THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Friday, April 29, 2011

Love Risk (Part 3)

“Hey, Shilla!” Angel melambaikan tangan ke arah Shilla. Shilla tersenyum dan menghampiri Angel.
“Happy birthday yaaa..” Shilla memberikan kado yang tadi dibelinya sebelum datang ke pesta itu pada Angel.
“Wow! Thanks lho yaa... Eh lo cantik banget, Shill! Muat ternyata dressnya ya? Hahaha gila kurus banget lo! Ayo masuk!” Angel mempersilakan Shilla masuk. Shilla hanya tersenyum walau dalam hati mengucap sumpah serapah pada Angel yang membelikannya dress berwarna pink.
Shilla langsung duduk di sebuah tempat duduk dekat meja bar. Ia sama sekali tidak tertarik untuk bergabung dengan sepupu-sepupunya yang lain yang hadir malam itu. Mereka hanya menyapa Shilla kemudian berlalu karena tahu Shilla adalah gadis yang pendiam. Shilla pun tak masalah sebenarnya. Hanya melempar senyum lalu kembali fokus mengaduk orange juice nya lagi.
Sementara tak jauh dari sana, Angel yang sedang heboh mengobrol dengan teman-temannya.
“Ngel.” Panggil seseorang.
Angel menoleh dan mendapati Rio, anak teman relasi mama dan papanya.
“Eh, Hey, yo!” Angel menyambut Rio dengan senyum lebarnya.
“Happy birthday ya! Semoga cepet dapet pacar hahaha...” Rio menyalami Angel.
“Hahaha iya iya thanks ya, Yo, udah mau dateng.” Angel tersenyum lagi.
“Noprob lah, Ngel. Gue lagi gak ada kerjaan apa-apa kok hehehe...” Rio mengedarkan pandangannya. Mengamati pesta ulangtahun Angel yang terkesan ‘waw’ itu.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang gadis ‘pinky’ yang sedang asyik mengaduk orange juicenya. Tampaknya gadis itu tidak begitu menikmati pesta yang belum mulai itu. Rio menyipitkan matanya dan... Ah! Gadis itu lagi. Cantik sekali dia malam ini. Tetapi tatapan matanya yang kosong itu mengingatkan Rio lagi pada kejadian kemarin malam.
“Ngel, itu...” Rio ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar Shilla sebelum ia menghampirinya.
“Itu Shilla namanya, Yo. Sepupu gue. Dia emang anaknya pendiem. Samperin aja gih. Siapa tau dia jinak sama elo. Hahaha canda kok canda. Samperin gih! Cantik banget loooh orangnya!” Angel tertawa. “Gue kesana dulu, ya!” Angel pun berlalu pergi sebelum Rio sempat mengatakan ya-ngel-dia-temen-sebangku-gue-di-sekolah.
Rio terdiam sejenak sebelum menghampiri Shilla. ‘Dia emang anaknya pendiem’. Terbayang kata-kata Angel. Shilla? Pendiam? Bahkan Rio tidak yakin jika Shilla pernah berhenti berbicara selama hidupnya.
Rio pun bergegas menghampiri Shilla yang masih saja asyik mengaduk-aduk orange juicenya dengan pandangan kosong. Rio duduk di sebelah Shilla yang tampaknya tidak sadar.
“Ceilaaah... Si pinky ngelamun aja nih daritadi.” Rio meneguk orange juicenya yang disediakan di meja bar.
Shilla tersentak. Suara itu lagi... Argh jangan-jangan hanya halusinasinya saja.
“Gue dikacangin, lagi!” Rio membuka mulutnya lagi.
Kali ini Shilla terdiam dan yakin bahwa suara itu benar-benar ada. Bukan sekedar halusinasinya saja. Shilla menoleh ke sebelah kirinya dan matanya melebar.
“Elah! Elo lagi, elo lagi! Kenapa sih lo mesti ada dimana-mana! Ganggu hidup orang aja!” Shilla melengos.
“Pertanda, kali. Hahaha...”
Shilla menoleh lagi pada Rio. Matanya seakan bertanya ‘Maksud loooo?’
“Pertanda lo gak bisa hidup tanpa gue hahahahahahaha...” Rio tertawa terpingkal-pingkal walaupun hatinya dag-dig-dug karena sebenarnya ia agak salah berbicara.
Shilla melotot.
“Ati-ati tuh mata ntar copot, lagi!” Komentar Rio.
“Berisik lo, ya! Gak tau, apa, gue lagi butuh kedamaian? Lo malah ngehancurin semuanya!” Shilla merengut.
“Yeee iye dah maap maap! Gitu doang ngambek neeeng, neng!”
Shilla terdiam. Hancurlah sudah semua. Ketentraman yang sedang ia buat dalam hatinya rubuh seketika ketika Rio datang.
“Eh kalian udah akrab aja. Cepet banget! Padahal Shilla kan biasanya susah lho bersosialisasi sama orang lain.” Angel tiba-tiba datang. Agak kaget melihat Shilla yang –tadi dilihatnya sedang mencak-mencak.
Rio terdiam sejenak. Terkejut juga mendengar perkataan Angel tadi. Shilla? Susah bersosialisasi? Yang benar saja! Tukang somay sekolah juga dia ajak kenalan kali!
“Oh..Ehem... Iya lah gue gitu pintar memikat hati cewek.” Rio menepuk-nepuk dadanya sendiri.
“Nggak, Ngel. Dia temen sebangku gue di sekolah hehe.” Shilla menahan caci makiannya untuk Rio.
“Oh ya ampun! Jadi kalian udah saling kenal? Pantesan aja! Eh, Yo, emang Shilla gimana kalo di sekolah? Pendiem juga? Hahaha...” Tanya Angel.
“Oh... Dia? Ya ng... Aw!” Rio memegang lengannya yang kesakitan karena baru saja mendapat cubitan dahsyat Shilla.
Angel memperhatikan Shilla dan Rio bingung namun ia tertawa kecil.
“Ngel, ada temen lo lagi, tuh!” Sepupu Angel dan Shilla yang bernama Oik menepuk pundak Angel pelan.
“Eh, iya, Ik.” Angel pun segera berlalu dari hadapan Rio dan Shilla. Begitupun dengan Oik.
“Huft...” Shilla menghela nafas lega.
“Sinting lo ya? Sakit tau!” Rio menempeleng kepala Shilla.
“Pokoknya jangan pernah lo ngomong apa-apa soal gue ke Angel atau siapapun! Kalo nggak, lo bakalan habis di tangan gue!” Ancam Shilla sambil menatap Rio tajam.
Rio terperangah. Bukan karena ancaman Shilla. Tetapi karena gadis itu, menatapnya tajam. Membuat bola mata Shilla hanya tertuju padanya. Padanya. Pada Rio.
“Apa lo liat-liat? SUKA?” Shilla bertanya sangat pada tempatnya. Rio tersadar dan langsung memasang tampang pura-pura ingin muntah.
“Bek, gue mau tanya boleh? Ini serius.” Kata Rio mengubah nada suaranya menjadi serius.
Shilla mendelik pada Rio lalu mengangguk pasrah.
“Emang lo beneran pendiem kalo di luar sekolah? Lo susah bersosialisasi? Atau....”
“Tanya apa aja. Tapi jangan tanya itu.” Ucap Shilla dingin.
Rio terdiam. Shilla pun terdiam. Mereka berdua diam dalam keramaian pesta yang semakin meriah.
“Gak jadi nanya?” Shilla menoleh pada Rio yang terdiam. Rio menggeleng pelan.
Shilla mengeluarkan iPod dari tasnya dan mulai mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Bukannya ia tidak sopan atau apa. Tapi, apa lagi yang harus dilakukannya? Sangat tidak mungkin, kan, ia terjun dari lantai 6 –tempat pesta angel berada saat ini- ke bawah?
Shilla memejamkan matanya. Berusaha mengabaikan suasana di sekitarnya. Sementara Rio sibuk dengan pikirannya. Ia tidak dapat menahan untuk selalu menoleh ke sampingnya. Gadis itu memang terlihat benar-benar cantik malam ini.
Tampaknya pesta akan segera dimulai.
“Woy!” Rio menepuk-nepuk pundak Shilla.
“Apaan sih. Udah lo aja yang kesana. Gue males. Ngantuk tau.” Shilla sama sekali tidak membuka matanya. Tampaknya sedang menghayati lagu yang sedang didengarkannya lewat iPod.
Rio pun memutuskan untuk duduk saja bersama Shilla disana. Tidak mau bergabung dengan suasana meriah pesta ulangtahun Angelica Pieters. Putri kedua dari keluarga ‘Pieters’.
Samar-samar terdengar lagu yang sedang didengar Shilla dari iPod nya. Terdorong rasa penasaran, Rio mendengarkan lagu itu.

Ku tak tau apa yang terjadi
Pada hatiku ini
Tak ku mengerti

Getar ini belum pernah ada
Tak pernah kurasakan selama ini
Malu-malu aku mengakuinya
Karena aku kini belum dewasa

Reff: Berjuta cahaya datang padaku
Menari denganku
Nyanyikan lagu tentangnya
Duhai bintang mungkinkah yang kurasa
Apakah sudah saatnya untukku menyukainya

Sekarangku sering melamun
Dan juga ku senang bercermin
Oh mengapa ini
Malu malu aku mengakuinya
Karena ku belum dewasa

(Apa Kata Bintang – Gita Gutawa)

