perlahan. Pertama-tama ia melihat langit-langit berwarna putih. Tidak, ini bukan kamarnya. Langit-langit kamarnya berwarna biru langit dengan gambar awan-awan putih. Mata Shilla mulai berkeliling mengamati keadaan sekelilingnya dan ia terkesiap ketika mendengar suara seseorang.
“Kamu udah sadar...” Ucap sebuah suara lembut.
Shilla langsung menoleh ke samping kirinya. Disana seorang wanita dengan berpakaian putih-putih tersenyum. Dari pakaiannya seperti seorang... Suster?
“Saya dimana?” Tanya Shilla.
“Kamu di Rumah Sakit. Kemarin kamu kecelakaan.” Jawab seorang suster itu.
“Kecelakaan?” Shilla kembali mengingat kejadian terakhir yang dialaminya. Ia duduk dengan gelisah, ada sebuah truk kuning yang melaju cepat, hingga akhirnya... Semua berubah menjadi gelap.
“O... Oh... Terus supir saya dimana? Saya gak apa-apa kan? Udah berapa lama saya pingsan?” Tanya Shilla lagi.
“Supir kamu ada di kamar lain. Nggak kok kamu gak apa-apa. Kamu Cuma ngalamin sedikit benturan dan mungkin kamu kaget sampai koma satu hari.” Suster itu tersenyum lagi. “Kemarin ada temen kamu kesini.”
Shilla menoleh cepat kearah suster itu.
“Siapa? Cewek atau cowok?” Tanya Shilla bertubi-tubi.
”Cewek sama cowok. Semalem mereka pulang katanya mereka bakal kesini lagi hari ini pulang sekolah...” Jelas si suster.
Shilla hanya mengangguk lemah.
“Suster, boleh saya pinjem telepon? Pelayan-pelayan di rumah pasti khawatir karena saya dan supir saya belom pulang dari kemaren.” Kata Shilla.
“Orang-orang di rumah kamu udah kami hubungi kok. Mereka sempet panik, tapi udah kita bilang kalian berdua gak apa-apa. Oh Iya, mereka bilang mereka mau kirim satu pelayan kamu kesini hari ini.”
Shilla mengangguk-angguk lagi.
“Saya mau panggil dokter dulu.” Kata suster itu.
Shilla hanya mengangguk sementara si suster sibuk dengan telepon di kamar Shilla.
Beberapa saat kemudian seorang dokter datang dan memeriksa keadaan Shilla.
“Bagus. Kamu gak apa-apa kok, Cuma perlu istirahat aja. Saya permisi dulu ya.” Kata si dokter dan berlalu pergi.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu. Si suster yang –menurut Shilla- banyak bicara itu segera membukakan pintu kamar Shilla sementara Shilla meneguk segelas air putih yang berada di meja di samping ranjangnya.
“Non Shilla, Ya ampun non gak apa-apa?” Salah satu pelayan Shilla yang cukup sering Shilla lihat wajahnya memasuki kamar rawat Shilla.
Shilla tersenyum. “Iya. Saya gak apa-apa kok.”
“Terus gimana keadaan Pak Tono, Non?” Tanya pelayan itu lagi.
“Saya belom sempet liat.” Jawab Shilla kemudian bergerak meraih remote TV yang berada di sebelahnya.
“Saya permisi dulu, ya. Kalo ada apa-apa pencet bel aja.” Ucap suster itu dan segera meninggalkan kamar Shilla setelah Shilla mengangguk.
“Oh iya, Nama bibi siapa?” Tanya Shilla pada pelayan itu.
“Ijem, Non. Bay de wey on de wey in de baswey, Si non ini kenapa toh non akhir-akhir ini suka murung begitu? Den Rio juga sudah jarang main ke rumah ya, Non!” Kata Bi Ijem.
Shilla terbatuk sesaat.
“Saya gak apa-apa kok.” Jawab Shilla lagi.
“Memangnya Non Shilla sama Den Rio ada masalah ya? Eh bukannya saya mau urusan orang loh ya non.” Bi Ijem salah tingkah sendiri.
Shilla tertawa kecil. “Saya juga gak tau saya ada di masalah apa, Bi.”
“Loh? Kok bisa begitu non?” Tanya Bi Ijem.
“Karena apa yang kita rencanain, belum tentu sesuai sama yang tuhan rencanain.” Jawab Shilla sedikit menerawang.
***
“Kamu harus ngomong sama Shilla, Yo. Aku gak mau hubungan kita gak jelas gini Cuma karena kamu ragu.” Ucap Ify.
“Aku gak mau, Fy!” Sahut Rio sambil memalingkan wajahnya.
“Gimanapun juga kamu harus ngambil keputusan... Aku yang anter kamu ke rumah sakit nanti pulang sekolah...” Ify melipat kedua tangannya di depan dada.
Rio termenung sejenak. Memikirkan keputusannya sendiri.
***
“Siviaaaa, Shilla kemana?” Tanya Zahra, teman satu kelas Shilla dan Sivia.
“Shilla... kecelakaan, Zah.” Jawab Sivia lirih.
“Hah? Kecelakaan? Serius?” Tanya Zahra lagi.
