THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Monday, June 13, 2011

Love Risk (Part 7)

“Jujur gue bingung loh, Yo, sama perubahan sikap lo yang drastis gitu! Semenjak kita tersesat di hutan itu...”
Rio hanya berdehem. “Ada sesuatu yang harus gue sampein sebenernya. Tinggal nunggu waktu.”
Shilla hanya menatap Rio bingung.


***

25 Februari 2011.
Shilla terbangun dari tidurnya kemudian tersenyum kecil. Ia membuka handphonenya. Beberapa ucapan ‘Happy Birthday’ lewat bbm diterimanya.
Sivia Azizah: Happy birthday my bestie Ashilla Zahrantiara, Wish you all the best and may god bless you always all day and night long. Longlife ya Shill hehe cepet dapet pacar ;p TRAKTIR GAK MAU TAU!
Ashilla Zahrantiara: Thank you Sivia my bestie! Hahaha amin yaaa tp yg masalah traktir msh mikir-mikir haha ;p
Shilla tersenyum setelah membaca bbm dari Sivia. Selanjutnya ucapan kedua. Tebak dari siapa? Shilla mengerutkan keningnya ketika melihat nama Rio Haling mengiriminya bbm pada jam 00.01. Satu menit setelah Sivia mengucapkan ‘Happy Birthday’ pada Shilla.
Rio Haling: Happy birthday Shill! Wish you all the best and longlife! May gbu always 
Ashilla Zahrantiara: Thanks yo! Hehe..
Shilla terus membuka bbm-bbm yang masuk dan membalasnya satu persatu.
Setelah kelar, Shilla melirik jam dindingnya. Pukul 06.05. Shilla segera bergegas mandi dan pergi sekolah.
***
“Lo ngapain jemput gue lagi?” Tanya Shilla ketika melihat Rio di depan rumahnya.
“Ih dibilangin pendekatan! Hahaha... Happy birthday ya, Shill!” Ucap Rio.
“Iyaaaa thanks ya! Bentar gue bilang supir gue dulu.” Shilla memasuki rumahnya lagi lalu tak lama kemudian keluar.
“Nanti pulangnya bareng gue lagi, ya?” Tawar Rio.
“Aduh... Mau lo itu apa sih?” Shilla geleng-geleng kepala.
“Pokoknya ikut aja deh.” Kata Rio.
“Iya deh apa kata lo aja!”
***
“Shillaaaaaa! Happy birthday yaaa! Sumpah gue semalem begadang nungguin jam 12 hahaha...” Sivia memeluk Shilla ketika Shilla sampai di kelas.
“Aduh, Vi... Hahaha... Thank you loh ya!” Ucap Shilla.
“Traktir dong ya tapi haha...” Sivia menepuk pundak Shilla.
“Halah iya iya nanti istirahat gue traktir haha tapi diem-diem aja ya!” Kata Shilla.
Sivia mengangguk sambil terkikik geli.
“Eh, akhir-akhir ini lo sering berangkat bareng Rio, ya? Kok sering dateng bareng?” Tanya Sivia penuh selidik.
“Ya... Gitu deh.” Shilla menaruh tasnya di atas meja.
“Ceilaaah ada kemajuan nih! Cie cieeee...” Sivia menyenggol Shilla.
“Apaan sih hahaha...” Shilla hanya tertawa.
***
“Dan pemenang hari ini adalaaaahh... RIO!!!!” Seru Alvin heboh.
Shilla melengos.
“Yeeee si bocah ulang tahun ngambek hahaha...” Tawa Rio.
“Gak deh yaaaa! Bosen gue menang terus jadi gue kalah-kalahin aja!” Shilla merapikan kembali mejanya. Satu persatu anak-anak kelas 11 IPA 2 mulai keluar dari kelas untuk pergi ke kantin. Shilla melirik Sivia, mengisyaratkannya untuk keluar menepati janji Shilla yang akan mentraktirnya siang itu.
“Eh, gue ikut dong!” Kata Rio memasukkan iPodnya ke dalam saku. Shilla dan Sivia yang berada di ambang pintu langsung berpandangan heran.
“Ikut? Kemana? Kita mau ke toilet cewek!” Shilla menyikut Sivia.
“Alaaah udah deh gue ikut kemanapun kalian pergi. Nanti pasti kalian ke kantin kan? Shilla mau nraktir lo kan, Vi?” Rio menghampiri Shilla dan Sivia lalu merangkul keduanya sok asyik.
“Ewh gak pake rangkul-rangkulan bisa kali!” Sivia menepis tangan Rio dari pundaknya. Begitupun Shilla.
***
Rio Haling: Gw g bs dtg ke bukit hari ini. Sorry yaaa 
Ashilla Zahrantiara: Yeeee emang gw pikirin sih yaaa