Rio tersentak. Rio tahu lagu ini. ‘Apa Kata Bintang’ judulnya. Gita Gutawa yang menyanyikannya. Ya. Sepupu Sivia itu. Rio, sebagai penikmat musik ini jelas tahu siapa Gita Gutawa. Anak dari seorang musisi terkenal, Erwin Gutawa. Namun Rio baru menyadari dan mengerti makna lagu itu. Seseorang yang sedang jatuh cinta.
Rio menoleh pada Shilla yang terlihat begitu menikmati lagu itu.
Apa Shilla sedang jatuh cinta? Pada Siapa? Muncul keresahan di hati Rio, namun sebisa mungkin ia menutupinya dan berpikir bahwa Shilla hanya mendengarkan dan menikmati lagu itu.
***
“Vi, I think I’m in love with someone!” Kata Shilla tepat saat Rio memasuki kelas. Rio jelas terkejut namun tetap stay cool.
“Really? Sama siapa?” Sivia antusias menunggu jawaban Shilla. Begitupun dengan Rio.
“Heh! Nguping ya lo?” Shilla mendelik ke arah Rio yang baru saja membanting tubuhnya.
“Apaan sih? Orang baru juga dateng!” Rio pura-pura tak acuh. Mengambil iPod dari sakunya.
Shilla dan Sivia menunggu hingga Rio memasang earphonenya. Shilla dan Sivia menatap Rio seakan penuh kebencian.
“Etdah elo berdua serem amat! Iye iye gue gak dengerin. Selow bae. Dasar cewek gossip gak penting semua!” Rio memasang earphonenya namun sengaja tidak memutar lagu. Dia masih penasaran, siapa orang yang telah membuat Shilla takluk.
Shilla kembali menatap Sivia.
“Gue jadi suka sama............. Justin Bieber, Vi!” Ucap Shilla dengan mata yang berbinar-binar.
“Astaga Shillaaaaaaaa! Gue kirain siapa! Rio atau siapa gitu. Eh malah JB! JB mah semua orang juga suka kali! Rio aja suka tuh!” Sivia menunjuk Rio dengan dagunya. “Iya kan, Yo?”
“Kagak. Ngapain juga gue suka sama dia. Gue juga udah mirip dia.” Rio menghela napas perlahan. Hanya Justin Bieber ternyata. Cowok yang menurutnya sudah gila kanker otak stadium 4! Gila tuh cowok. Hampir seluruh cewek di dunia suka sama dia coba!
“Hayo lhooooo! Lo nguping ya, yo, daritadi?” Sivia memandangnya penuh selidik sambil tersenyum penuh selidik.
“Dih! Enggak. Sorry aja ya ngapain juga gue nguping kalian?” Rio memasang tampang tak pedulinya.
“Terus? Kok tau kita lagi ngomongin JB?” Tanya Sivia. “Ooh... Lo mau tau yaaaa Shilla suka sama siapaaa? Cemburu yaaa? Jealous yaaa?” Goda Sivia.
“Iyuuuhhh.” Cibir Rio lalu mulai benar-benar mendengarkan musik. Lagu favorit terbarunya. Dealova.
***
“Shill, gue duluan ya. Nyokap udah nunggu.” Ucap Sivia.
“Oh. Iya iya, Vi! Duluan aja. Gue juga udah dijemput kok hehehe.” Kata Shilla sengaja meminuskan kata ‘supir’ setelah kata ‘dijemput’.
Sivia melambaikan tangan. Shilla tersenyum.
Setelah Sivia pulang, Shilla berjalan menuju mobilnya sambil memainkan handphonenya. Ia menyempatkan diri untuk mengganti display picture dan display name bbm nya.




Beberapa saat kemudian, ada bbm masuk. Tepat saat Shilla masuk ke dalam mobilnya.

Rio Haling: JB kan aslinya kakek2.
Ashilla Bieber: Duh pls deh y. Lo idup d jmn brp sh? It kn gossip lama. Udh basi!
Rio Haling: Emang bnr kok. Gw pny videony
Ashilla Bieber: That one jg udh lama. BA-SI
Rio Haling: Bodo. Pokoknya gw prcaya kl JB kakek2, maho lg.
Ashilla Bieber: STFU. Trnyt bnr lo it beliebers y? HAHA
Rio Haling: Beliebers paan si?
Ashilla Bieber: NORAK! Fansny JB tau!
Rio Haling: Iyuh sry y gw ga level ngefans sm jb.
Ashilla Bieber: Bktiny lo nyimpen video jb sgala?
Rio Haling: It kn bwt hburan kl gw bsn gw liat video it psti ngakak.
Ashilla Bieber: whtvr gw sbuk. BYE!!!!!!!


Shilla memasukan handphonenya. Kemudian mengambil iPodnya.
“Non. Tadi tuan sama nyonya telepon ke rumah.” Ucap supir Shilla menghentikan sejenak kegiatan mengobrak-abrik tasnya mencari iPod.
Melihat majikannya yang diam saja, supir itu melanjutkan perkataannya kembali.
“Nanya gimana kabarnya non.”
“Kapan mereka pulang?” Tanya Shilla dingin. Tidak terlalu banyak berharap.
“Ndak bilang mereka non. Mereka bilang mereka masih di Inggris.” Jawab supir itu dengan aksen medoknya yang kental.
Shilla mengangguk kecewa.
***
Hah! Rasanya sudah lama sekali Shilla tidak mengunjungi tempat ini. Padahal hanya kemarin saja Shilla absen mengunjungi tempat ini.
Shilla duduk kemudian menengadah melihat langit malam yang terlihat cerah malam itu.
“Mama sama Papa kapan pulang? Shilla capek kalo harus nunggu mama sama papa selama ini. Shilla kangen banget sama kalian.”
“And I was like baby baby baby nooo I’m like baby baby baby nooo I’m like baby baby baby nooo I thought you’d always be mine... mine...” Tiba-tiba terdengar suara yang cukup mengejutkan Shilla. Shilla langsung menoleh ke belakang.
“ELO LAGI!!!! LO TUH KENAPA SIH SENENG BANGET BUNTUTIN GUE? SUKA YA?!!” Shilla mendelik pada Rio yang sedang asyik memainkan gitarnya.
“Kalo nggak kenapa, kalo iya kenapa?” Rio menghampiri Shilla dan duduk di sebelahnya. “Sedih mulu, lo!” Rio mengenjreng gitarnya asal namun tetap enak didengar.
“Kenapa sih lo selalu ada dimana-mana?” Tanya Shilla mengalihkan pembicaraan.
“Kan gue bilang, mungkin ini pertanda.” Jawab Rio lalu nyengir kuda.
“Apaan sih! Sini sini gue pinjem gitarnya!” Shilla hendak merebut gitar Rio.
“Halah kayak yang bisa aja lo!” Cela Rio.
“Sialan. Gini gini gue gitaris men! Hahaha...” Tawa Shilla lepas.
Rio tersenyum saat Shilla tertawa. Akhirnya. Rio pun menyerahkan gitarnya.
“Coba nih. Gue pengen tau gitaris kacangan kayak elo gimana mainnya.”
Shilla meraih gitar itu.
“Lagu apa nih?” Tanya Shilla.
“Apa aja yang lo bisa.” Jawab Rio.
“Yah... Semua lagu gue bisa kaliiii!” Ucap Shilla meremehkan. “Hmm... Oke lagu ini aja.”
Shilla mulai menggenjrengkan gitarnya dari intro.

You’re on the phone
With your girlfriend she’s upset
She’s going off about something that you
Said
She doesnt get your humor like I do

I’m in the room
Its a typical Tuesday night
I’m listening to the kind of music she
Doesn’t like
And she’ll never know your story like I do

But she wears short skirts
I wear T-shirts
She’s cheer captain and I’m on the
Bleachers
Dreaming ‘bout the day when you wake up
And find
That what your looking for
Has been here the whole time

If you could see that
I’m the one who understands you
Been here all along
So why cant you see...
You belong with me...
You belong with me...

Walk in the streets
With you and your worn-out jeans
I cant help thinking this is how it ought to
be
Laughing on the park bench thinkin’ to
myself
Hey isn’t easy...

And you’ve got a smile
That could light up this whole town
I haven’t seen it in a while
Since she brought you down
You say your fine
I know your better than that
Hey what your doing with a girl like that

She wears high heels
I wear sneakers
She’s cheer captain
And I’m on the bleachers
Dreaming ‘bout the day
When you wake up and find

That what your looking for
Has been here the whole time

If you could see that
I’m the one who understands you
Been here all along so why cant you see...
You belong with me...

Standing by and waiting at your backdoor
All this time how could you not of known
Baby... You belong with me...
You belong with me...

Oh... I remember you drive into my house
In the middle of night
I’m the one that makes you laugh
When you know ‘bout to cry
I know your favorite song
And you tell me ‘bout yout dreams
Think I know where you belong
Think I know its with me

Cant you see that I’m the one
Who understands you
Been here all along
So why cant you see...
You belong with me...

Standing by and waiting at your backdoor
All this time how could you known
Baby... You belong with me..

You belong with me

You belong with me

Habe you ever thought just maybe...
You belong with me...

You belong with me...

(You Belong With Me – Taylor Swift)

Rio ternganga. Ia kagum pada permainan gitar Shilla yang begitu memukau dan suara Shilla yang patut diacungi jempol.
“Haaahh enak nih gitarnya. Beli dimana nih, Nyuk?” Tanya Shilla.
“Eh? Ehm... Gak tau dibeliin bokap.” Jawab Rio. Shilla terdiam.
“Bokap? Oh... Hehe...” Shilla mengembalikan gitar itu pada Rio. “Lo sekarang mainin dong! Jangan-jangan aslinya lo gak bisa main gitar lagi! HAHAHA...”
“Enak aja! Gue jago tau!” Rio mulai menggenjreng gitarnya.

Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Oh karena hati telah letih

Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Oh bayangmu seakan-akan

Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang
Dan sepi
Dan sepi

Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada

Selalu ada, kau selalu ada
Selalu ada, kau selalu ada

(Dealova – Once)