“Iya, Zah. Kemaren kita jenguk dan keadaannya baik-baik aja kok. Walaupun dia belum sadar.” Jelas Alvin.
“Terus? Kalian nanti mau jenguk lagi?” Zahra memandang kedua temannya dengan cemas.
“Iya. Lo mau ikut?” Tanya Sivia.
Zahra tersenyum lebar namun sedetik kemudian air mukanya berubah. “Pengen sih, tapi gue ada les...”
“Hmm ya udah kita salamin aja deh. Gimana?” Usul Sivia sambil tersenyum.
“Wah! Boleh-boleh! Bilang sorry gak bisa jenguk. Kelas sepi banget gak ada dia!” Kata Zahra sambil merapikan poninya.
Tiba-tiba seorang pemuda masuk disusul seorang gadis.
Alvin dan Sivia ikut menoleh saat melihat Zahra menoleh ke samping kanan. Saat tahu siapa yang masuk Alvin langsung melengos.
***
Shilla sibuk menekan-nekan tombol yang ada di remote control. Memindahkan dari satu channel ke channel yang lainnya.
Ting! Tong!
Tiba-tiba bel kamar Shilla berbunyi dan segera dibuka oleh Bi Ijem. Sesaat Shilla terdiam ketika mendengar suara yang dikenalnya berbincang dengan Bi Ijem lalu sesaat kemudian Shilla kembali sibuk menekan-nekan tombol remote dengan kasar dan tanpa perasaan.
Selang beberapa saat kemudian, seseorang masuk dengan langkah ragu.
“Ehm...”
Shilla berusaha mengabaikan deheman itu dan tetap berkonsentrasi dengan remotenya.
“Shill?”
Shilla mulai hilang kendali dan akhirnya menghela napas. Ia menaruh remote di samping bantalnya.
“Eh, ada elo...” Sapa Shilla memaksakan sebuah senyuman.
Rio menghampiri ranjang Shilla dengan canggung. Perasaan menyesal, bersalah, rindu, semua bercampur menjadi satu.
“Kamu kenapa?” Tanya Rio singkat.
“Gue? Yaaa kayak yang lo liat.” Jawab Shilla.
“Kenapa bisa gini?” Tanya Rio lagi.
Shilla menghela napas. “Gitu deh... Sama siapa lo kesini? Ify mana?”
Suara Shilla tampak agak bergetar saat mengatakan nama itu. Nama gadis itu.
“Dia diluar...” Jawab Rio kemudian menelan ludah.
“Lho? Kok gak disuruh masuk?” Shilla melayangkan pandangannya ke arah pintu.
“Gak.” Rio menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Dia minta aku untuk ngomong sama kamu.”
Shilla mengerutkan keningnya. Shilla mengerti apa yang akan dikatakan oleh pemuda itu dan Shilla siap menerima apapun.
“Ngomong?” Shilla menatap Rio tepat di manik matanya, membuat Rio kehilangan kata-katanya. “Masalah apa?”
“Ng... Itu...” Rio mulai ragu. Pertahanannya mulai goyah. “Tentang... Maafin aku, Shill.”
“Untuk?” Shilla menaikkan kedua alisnya.
“Untuk...” Rio menghela napas sejenak lalu dihembuskannya perlahan. “Semuanya. Untuk semuanya. Maafin aku karena udah...”
Rio tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia sudah tidak sanggup. Seketika ia langsung memalingkan wajahnya. Tidak berani menatap kedua mata bening Shilla.
“Udah lah, masalah itu gak usah dipikirin lagi...” Ujar Shilla membuat Rio menatapnya kembali dan matanya melebar. “Lagian kan kita udah gak ada hubungan apa-apa, Yo. Bilang sama Ify, urusan kita udah selesai.”
“Maksud kamu apa?” Tanya Rio. Kedua alisnya menyatu dan keningnya berkerut.
“Kita udah putus, Rio. Hubungan kita udah berakhir!” Seru Shilla dan mencoba untuk tetap tenang. Keuda matanya tetap menatap Rio lurus-lurus.
“Aku gak pernah bilang gitu, Shill.” Ucap Rio lirih namun tetap dapat terdengar oleh gadis di depannya.
“Gue yang mutusin.” Shilla berujar kalem.
“Nggak. Aku gak mau.” Rio kembali memalingkan wajahnya.
“Please, Yo. Tolong ngertiin gue.” Ucap Shilla lemah.
“Aku tau ini salah aku. Semua ini salah aku.” Rio mengacak rambutnya.
“Nggak. Ini bukan salah siapa-siapa. Bukan salah lo, bukan salah dia, dan juga bukan salah gue. Cuma waktu yang salah. Dia yang dateng bukan di waktu yang tepat. Lo tau? Waktu itu kejam.” Jelas Shilla dalam satu helaan napas.
Rio tidak sepenuhnya mengerti. Apa maksudnya dengan waktu yang salah? Namun sedetik kemudian, ia menyadari maksud Shilla.
“Aku tau. Seandainya aja... Waktu itu kamu gak ngebiarin aku pulang sama dia. Seandainya aja waktu itu kamu gak ngebiarin aku jatuh cinta lagi sama dia. Seandainya aja waktu itu...”