Shilla memasukkan handphonenya ke dalam saku jeansnya. Kemudian ia menatap langit malam. Langit malam itu terlihat sangat cerah, namun tak secerah hati Shilla. Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam. Itu berarti 4 jam lagi, hari akan berganti. Sedari pagi Shilla menanti ‘sesuatu’. Ya. ‘Sesuatu’ itu adalah telepon dari kedua orangtuanya. Shilla benar-benar berharap bahwa kedua orangtuanya ingat hari ulang tahunnya. Ini adalah ulang tahunnya ke-17. Kata orang, umur 17 itu umur dimana seseorang dianggap benar-benar dewasa. Shilla sudah bisa membuat KTP, SIM, bisa ikut PEMILU, dan lain sebagainya. Tetapi...
Shilla menghela napas panjang. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada Rio.
‘Sepi juga gak ada lo disini, Yo.’ Shilla jadi tersenyum sendiri. Kemudian ia berpikir. Selama ini, selain Sivia, Rio-lah yang menghiburnya. Dalam keadaan apapun dan tanpa disadari oleh Shilla. Getar itu semakin membuncah di hati Shilla ketika mengingat semua perlakuan Rio pada Shilla malam itu. Malam dimana Rio ‘mengistimewakan’ nya.
Shilla menghembuskan napasnya perlahan. Apa ini yang namanya cinta?
***
Rio menghembuskan napasnya perlahan-lahan.
“Ini waktu gue. Dan gue harus berhasil”
***
“You’re on the phone with your girlfriend she’s upset....”
Shilla menggeliat kecil. Matanya terbuka perlahan-lahan. Ia melihat jam dinding yang terletak di kamarnya. Pukul 1 malam.
“Siapa sih yang nelepon malem-malem gini? Orang gila kali ya? Ganggu Orang tidur aja.” Shilla mengerang kecil lalu mengangkat telepon itu tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
“Shill bisa liat ke bawah sebentar?” Terdengar suara seseorang di seberang sana.
“Gak. Siapa nih? Gue ngantuk.” Shilla menguap.
“Please. Sebentar aja deh.”
“Ini siapa sih? Ganggu gue tidur tau?”
“Ayo dong liat ke bawah sebentar. Gue di bawah. Jangan buat gue nunggu, Shill.”
Klik.
Sambungan telepon terputus. Shilla mengerang dan meletakkan handphone di sampingnya.
Shilla berniat mengabaikan telepon tadi dan tidur lagi. Lamat-lamat terdengar suara petikan gitar mengalun. Tampaknya seseorang disana telah menunggu Shilla masuk ke alam mimpi. Namun Shilla masih belum bisa terpejam sungguhan. Akhirnya Shilla terdiam. Petikan gitar itu semakin terdengar.
“Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu...”
Shilla membuka matanya lebar-lebar. Suara itu...
Shilla segera bangkit dari kasurnya. Ia membuka pintu balkon kamarnya dan melongok melihat ke bawah.
Pemuda itu. Memetik gitarnya dan melantunkan sebuah lagu indah. Membuat Shilla tak kuasa menahan untuk tidak menutup mulutnya yang ternganga.
“Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu... Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Oh karena hati telah letih

Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Oh bayangmu seakan-akan

Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang
Dan sepi
Dan sepi

Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Selalu ada, kau selalu ada
Selalu ada, kau selalu ada...”
Rio tersenyum pada Shilla yang masih menatapnya dengan pandangan tak percaya.
“Shilla! Do you want to be my everlasting love?”
Shilla masuk ke dalam kamarnya. Ia tersenyum lalu segera bergegas keluar kamar. Ia menuruni anak tangga dengan sangat tergesa. Sesampainya di lantai bawah, Shilla berlari dan membuka pintu taman belakang yang remang. Shilla berlari dan memeluk Rio.
“Lo...” Shilla mengeratkan pelukannya dan menangis.
“Kenapa? Kok nangis? Gak suka ya? Ya udah gak apa-apa kok tapi jangan nangis dong!” Rio mulai panik. Ia balas memeluk Shilla dan membelai rambut gadis itu.
“Lo itu baik banget, Rio. Lo yang selalu nyemangatin gue, tanpa gue sadarin. Gue sekarang baru sadar, kalo selama ini, sedikit demi sedikit lo udah bikin kesedihan gue berkurang.” Shilla terisak.
Rio tersenyum. “Itu emang tugas gue. Gue gak mau liat lo sedih lagi. Janji ya, Ini terakhir kalinya lo nangis di hadapan gue?”
Shilla hanya terdiam.
“Jadi gimana jawaban lo?” Tanya Rio menggaruk belakang telinganya.
“Jawaban apa?” Shilla melepaskan pelukannya.
“Ya... Itu... Yang tadi.” Rio menjadi gugup.
“Aku yakin kamu gak sebodoh itu. Apa sikap aku tadi gak cukup untuk ngasih kamu jawaban?” Shilla tersenyum dan berlari masuk ke dalam rumah. Ia menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Rio hanya bengong. Ia terdiam dan tak percaya akan apa yang baru saja terjadi. Ia meraih ponselnya dan mengirimi Shilla sebuah pesan bbm.
Rio Haling: Jadi kamu nerima aku Shill?
Rio menunggu sampai Shilla menjawab pesannya itu. Tak lama kemudian, muncul balasan dari Shilla.
Ashilla Zahrantiara: Asdfghjkl
Rio Haling: Ih serius dong. Aku deg-degan tau!
Ashilla Zahrantiara: Iyaaaaaa Rioooo iyaaaa 

Rio tersenyum puas dengan balasan dari Shilla. Usahanya tidak sia-sia ternyata.
Ashilla Zahrantiara: Thanks yo udh kasih aku kado yg paling indah 
Rio Haling: Aku yg makasih shill. Km udh mau terima aku. Kamu skrg tdr aja. Aku gak ganggu km tdr lg kok :p byeeee sweet dream ya ;)
***
Shilla terbangun dan langsung melihat handphonenya.

Rio Haling: Good morning! Have a nice day, Ashilla Zahrantiara 

Shilla tersenyum membaca pesan itu. Hari ini hari Sabtu dan tentu saja Shilla tidak berangkat ke sekolahnya.

Ashilla Zahrantiara: Good morning too, Rio! Have a nice day ;)

Kemudian ada sebuah bbm masuk lagi. Bukan dari Rio. Dari Sivia.

Sivia Azizah: I heard you’re not single anymore?????? You must tell me the story!!! Gue ke rmh lo jam 10. Be there don’t go anywhere!!!!

Shilla mengerutkan keningnya. Lalu ia membuka recent updates dan masih tersisa updates dari beberapa jam yang lalu.
Rio Haling
Ashilla Zahrantiara’s