Rio terlalu menghayati lagu itu. Sehingga selama ia bernyanyi ia memperhatikan lekuk wajah Shilla yang cantik. Namun, Shilla tidak menyadarinya. Shilla pun terlalu hanyut dalam suara Rio yang sangat merdu itu.
“Bek! Woy, Bek! Udah selese nih gue nyanyi! Gak usah terlalu hanyut gitu bisa kali! Entar lo malah kelelep!” Kata Rio garing.
“HAHAHA lucu banget lo saking lucunya sampe gak bisa ketawa!” Cibir Shilla.
“Yeeeee judes amat sih. Hargai dikit kek. Ketawa kek.” Ucap Rio.
“Kan tadi gue ketawa.” Kata Shilla sambil membuang muka.
“Yeee... Beruntung gue kesini ngehibur lo!” Ujar Rio.
“Oh jadi lo emang sengaja ngikutin gue?” Tanya Shilla.
Rio hanya mengangguk-angguk.
“Hhh... Mending lo pulang aja deh. Ntar bokap sama nyokap lo nyariin.” Kata Shilla dengan penuh kepedihan.
“Nggak. Hahaha... Gue disini aja. Enak kan? Tenang... Damai...” Sahut Rio.
“Iya. Sebelum lo dateng ke tempat ini.”
“Santai aja. Gue kan Cuma mau hibur lo. Bosen gue liat lo cemberut mulu di tempat ini. Yaaa kalo lo gak suka gak apa-apa sih. Gue bisa pulang kapan aja dan dateng kapan aja. Tapi gue udah terlanjur betah disini sih.” Rio menerawang.
Shilla menatapnya seakan –lagi-lagi bertanya ‘Maksud lo?’
“Yah... Udah lah. Lupain aja.” Desah Rio kecewa karena melihat Shilla tampaknya tak mengerti apa yang sedang dibicarakannya. “Boleh gue tanya sesuatu?”
Shilla mengangguk. “Asal jangan pertanyaan yang kemarin.”
“Boleh apa aja kan? Asal jangan yang kemarin?” Tanya Rio lagi.
Shilla menatap Rio heran namun tetap mengangguk. Toh, pertanyaan apalagi yang akan dilontarkan seorang Mario Stevano selain pertanyaan konyol yang tidak penting?
“Jangan tersinggung ya! Tapi... Emang bokap sama nyokap lo kemana? Sumpah ya lo jangan tersinggung. Bukannya gue mau tau urusan orang atau apa tapi...” Rio jadi tidak enak sendiri.
“Hahaha... Iya lah. Santai aja, Nyuk. Mereka? Ya kerja lah! Mereka itu orang sibuk. Mereka gak kerja di Indonesia.” Ucap Shilla nanar.
“Uhm, sorry ya kalo udah buat lo sedih?” Ucap Rio.
“Hey! Kesambet apaan lo? Bisa-bisanya ngomong sorry ke gue hahaha ya udah sih santai aja. Toh, Siapa juga yang sedih?” Shilla tersenyum.
“Nah gitu dong. Senyum! Gak enak tau liat lo murung terus. Lo jadi kayak punya kepribadian ganda. Sumpah!” Kata Rio. Rio melirik jam tangannya. Pukul 21.22.
“Udah daripada takut dimarahin karena pulang malem mending lo pulang aja deh! Lagian gue bosen liat lo mulu! Hahaha...” Kata Shilla melihat Rio yang memandangi jam tangan digitalnya.
“Hah! Lucu banget lo, saking lucunya gak bisa ketawa!” Rio membalikkan kata-kata Shilla. Kemudian ia berdiri. “Gue pulang dulu ya! Ati-ati lo jangan kemaleman kalo pulang! Ntar kesambet! Hahaha... Bye.... Shill.” Rio mengacak rambut Shilla kemudian pergi. Untuk yang kedua kali dalam hidupnya, Rio memanggil Shilla dengan nama aslinya. Yang pertama sewaktu perkenalan ketika masa MOS kelas 10.
Shilla tersenyum kecil.
“R... RIO!” Panggil Shilla ketika Rio belum melangkah terlalu jauh. Rio menoleh pada Shilla. Agak kaget sebenarnya gadis itu memanggil namanya. “Thanks ya!” Seru Shilla.
Rio mengangguk sambil tersenyum manis. Ya. Tersenyum manis. Bukan tersenyum geli, tersenyum sinis, ataupun tersenyum meremehkan. Kemudian Rio kembali berjalan meninggalkan Shilla.
Ah, Rio. Selalu saja ada caranya untuk menghibur Shilla.
***
Shilla tengah berjalan sambil mendengarkan iPod. Hari itu hari Jumat. Hari terakhirnya sekolah di minggu ini. Seseorang menepuk pundaknya hingga ia terlonjak.
“Astaga!” Shilla membalikkan badannya. “Eh, maaf kak. Aku kira tadi siapa hehehe.” Shilla malu sendiri ketika mendapati Gabriel, kakak kelas yang notabenenya adalah Ketua OSIS. Shilla buru-buru melepas earphonenya.
“Iya. Nggak apa-apa kok. Saya tadi ke kelas kamu. Cari ketua kelas tapi gak ada.” Ucap Kak Gabriel. Shilla berpikir sejenak. Lupa sesaat siapa Ketua Kelasnya. Dan dia baru ingat jika ketua kelasnya itu adalah Rio.
“Oh. Iya. Dia emang gitu lah anaknya. Ada apa ya kak?” Tanya Shilla sopan.
“Kamu wakil ketua kelas kan?” Kak Gabriel bertanya balik.
Shilla sempat ragu sesaat. Ia bahkan lupa bahwa ia adalah wakil ketua kelas. Belum pernah selama kelas 11 ini Rio absen. Jadi, belum pernah pula Shilla menggantikan tugasnya.
“I... Iya, kak.” Jawab Shilla.
“Ini. Tolong ya, bilang ke ketua kelas suruh bagikan ini ke seluruh murid. Suruh jelaskan apa yang akan kita adakan hari Senin besok.” Gabriel menyerahkan setumpuk kertas pada Shilla.
“Emang hari senin ada apa ya, kak?” Tanya Shilla heran.
“Oh. Ini lho. Sekolah kita dari kelas 10 sampai kelas 12 bakal ngadain camping.” Jelas Kak Gabriel. “Semua ada disitu kok. Tentang tempat, waktu, dan peralatan apa aja yang harus dibawa.”
Shilla mengangguk tanda mengerti.
“Ya udah. Jangan lupa ya.” Gabriel tersenyum lalu berlalu. Shilla sempat terperangah. Ah, senyum Gabriel. Manis sekali.
Shilla pun berjalan menuju kelasnya sambil membaca sekilas setumpuk surat yang ada di genggamannya.
‘Loh? Kok ada amplop warna pink?’ Pikir Shilla. Kemudian ia menarik amplop yang menarik perhatiannya itu.

To: Sivia
From: Gabriel


Shilla cekikikan sendiri.
‘Aduh. Ada-ada aja nih. Pasti ini surat cinta. Hmm... Pantesan aja Kak Gabriel nitipin surat-surat ini ke gue. Ckckck... Buka jangan yaaaa?’
Shilla sempat berniat ingin membuka surat itu. Namun segera diurungkan niatnya itu karena ia sadar bahwa itu bukan perilaku yang sopan. Shilla terus tersenyum sendiri bahkan ketika ia menaiki lift yang mengantarkannya ke lantai 4, dimana kelasnya berada.
“Woy! Ngapain lo senyam-senyum sendiri?” Sapa sebuah suara ketika Shilla memencet tombol dengan angka ‘4’ dalam lift.
“Tuh kan. Elo lagi hahaha...” Kali ini Shilla tertawa, bukan merengut. Tampaknya moodnya hari itu sedang sangat bagus. Maka tak seorangpun yang boleh merusaknya. Termasuk cowok dengan tubuh tegap di depannya itu.
Rio bergidik ngeri. Shilla sedaritadi hanya tersenyum bahkan kadang tertawa sendiri.
“HEH! Lo tuh kenapa sih? Seneng ketemu gue ya?” Sewot Rio ketika mereka keluar dari lift dan berjalan berdampingan menuju kelas mereka.
Shilla hanya menggeleng lalu menyerahkan setumpuk kertas pada Rio. Shilla berlari mendahului Rio yang kebingungan. Ada sesuatu yang dipegang gadis itu. Seperti sebuah surat...... cinta? Lagi-lagi hatinya mulai resah. Namun segera ditepisnya pikiran-pikiran negatif itu. Rio memandangi setumpuk kertas di tangannya.

No. Surat: 112.33.6510
Perihal: Camping SMA Taruna Harapan
Dengan hormat.
Kami dari OSIS SMA Taruna Harapan, memberitahukan bahwa, kegiatan camping yang dilaksanakan pada hari Senin, 20-02-2011 sampai dengan Rabu, 23-02-2011 wajib diikuti oleh seluruh Siswa dan Siswi SMA Taruna Harapan kecuali jika siswa/i itu sedang sakit. Camping tersebut akan dilaksanakan pada:
Hari: Senin, 20-02-2011 s.d. Rabu, 23-02-2011
Tempat: Villa Archalego, Cipanas
Peralatan yang harus dibawa:
-Pakaian secukupnya
-Sandal
-Senter
-Baju Hangat / Jaket / Sweater
-Alat Mandi
-Obat-obatan jika perlu
-dll.
Terima kasih atas perhatian anda semua.
Salam,
Gabriel Stevent
Ketua Osis 2010-2011


“Bah. Ini apa lagi?” Rio melengos ketika selesai membaca surat itu. Tentu saja Camping yang diadakan SMA Taruna Harapan bukan camping yang layaknya sekolah biasa lakukan. Mereka akan menginap di sebuah Villa mewah selama 3 hari. Bukan menginap di tenda seperti camping kebanyakan. Namun kegiatan yang dilakukan selama camping SMA Taruna Harapan agaknya sedikit sama dengan kegiatan-kegiatan camping sekolah lainnya.
Rio berjalan memasuki kelasnya.
“Bek, ini maksudnya gue disuruh ngapa...” Ucapan Rio terhenti ketika melihat Shilla sedang asyik mengobrol dengan Sivia. Shilla yang terus mengoceh dan Sivia yang dengan antusiasnya mendengarkan. Seperti biasa.
‘Mereka ngomongin apa, ya? Apa tentang surat yang tadi dipegang dia?’ Pikir Rio mulai gelisah.
Rio membanting tasnya lalu menaruh tumpukan kertas itu di mejanya.
Sivia dan Shilla langsung terdiam lantaran kaget. Namun mereka melanjutkan mengobrol lagi.
“Jadi, tadi lo sama...” Belum sempat Sivia menyelesaikan perkataannya, Rio sudah memotongnya.
“Bek, ini maksudnya gue disuruh ngapain?” Tanya Rio.
“Kata kak Gabriel, lo bagiin ini ke anak-anak, terus lo jelasin kita suruh ngapain aja.” Jelas Shilla.
“Gabriel?” Tanya Rio. Ia mulai berpikir bahwa tadi, Shilla bertemu Gabriel yang memberinya setumpuk kertas... Lalu Gabriel memberikan surat itu pada...
“Iya! Kak Gabriel yang ketua osis itu!” Jawab Shilla antusias.
“Kenapa gak lo aja sih yang bagiin?” Tanya Rio lalu melangkah keluar kelas membawa iPodnya.
Shilla dan Sivia bertatapan kemudian mereka sama-sama mengedikkan bahu.
***
“...Jadi, kalian semua kalo mau tanya jangan ke gue! Kalian tanya aja sama si kunyuk! Gue disini itu disuruh dia. Berhubung gue baik dan tidak sombong ya gue mau aja lah.” Shilla mengakhiri pidatonya dengan heboh. “Oh iya tadi Kak Gabriel juga bilang...”
Rio melengos sementara Shilla terus mengoceh di depan kelas.
“Hoy lo kenapa? Jealous, ya? Perasaan setiap Shilla ngomong Gabriel lo kayak males gitu?” Sivia menepuk pundak Rio sambil tersenyum geli.
“Gak lah! Ngapain juga?” Sewot Rio.
“Woy elah! Kunyuk, Sivia! Kalo gue lagi ngomong tuh wajib didengerin. Penting tau! Masih mending juga gue mau gantiin lo ngomong di depan sini!” Dumel Shilla.
Sivia nyengir kuda. Rio tetap melengos tak acuh.
“Kayaknya Shilla jealous sama gue, Yo...” Sivia terkikik geli.