“Stop, Rio! Kita ini hidup di realita! Gak ada kata ‘seandainya’! Take your own risk!” Suara Shilla mulai meninggi bahkan nyaris membentak.
Rio terdiam. Ia mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
“Udah. Mendingan sekarang lo pergi. Bilang dan jelasin sama Ify. Sampein salam gue buat dia.” Ucap Shilla kemudian meraih remote TV yang tadi ia letakkan di samping bantalnya.
Lagi-lagi Rio menghela napas kemudian mulai berjalan mundur lalu membalikkan badannya. Sampai di ambang pintu, Rio kembali menoleh pada Shilla yang sibuk dengan remote TV nya.
“Aku minta maaf. Aku sayang kamu. Banget, Shilla.” Ucap Rio lirih kemudian mulai menarik handel pintu. Ia keluar dari kamar rawat Shilla dengan wajah sendu.
“Gimana?” Tanya Ify yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
“Udah selesai. Balik, ya. Gue capek banget.” Rio terus berjalan disusul Ify menyusuri lorong rumah sakit itu.
“Terus? Sekarang gimana?” Tanya Ify lagi saat dirinya berhasil mensejajarkan langkahnya dengan langkah Rio yang panjang-panjang.
“Ya gak gimana-gimana. It’s over.” Jawab Rio setengah kesal. Sesaat kemudian ia menenangkan emosinya.
Pintu keluar –dan masuk- rumah sakit itu sudah terlihat beberapa meter di depan. Saat hampir menggapainya, tak disangka tak dikira mereka berpapasan dengan seorang gadis dan seorang pemuda yang sangat dikenalnya. Alvin dan Sivia.
Rio hanya menatap kedua teman sekelasnya itu sekilas kemudian dengan segera memalingkan wajahnya kembali ke depan. Ia tak memedulikan tatapan dingin Alvin dan tatapan bingung Sivia. Moodnya sedang jelek dan dia sedang tidak ingin cari gara-gara.
Pintu rumah sakit otomatis terbuka dan segera tertutup kembali setelah Rio dan Ify melewatinya. Rio berjalan ke arah mobilnya terparkir dengan perasaan kacau dan bercampur menjadi satu. Menyesal, Sedih, Marah, dan perasaan tidak enak lainnya. Sedangkan Ify berjalan dengan senyum yang tetap terhias di bibirnya semenjak Rio mengucapkan kalimat terakhirnya tadi.
***
“Vi, cepetan dikiiittt.” Alvin sudah bersiap di ambang pintu kelas siang itu.
“Iye iye bentarrrr.” Sivia memasukkan buku terakhirnya ke dalam tas kemudian menyusul Alvin yang sudah terlebih dahulu berjalan beberapa meter di depannya.
Merekapun sampai di tempat parkir dan segera menghampiri mobil Alvin yang terparkir di bawah pohon rindang.
“Lama banget tau gak sih lo?” Ucap Alvin kesal ketika Sivia sudah masuk dalam mobil.
“Sorry sorry... Gue tau gue salah. Abisan kan si Rio tadi ngilang, terus kan Shilla gak masuk... Jadi aja gue yang jadi korban kena tugas-tugas kelas dari Bu Winda.” Sivia memasang seatbeltnya.
Alvin hanya terdiam lalu mulai melajukan mobilnya.
“Gak mampir dulu? Beli buah atau apa gitu? Jam besuknya masih sisa banyak kok.” Kata Sivia menoleh pada Alvin.
“Hmm... Di depan ada toko buah. Lo aja yang turun ya... Gue tunggu di mobil.” Beberapa saat kemudian Alvin menghentikan mobilnya di depan sebuah toko buah.
“Cepetan ya, Vi!” Pesan Alvin. Sivia mengangguk dan dengan setengah berlari memasuki toko buah itu.
Setelah menunggu beberapa menit, Sivia pun keluar dari toko buah itu dengan sebuah jinjingan di tangan kirinya.
Alvin pun melajukan mobilnya kembali saat Sivia memasuki mobilnya.
Perjalanan ke Rumah Sakit tidak memakan waktu yang lama. Hanya butuh waktu empat puluh lima menit untuk sampai disana.
Alvin segera memarkirkan mobilnya di tempat yang kosong. Sivia terlebih dahulu turun disusul Alvin yang langsung mensejajarkan langkah Sivia di sebelah kanannya.
Merekapun mulai memasuki lobby Rumah Sakit dan terkejut mendapati Rio sedang berjalan bersama Ify. Rio dengan wajahnya yang tampak kusut dan Ify dengan sedikit senyum di bibirnya.
‘Rio? Ngapain dia disini? Ify? Dia juga ngapain? Wah pasti ada yang gak beres nih...’ Batin Sivia dalam hati. Ia terus menatap bingung pada Rio dan Ify.
Sedangkan Alvin yang juga melihat keberadaan kedua temannya itu hanya melihatnya dengan pandangan dingin.
Rio menatap keduanya sekilas, lalu memalingkan wajahnya lagi dan keluar dari Rumah Sakit.