Dan lagi-lagi Shilla tersenyum. Ah. Rasanya ia akan terus tersenyum sepanjang hari karena ulah-ulah Rio. Iya! Rio yang sekarang resmi menjadi miliknya.
***
“Oh my god... So sweet...” Sivia memeluk bantal Shilla setelah Shilla selesai bercerita tentang kejadian semalam. “Tuh kan Shill, gue bilang juga apa. Akhir-akhirnya lo juga bakalan jadi tuh sama Rio. Bener kan?”
Shilla hanya tersenyum dang mengangguk sambil terus memerhatikan layar handphonenya.
“Ih ya nih anak! Gue dikacangin lagi! Eh lo kok agak kayak sialan gitu ya, Shill? Masa gue belom jadian sama Iel lo udah ngeduluin gue sih? Huuuu!” Sivia melempar bantal pada Shilla.
“Hahaha... Itu sih derita lo!” Kata Shilla.
“Tapi gue agak bingung juga sih, Kenapa lo mau sama Rio?”
“Tanpa gue sadarin, dia selama ini udah bikin kesedihan gue berkurang, Vi. Ya... You know that problem lah. Dan gue juga tau... Dia beda sama cowok-cowok lainnya.” Jelas Shilla.
“Ecieeee... Tapi... Kalo nih ya, Kalo misalnya Rio nyakitin lo suatu hari nanti gimana, Shill?” Tanya Sivia.
“Dia gak akan nyakitin gue, Vi. Gue percaya sama dia.”
***
Berita tentang hubungan Shilla dan Rio langsung menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru sekolah. Semua sempat ragu dan tidak percaya.
Shilla berjalan memasuki gedung sekolahnya diiringi tatapan tidak percaya tetapi disertai senyum dari orang-orang yang dilewatinya.
“Shilla! Lo jadian sama Rio?” Tanya Alvin saat mereka berpapasan di koridor sekolah.
“Umm.... Ya? Kenapa?” Shilla mengerutkan keningnya.
“Jadi... Beneran?” Alvin meyakinkan Shilla.
“I...Iya!” Shilla mengangguk-angguk.
Alvin tersenyum. “Congrats ya, Shill. Semoga kalian langgeng.”
“Aaaaa thank you Alvin hehe lo juga ya semoga cepet dapet pacar.” Shilla nyengir. Ia segera berjalan menyusuri koridor dan menaiki lift.
“Shill.” Sapa seseorang dalam lift.
Shilla menoleh dan mendapati Rio. Di lift sedang sepi. Hanya ada Shilla, Rio, dan seorang siswi yang entah kelas berapa.
“Hey!” Shilla tersenyum ceria.
“Tadi... Alvin ngomong apa sama kamu?” Tanya Rio.
“Dia nanya... Aku beneran jadian sama kamu atau nggak.” Shilla membuka buku yang dipegangnya.
“Terus... Kamu jawab apa?”
Shilla mengernyit heran.
“Ya... Iya lah!”
Drrrt... Drrrt!
Rio meraba saku celananya dan mengambil handphonenya yang bergetar.
Alvin JS: Congrats. Lo berhasil dptin dia. Trnyta gue kalah cpt ya sama lo? Haha semoga langgeng ya. Ok gue ga bakal rebut dia. Tp inget, skali lo nyakitin dia, liat aja nanti.
***
“Eh ke kantin yuk, Shill.” Sivia menepuk pundak Shilla. “Udah... Pacarannya dilanjut nanti aja deh ya?”
“Yeee apaan sih, Vi. Orang gak lagi pacaran.” Shilla tersenyum malu-malu.
“Apaan deh lo, Shill, pake acara malu-malu gitu hahaha... Kocak lo!” Sivia menoyol kepala Shilla. “Yo, Gue pinjem dulu ya, Shilla nya!”
“Hmm... Iya deh. Balikin ya!” Canda Rio.
“Hmmm tau deh yang lagi kasmaran haha sip sip.” Sivia menggandeng tangan Shilla keluar dari kelas mereka menuju kantin.
“Seriously, gue masih bingung kenapa lo mau sama Rio, Shill. Lo harus tau, lo sama Rio itu udah kayak apaan tau berantem mulu.” Kata Sivia.
“Dia itu baik tau! Lucu lagi!” Shilla tersenyum sendiri.
“Cieeee tau deeeeh...” Goda Sivia.
***
“Shill, kamu pulang bareng aku aja ya?” Rio menepuk pundak Shilla.
“Katanya kamu gak bawa mobil!” Shilla merengut.
“Emang gak bawa sih!” Seru Rio.
“Terus, ngapain aku pulang bareng kamu?”
“Kan aku bawa motor!”
“Terus kenapa tadi kamu gak jemput aku?” Shilla mengembungkan pipinya.
“Iya-iya maaf deeeeh. Kan aku gak mau kamu naik motor.” Rio mengacak rambut Shilla.
“Kenapaaaaa?” Tanya Shilla gemas.
“Ntar kamu masuk angin iiih!” Jawab Rio.
“Orang nggak masuk angin!”
“Iyaaa kan kamu belom tau kamu bakal masuk angin atau ngga!”
“Terus kenapa kamu sekarang ngajak aku pulang bareng kamu?” Tanya Shilla.
“Ng... Gak apa-apa sih.” Rio nyengir.
“Ih kamu tuh!” Shilla mencubit pipi Rio gemas.
“Udah pokoknya kamu ikut aku ya?” Pinta Rio.
“Terus supir aku gimana?”
“Hmm... Ya telepon!” Rio nyengir lagi.
Shilla meraih handphonenya.
“Pak... Aku pulang sama temen... Iya... Hmm...”
“Udah?” Tanya Rio begitu Shilla memasukkan handphonenya ke dalam saku.
“Iya.” Jawab Shilla.
“Ayo!” Rio menggandeng tangan Shilla keluar.
---
Detik berlalu berganti menit. Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan.
Tak terasa, sudah 7 bulan Rio dan Shilla menjalani hubungan mereka. Rio benar-benar membuktikan bahwa ia sangat menyayangi Shilla, begitupun Shilla.
Hubungan mereka berjalan. Biasa. Seperti pasangan yang lainnya.
Kabarnya, Sivia juga sudah berhasil mengambil alih hati Gabriel. Ya, Gabriel si ketua OSIS.
Dan, mungkin justru dari sini lah kisah mereka dimulai.
---
“Shill, gue hari ini pulang bareng iel nih. Gue gak bisa ke rumah lo deh.” Ucap Sivia sambil membolak-balikkan majalah yang dibelinya pagi tadi.
“Yaaah... Ya udah deh gak apa-apa. Nanti gue pulang sama Rio aja kayak biasa.” Sahut Shilla. “Eh iya gue baru inget hari ini...”
“Ada apaan deh, Shill?” Tanya Sivia.
“Gue ada perlu nih sama Bu Winda...” Jawab Shilla.
“Hmmm?”
“Gue pulang sama siapa dong?” Shilla merengut.
“Ya Rio lah!” Jawab Sivia enteng.