=TO BE CONTINUED=

Sebelumnya saya minta maaaaf banget kayaknya saya buat cerita pede bgt ya udah dipost aja padahal masih jauh banget dari kata bagus. Tapi namanya orang mencoba gak apa-apa kan? dan kalo ada yang gak suka sama cerita-cerita saya atau bahkan sama saya sendiri, ngomong langsung ke saya ya jangan ngomong di belakang. Kritik saya kalo saya punya salah. However, gue bakal tetep lanjutin cerita ini meskipun gak ada yang baca sekalipun. Keep comment c:

Thursday, April 21, 2011

Love Risk (Part 2)

“Kali ini gak ada pake kayak kemaren lagi!” Kata Rio pada istirahat kedua hari itu.
“Kenapa? Takut kalah ya lo?” Shilla tertawa meremehkan. Dagunya diangkat tinggi-tinggi.
“Enak aja! Gue pasti menang! Tapi kan ya kalo ya KALO seandainya lo lagi hoki lagi hari ini masa gue harus nurutin kemauan lo lagi sih? Iuuuh kemaren udah bangkrut gue!” Rio melengos.
“Halah gue tau lo takut kalah. CE-MEN!” Shilla tambah puas melihat nyali Rio yang mulai ciut.
“Udah lah sekarang kayak biasa aja. Gocengan aja. Gue gak punya uang tau!” Rio menempeleng kepala Shilla.
“Oke oke!” Shilla akhirnya menyerah.
“Siap ya... Satu.... Dua.... TIGA!” Alvin membunyikan peluitnya dengan tangannya.
Dan seperti biasa. Rio mempertahankan pertahanannya dengan tenang dilawan Shilla yang terus mendorong tangannya dengan sekuat tenaga.
“Gil....a lo! Kuli banget sih?!!” Shilla sekuat tenaga melontarkan kalimat andalannya.
“Apaan sih lo? Udah terima kekalahan aja yaaaa..” Rio mulai mendorong tangan Shilla. Dan....
BRAK!
Shilla berhasil ditumbangkan!!!!
“Ya dan pemenang kita hari ini adalah....... MARIO STEVANO!!!” Alvin berseru.
Seluruh pendukung Rio histeris.
Rio mengeluarkan senyum mautnya.
“IIIHHHH BETE BETE!” Shilla menggerutu kesal.
“Eh gue berubah pikiran. Gimana kalo perjanjian kemaren tetep berlaku?” Rio tersenyum licik pada Shilla.
“Apaan sih?!! GAK ADA YA!! Curang banget lo!!!” Shilla protes diikuti seluruh pendukung Shilla yang lainnya.
“Curang? Perasaan nggak deh yaaa...” Rio menaik turunkan alisnya. “Gimana kalo lo...”
“KUNYUUUUUUUUUUUUUKKK!!!!!!!!!!!” Shilla berteriak histeris bersiap mencubit lengan Rio yang lari terbirit-birit.
***
Huh.
Shilla melengos ketika bel pulang berbunyi.
Suasana sepi rumahnya itu sudah menunggu. Dalam hati ia merutuki kenapa ia tidak masuk asrama saja sekalian?
Mood Shilla yang memang sudah jelek semenjak kekalahannya hari itu bertambah jelek. Sehingga tanpa sadar murutnya tambah mengerucut.
“Udah kali, Bek. Masih ada besok. Semoga aja sih lo menang besok yaaa..” Rio menempeleng kepala Shilla yang sedang membereskan alat tulisnya.
“Lo apaan sih daritadi nempeleng gue mulu? Lo kira pala gua bola basket?!!” Shilla merengut kesal.
“Wetsah ampun kaka.” Rio lari terbirit meninggalkan Shilla yang sudah mengambil ancang-ancang.
“Shill! Ayo jadi anterin gue beli tas gak?” Sivia menjawil lengan Shilla yang duduk di depannya.
“Eh iya! Gue sampe lupa! Ayo ayo!” Shilla dengan semangat 45 menarik tangan Sivia keluar dari kelas.
“By the way, lo udah bilang nyokap lo kalo mau pergi?” Tanya Shilla saat mereka sampai di mobil Shilla.
“Udah kok, Shill.” Sivia tersenyum. Merekapun masuk ke dalam mobil Shilla.
Shilla diam seperti biasanya.
“Mau kemana iki, non?” Tanya supir Shilla.
Shilla menoleh pada Sivia. Memberi isyarat untuk memberitahu supirnya kemana mereka akan berkunjung.
“Senayan City ya, Pak.”
Supir Shilla mengangguk.
***
Selama perjalanan Shilla tidak berusaha untuk mengajak Sivia berbicara. Malah ia asyik mendengarkan iPod nya.
Sivia yang sudah bersahabat dengan Shila semenjak SMP tentu tidak heran. Begitulah kelakuan Shilla jika di luar sekolah.
“Shill...” Sivia memecah keheningan itu. Shilla menoleh pada Sivia dengan earphone yang masih tercantol di telinganya.
“Lo kok jadi kayak Rio sih ngacangin orang gara-gara dengerin iPod?” Sivia tersenyum geli. Shilla langsung melepas earphonenya dan terdiam.
“Lo... Suka sama Rio gak, Shill?” Tanya Sivia berlagak seperti orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa.
Shilla mendelik tajam pada Sivia.
“GAK.” Jawab Shilla. Namun hatinya seakan memaksanya untuk berkata jujur.
‘Jujur? Jujur buat apa? Emang gue suka sama Rio? Ih amit-amit jabang baby jangan sampe deh.’ Batin Shilla. Shilla sendiri tidak mengerti apa yang sedang hatinya lakukan itu.
***
“Menurut lo ya, Shill. Lucuan yang ini atau yang ini?” Sivia memegang tas berwarna putih di tangan kanannya dan tas berwarna soft pink di tangan kirinya.
“Yang itu.” Shilla menengadahkan dagunya pad sebuah tas ransel berwarna hitam.
“Iiiih Shillaaaa! Lo tuh cewek atau cowok sih?” Sivia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Shilla hanya tertawa geli.
“Vi, Gue toilet dulu ya? Kebelet bangeeet!” Kata Shilla. Sivia mengangguk.
“Jangan lama-lama lho, Shill! Hati-hati ketemu Rio! Hahaha...” Sivia iseng. Shilla beranjak dari toko itu setelah sebelumnya mendelik ke arah Sivia yang sedang cengengesan.
Shilla mulai mendengarkan iPodnya sambil berjalan menuju toilet.
BRUK!!
Seseorang tak sengaja menubruk Shilla.
“Adoooh ati-ati dong jalan pake kaki jangan pake pala!” Gerutu Shilla yang hampir jatuh.
“Wetttsss bebek my sistah!” Orang itu malah menutupi wajah Shilla dengan tangannya. Shilla megap-megap kehabisan oksigen.
“SINTING LO YA!!” Kata Shilla ketika orang itu –Rio melepaskan tangan dari wajahnya.
“Ganaaasss ngeri kakaaaa~” Rio melepas earphonenya. Begitupun Shilla.
“Gak liat apa orang lagi buru-buru? Gue itu kebelet pipis! Lo ngapain sih disini? Ngikutin gue ya?” Shilla sewot sendiri.
“Enak aja! Pede amat sih lo! Orang gue lagi refreshing!”
“TERUS? Emang gue peduli? Ih sorry aja ya!” Shilla langsung melangkah melanjutkan perjalanannya ke toilet.
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Shilla.
“Rio? Lo beneran ada disini? Hahaha kocak deh lo.”
Shilla langsung menoleh ke belakang sekilas lalu mulai melangkah lagi.
“Lah? Kenapa?” Tanya Rio pada orang itu yang ternyata adalah Sivia.
“Nggak. Tadi gue isengin Shilla ati-ati nanti ketemu sama lo. Eh ternyata beneran ada lo disini hahahaha...” Sivia tertawa puas.
“Ya elah hahaha...” Rio ikut tertawa.
Dalam hati, Shilla merasa hawa di mal itu semakin panas.
‘Gila nih mal suhu AC nya dinaikin ya? Panas amat!’ Shilla mengipas-ngipas dirinya sendiri karena merasa kegerahan walau tidak tampak satu tetespun keringat yang meluncur keluar dari tubuhnya.
***
Sivia Azizah: Shill, gw udh d parkiran. Lama bgt sh lo! Pipis apa ngapain? -_-
Shilla mengerucutkan bibirnya ketika membaca bbm dari Sivia. Ia pun segera membalasnya.
Ashilla Zahrantiara: Gw otw ksana. Td beli minum dulu. Haus tau!

Shilla segera memasukkan HP nya kembali ke dalam saku.
Saat ia berbalik badan menuju escalator, hampir saja ia menabrak seseorang lagi. Dan ternyata orang yang sama. Shilla tidak menanggapi apa-apa. Hanya melengos lalu pergi.
***
Shilla duduk sendiri lagi. Di tempat yang seperti biasa. Ia benar-benar sangat butuh ketenangan. Ah. Entahlah. Shilla juga tidak mengerti kenapa ia merasa begitu kesepian kala malam datang.
‘Ma... Pa... Shilla kangen... Mama sama Papa dimana? Masih inget sama Shilla kan? Mama sama Papa kapan pulang?’ Shilla menatap bulan purnama di atasnya. Setetes airmata siap meluncur dari matanya namun segera dihapusnya.
Namun kesepian itu terus menggerogoti jiwanya. Membuatnya bertambah haus akan kasih sayang. Ia butuh kasih sayang! Ia ingin seperti Sivia, Ify, atau teman-teman lainnya yang berlimpahan kasih sayang orangtua mereka.
Kali ini ia tidak dapat menahan tangisnya. Pecah. Perlahan setetes airmata turun lalu disusul oleh tetesan yang lainnya.
“Eh geseran dikit bisa kali. Lo tuh ngehalangin tau gak?” Seru seseorang dari belakang. Tanpa menoleh pun kali ini Shilla tau persis siapa orang itu. Namun Shilla tidak menanggapinya. Sumpah, ia sangat sedang butuh ketenangan. Perlahan Shilla menghapus airmatanya. Namun, setiap Shilla menghapus setetes airmatanya, setetes airmata lainnya akan terus bermunculan tanpa diminta.
Sesaat kemudian terdengar suara camera.
Klik! Klik! Klik!
Berkali-kali.
Rio melihat hasil jepretan bulan purnamanya dengan senyum lebar. Namun ia agak kecewa ketika Shilla sama sekali tidak menanggapi ocehannya.
Rio sama sekali tidak berminat datang ke tempat ini hanya untuk melakukan ‘photo session’. Ia hanya mencari alasan agar bisa datang ke tempat itu tanpa harus dicurigai gadis yang sedang duduk membelakanginya itu. Gah, Mana peduli Rio soal foto-memfoto yang baginya sama sekali tidak mengasyikkan itu?
Namun Rio mulai tersentak saat mendengar suara pelan. Lebih mirip isakan. Namun seperti bisikan. Ragu, Rio menghampiri Shilla.
“Bek?” Rio duduk di sebelah Shilla.
Shilla memalingkan wajahnya. Tidak berusaha untuk menghapus sisa-sisa airmatanya. Tahu bahwa usahanya akan sia-sia. Ia sudah tertangkap basah.
“Lo... kenapa?” Tanya Rio ragu.
Shilla terdiam dan terus membiarkan airmatanya jatuh.
Rio menatap Shilla yang kini memandang ke depan dengan tatapan kosong dan penuh luka.
Tanpa perintah apapun, Rio menarik tubuh Shilla ke dalam pelukannya. Rio merengkuhnya.
Shilla tersentak namun membiarkan tubuhnya berada dalam kehangatan tubuh Rio.
“Gue nggak apa-apa...” Shilla menghapus airmatanya. “Gue Cuma kangen sama bokap nyokap gue.”
Setelah tuntas menghapus airmatanya yang –ajaibnya- airmata lainnya tidak keluar lagi dengan sendirinya, Shilla segera berdiri.
“Lupain aja yang tadi. Sorry gue udah cengeng. Gue emang payah. Lupain aja.” Shilla segera berlari menjauh dari Rio yang terbengong-bengong.
‘Are you okay, Shill? Don’t make me worrying about you.’ Batin Rio pada dirinya sendiri. Suatu saat nanti, Rio harap ia dapat berkata langsung seperti ini pada gadis yang baru saja berlari meninggalkannya.
Rio meneguk ludah. Apa sebenarnya yang tengah terjadi pada gadis itu? Sumpah. Baru kali ini Rio melihat gadis itu mengeluarkan airmatanya. Satu yang bisa Rio tangkap dan mengerti. Gadis itu rindu. Rindu pada mama dan papanya.
***
Rio gatal ingin mengirim sebuah pesan singkat pada gadis itu. Namun ia menahan diri untuk tidak melakukannya. Rio terus memandangi foto yang dipasang gadis itu sebagai Display Picture Blackberry Messenger nya.