Alvin dan Sivia sampai di depan kamar rawat Shilla. Sivia segera mengetuk pintu kamar itu. Tak lama kemudian, seseorang membukakan pintu itu. Bi Ijem.
“Bi, gimana keadaan Shilla?” Tanya Sivia begitu pintu di hadapannya terbuka.
“Eh? Mari masuk, non sama den nya juga...” Bi Ijem mempersilakan Sivia dan Alvin masuk sementara Bi Ijem menunggu di kursi di depan kamar rawat itu.
Sivia langsung menghampiri Shilla yang terbaring di ranjang rumah sakit.
“Shilla? Lo nggak apa-apa kan?” Tanya Sivia cemas.
Shilla menoleh dan mendapati Sivia dan Alvin. Ia hanya tersenyum.
“Gue nggak apa-apa...” Jawab Shilla.
Sivia menatap Shilla tepat di manik matanya. “Nangis, Shill. Nangis aja kalo emang itu bisa buat lo lega...”
Sivia segera memeluk Shilla dan Shilla pun menangis di pelukan sahabatnya itu.
***
Tangis Shilla reda setelah sekitar lima belas menit.
“Vin, tolong ambilin minum.” Ucap Sivia pada Alvin. Alvin pun segera mengambil segelas air mineral yang berada di meja di dekatnya dan menyerahkannya pada Sivia. Sivia menyerahkan gelas itu pada Shilla.
“Thanks ya, Vi, Vin.” Ucap Shilla tulus dan segera meneguk air mineral itu lagi.
“Santai aja, Shill. Hahaha... Udah mau cerita?” Tanya Sivia hati-hati.
Shilla meletakkan gelas yang sudah kosong itu di meja di samping ranjangnya kemudian mengangguk.
***
Shilla menghela napas di akhir ceritanya. Sivia segera memeluk sahabatnya itu lagi.
“Udah... Sabar aja ya, Shill. Cowok di dunia gak Cuma dia kok...” Ucap Sivia menenangkan.
“Iya, Vi. Gue tau...” Shilla memaksakan sebuah senyuman.
Sivia mengurai pelukannya.
“Kapan lo udah boleh pulang?” Tanya Alvin yang sedari tadi hanya diam.
“Malem ini udah boleh pulang kok!” Jawab Shilla bersemangat. “Gue udah gak sabar sekolah!”
“HAH? Gila lo! Jangan sekolah dulu lah!” Kedua mata Sivia membelalak lebar.
“Yah elah gue udah gak papa ini kali...” Tanggap Shilla.
“Tapi kan kondisi lo itu loh, Shill!” Kata Sivia.
“Iyaaa... Gue ngerti. Tapi beneran kok, gue udah gak apa-apa.” Shilla tersenyum pada kedua sahabatnya itu yang memandangnya aneh.
“Ya deh, terserah lo...” Ujar Alvin.
***
“Iya, ma, Ini Shilla...” Shilla menahan tangisnya saat mengangkat telepon itu. “...Baik, Ma, Mama sama papa gimana?...Paris?” Shilla tersentak kaget. “....Iya, Ma, Shilla masih disini...Hmm...Aku butuh waktu, Ma...Iya...Salam buat papa, Ma...Bye...”
Shilla terduduk lemas di kasurnya. Kepalanya terasa pening. Segalanya terlihat semakin memusingkan.
***
“Shillaaaa!!!” Koor cewek-cewek kelas 11 IPA 2 saat Shilla memasuki kelasnya itu. Seluruh anak-anak perempuan di kelas itu segera mengerumuni Shilla di depan papan tulis.
“Heeeeyy semuaaa haha gimana keadaan nih kelas tanpa gue? Pasti sepi ya? Ahahaha gue tau kok gak ada gue pasti gak rame dan pasti gue ngangenin banget kan kan kaaaannn?” Shilla yang ceria dan penuh dengan kejutan itu kembali ke sekolah keesokan harinya. Senyumnya tetap menghiasi wajah cantiknya.
“Iya banget, Shillaaaaaa! Kali ini gue jujur deh!” Kata Gita dengan nada seolah-olah sudah tidak bertemu Shilla bertahun-tahun.
“Iyaaa bener! Lo kemana aja sih, Shill? Kangen banget kita sama loooo!” Ucap Irva yang bertubuh agak besar.
“Wes gilaaa terharu banget gue hahaha gue sakittt doang koookkk...” Shilla memberikan cengiran kudanya.
“Sakit apa? Lo bisa sakit, Shill?” Celetuk Bastian dari meja pojok belakang yang mendengarkan percakapan teman-teman perempuan sekelasnya itu.
“Weeee si babas ya bisa dong bas! Gue juga manusia! Hahaha...” Tawa Shilla terdengar.
“Gue denger dari Sivia sama Alvin, lo kecelakaan, Shill?” Tanya Zahra pelan karena kebetulan ia berdiri di samping Shilla.
Tawa Shilla langsung terhenti. “Oh iya hehe tapi gak parah kok. Nih liat gue! Gak apa-apa kan? Gue masih cantik kan? Ahahahaha...”