“Gak ah. Kasian dia kalo lama nunggu.”
***
“Yo, kamu pulang duluan aja ya?” Kata Shilla sambil merapikan alat tulisnya.
“Loh? Kenapa?”
“Aku ada urusan sama Bu Winda. Agak lama.”
“Yaaah. Aku tungguin deh.”
“Nggak usah, Yo. Lama loh!” Ucap Shilla
“Gak apa-apaaa...” Rio mengusap rambut Shilla pelan.
“Eh, Shill, lo pulang bareng supir kan? Gue nebeng ya? Mobil gue di bengkel nih. Boleh?” Seorang gadis berdagu tirus, Ify, menghampiri Shilla.
“Eh gimana ya, Fy? Gue juga masih ada urusan sama Bu Winda. Ehm... Lo pulang bareng Rio gak apa-apa kan?” Tanya Shilla.
“Eh? Kok gitu, Shill? Kan kamu yang pulang bareng aku?” Rio mengernyitkan keningnya.
“Aku pulang sendiri gak apa-apa, kok. Udah kamu bareng Ify dulu ya? Kasian dia...” Jelas Shilla.
“Yaaah aku nungguin kamu deh.”
“Ck... Rio...” Decak Shilla.
“Hhh oke. Tapi nanti kamu pulang sama siapa?” Tanya Rio dengan cemas.
“Gampang lah. Gimana nanti.” Jawab Shilla sambil tersenyum.
“Tapi...” Rio agak berat melepas Shilla. Ia masih ragu. Namun melihat wajah Shilla, akhirnya Rio menyerah. “Oke oke aku pulang. Kamu hati-hati.”
Shilla mengangguk. Kemudian Rio berjalan menjauhi Shilla dan Ify.
“Duluan ya, Shill.” Ify mengangguk pada Shilla. Shilla tersenyum dan mengangguk.
***
Shilla menatap jam dinding di kamarnya dengan kening berkerut. Sudah pukul delapan malam. Ia mengusir pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam otaknya dan kembali mcemfokuskan pikirannya pada lembar kerja di depannya.
Pecah. Konsentrasinya pecah. Shilla meletakkan pulpennya kemudian meraih ponselnya.
Nada sambung pertama terdengar. Nada sambung kedua....
“Halo?”
“Rio? Kamu udah sampe?” Shilla menghela napas.
“Eh, iya. Maaf ya aku gak ngabarin kamu.”
“Iya gak apa-apa.” Shilla melirik benda bulat dengan tiga jarum dan dua belas angka itu lagi.
Seperti ada yang berbeda. Seperti ada yang berubah.
“Rio?” Ucap Shilla lirih.
“Ya? Kenapa?” Suara di seberang sana. Tampaknya agak berbeda. Shilla tidak mengetahui pasti apa yang telah –atau mungkin- sedang terjadi.
“Are you okay?”
“Yea I’m fine. Udah kamu tidur dulu yaa.”
“Hmm.” Shilla menekan tombol untuk mengakhiri panggilannya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Perasaannya galau. Tahu bahwa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Apa itu?
***
Keanehan itu tidak hanya berlangsung hari itu saja. Namun di hari-hari selanjutnya. Terus menerus seperti itu dan semakin lama, semakin terlihatlah keanehan itu. Janggal. Hingga sampailah pada hari itu...
***
“Eh gue mau nanya sama lo, Shill. Agak private sih... Boleh?” Sivia mengaduk es jeruknya.
“Halah elo, Vi. Kayak ke siapa aja sih hahaha lanjut laaah” Shilla tahu apa yang akan dikatakan soulmatenya itu. Pasti. Pasti menyangkut masalah itu. Perubahan itu. Keanehan itu.
“Lo ada apaan sama Rio? Kayaknya hubungan kalian gak sedeket dulu, ya? Eh jangan tersinggung ya... Gatau Juga atau Cuma perasaan gue?”
Shilla menatap sekelilingnya lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. Lebih dekat dengan Sivia.
“Gue juga gak ngerti, Vi. Ada yang berubah. Tapi gue gak tau apa itu. Dan gue juga gak tau apa yang menyebabkan perubahan itu. Semenjak gue ada urusan sama Bu Winda waktu itu. Semenjak dia... pulang bareng Ify?” Shilla sendiri tak yakin dengan ucapannya.
“Hmm... Tapi lo masih sering pulang pergi bareng dia kan?” Tanya Sivia kemudian menyeruput es jeruknya.
Shilla mengangguk-angguk setengah menerawang.
“Eh iya, ngomong-ngomong soal Ify, dia sekarang jarang masuk les loh!” Kata Sivia yang memang satu tempat les bahasa inggris dengan Ify.
“Oh ya? Kenapa?” Tanya Shilla.
Sivia hanya mengedikkan bahunya. “Gatau deh.”
***
Shilla melirik jam tangan biru yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia mendesah panjang.
“Non, belum dijemput?” Tanya Pak Tono.
Shilla menggeleng resah.
“Sama saya aja gimana toh, Non?”
Shilla berpikir sejenak. Kemudian mengangguk.
“Ya udah deh pak, saya berangkat sama bapak aja.”
Shilla berjalan menuju mobilnya. Ia membuka pintu penumpang belakang kemudian duduk dengan gelisah. Semenjak hari itu, semenjak hatinya dimiliki seseorang, Shilla memang menjadi gadis yang cukup riang di rumahnya. Ia tidak lagi menutup diri pada orang-orang di rumahnya. Pak Tono dan pelayan-pelayan di rumah Shilla yang lainnya tentu senang dengan perubahan pada Shilla itu. Namun, akhir-akhir ini, Shilla mulai terlihat sering gelisah dan resah. Membuat orang-orang rumahnya ikut resah. Takut-takut nona mudanya kembali seperti dulu.
***
5 menit lagi masuk! Shilla berlari-lari kecil menyusuri lorong sekolahnya yang mulai terlihat ramai. Ia memencet tombol lift berkali-kali dengan tidak sabarnya. Dan ketika pintu lift terbuka, Shilla terperangah. Terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya.
***
Rio melepaskan tangannya yang terpaut dengan gadis lain itu. Tidak menyangka bahwa saat itu akhirnya datang juga.
Saat rahasianya mulai terbongkar dengan sendirinya...
***
Shilla memasuki lift tanpa berkata apa-apa. Pikirannya kacau. Kepalanya pusing. Otaknya seakan berputar, berlari mencari alasan yang masuk akal.