Rio pernah tidak sengaja menguping pembicaraan Shilla dan Sivia kemarin-kemarin. Yang Rio tahu sih, orang yang berada di foto itu bersama Shilla namanya Kak Gita, sepupu Sivia yang sekaligus penyanyi. Ya. Dan Rio tahu siapa orang itu. Gita Gutawa.
Ah, tapi bukan itu yang Rio sedang pikirkan.
Senyum gadis itu. Senyum Shilla.
Tadi. Pertama kali Rio melihatnya meneteskan airmata dengan pandangan terluka yang amat dalam. Rio yang terbiasa melihat senyum Shilla tentu saja merasa gelisah saat mendapati gadis itu sedang menangis sendirian. Seolah kesepian.
Rio menaruh handphone di meja sebelah tempat tidurnya kemudian berjalan ke jendela kamarnya. Rio membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Teringat lagi perkataan Shilla tadi.
“Gue Cuma kangen sama bokap nyokap gue.”
Hah! Rio menghela napas. Bahkan udara malam yang biasanya terasa sejuk saja menjadi penuh sesak ketika Rio mengingat kata-kata gadis itu.
Ah! Kali ini Rio tidak dapat membohongi perasaannya lagi. Ia khawatir pada gadis itu. Karena..... Ia sayang Shilla.
***
Rio berjalan sewajar mungkin ke kelasnya. Tetap dengan wajah yang tenang dengan earphone terpasang di telinganya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.
Rio masuk ke kelas pada saat Shilla sedang tertawa mendengar cerita Sivia yang sedang merengut.
Ah gadis itu. Cepat sekali merubah moodnya.
“Iiih lo kok jahat sih, Shill!” Sivia menepuk lengan Shilla kecil.
“Abis kocak banget! Dibilang gendutan sama Kak Gita aja muka lo udah berlipet-lipet gitu hahahah... Gapapa kali, Vi, kalo lo gendut! Kan lucu, kayak badut! Wakakakakk...” Shilla melepas tawanya lagi. Ia tahu Rio sudah datang dan berusaha mengabaikannya. Ia masih malu dengan kejadian semalam. Tetapi ia sadar dan akan berusaha bersikap sewajar mungkin dan berusaha berpikir bahwa tak pernah ada kejadian semalam itu.
Rio-Memeluk-Shilla. Shilla-Dipeluk-Rio. HAH?!! Apa kata dunia nanti?
Tiba-tiba handphone Shilla bergetar. Shilla langsung terdiam dan membuka SMS itu. Ternyata, tanpa disadari, Rio, yang duduk di sebelahnya pun melakukan hal yang sama.

Angelica Pieters: Guys, malem ini dateng ya ke my birthday party! At Pacific Paragoon Hotel, 7 pm. Dresscode nya yang cewek pake dress dan yang cowok pake kemeja. I’m waiting for you. See you soon!

Shilla melengos. Malas sekali ia datang ke pesta ulangtahun seperti itu. Walaupun, Angel, Sepupunya lah yang berulang tahun pada hari itu. Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, Shilla tidak akan pernah bisa menolak. Karena sepupunya yang kelewat baik hati itu akan selalu mengiriminya kostum untuk dipakai ke pesta ulang tahun Angel. Shilla yakin pulang sekolah nanti ia akan menerima paket berisi dress yang –menurutnya- cewek banget dan gak banget.
“Kenapa, Shill?” Tanya Sivia.
“Nggak apa-apa hahaha...” Jawab Shilla tepat pada saat Pak Duta memasuki kelas XI.III.
***
Anak-anak langsung merubungi meja Shilla dan Rio saat bel istirahat berdering dan Pak Duta keluar kelas.
“Masih berani ya, lo lawan gue?” Rio menatap Shilla ‘sewajar’ mungkin.
“Halaaahhh lo mah Cuma setitik kuku gue! Secuil!” Shilla tersenyum sinis. Walau hatinya berdebar hebat. Takut-takut Rio membongkar seluruh kejadian semalam.
“Oke fine! Liat aja!” Rio sudah bersiap. Shilla pun mengikutinya.
“Siap ya...” Alvin mulai memberi aba-aba. “1... 2... 3...”
Rio dan Shilla pun langsung mengeluarkan energi mereka sebesar-besarnya.
“Pake perjanjian gak, nih?” Rio tersenyum meremehkan.
“GAK ADA YA! Boleh aja sebenernya kalo lo mau bangkrut hari ini juga!” Shilla mulai menantang.
“Eits tidak bisaaaa. Mau pake perjanjian gak nih jadinya? Feeling gue mengatakan gue bakalan menang nih kayaknya.”
“KALO FEELING GUE BILANG GUE BAKAL JADI THE WINNER DAN LO JADI LOSER!” Shilla terus mendorong tangan Rio sekuat tenaga. “Udah gak usah sok jago lo pake nantangin gue segala. Kalo kalah gue bakal bantai lo abis loh!”
Dan....
BRUKK!!!!!!
Tangan Rio berhasil ditumbangkan oleh Shilla.
“Dan pemenangnya adalaaaah.... ASHILLA ZAHRANTIARA!” Alvin bersorak pada seluruh murid-murid.
Shilla tersenyum puas. Ia bangga kali ini ia menang tanpa curang sedikitpun.
“Gimana lo? Masih mau nantangin gue lagi? Hahaha...” Shilla tertawa puas. “Ternyata, tenaga kunyuk sekalipun masih bisa dikalahkan sama tenaga bebek.”
“Iya lah! Bebeknya kayak elo!” Celetuk Rio.
“Udah terima aja kekalahan dengan lapang dada! Hahaha... Yuk, Vi.” Shilla menarik tangan Sivia menuju kantin.
Rio mengelus dadanya perlahan.
‘Untung aja hati, jantung, dan otak gue bisa diajak bekerja sama.’ Batin Rio. Kemudian ia tersenyum kecil.
“Wey, bro! Senyam-senyum sendiri lo! Kenapa? Lo suka yaaa sama Shillaaaa?” Alvin menaik-turunkan alisnya.
“Hiiiy amit-amit jabang baby suka sama bebek!” Rio ngeloyor pergi begitu saja.
***
“Non. Ini tadi non Angelica nitip ini ke saya. Katanya suruh dipake sama non nanti malam.” Ucap salah seorang pelayan ketika Shilla sampai di rumah. Shilla mengangguk lalu mengambil bungkusan itu. Ia mengeluarkan isinya. Dress berwarna soft pink, jepit dengan warna senada dan sepatu berwarna senada namun lebih muda.
‘Ergh kenapa mesti serba pink siiih?’ Gerutu Shilla dalam hati. Ia pun bergegas ke kamarnya. ‘Hari ini gak bisa ke bukit deh. Eh apa gue gak usah dateng ke pestanya angel aja ya?’ Shilla mulai berpikir. Seakan ada setan dan malaikat dalam hatinya yang sedang berdebat. ‘Udah, Shill. Gak usah dateng. Lo ke bukit aja. Lo kan butuh ketenangan, Shill.’ Si setan meluncurkan aksinya. Kemudian si malaikat cepat berkomentar. ‘Shilla, kamu harus dateng ke pesta itu. Gimanapun juga, Angel itu sepupu kamu. Lagian gak enak kan kalo udah dibeliin baju masa kamu gak dateng?’. Lagi-lagi si setan gak mau kalah. ‘Bisa dikembaliin kali, Shill, bajunya! Bilang aja lo ada tugas kelompok jadi gak bisa dateng!’
Shilla mengacak rambutnya sendiri. Bingung keputusan mana yang harus diambilnya. Setelah beberapa lama, Shilla pun memutuskan untuk datang ke pesta ulangtahun Angel.


= TO BE CONTINUED =

halo................ apa saya ngepost kecepetan? -_- apa kependekan atau kepanjangan? Jangan tanyakan saya ya tanyakan pada penulisnya (?). Tanya langsung di blogwalking boleh, twitter, FB,dll. Ditunggu :D

Sunday, April 17, 2011

Love Risk (Part 1)