Zahra hanya tersenyum canggung. Dalam hati ia tahu kalau Shilla hanya berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya. Siapa juga yang tidak tahu berita tentang keretakan hubungan Shilla dengan Rio yang dikarenakan orang ketiga?
“Eh, Zah, lo duduk di depan kan?” Tanya Shilla.
“Iyaaa... Kenapa?” Zahra menoleh pada Shilla.
“Sebelah lo siapa? Gita ya?” Tanya Shilla lagi.
“He-eh...” Jawab Zahra.
“Gitttt, gue boleh tukeran tempat sama lo nggak? Please bangeeeettt...” Mohon Shilla.
Zahra ternganga mendengar permohonan Shilla pada Gita itu yang begitu sungguh-sungguh.
“Hah? Tuker? Buat?” Tanya Gita sambil mengerutkan keningnya.
“Gue kan lama gak masuk tuh... Eh gak lama juga sih tapi kan gue kemaren-kemaren gak masuk tuuuh kalo gue duduk di tempat gue yang sekarang nanti gue gak masuk gitu pelajarannya makanya gue pengen duduk di depan... Boleh ya?” Pinta Shilla dengan sungguh-sungguh.
Gita menatap kedua bola mata Shilla. Bukannya tidak tahu, Gita tahu bukan itu alasan sebenarnya memintanya untuk bertukar tempat duduk. Dan Gita bisa memaklumi itu. Ia mengerjapkan kedua matanya kemudian tersenyum.
“Boleh, Shillaaaa... Apa sih yang nggak buat looo?” Gita dan Shilla tertawa bersama.
“Hahahah thanks banget, Git!” Ucap Shilla. Gita hanya mengangguk-angguk.
“Shill, kok gak duduk deket gue aja, sih?” Tanya Sivia sambil merengut.
“Sorry, Vi. Siapa tau lo sama Alvin lagi pedekate. Ahahahaha...” Shilla tertawa lagi dan semakin membuat bibir Sivia mengerucut.
Bel masuk pun berbunyi. Shilla segera duduk di tempat Gita dan Gita berpindah tempat duduk ke tempat Shilla.
Rio menaikkan sebelah alisnya ketika Gita duduk di tempat Shilla.
“Kok elo disini, Git?”
Gita menoleh dan menatap Rio dengan tatapan permohonan maaf.
”Duh, Yo... Sorry banget deeeh! Ini atas permintaan Shilla... Dia yang maksa...”
Rio mengalihkan pandangannya pada tempat duduk Gita yang sebelumnya dan mendapati Shilla duduk disana sedang mengobrol dengan Zahra. Tanpa sadar ia tersenyum. Tidak apa-apa baginya jika Shilla meminta Gita untuk bertukar tempat. Rio bisa memaklumi itu. Yang terpenting sekarang adalah Shilla sudah kembali bersekolah.
Pak Duta masuk untuk mengajar pada jam pertama di kelas 11 IPA 2. Seketika ia menyipitkan matanya ketika mendapati ada yang berubah di kelas itu. Pak Duta adalah guru yang betul-betul ahli dalam mengingat. Bahkan setiap letak tempat duduk murid-muridnya pun dia ingat. Apalagi letak tempat duduk yang berada tepat di depan meja guru.
“Shilla? Mengapa kamu duduk disitu?” Tanya Pak Duta saat menemukan kejanggalan pada kelas itu.
“Eeee... Itu pak... Kan saya gak masuk kemaren-kemaren terus saya kan ketinggalan pelajaran gitu pak... Jadinya saya minta tuker tempat supaya saya bisa duduk di depan terus ngejar ketinggalan saya...” Jelas Shilla.
Pak Duta mengingat-ingat tempat awal Shilla. Ia melayangkan pandangannya pada tempat duduk Shilla yang dulu yang kini ditempati Gita. Karena alasan yang cukup masuk akal, Pak Duta mengangguk-angguk.
“Shilla, tolong bagikan ini. Latihan soal sebelum Ulangan Akhir Semester...” Jelas Pak Duta seraya memberikan setumpuk kertas pada Shilla. Shilla mengangguk dan mulai membagikan kertas-kertas itu. Lalu sampailah ia di tempatnya yang dulu. Tempat strategis karena tempat itu berada tepat di depan Air Conditioner. Tak ayal kertas-kertas yang sedang dipegangnya berterbangan ketika sampai di tempat itu karena tertiup oleh angin dari Air Conditioner tersebut.
Seketika Shilla panik karena posisinya sekarang sedang tidak strategis. Di samping meja Rio.
Rio yang melihat kejadian itu segera membantu Shilla mengumpulkan dan merapikan kertas-kertas yang berterbangan itu. Kertas yang terjatuh di bawah kakinya, di bawah kursinya, di bawah kursi Gita, dan tempat-tempat terlarang lainnya bagi Shilla.
Seluruh murid 11 IPA 2 menahan napas melihat adegan itu.
Setelah Shilla dan Rio berhasil mengumpulkan seluruh kertas-kertas itu, Rio menyerahkan setumpuk kertas yang dipegangnya pada Shilla. Shilla terdiam sesaat. Namun sesaat kemudian...