=TO BE CONTINUE=

Oh the truth hurts and lies worseeee I can't like it anymore and I love you a little less then beforeeeee~~~ eh? lah? udah selesai ya? Oh oke saatnya saya menerima komentar dan protes dari anda semua. Iye gue tau kok ceritanya sangat amat bosenin, random, dan amat sangat singkat -_- YOU MUST KNOWWWW, ini gue cepetin alurnya soalnya bulan depan udah kelas 9 jadiiii aja gabisa terlalu sering pegang laptop dan otomatis jarang ngetik. Ini ngebut karena ya begitulah kalo saya lambatin bisa-bisa cerita ini tamat 2 tahun lagi-_- Kira-kiraaaa kayaknya tinggal countdown buat ke tamat nih mau aku cepetin aja biar bisa selesai bulan depan. So, keep comment ya buat nyemangatin saya yang udah loyo -_-

Xo,

Valisha

Wednesday, June 1, 2011

Love Risk (Part 6)

Perilaku Rio... tidak seperti biasanya. Namun Shilla tak kuasa untuk menolak. Ia mulai memejamkan matanya dan berdoa semoga besok ia dapat kembali ke villanya itu...

***

“Baik, semua kelompok sudah berkumpul lagi?” Pak Duta melirik jam tangannya. “Kelompok 1 ada?”.
Beberapa anak mengangkat tangan mereka.
“Kelompok 2?”
Beberapa anak yang lainnya mengangkat tangan mereka.
“Kelompok 3?”
Hening.
”Kelompok 3?” Pak Duta mengulangi panggilannya.
Tetap hening.
Suara bisik-bisik anak-anak mulai terdengar.
Pak Duta melirik jam tangannya lagi.
“Harusnya kelompok 3 sudah sampai beberapa menit yang lalu.”
“Ada apa, Pak?” Tanya Bu Winda yang baru datang dari cottage khusus anak-anak yang sakit.
“Kelompok 3 belum sampai, Bu Winda. Seharusnya mereka sudah sampai beberapa jam yang lalu!” Raut wajah Pak Duta berubah cemas. “Bisa tolong ibu lihat siapa saja anggota kelompok 3?”
Bu Winda membuka lembaran demi lembaran kertas di tangannya.
“Ashilla, Sivia, Obiet, Mario.” Bu Winda membaca sederet nama pada sebuah halaman.
“Kalo nggak salah, Obiet dan Sivia sakit kan, Bu? Berarti yang tadi berangkat hanya Shilla dan Rio.” Jelas Pak Duta.
“Betul, Pak Duta. Terus sekarang bagaimana?” Bu Winda tampak terlihat panik.
“Saya absen dulu kelompok lainnya takut-takut ada yang belum sampai juga.”
Pak Duta mulai melanjutkan mengabsen kelompok yang lainnya.
“Bu, semua kelompok sudah hadir. Tinggal kelompok 3 yang masih belum hadir.” Pak Duta melirik jam tangannya untuk yang kesekian kali.
Pukul 02.18
“Kalo gitu, kita suruh beberapa security untuk mencari mereka ke dalam hutan. Bagaimana?” Tanya Bu Winda.
Pak Duta hanya mengangguk sementara Bu Winda langsung menghubungi beberapa security.
“Anak-anak kalian boleh kembali ke cottage masing-masing untuk istirahat. Terima kasih atas partisipasi kalian dalam acara ini. Selamat malam.”
Anak-anak langsung keluar dari aula dan menghambur ke cottage masing-masing.
***
“Apa? Shilla sama Rio belum balik bu?” Sivia terkejut saat mendapati kabar itu.
“Iya. Tapi kalian tenang saja, ya. Security udah ibu suruh nyari mereka kok.” Bu Winda menenangkan Sivia dan Obiet.
“Tuh kan, Biet. Gue daritadi punya feeling gak enak, tau!” Bisik Sivia khawatir.
“Ya tapi... Gimana, Vi? Kita kan gak boleh ikut jurit malam!” Obiet menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Aduh... Semoga mereka baik-baik aja deh.” Sivia memejamkan matanya.
***
Shilla mengerjapkan matanya. Cahaya matahari yang menerobos masuk lewat pepohonan membuatnya terbangun. Shilla menegakkan kepalanya kemudian menoleh ke sampingnya.
Rio tertidur dengan tenang.
“Yeh katanya mau jagain gue! Katanya gak bakalan tidur! Sok sweet banget deh! Akhir-akhirnya juga tidur ni orang!” Dumel Shilla.
Shilla mulai melihat ke sekelilingnya. Tempat ini benar-benar membingungkan! Dimana-mana hanya ada pohon, pohon, dan pohon.
“Duuuh gimana nih kalo gue gak bisa pulang?” Cemas Shilla. Ia lupa tidak membawa HP nya yang sedang di charge di cottage semalam.
Rio terbangun dari tidur lelapnya.
“S... Shill... Kita masih disini?” Rio melihat sekelilingnya dengan mata setengah terbuka.
“Iya lah! Kecuali semalem ada yang ngangkut kita ke cottage! Lo sih pake bilang bisa baca peta segala! Coba aja kalo lo mmph... hmmppph...” Rio membekap mulut Shilla.
“Bawel lo ya? Kalo ada singa lewat lo mau dimakan?” Rio menakut-nakuti Shilla. Akhirnya ia membuka bekapannya.
“Gila! Gak bisa napas!” Shilla mengatur napasnya.
“Sekarang gimana?” Tanya Rio. Shilla hanya mengangkat bahunya.
“Hey hey! Disana ada orang!” Teriak sebuah suara dari kejauhan.
Shilla dan Rio menoleh. Mereka tersenyum lebar ketika mendapati beberapa satpam dengan lambang SMA Taruna Harapan berlari ke arah mereka. Shilla tahu salah satunya. Kalau tidak salah, namanya Pak Asep.
“Aduh neng Shilla... Darimana aja sih neeeng? Semua pada nyariin neng! Mas nya ini juga darimana aja?” Pak Asep menghampiri mereka dengan terengah-engah.
“Pak, kita itu tersesat pak!” Jelas Shilla.
“Kok bisa neng? Kan ada peta?” Pak Satpam lainnya bertanya.
“Iya. Orang sebelah saya ini ngakunya bisa baca peta. Padahal dia nggak bisa. Sok kepinteran aja kali!” Sindir Shilla.
Rio hanya tak acuh.
“Ya udah neng, mas, sekarang pulang ayo! Semua udah pada nanyain neng sama mas.”Ucap Pak Asep.
Rio dan Shilla pun berdiri dan mengikuti langkah para satpam itu. Dalam hati mereka memikirkan kejadian semalam. Apa mungkin kejadian itu......
“Gue banyak salah sama lo ya, Shill?” Tanya Rio tiba-tiba.
“Hm? Salah? Ya banyak bangeeeetttt kaliiii!” Jawab Shilla kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.
“Gue serius.” Ucap Rio dengan wajah yang bersungguh-sungguh.
“Yaaa... Gue juga serius!”
“Kalo gitu... Sorry ya kalo gue sering bikin lo marah atau bete atau apa lah namanya.” Kata Rio.
Shilla mengernyitkan keningnya. “Mimpi apa lo? Ini beneran?”
“Iya. Udah lah, gue kali ini serius.”
“Hmm... Oke lah. Gue juga minta maaf ya kalo gue banyak salah sama lo hahaha...” Shilla terkikik geli.
“Serius dong, Shill.” Ucap Rio.
“Iyaaaa gue juga serius! Eh ngomong-ngomong sejak kapan lo panggil gue ‘Shill’ atau ‘Shilla’ atau apa kek gitu yang ada unsur nama asli guenya?” Tanya Shilla heran.
“Hmm? Mungkin sejak gue suka sama lo.” Jawab Rio keceplosan.
“Hah?” Shilla menatap Rio. Memintanya untuk mengulang kata-katanya lagi.
“Eh? Nggak kok. Ya nggak apa-apa emang gak boleh? Kan bosen. Lagian gue juga capek berantem terus sama lo hahahaha.” Rio menghela napas.
“Hmm...” Shilla manggut-manggut.
“Tapi bener kan lo maafin gue?” Tanya Rio sekali lagi.
“Iiiih iyeeee gue maafin.” Jawab Shilla gregetan.
***
“Shilla? Rio? Kalian gak apa-apa? Kemana aja kalian?” Bu Winda menghampiri Shilla dan Rio yang baru sampai di villa.
“Maaf bu, kita gak apa-apa kok. Semalam kita tersesat.” Jawab Shilla.
“Syukurlah kalau kalian gak apa-apa. Semua disini cemas gara-gara kalian belum balik.” Ucap Pak Duta.
“Maaf, Pak. Lagian kemaren saya bilang saya gak bisa baca peta malah disuruh belajar.” Elak Rio.
“Heh! Itu sih memang benar! Sudah-sudah, sekarang kalian kembali ke cottage masing-masing. Bersih-bersih dan packing. Setelah itu, kalian balik lagi kesini untuk acara ‘Sing It!’ pukul 1.” Perintah Pak Duta.
Rio dan Shilla pun kembali ke cottage mereka masing-masing.
***
“Sivia?” Shilla melongokkan kepalanya di pintu kamar.
“Shilla? AAAAAA lo kemana aja sih? Semua pada panik tau nyariin lo sama Rio!” Sivia yang sedang merpikan baju-bajunya segera bangkit mendengar suara Shilla.
“Gue tersesat, Vi. Gila! Yang gue takutin gue gak bisa pulang kesini lagi. Untung aja ada satpam-satpam yang nyariin kita.” Jelas Shilla.
“Hahaha... Ngapain aja lo sama Rio?” Tanya Sivia kembali duduk dan memasukkan potongan-potongan bajunya ke dalam koper.
“Yeee! Gak ngapa-ngapain lah! Berantem.... mungkin?” Jawab Shilla tidak yakin. “Lo udah sembuh, Vi?”
“Hmm... Ya kayak yang lo liat lah. I’m fine. What about you?”
“Yea. I’m fine too.”
***
“Duh... Duduk sini aja gak apa-apa deh, Vi. Gak ada tempat lain nih.” Kata Shilla ketika mereka sampai di aula yang sudah ramai itu.
“Ya udah deh.”
Akhirnya merekapun duduk di kursi ketiga dari belakang.
Drrrt... Drrtt...
Handphone Shilla bergetar. Shilla segera membuka bbm yang masuk.