“OH MY GOD!!! PR apaan sih?!! Kimia?!! Kok gue gak dikasih tau sih?!!!” Shilla mencak-mencak pada teman-teman sekelasnya yang sedang sibuk menyalin jawaban satu sama lain.
“Yah elah elo! Dari kemaren sama Bu Winda juga udah dikasih tau kali, Shill! Tenang aja, kita semua juga belom pada ngerjain kok! Ikut aja sini!” Sivia menyembulkan kepalanya dari tengah-tengah kerumunan teman-temannya yang sama-sama sedang menyalin PR milik Patton.
Shilla, gadis yang memang paling heboh langsung menyerbu kerumunan itu dan menyalin jawaban Patton dengan sangat lancar.
“Healah lo semua payah banget sih belom ngerjain!” Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah pintu kelas saat Shilla dan teman-teman sekelasnya sedang berkonsentrasi menyalin PR.
Semua langsung menoleh ke arah sumber suara, kecuali Shilla yang masih asyik menyalin PR milik Patton.
“Nih! Gue udah selesai dan jawabannya gue jamin tepat akurat 100 persen!” Rio menyerahkan bukunya pada Alvin yang sedang melongo. “Contek aja! Gue gak keberatan kali!”
“Sombong banget sih baru ngerjain gituan doang.” Shilla ngedumel sendiri. Kesal melihat teman sebangkunya, ups, maksudnya rival sebangkunya yang dengan sombong memamerkan PR kimia nya.
“Daripada elo! Ngerjain aja nggak!” Rio melempar tasnya ke kursi di sebelah Shilla lalu membanting tubuhnya.
“Apaan sih. Ganggu konsentrasi orang aja!” Shilla tetap konsentrasi mengerjakan PR nya. Sementara Rio yang duduk di sebelahnya dengan tenang memejamkan matanya dengan earphone yang masih terpasang di telinganya.
Shilla terdiam. Heran tidak mendengar balasan dari teman adu mulutnya. Namun, ia tidak peduli dan tetap menyalin PR dengan terburu-buru.
***
“Jadi untuk percobaan di laboratorium minggu depan. Kelompoknya berisi dua orang dan harus cewek-cowok. Hmm... kalian boleh pilih sendiri kelompoknya.” Bu Winda membenarkan posisi kacamatanya.
“Yah, bu! Ibu yang pilih aja deh! Saya males kalo pilih sendiri! Ntar banyak yang mau sama saya!” Bastian nyeletuk.
“Wooooo!!!!” Semua bersorak lalu mulai melempar bola-bola kertas pada Bastian. Kemudian mereka tertawa-tawa melihat tingkah Bastian yang menghindar dari bola-bola kertas itu.
“Tenang semua tenang! Baiklah ibu yang pilih.” Bu Winda mulai menggulung kertas yang berisi nomor-nomor yang berpasangan. Yang cewek mengambil kertas di kotak kertas yang cowok dan begitupun sebaliknya.
Shilla mengambil kertas setelah sebelumnya berdoa agar tidak berpasangan dengan cowok rese di sebelahnya.
“Tolong jangan dulu dibuka!” Perintah Bu Winda.
Setelah semua mengambil kertas mereka masing-masing, barulah Bu Winda menyuruh mereka membuka kertas itu.
Perlahan tapi pasti Shilla membuka kertasnya... Dan...
“Nomor...................................................6.” Shilla ragu. Kemudian ia membalik kertasnya. “Nomor 9?”
Shilla merutuki Bu Winda. Ia bingung nomor berapakah yang didapatnya?
“Nyuk! Nomor berapa lo?” Shilla menyikut cowok rese di sebelahnya.
“Mau tau aja sih lo!” Rio melirik cewek Shilla sinis.
“Elah!! Orang Cuma nanya!” Shilla menggerutu kesal.
“Noh!” Rio memberikan kertasnya.
Shilla terbelalak kaget melihat kertas Rio. Kemudian ia tersenyum jahil.
“Nomor berapa nih? 9 apa 6?” Tanya Shilla.
“Auk dah! 6 aja deh!” Jawab Rio tak acuh.
“Okeee berarti gue nomor 9 hahaha...” Shilla tertawa puas. Akhirnyaaaa bisa juga ia tidak satu kelompok dengan makhluk rese itu.
“Ayo semua berpasangan dengan pasangannya.” Perintah Bu Winda lagi.
“Eh! Nomor 9 siapa nih?” Shilla berteriak meminta perhatian dari teman-teman sekelasnya yang –mungkin- salah satunya memiliki nomor 9.
Alvin dan Sivia mengangkat tangan mereka.
Shilla mengernyit heran.
“Lho? Kok nomor 9 ada 2? Gimana ceritanya ini bu? Wah tidak bisa ini bu!” Shilla melancarkan aksi protesnya.
“Mana coba sini Shilla, Alvin, dan Sivia. Ibu lihat kertas kalian.”
Shilla, Alvin, dan Sivia maju ke depan dan menyerahkan kertas milik mereka pada Bu Winda.
“Alvin dan Sivia... Kalian nomor 9. Kalian boleh kembali ke tempat duduk kalian.” Ucap Bu Winda setelah meneliti ketiga kertas itu.
“Lah, Bu? Terus saya gimana?” Shilla mulai was-was.
“Shilla... Kamu ini nomor 6!” Bu Winda menghela nafas melihat tingkah Shilla yang iseng membolak-balikkan kertas dari nomor 6-9-6-9.
“Bu! Ini itu nomor 9 bu!” Shilla tetap ngotot/
“Ya ampun! Sudah-sudah! Kamu ini nomor 6! Cari teman kamu yang nomor 6 juga!” Perintah Bu Winda. “Siapa yang dapat nomor 6?” Tanya Bu Winda pada seluruh murid kelas XI.III
Hening.
Tak ada yang bernomor 6.
Tak lama kemudian, seorang pemuda mengangkat tangannya.
“Ya! Shilla kamu dengan Rio!” Bu Winda menoleh ke arah Shilla yang sedang memejamkan matanya. Berharap ketika membuka matanya, mimpi buruk itu sirna. Tapi ternyata...
“ASTAGA NAGA YA TUHANKU!! COBAAN APA LAGI INIIIII?!!” Shilla mengepalkan tangannya lalu menutup wajahnya sendiri.
Tawa anak-anak sekelas langsung membahana di seluruh penjuru kelas. Tahu bagaimana kelakuan Shilla dan Rio kalau dipersatukan. Layaknya Kucing dan Anjing.
“Bu tolong ya bu, please deh hari gini bu. Bu, saya gak mau tau. Saya mau pindah kelompok, atau lebih mending saya kerja sendi...”
“SHILLA! Kamu ini! Sudah sudah. Gak ada protes-protesan lagi! Semua kembali ke tempatnya masing-masing dengan pasangan kalian. Ibu akan menjelaskan apa yang akan kita lakukan minggu depan.”
Shilla menghentakkan kakinya sebal.
KENAPA COBAAN UNTUKNYA TIDAK PERNAH BERAKHIR?!!!!!
***
Bel istirahat berbunyi. Anak-anak seperti biasanya mengerumuni meja Shilla dan Rio.
“Masih berani lo nantangin gue?” Rio memasukan iPod nya ke dalam saku seragamnya.
“Belagu lo!” Shilla menarik kursinya sehingga berhadapan dengan Rio. Ia menaruh tangannya dengan siku yang bertumpu pada mejanya. Begitupun dengan Rio.
Mereka bersiap untuk melakukan rutinitas mereka setiap istirahat. LOMBA PANCO.
“Siap ya...” Alvin memberi aba-aba. “1...2...3...”
“KYAAAAAAAA!!!! Ayo Riooooo!!!” Teriak anak-anak yang sebagian besar cewek-cewek histeris.
“Ayo Shill! Ayo lo pasti bisa ngalahin dia!!” Sebagian besar anak-anak lain pendukung Shilla bersorak menyemangati Shilla.
Shilla terus mendorong tangan Rio yang tetap dengan tenang mempertahankan pertahanannya. Rio tersenyum meremehkan.
“Sampe kapaaan lo mau kayak gini? Jelas-jelas gue yang menang! Kali ini gimana kalo kita taruhan? Yang menang boleh minta apa aja sama yang kalah! Gimana gimana?” Rio memberikan tawaran yang menggiurkan karena sudah yakin bahwa dialah yang akan memenangi kompetisi kecil panco ini.
“Please ya gak usah belagu! Lagak lo udah kayak dewa panco aja! Belom tau siapa gue!” Shilla terus mendorong tangan Rio yang tidak goyah-goyah.
“Halah udah laaah! Deal? Or No Deal?” Tanya Rio lagi.
“DEAL! Siapa takut?” Shilla memberi energi tambahan pada tangannya. Namun Rio memang susah dikalahkan. “Gila lo ceking-ceking tenaga lo kayak kuli tau gak?”
“Sialan! Daripada elo! Badan besar tenaga bebek!” Rio tak mau kalah.
Anak-anak sontak langsung tertawa.
DUK!!
Shilla menendang tulang kering Rio saat juri –Alvin sedang lengah karena sedang tertawa terpingkal-pingkal.
BYAR!
Hilang sudah konsentrasi Rio dan dengan mudahnya Shilla menumbangkan Rio.
Shilla tersenyum puas dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
“Yak dan pemenangnya adalah........... ASHILLA ZAHRANTIARA!!!!” Alvin berseru sok heboh.
Pendukung Shilla langsung berteriak-teriak histeris.
“Eh apa-apaan nih? Lo gak liat apa, Vin? Tadi nih bebek nendang tulang kering gue? Sakit tau!” Rio protes pada Alvin.
“Hah? Gue gak liat, Yo!” Alvin malah kebingungan.
“Alah looooo udah kalah mah ya kalah aja! Sportif dong! HAHAHAHA...” Shilla tertawa puas.
“Ergh! Oke oke kalo gitu kali ini gue ngalah! Bukan berarti gue kalah!” Kata Rio sebal.
“Eits, mau kemana kunyuuukkk? Kayaknya lo masih punya hutang nih sama gue.” Shilla menaik-turunkan alisnya.
“Huh... Yayaya sekarang mau lo apa? Awas kalo nyusahin!” Rio melengos.
“Hmm... Oke oke.” Shilla sok-sok berpikir keras. “Gimana kalo.... gue mau lo traktir kita sekelas!” Seru Shilla bangga.
Teman-teman sekelasnya langsung menatap Shilla dengan pandangan oh-terima-kasih-banyak-ashilla-zahrantiara.
“NAAAAHHH!! Betul itu Shill gila lo emang temen gue yang paling TOP!” Bastian menepuk-nepuk pundak Shilla yang lebih tinggi darinya.
“HAH?!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Rio terperanjat.
***
Bel masuk pun berbunyi. Setelah merasa sangat kenyang, anak-anak kelas XI.III langsung kembali ke kelas mereka meninggalkan Rio yang dikejar-kejar tukang jualan di kantin bagaikan dikejar-kejar dept collector.
Rio masuk ke kelas paling belakangan dengan bercucuran keringat.
“Sarap lo semua! Makan porsinya kuli semua ya?” Rio menyindir teman-teman sekelasnya.
Teman-teman sekelasnya langsung pada nyengir.
“Baru dikasih tantangan gitu doang udah KO! Gimana gue suruh bangun rumah buat kita semua?” Shilla tersenyum meremehkan.
“Gila lo! Cewek edan!” Rio melengos saat membanting tubuhnya di bangkunya.
“Hahahah...” Shilla hanya tertawa kecil.
***
“Siang, Non. Gimana sekolahnya non?” Tanya supir Shilla saat membukakan pintu untuk Shilla. Shilla hanya tersenyum kecil membalas pertanyaan supirnya itu.
Ia mulai memasang earphonenya sambil menyalakan lagu sambil melihat keluar lewat jendela mobilnya.
Ia melihat Sivia yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Shilla membalas lambaian Sivia. Kemudian Sivia memasuki mobilnya dan duduk di kursi penumpang sebelah kursi pengemudi. Di sebelah mamanya. Ya, mamanya lah yang rutin mengantar-jemput Sivia. Bukan supirnya.
Sebersit rasa iri timbul di hatinya. Kapan ia akan diantar-jemput mamanya? Setelah matahari terbelah menjadi dua?
***
Ashilla Zahrantiara. Putri tunggal dari keluarga Zahrantiara yang perusahaannya tersebar dimana-mana. Kedua orangtuanya sangat sibuk. Shilla hanya bertemu orangtuanya satu bulan sekali karena kesibukan orangtuanya itu.
Di sekolah, Shilla adalah gadis yang sangat periang dan ceria. Di rumah, bagaikan memiliki kepribadian ganda, ia sangat pendiam. Nyaris tidak pernah berbicara jika tidak penting. Mungkin faktor orangtuanya yang sangat sibuk itu. Ia sangat kesepian. Seringkali ia merutuki rumahnya yang terkesan mewah namun sepi itu.
***
Shilla duduk sendirian di bukit itu. Seperti malam-malam biasanya. Merenung. Menerawang.
“Mama sama Papa apa kabar? Masih inget sama aku, Ma? Pa?” Shilla berbicara pada bintang-bintang di langit malam itu.
Bulan kedua, Shilla belum lagi bertemu mama dan papanya.
“WHOAAAAA!!” Teriak seseorang persis di belakang Shilla. Shilla mengernyit heran. Tumben-tumbennya ada orang di bukit ini. Biasanya hanya Shilla sendiri yang berada di bukit ini. Tapi sebodo lah. Shilla juga tidak peduli. Shilla hanya sedang ingin menenangkan hatinya yang rindu pada Mama dan Papanya yang entah berada di negara bagian mana sekarang.
“Gila lo! Udah cewek, rambutnya panjang, pake baju putih, sendirian lagi di tempat kayak gini! Sumpah gue kira lo kuntilanak atau genderuwo atau apa lah itu hantu-hantu.” Kata seseorang tadi di belakang Shilla.
Shilla menoleh. Hanya ingin tahu siapa yang mengganggu ketenangannya.
“Lah? Elo?” Seseorang itu menggaruk kepalanya ketika mendapati Shilla, orang yang dikenalnya. Orang itu duduk di sebelah Shilla yang tidak menanggapinya sama sekali.
“Gue lagi gak mau cari ribut sama lo, Nyuk.” Kata Shilla pelan.
“Nyuk? Siapa deh lo sok kenal amat sama gue.” Orang itu –Rio ngedumel sendiri.
“Gue lagi gak mau bercanda.” Shilla memalingkan wajahnya.
“Apaan sih lo? Lo siapa sebenernya? Pernah kenal?” Rio menatap wajah Shilla yang –walau malam hari pun tetap terlihat cantik. Ya. Rio tidak dapat berbohong kali ini.
“Shilla. Ashilla Zahrantiara.” Jawab Shilla sekenanya. Malas ditanya-tanyai lagi dengan orang yang –sok- amnesia.
“Shilla? Shilla temen sebangku gue yang bawel kayak bebek itu? Wakakakak jangan ngaku-ngaku lo! Shilla yang gue kenal mah gak pernah sedih kayak gini! Orang kerjaannya ngakak mulu kalo di sekolah. Malah Shilla yang gue kenal gue kira orang gila! Bukan orang stress yang pendiem dan suka menyendiri gini.” Rio terus nyerocos. Namun tatapan Shilla tetap fokus ke depan. “Bek?” Rio melambaikan tangannya di depan wajah Shilla hingga Shilla tersadar dari lamunannya.
“Lo ngapain sih ngelamun-ngelamun di tempat sepi kayak gini? Kesambet aja hiiiy merinding gue.” Rio bergidik ngeri.
Shilla langsung bangkit dari duduknya dan berlari meninggalkan Rio.
“Woy! Bebek! Mau kemana lo?” Teriak Rio. Namun Shilla sudah berlari jauh.
Rio menatap punggung Shilla yang berlari semakin jauh. Jantungnya bergetar kecil.
“Lah? Gue kenapa?” Rio memegangi dadanya sendiri dengan bingung.
***
Shilla membuka akun twitternya sesampainya ia di rumah lewat handphonenya kemudian ia membuka “Replies & Mentions”.
riostevadit: @ashillazhrtiara masa tadi gue ketemu kembaran lu. Mirip bgt sm lu sumpah tp dia kgk bawel kyk lu!
Shilla tersenyum membaca mention dari Rio tersebut. Eh? Tersenyum? Untuk Rio? Cih. Shilla langsung mengubah ekspresinya dan membalas mention dari Rio itu.
@riostevadit apaan sih lo lawak bgt HA-HA lucu
Shilla langsung menutup akun twitternya itu untuk berangkat tidur sebelum handphonenya bergetar. Ada BBM –Blackberry Messenger masuk ke handphonenya.
Shilla langsung membuka bbm nya.
‘Paling Cuma BM –Broadcast Message-‘ pikirnya.
Namun perkiraan Shilla tadi salah. Seorang contact bbm nya yang bernama “Rio Haling” menyapa bbm nya.