“Eh? Thank you loh ya hahaha aduh tuh AC apa banget sih usil banget gangguin gue...” Seru Shilla spontan dan heboh membuat seluruh murid di kelas itu yang sedari tadi menahan napas tertawa-tawa.
Pak Duta yang tidak kuper-kuper amat dan mengikuti gossip sekolahan hanya geleng-geleng kepala melihat kejadian itu.
***
“Iya, Ma... Iya Shilla tau... Iya...” Shilla menghela napas sejenak. “Iya, Ma... Abis kenaikan kelas... Iya Shilla serius... He-eh... Bye...” Shilla memutuskan hubungan telepon itu.
“Semoga... Keputusan gue ini emang keputusan yang terbaik... Dan semoga keputusan gue ini keputusan yang bener...”
***
Hari ini adalah hari pembagian rapot setelah selama seminggu mereka berjuang mengerjakan soal-soal Ujian dan seminggu acara OSIS. Shilla mengambil rapotnya sendiri. Ia tersenyum puas saat melihat urutan ranking dan ia menduduki posisi pertama.
“Shill?” Sapa sebuah suara.
“Eh, Vi, hmm... Gue pengen ngomong... Sama elo sama Alvin... Tapi gak disini...” Ucap Shilla pelan.
“Ngomong? Ngomong apa deh? Ayo aja... Dimana?” Tanya Sivia menatap Shilla yang sedang mengigit bibirnya.
“Hmm... Rumah elo gimana?”
“Rumah gue? I... Iya deh... Bentar ya gue telepon Alvin dulu...” Sivia segera merogoh sakunya.
“Sivia, mama pergi dulu yaa... Kamu pulang sama Shilla, ya?” Ucap sebuah suara lembut di belakang Shilla dan Sivia yang berdiri memunggungi pintu kelas.
“Iya, Ma...” Sivia mengangguk-angguk pada mamanya kemudian ia mendekatkan ponselnya ke telinga.
“Vin, dimana lo?... Shilla ngajak kumpul di rumah gue, katanya mau ngomong sama gue sama elo... Jam sekarang... Oke oke... Byeeee...”
Shilla menatap sobat kentalnya itu. “Gimana?”
Sivia tersenyum manis. “Dia dateng koook. Yuk kita ke rumah gue...”
Shilla mengangguk seraya tersenyum. Ia yakin, setelah ini, tidak ada lagi sahabat sebaik Sivia.
***
“Udah, ngomong aja, Shill. Gak apa-apa kok. Lo mau curhat atau apa? Kita pasti dengerin koook...” Kata Alvin saat Shilla tak kunjung membuka mulutnya sejak mereka sampai di rumah Sivia.
Shilla hanya diam. Ia duduk gelisah dan sesekali menggigit bibirnya. Saat mulutnya terbuka, hendak mengatakan sesuatu, ia menutup mulutnya kembali.
“Ada apa sih, Shill? Cerita aja...” Sivia menepuk pundak Shilla lembut.
Shilla menghela napas kemudian mulai menenangkan hatinya.
“Gue mau pindah...” Ucap Shilla pelan.
Sontak mata Sivia dan Alvin melebar.
“P... Pindah?” Tanya Sivia seraya menatap Shilla tepat di manik matanya.
Shilla mengangguk perlahan. “Ke Paris, Vi, Vin... Orang tua gue yang nyuruh... Gue sebenernya gak mau ninggalin kalian. Tapi kalian tau kan kalo gue sama orangtua gue itu...”
Shilla mulai menitikkan air matanya.
“Iya... Kita ngerti kok...” Sivia mulai mengusap-usap punggung Shilla kemudian memeluknya.
“Iya, itu hak lo kok, Shill. Tapi... Lo bakal sering main kesini kan?” Tanya Alvin sambil tersenyum.
Shilla mengusap air matanya kemudian mengangguk. “Pasti... Pasti gue bakal sering main kesini...”
Sivia dan Alvin mengangguk lalu tersenyum.
Shilla menatap langit siang itu dari jendela ruang tamu rumah Sivia.
“Jadi... Kapan lo pindah?” Tanya Sivia.
Shilla menoleh pada Sivia kemudian menunduk. “Besok...”
“HAH? Kok mendadak banget sih, Shilll?” Alvin terlihat sangat terkejut.
“Gak mendadak... Gue Cuma baru kasih tau kalian aja...” Shilla tersenyum pahit. “Gue gak mau kehilangan kalian banget... Gue gak bakal dapet sahabat kayak kalian lagi nanti...”
Sivia langsung memeluk sahabatnya itu erat.
***
Sabtu, 9-Juli-2011
Soekarno-Hatta Airport, Jakarta.
“Shillaaaa... Sumpah gue pasti bakal kangen looooo banget!” Seru Sivia untuk yang kesekian kalinya.
“Iya, Gue juga pasti bakal kangen lo banget, Vi. Semoga aja disana gue gak lama. Setahun kek gituuu... Gue juga gak betah di negara orang mah!” Tanggap Shilla.
“Shill, dari sana kalo lagi main kesini, jangan lupa bawa oleh-oleh ye!” Sahut Alvin kemudian duduk di sebelah Sivia ketika sudah lelah berdiri selama beberapa menit.