Rio Haling: Woy ngapain lo duduk disitu. Udh ke dpn aja gue ada di paling dpn.

Shilla mengerutkan keningnya.
“Kenapa, Shill?” Tanya Sivia. Shilla menggeleng sambil menutup layar handphonenya agar tidak dilihat Sivia.
“Cieeee... Ada apaan tuh ditutupin segalaaaa?” Goda Sivia.
“Apaan sih lo, Vi!” Shilla segera membalas bbm itu.

Ashilla Zahrantiara: Sivia gmn?

“Eh, Shill. Ke depan yuk. Gabriel ada di depan, katanya gue disuruh duduk disana aja. Masih ada tempat kosong.” Ajak Sivia.
“Lo duluan aja. Rio juga di depan.” Kata Shilla.
“Siapa? Rio?” Tanya Sivia.
Shilla mengangguk.
“Cieeee ternyata si ‘Kunyuk’ udah berubah jadi ‘Rio’ beneran toooh.” Goda Sivia lagi. Shilla lama-lama tersipu juga.
“Udahan ah, Vi. Gue ke depan ya!” Shilla beranjak dari kursinya dan berjalan menuju bagian paling depan deretan kursi.
Shilla menengok ke kanan dan kiri untuk mencari sosok Rio. Kemudian matanya menangkap seseorang dengan balutan kaus biru muda dan kemeja biru tua. Shilla terkesiap sesaat namun segera sadar dan menghampiri sosok itu.
“Sivia mana?” Tanya Rio.
“Sama Kak Gabriel.” Jawab Shilla.
Beberapa saat kemudian, acarapun dimulai. Pasangan-pasangan duet bergantian maju ke depan panggung. Dan tiba saat giliran Rio dan Shilla maju ke depan panggung.
“Pasangan selanjutnya adalah... Ashilla Zahrantiara dan Mario Stevano!” Bu Winda yang sedang menjadi pembawa acara itu mempersilakan Rio dan Shilla maju ke depan panggung.
“Selamat siang semuanya. Saya Shilla dari kelas 11 IPA 2 dan teman saya Rio dari kelas 11 IPA 2 juga akan membawakan sebuah lagu berjudul ‘Cinta Takkan Salah’. Enjoy!” Shilla membuka penampilannya.
Intro lagu dari gitar Rio mulai terdengar.