Rio Haling: Woy

Shilla mengerutkan keningnya. Ia tiduran di ranjangnya lalu membalas bbm Rio tersebut.

Ashilla Zahrantiara: Apasih fans?
Rio Haling: Itu beneran lo tadi yg di bukit?
Ashilla Zahrantiara: Knp sih lo pgn tau bgt
Rio Haling: Y udh sih spele gt doang ngambek dasar bbk
Ashilla Zahrantiara: Kangen sama gw blg aja kli gausah pk alibi nanya2 gtuan
Rio Haling: Ih sry ya amit2 jabang baby gw kgn sm lo cih :&
Ashilla Zahrantiara: Tau ah ap kt lo. Bye nyuk bad dream ya ;p

Shilla segera menaruh handphone di laci kamarnya kemudian mulai memejamkan mata.
***
Rio tersenyum membaca pesan terakhir dari Shilla. Ah, gadis itu. Setelah beberapa saat, kemudian Rio tersadar lagi.
‘Duh gue kenapa sih? Kenapa gue jadi kayak deg-degan terus?’
Rio berjalan ke jendela kamarnya kemudian membuka jendela itu. Udara malam membuat rongga paru-parunya terasa segar.
“Ya ampun! Kok gue baru kepikiran ya? Kenapa tadi si Shilla keliatan sedih gitu? Jangan-jangan yang gue liat di bukit tadi emang Shilla jadi-jadian lagi! Hiiiyyy..”
Karena ketakutan, Rio akhirnya menutup jendelanya lagi dan segera tidur.
***
“Masa ya, Shill. Kemaren gue liat tas lucu banget! Lo mau yaaa temenin gue nanti beli tas itu! Sumpah deh lucu banget!” Sivia memohon-mohon pada Shilla yang lagi-lagi sedang menyalin PR milik Patton.
“Hmm...” Shilla tampak berpikir. “Minta anter yang lain aja ya? Gue males nih, Vi. Ngantuk banget hari ini.”
“Alah alesan aja. Bilang aja lo mau jadi zombie di bukit itu kemaren ya?” Tiba-tiba sebuah suara berkomentar.
“Lo apaan sih nimbrung aja!” Tanpa menoleh pun, Shilla tahu siapa yang sudah ikut-ikutan perbincangannya dengan Sivia.
“Mulut mulut gue! Emang lo yang ngatur? Emang ada larangan dari pemerintah? Emang dosa?” Rio semakin ngotot.
“Yayaya apa kata lo deh emang gue pikirin.” Shilla melengos.
“Zombie? Maksud lo apaan sih, Yo?” Tanya Sivia dengan pandangan penasaran pada Rio.
“Eh nggak! Itu lo percaya aja sama dia. Iya deh ntar gue anterin lo beli tas itu.” Kata Shilla sebelum Rio menjawab pertanyaan Sivia.
“Nah gitu dooong, Shill!” Sivia tersenyum puas.
“Mau aja, Vi. Dianterin sama dia.” Rio memasang earphonenya.
“Berisik banget sih lo! YOU KNOW WHAT? AN-NOY-YING!” Shilla mencubit lengan Rio.
“AW AW AW!” Rio meringis kesakitan lalu melihat lengannya yang membiru. “Emang edan lo ya, bek! Gak bisa liat orang seneng dikit ya?”
“NGGAK! Terus kenapa?” Shilla menjulurkan lidahnya kemudian melanjutkan menyalin PR Patton.
Sivia hanya tertawa melihat tingkah kedua teman sekelasnya itu.
“Jangan gitu kalian! Ntar benci jadi cinta lho! Kata orang-orang, benci sama cinta itu bedanya tipis banget!” Sivia tersenyum geli saat melihat Rio yang malah asyik mendengarkan lagu dan Shilla yang asyik menyalin PR Patton pura-pura tidak mendengar perkataan Sivia. Sivia yakin 100% bahwa Shilla dan Rio sama-sama mendengar kata-katanya.
“Kalian cocok kok!” Sivia tersenyum geli lagi saat melihat kini keduanya melotot kearahnya. Sivia langsung membuat tanda peace dengan jarinya. Lagian, Sivia tidak sepenuhnya berbohong kan? Shilla dan Rio itu memang cocok!
***
“Psst...ssstt...” Rio menyikut Shilla yang sedang asyik mengerjakan soal ulangannya.
“Ish apaan sih?” Shilla yang merasa terganggu menoleh pada Rio.
Rio membuat angka “3” dengan jarinya dengan wajah memelas. Shilla menggeleng kasar kemudian mulai asyik mengerjakan lagi.
“Ssstt... Woy...” Bisik Rio sambil menyikut Shilla lagi.
“Apaan sih lo?” Geram Shilla.
“RIO! SHILLA! Peringatan pertama!” Pak Duta memberikan peringatan pertama pada Shilla dan Rio.
“Elo sih!” Shilla mengerucutkan bibirnya lucu.
***
“Ah gila lo! Pelit dasar!” Rio menempeleng kepala Shilla seusai ulangan hari itu selesai.
“Apaan sih lo? Gak sopan tau gak?!!” Shilla bersiap untuk mencubit lengan Rio lagi.
“Gak lagi deh!” Rio menahan tangan Shilla yang hendak mencubitnya.
“Ergh rese banget sih lo!” Shilla menghentakkan kakinya sebal lalu mengeluarkan handphone dari sakunya.
Ada bbm masuk. Shilla segera membacanya.

Sivia Azizah: Shill gw k kantin dluan brg ify. Td gw mau ngajak lo tp ga enak lo lg sm Rio hhe piss ._.v

“IIIIH gara-gara lo sih!!!” Gerutu Shilla kesal sambil menoleh ke arah Rio.
“Apaan sih! Gue gak ngapa-ngapain juga!” Dengan santainya Rio memasang earphonenya.
“Gue jadi ditinggal Sivia kan! Uh dasar nyebelin!” Shilla terus ngedumel sambil berjalan terus keluar dari kelasnya menuju kantin.
Rio yang bingung hanya menggeleng-geleng kepalanya. Lalu memejamkan matanya mendengarkan lagu yang sedang terputar di iPodnya.

Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Oh... Karena hati telah letih


Rio segera membuka matanya.
“Lagu ini kok...”