“Hahaha masalah itu tenang aja!” Shilla mengacungkan kedua jempolnya.
“Elo, Vin! Gue lagi sedih juga mau ditinggal Shilla malah minta oleh-oleh!” Sivia merengut kesal.
“Lagian daripada sedih-sedihan! Dasar cewek!” Gerutu Alvin.
Shilla hanya tertawa kecil.
“Jangan lupain gue ya, Shill. Sering-sering lo contact gue! Pesen gue Cuma itu aja kok!” Kata Sivia lirih.
“Aaaah Viaaaa! Jangan bikin gue nangis lagi ahh!” Shilla memeluk Sivia lagi.
“Kok gue gak dipeluk deh, Shill?” Alvin menaikkan sebelah alisnya.
“Mau lo!” Sewot Sivia.
“Emang kenapa? Cemburu lo?” Tantang Alvin.
“Enak aja! Elo tuh kepedean!” Sivia semakin mengerucutkan bibirnya.
“Yayaya apa kata lo. Eh, Shill, take off jam 12 kan? Kayaknya lo udah harus check in deh!” Kata Alvin mengalihkan topik.
“Eh, Iya sih... Hmm... Kalian pulang duluan aja deh, Vin, Vi... Gue masih ada perlu... Lagian katanya lo ada acara keluarga kan, Vi?” Tanya Shilla kemudian menatap Sivia.
“Iya sih... Tapi gak apa-apa deh gue nemenin lo aja sampe masuk...” Sivia mengangguk-angguk.
“Eh...eeemm... Gak usah, lagi! Mending kalian duluan aja! Gue masih rada lama nih!” Sahut Shilla.
Alvin menatap kedua bola mata bening milik Shilla. Alvin mengerti, apa yang dimaksud dengan keperluan Shilla. Menunggu seseorang yang entah akan datang atau tidak. Jadi, Alvin segera mengambil tindakan.
“Vi, pulang aja deh, yuk! Gue juga udah capek nih, sakit perut! Belom lagi nganterin lo ke rumah!” Kata Alvin seraya memegangi perutnya.
“Aduh kan di toilet sini bisa!” Sivia menatap Alvin galak.
“Udah gak apa-apa kok, Vi! Kasian Alvin... mending kalian pulang aja...” Ucap Shilla lalu melihat jam yang menempel di pergelangan tangannya.
“Yakin lo gak apa-apa?” Tanya Sivia memastikan.
“Iyaaaa! Udah gue gak akan apa-apa koook!” Jawab Shilla sambil tersenyum.
“Ya udah deeeh... Shill, gue pamit dulu ya! Maaf bangeeet gak bisa anterin sampe lo masuk...” Sivia memeluk Shilla lagi.
“Gak apa-apa, Vi, take care ya! Jaga Alvin baik-baik... Dia ganas hahaha pokoknya kalo gue sampe disini lagi, kalian harus udah baikan! Oke oke?”
“Iyaaa... Ya udah deh, lo juga take care disana ya! Bye, Shill!” Sivia menatap nanar pada Shilla. Sedangkan Shilla membalas tatapan Sivia itu dengan sebuah senyuman.
“Hati-hati, Shill. Take care!” Kata Alvin. Shilla hanya mengangguk-angguk lalu menatap keduanya pergi sampai hilang dari pandangan.
***
Ashilla: Soekarno-Hatta Airport 10.30 terminal 2E
Rio belum sepenuhnya sadar ketika terbangun pada pagi hari itu. Ia mengucek matanya sekali lagi kemudian membaca pesan yang masuk ke handphonenya sekitar satu jam yang lalu. Terkejut Rio langsung melompat dari tempat tidurnya lalu melihat jam dinding yang tergantung di kamarnya.
Pukul sepuluh!!!
Walaupun dengan perasaan bingung Rio langsung menyambar handuknya dan bergegas mandi.
***
Rio terus berlari menyusuri bandar udara internasional di Jakarta itu sambil sesekali melihat jam tangannya.
Pukul sebelas!
Rio mempercepat langkahnya hingga dari kejauhan ia menemukan sosok itu. Gadis yang tengah duduk dengan kepala ditundukkan. Di sebelah gadis itu terdapat sebuah koper besar.
Rio menarik napas panjang kemudian mulai berjalan santai pada gadis itu.
“Shill...” Sapanya.
Gadis itu tersentak dan langsung menengadah untuk melihat siapa pemilik suara itu. Dan ternyata dugaannya benar. Ia langsung berdiri.
Let me hold you for the last time
It’s the last chance to feel again
But you broke me
Now I can’t feel anything
“Eh! Elo... Akhirnya dateng juga, yaaa walaupun agak telat sih...” Shilla melirik jam tangannya.
“Kamu mau kemana?” Tanya Rio sambil memalingkan wajahnya.
When I love you It’s so untrue
I can’t even convince myself
When I’m speaking It’s the voice of someone else
Shilla menghela napas sejenak. “Paris...”
“Ngapain?” Tanya Rio dingin.