Ku kira benar
Kau kira salah
Kita berbeda kita tak sama
Tak pernah searah

Ku bilang iya
Kau bilang tidak
Selalu begitu tak pernah setuju
Tak pernah menyatu

Namun ternyata
Tak pernah kukira
Disini kita memulai cerita

(*) Perbedaan jadi tidak berarti
Karena hati telah memilih
Di mataku kita berdua satu
Apapun yang mengganggu
Cinta takkan salah

Ku ingin yang ini
Ku ingin yang lain
Coba tuk mengerti
Coba tuk pahami
Saling melengkapi

Kini ternyata
Tak pernah kukira
Disini kita memulai cerita

(Back to *)


( Cinta Takkan Salah – Gita Gutawa ft. Derby Romero )

Hening.
Sesaat kemudian tepuk tangan dari siswa-siswi lain dan guru-guru lain terdengar menggema di seluruh penjuru ruangan. Shilla tersenyum puas.
“Wah wah wah, memukau sekali ya penampilan dari Shilla dan Rio ini. Baik terima kasih untuk Shilla dan Rio. Sekali lagi tepuk tangan yang meriah untuk Shilla dan Rio!” Bu Winda berseru. Tepuk tangan terdengar meriah lagi. Rio dan Shilla turun dari panggung.
“Hahaha sukses nih!” Rio mengajak Shilla toss .Shilla menyambut toss itu kemudian mereka tertawa bersama.
“Cie sukses niiih selamat ya!” Seorang teman mereka –Ify memberi ucapan selamat pada Rio dan Shilla.
“Thanks ya!” Ucap Shilla.
“Weeee keren-keren! Congrats ya Shill, Yo!” Ucap Sivia ketika Rio dan Shilla sampai di tempat duduk mereka.
“Thank you, Vi! Eh tuh giliran lo nyanyi! Hihi sukses ya Vi, Vin!” Shilla tersenyum pada Sivia dan Alvin.
“Siap bos!” Kata Sivia kemudian tertawa.
***
“Dan kini tibalah acara yang kita tunggu-tunggu... Pengumuman juara!” Seru Bu Winda heboh. Anak-anak bertepuk tangan dengan meriah.
“Juara ketiga... Ternyata diraih oleh..... Sivia Azizah dan Alvin Jonathan dari kelas 11 IPA 2!”
Tepuk tangan meriah langsung terdengar.
Sivia dan Alvin menaiki panggung dengan senyum mereka.
“Juara kedua... Diraih oleh... Gabriel Stevent dan Zahra Damariva dari kelas 12 IPS 1!”
Gabriel dan Zahra menaiki panggung. Sivia tersenyum pada Gabriel dan Gabriel membalas senyum itu.
“Selamat ya!” Ucap Sivia pada Gabriel.
“Iya, Vi. Hahaha... Lo juga ya!” Ucap Gabriel.
“Dan ini dia... Juara pertama kita tahun ini... Juara pertama... Diraih oleh.......... Ashilla Zahrantiara dan Mario Stevano dari kelas 11 IPA 2!”
Tepuk Tangan semakin riuh terdengar.
Shilla dan Rio hanya melongo sesaat. Tidak menyangka akan menjadi juara PERTAMA. Akhirnya, merekapun menaiki panggung.
“Great job! Congrats ya!” Ucap Sivia dan Alvin.
Shilla yang masih shock hanya tersenyum dan mengangguk.
“Selamat ya, Yo, Shill.” Ucap Gabriel disertai anggukan Zahra.
“Thank you! Kalian juga selamat, ya.” Ucap Rio disusul anggukan dan senyuman Shilla.
***
“Semua harap di cek kembali barang-barang bawaannya.” Perintah Bu Winda pada anak-anak yang berada di Bis 2.
Bis mulai berjalan meninggalkan Villa itu. Shilla mendengarkan iPodnya dengan mata terpejam. Begitupun dengan Rio.
Shilla terbayang percakapannya tadi pagi dengan Rio. Apa benar yang tadi Shilla dengar?
“Mungkin sejak gue suka sama lo.”
Shilla yakin kupingnya masih sehat dan dapat mendengar dengan jernih. Tapi apa mungkin?
Shilla kembali menikmati lagu yang sedang didengarkannya

Ku tak tahu
Mengapa aku malu
Disetiap aku tahu dia di dekatku
Aku susah bila dia tak ada
Tak ingin jauh ku darinya

Reff:
Ada rasa yang tak biasa
Yang mulai kurasa
Yang entah mengapa
Mungkinkah ini pertanda
Aku jatuh cinta
Cintaku yang pertama

Tuhan tolong berikanlah isyarat
Semoga ada jawaban atas doaku
Tak bisa aku mengenang cinta
Yang indah tanpa airmata

(Back to reff)


(Cinta Pertama – Mikha Tambayong)
***

Shilla melihat kalender di kamarnya. Satu hal yang baru disadarinya, hari ini adalah tanggal 24 Februari 2011. Berarti, besok adalah tanggal 25 Februari 2011. Ulangtahunnya yang ke 17.
Shilla terdiam.
“Gak bakalan ada yang special di hari ulangtahun gue. Setiap tahun juga gitu kan? Cuma ucapan ‘Happy Birthday’ dari temen-temen dan kado-kado. Mama sama papa juga gak bakalan inget. Sama kayak tahun-tahun sebelumnya.” Shilla memandangi pantulan dirinya di cermin kemudian segera turun ke bawah untuk sarapan dan pergi sekolah.
Shilla merasakan handphonenya bergetar.

Rio Haling: Gw d dpn rmh lo. Cpt turun ga pake lama.

Shilla mengerutkan keningnya.

‘Ngapain si Rio di depan rumah gue?’ Pikirnya.
Shilla mempercepat langkahnya. Ia membuka pintu dan melihat sebuah mobil Jazz berwarna biru terparkir di depan rumahnya.
“Lo ngapain disini?” Tanya Shilla sambil mengerutkan keningnya.
“Mau... Jemput lo!” Jawab Rio.
“Gue gak minta perasaan...” Shilla jadi bingung sendiri.
“Yeee emang gak boleh? Kebetulan aja gue lewat sini.” Kata Rio.
“Hmm... Bentar ya gue bilang supir gue dulu.” Shilla kembali memasuki rumahnya dengan segaris senyum.
“Non? Udah mau berangkat?” Tanya Pak Tono, Supir pribadi Shilla.
“Pak, saya berangkat bareng temen. Jadi, bapak gak usah anterin saya, ya!” Kata Shilla.
“Loh? Terus pulangnya piye, non?” Tanya Pak Tono lagi.
“Nanti saya telepon.” Jawab Shilla lalu melangkah keluar rumahnya.
“Udah?” Tanya Rio yang bersandar di mobilnya. Shilla hanya mengangguk kecil.
Kemudian mereka memasuki mobil Jazz biru milik Rio.
***
“Kenapa sih lo tumben banget pake acara nganter gue ke sekolah segala?” Tanya Shilla masih bingung.
“Gak tau ya! Pendekatan kali! Hahaha...” Jawab Rio asal.
“Ih lo tuh gak bisa serius ya?” Shilla meninju lengan Rio pelan.
“Yeee... Orang serius! Hahaha...” Rio tertawa lagi.
Shilla mengerucutkan bibirnya. Kemudian Shilla mendesah ketika menyadari lagu yang sedang diputar Rio di mobilnya.
“Yo, ganti dong lagunya! Bosen tau masa ini-ini mulu lagunya?” Protes Shilla ketika lagu Dealova itu mengalun lagi untuk yang kesekian kalinya.
“Yeee... Gue gak punya lagu Justin Bieber!” Kata Rio.
Shilla terdiam lagi mengamati kendaraan-kendaraan pagi itu. Kemudian ia melirik jam tangannya. 06.50.
“Besok tanggal 25 ya?” Tanya Rio.
“Iya. Kenapa?”
“Gak.”
Hening lagi.
“Hari ini gak ada PR kan?” Tanya Rio lagi.
“Aduh, Yo... Please deh ya sejak kapan lo jadi tukang tanya gini? Yang harus lo tau, sekarang tuh lo lebih bawel daripada bebek, tau!” Kesal Shilla.
“Yeee ngambek si non. Sejak gue suka sama lo kali ya! Hahaha...” Canda Rio lagi. Tapi sebenarnya itulah yang dirasakan Rio.
***
“Cie besok ulang tahun yaaa?” Goda Sivia saat istirahat, setelah pertandingan panco Rio vs Shilla yang dimenangkan oleh Rio.
“Hahaha inget cieeee...” Shilla menyenggol Sivia.
Rio yang sedang mendengarkan iPod dengan mata terpejam diam-diam mendengarkan pembicaraan kedua gadis di sebelahnya.
“Iya dong gue selalu inget hahaha... Eh ke kantin yuk! Gue laper!” Ajak Sivia. Shilla mengangguk.
Rio membuka matanya lalu tersenyum penuh rahasia.
***
“Bosen deh lo tiap malem gini mulu! Main tap-tap yuk!” Celetuk Rio di bukit pada malam itu.
“Hmm? Boleh boleh! Hahaha gue suka banget nih main tap-tap!” Seru Shilla.
Mereka mulai memainkan permainan ‘Tap Tap’ di iPod Rio sambil mengobrol.
“Kira-kira orangtua gue masih inget sama gue gak ya?” Tanya Shilla, teringat ulang tahunnya esok hari.
“Ya masih lah! Masa ada orang tua yang gak inget sama anaknya? Aneh lo!” Jawab Rio berpendapat.
“Ada aja kali. Mungkin lo gak tau...” Desah Shilla. Orangtuanya belum pulang ke rumah selama 3 bulan.
“Mereka bukan gak inget. Mereka kan sibuk kerja. Kerja juga buat kita-kita juga kan akhirnya?”
“Tapi emang kerja harus sampai 3 bulan non stop gak pulang ke rumah, gitu? Malah mereka gak ngehubungin anaknya sama sekali!” Kata Shilla. “Pernah gak ulangtahun lo dirayain?”
“Pernah. Waktu kecil pastinya.” Jawab Rio.
“Ulang tahun gue aja gak pernah dirayain kayak anak-anak lainnya waktu kecil. Waktu gue kecil, gue tuh sering banget iri sama temen-temen seumuran gue. Gue tuh kayak haus kasih sayang tau gak?” Cerita Shilla.
“Hmm...” Tanggap Rio.
Lalu hening. Hanya ada suara dari iPod Rio.
“Yes! Gue menang lagi! Hahaha...” Seru Rio tiba-tiba.
“Udahan ya? Capek gue!” Kata Shilla.
“Oke.” Sahut Rio.
“Jujur gue bingung loh, Yo, sama perubahan sikap lo yang drastis gitu! Semenjak kita tersesat di hutan itu...”
Rio hanya berdehem. “Ada sesuatu yang harus gue sampein sebenernya. Tinggal nunggu waktu.”
Shilla hanya menatap Rio bingung.

TO BE CONTINUE

EHEM, sebelumnya... Saya.... mau minta maaf karena ngepost part 6 nya lama bgt haha \(-_-)/ dandandaaann kan gue jg lagi ujian gitu jd aja gitu deh belajarrrrrr terusssss. dan sebenernya juga sekarang masih ujian sampe rabu depan huhu doain yaaaaa *Curcol dikit ya-_-*. Anyway makasih banjeeettss yang udah baca apalagi yg udh comment cerita random gue ini. Maklum otak gue cuma setengah jadi cuma bisa buat cerita amatiran gini awkay-_- big thanks to Mba Janice Nathania (@janicenathania -Love Command Writers) yang udah promosiin cerita random saya ini. Dan untuk part ini, gue bakal hargain bgt kalian yang udah baca dan kalo punya waktu please ya sempetin comment satu atau dua kata aja. Di blogwalking boleh, Twitter, FB, dsb. Oke cukup sekian yaaa kayaknya kata-kata mutiara gue lebih panjang daripada ceritanya ya-______________- sip thankyou all! Part 7 nya............................................................ sabar aja ya sampe gue mau post lg *u*

-Valisha