Shilla menahan napasnya namun langsung dihembuskannya lagi.
“Pindah, Yo...”
“Kenapa? Kenapa kamu gak pernah kasih tau aku?” Tanya Rio lagi namun kali ini ia memberanikan diri untuk menatap Shilla.
“Gak ada alasan gue buat kasih tau lo...” Jawab Shilla ringan. Kali ini Shilla yang memalingkan wajahnya.
Oh it tears me up
I tried to hold but it hurts too much
I tried to forgive but it’s not enough
To make it all okay
“Aku berhak tau. Aku temen kamu juga kan?” Rio terus menatap Shilla.
Shilla membalas tatapan itu.
“Ya.” Jawab Shilla. “Ini keputusan orang tua gue, Yo. Sebenernya gue juga gak mau ninggalin Jakarta, ninggalin Indonesia... Tapi, yah... You know lah... Hubungan gue sama orangtua gue kan...”
“Aku ngerti... Tapi kamu harusnya ngasihtau lebih awal... Gak mendadak gini...” Kata Rio.
You can’t play our broken strings
You can’t feel anything
That your heart don’t want to feel
I can’t tell you something that aint real
“Gue harus pergi, Yo. Jaga Ify, ya. Gue yakin dia itu orang baik. Jangan pernah sakitin hati dia... Supaya kejadian kayak gini gak keulang lagi. Cukup satu orang aja yang terluka... Gue.” Ucap Shilla pelan.
“Kamu juga hati-hati... Jaga diri disana... Dan maafin aku...” Kata Rio menatap Shilla lurus-lurus.
“Udah, kan gue bilang gak ada yang salah. Bukan salah lo...” Sahut Shilla sambil tersenyum.
Oh the truth hurts and lies worse
I can’t like it anymore
And I love you a little less than before
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari sebuah pengeras suara. Menandakan waktu Shilla habis. Ia harus segera masuk ke ruang tunggu pesawat dan siap untuk kehilangan.
“Itu pesawat gue... Gue udah harus masuk...” Kata Shilla dan sekali lagi melirik jam tangannya.
“Shill, boleh aku peluk kamu? Ng... Pelukan perpisahan?” Pinta Rio ragu kemudian ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
Shilla tertawa kecil kemudian mengangguk. Sebelum Rio sempat bergerak, Shilla sudah memeluk Rio terlebih dahulu sehingga membuat Rio terperangah.
“Aku bakal kangen banget sama kamu, Shill. Take care ya...” Ucap Rio pelan.
“Gue juga bakal kangen sama lo hahaha... Lo juga take care...” Tanggap Shilla kemudian melepaskan pelukannya.
Oh what are we doing
We are turning into dust
Playing house in the ruins of us
“Sahabat?” Rio mengulurkan kelingkingnya.
Running back through the fire
When there’s nothing left to say
It’s like chasing the very last train
When it’s too late
Shilla yang kali ini terperangah. Namun detik berikutnya ia segera menyambut uluran kelingking itu dan mengaitkannya dengan kelingkingnya.
“Sahabat!” Shilla tertawa geli kemudian segera mengurai kaitan kelingking itu. “Gue masuk deh ya... Take care! Bye!”
Shilla mulai meninggalkan Rio dan berjalan menuju pintu masuk ruang check-in.
“Shilla!” Panggil Rio sebelum Shilla benar-benar masuk. Shilla mengusap setetes airmatanya yang turun tanpa diperintah kemudian menoleh.
“Gue bakal tunggu lo! Sampai kapanpun lo balik kesini!” Seru Rio.
Shilla hanya membalasnya dengan senyuman kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Senyuman terakhirnya di Indonesia... Atau mungkin di dunia?
Oh it tears me up
I tried to hold but it hurts too much
I tried to forgive but it’s not enough
To make it all okay...
=== THE END ===
.
.
.
.
.
Fiuuuuhhh finally lega bangeeet akhirnya ini cerbung tamat jugaaaa setelah sekian lama gue nunggu-__- kecepetan yak? Iya ini cerbung pendek yang amat sangat gaje... Daaannnn I would likd to say thank you to you all my readers muah muah yang udah setia banget dan sabar banget baca ini cerita dan gue juga gak ngerti kenapa kalian masih betah aja baca hahaha gue juga gatau kalo ternyata ada pembaca yang melarikan diri kali ya-_- thanks juga buat temen-temen gue semua yang udah nyemangatin gue terutama tiga huruppppp <3 I LOVE YOU ALL! dan plusplus buat mba janice jangan melupakan saya dan bianglala ya ;p. Oh iya kalo ada yang tanya kenapa ini cerbung tamatnya cepet banget gapake aja ya karena kan gue udah pernah bilang kalo gue tahun ini kelas 9 KYAAAAAAA belom masuk sekolah aja gue udah stress BANGET gapake aja! Soooooooo, wish me luck yaaaa <3 and keep waiting for my next story ahahaha maybe next year *itupun kalo ada yang mau baca*. Makasih ya semua yang sampe mau baca kata-kata mutiara (?) gue ini dan silakan TINGGALKAN KRITIK DAN SARAN!
XOXO,
-vlshnbl