=To Be Continued=

Yea cerbung gue datang lagi hahaha. Baru part pertama nih belum panas (?) yang jelas kalian harus ninggalin jejak kalian yaaa cuma buat informasi aku kalo kalian udah baca part ini (?) sumpah kalo kalian comment saya akan senang sekali hahaha. By the way, keep reading ya :p tunggu part 2 nya :)

Friday, April 8, 2011

Just The Way You Are (Part 3B)

“Ya ampun ini orang-orang pada kemana sih?” Gabriel menggerutu agak kesal. Karena sejak tadi pintu rumah Sivia tak kunjung dibukakan oleh Bik Minah ataupun Sivia.
Rumah Sivia pagi itu terlihat sangat sepi.
Gabriel mulai cemas. Tiba-tiba ponselnya berdering.
Dengan cepat Gabriel mengangkat telepon itu.
“Halo... Bik Minah?... Bik ak.... Apa?!! Sivia masuk rumah sakit lagi?!!... Hah?... Permata hati?... Iya iya aku kesana... Iya bik iya... Ngajak Saras?... Lho? Buat apa?... Sivia?... Aduh ada apa lagi sih?... Ya udah iya... Oke.”
Klik!
Gabriel pun segera memasuki mobilnya dan pergi ke sekolahnya.
***
“Yel, kita mau kemana sih?” Saras bertanya pada Gabriel yang sedang berkonsentrasi menyetir di sebelahnya.
“Udah deh lo gak usah banyak tanya. Gue lagi buru-buru nih!” Gabriel tetap memfokuskan pandangannya ke depan.
“Lo mau ngajak gue balikan ya?”
“Amit-amit! Kalo bukan karena Sivia, gue gak mau ngajak lo! Apalagi ngomong sama lo!”
“Ih lo kenapa sih? Orang gue nanya baik-baik! Sivia lagi Sivia lagi! Emang selalu dia kan yang bikin kita kayak gini?” Saras merengut.
“Shut Up! Jangan pikir gue gak tau kalo yang nyelakain dia waktu itu tuh elo!” Gabriel mulai tidak sabar.
“Gue? Helloooo gak salah?”
“Gak usah banyak bacot lo! Gue tau semuanya! Apalagi menyangkut Sivia!” Gabriel terlihat sangat menahan emosinya.
***
“Bik! Bik! Sivia dimana, Bik?” Gabriel menyerbu Bik Minah yang terduduk di depan sebuah ruangan bertuliskan “UGD” di pintunya.
“Mas, Non Sivia di dalem. Tadi waktu mau berangkat sekolah dia pingsan, Mas. Terus dia mimisan.” Jawab Bik Minah dengan suara bergetar.
“Ya ampun! Kenapa bisa gini sih?” Terlihat nada kekhawatiran dari kata-kata Gabriel.
“Sebelumnya, Non Sivia bilang kalo dia masuk rumah sakit lagi, bibik disuruh telepon Mas Gabriel terus Mas Gabriel disuruh ngajak Mbak Saras.” Bik Minah menyampaikan pesan dari majikan yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.
“Semoga Sivia baik-baik aja...” Gabriel mondar-mandir tak sabar. Sesekali ia melihat pintu ruang UGD itu.
Saras sibuk menekan-nekan keypad handphone nya. Kesal, ia mulai berchatting ria dengan kedua sobat kentalnya. Ya, mereka mengadakan conference chat.

Regina Saras: Guysssss gue di RS bareng gabbbbb! 
Ashilla Zahrantiara: Mi ape? Bgs dong!
Regina Saras: Bagus apanya? Orang gab jenguk si cewek itu -_-
Agatha Pricilla: Lah? Trs? Lo ngpain ikt?
Regina Saras: Gue diajak paksa sm dia. Td nya gw seneng. Ternyata ksini mls bgt gw
Agatha Pricilla: Skt ap lg dia? Hahaha bgs lah dia pnyakitan kali
Ashilla Zahrantiara: Parah hahah lol =)) tp bnr jg sih 

“Ada yang namanya Gabriel dan Saras?” Tiba-tiba seorang dokter keluat dari ruang UGD.
“Saya Gabriel dok!” Jawab Gabriel. Saras segera memasukkan HP nya dan menghampiri dokter itu.
“Oh adik ini namanya Gabriel. Lalu kamu Saras?” Tanya dokter itu pada Saras.
Saras mengangguk tak acuh.
“Dik, pergunakan kesempatan ini sebaik mungkin ya.” Dokter itu berlalu pergi. Tanpa tahu maksudnya, Gabriel masuk ruangan itu diikuti Saras.
“Sivia...” Gabriel menghampiri Sivia. Sedangkan Saras tepat di tempatnya.
“Iel... Aku... Aku udah gak tahan lagi.” Sivia menghela nafasnya berat.
“Apa maksud kamu, Vi? Kamu gak boleh ngomong gitu!” Gabriel mulai khawatir. Ia memegang tangan Sivia erat.
“Aku gak bakalan hidup lama lagi. Aku... sa... yang... sama... kamu...” Ucap Sivia terbata.
“Aku sayang sama kamu juga, Vi. Kamu gak boleh ngomong gitu dong!” Gabriel panik.
Sivia menggeleng putus asa.
“Aku capek. Lebih baik aku pergi, Yel. Tuhan lebih sayang sama aku. Makasih buat semuanya ya, Yel. Aku gak bisa ngomong apa-apa lagi selain makasih dan... maaf. Maaf buat semua kesalahan aku.”
Gabriel menggeleng. Sekuat mungkin ia menahan airmatanya.
“Saras...” Sivia memanggil Saras pelan. Dengan ragu, Saras menghampiri ranjang Sivia dan berdiri di sisi kiri ranjang itu. Berhadapan dengan Gabriel yang berdiri di sisi kanan ranjang Sivia.
“Ras... Maafin aku ya... Maaf kalo aku udah bikin hubungan kamu sama Gabriel hancur. Aku bener-bener minta maaf. Aku... aku udah gak kuat lagi. To... tolong jaga Gabriel ya. Buat dia menjadi yang lebih baik.” Sivia meraih tangan kanan Saras dan tangan kiri Gabriel. Kemudian ia menyatukan tangan Gabriel dan Saras.
“Kalian harus bersatu lagi. Aku yakin kalo kamu itu sebenernya baik, Yas. Gabriel, kamu jaga Saras ya, dan Ras, kamu juga jagain Gabriel. Kalian harus bersatu. Ini pesan dari aku. Iel, kamu baik-baik sama Ayas. Jangan pernah kecewain dia. Aku emang akan pergi. Tapi jangan lupain aku. Seenggaknya, simpen aku dalam hati kamu yang paling dalam, di sudut hati kamu. Salam buat semua temen-temen kita ya. Bilang makasih sama mereka semua dari aku. Dan bilang maaf sama mereka soal semua kesalahan aku. Gab...riel... Jangan sedih. Jangan takut kehilangan aku. Kalo kamu liat bintang, liat bintang yang paling terang. Itu aku. Aku bakal terus ada walaupun dalam wujud yang ber.....bed......a.” Sivia memejamkan matanya perlahan lalu menghembuskan nafas terakhirnya.
“Vi... Bangun, Vi... Vi! Bangun! Jangan tinggalin aku, Vi! Via!” Gabriel histeris. Tanpa bisa dibendungnya, Gabriel meneteskan air matanya.
Sivia pergi. Meninggalkan Gabriel yang kecewa karena belum sempat mengungkapkan perasaannya. Meninggalkan Saras yang menyesal dalam hatinya. Meninggalkan Bik Minah yang menangis di ambang pintu ruang UGD. Meninggalkan mama dan papa nya yang bahkan belum juga hadir. Meninggalkan dunia ini... Untuk selama-lamanya. Meninggalkan semuanya......
***
Pemakaman Sivia terasa begitu lama bagi Gabriel. Ia terus saja menunduk. Menatapi batu nisan Sivia. Mama dan Papa Sivia hadir. Mereka meneteskan bulir-bulir air mata. Ada perasaan menyesal dalam hati mereka karena belum bisa membahagiakan anak tunggal mereka. Saras, Shilla, dan Pricilla hadir. Menyesal. Mereka tidak menyangka bahwa ternyata Sivia adalah gadis yang sangat baik hati. Ada Ify. Ia yang paling histeris. Kehilangan sobat kentalnya. Kehilangan teman sebangkunya yang selalu tersenyum. Sebenarnya Gabriel yang paling histeris. Namun ia menyimpan histerianya itu dalam hati. Ia tidak mau membuat Sivia sedih. Ada Rio, Cakka, dan teman-teman sekolah yang lainnya. Guru-gurupun turut hadir dalam pemakaman itu.
“Iel... Udah ya, jangan sedih lagi. Nanti Sivia ikutan sedih.” Saras menatap Gabriel yang menggandeng tangannya.
Gabriel tersenyum kecil.
Inikah yang disebut Happy Ending? Gabriel rasa tidak. Tapi setidaknya, seiring dengan berjalannya waktu, Gabriel akan melupakan kesedihan dan luka di hatinya. Semoga. Tapi ia berjanji, akan menyimpan Sivia selalu dalam hatinya. Di sudut hatinya yang terdalam.
-THE END-

Epilog
Bulan pun terus berganti. Seiring dengan berjalannya waktu, Gabriel mulai dapat melupakan kesedihan hatinya.
Malam itu, ia dan Saras sedang duduk di sebuah bukit. Ya. Bukit kenangannya dengan Sivia.
“Sivia....” Ujar Gabriel sambil menatap langit di atasnya.
“Sivia? Mana?” Saras agak merinding ketika menyadari kekasihnya itu memanggil nama Sivia.
Gabriel menunjuk ke arah bintang yang paling terang di langit.
“Kamu inget, Yas? Sivia pernah bilang, kalo kita liat bintang dan ada bintang yang paling terang, bintang yang paling terang itu dia. Dan itu... Kamu liat bintang itu? Itu bintang yang paling terang di antara semua bintang. Itu Sivia, Yas!” Seru Gabriel.
Saras tersenyum.
“Ya. Dia pasti seneng bisa liat kamu senyum lagi.” Saras tersenyum. Dalam hati ia sangat senang dapat kembali lagi bersama Gabriel. Dan... Siapa yang paling berjasa dalam urusan hatinya itu? Shilla? Pricilla? Bukan! Tentu saja... Sivia! 
=======
Mihihi akhirnya selesai juga cerbung saya yang satu ini. Aneh ya? Emang-_- ini kan cerbung gagal total yang nekat saya post wakakaka. Oke lah. Kalo begitu tetap saya tunggu saran dan komentarnya ya :3 Bisa lewat mana aja haha blogwalking, twitter, FB, fme, YM, MSN, FME, dll. ;3 And btw, maaf ya judul sama isi ceritanya gak ada nyambung-nyambungnya hahaha abis gak kepikiran judul lain -___- Okay bye all see you!

Cheers,
Your majesty, Valisha ;3

Just The Way You Are (Part 3A)

“Gini ya, Vi, rasanya naik Bus Way? Sempit banget sih! Kok lo betah naik kayak gini?” Tanya Gabriel saat mereka berada di dalam Bus Way.
“Hahaha aku kan udah biasa, Yel.. Mungkin kamu belum biasa..”Jawab Sivia.
Mereka pun berkeliling Jakarta dengan menggunakan Bus Way lalu turun saat sampai di tempat semula mereka menaiki Bus Way itu.
***
“Yel, aku selalu suka tempat ini. Tempatnya tenang dan damai banget.” Ujar Sivia ketika mereka berada di sebuah bukit. Pulang dari Pasar Malam tadi, Gabriel tidak ingin langsung pulang. Jadi, Sivia mengajak ke tempat favoritnya ini.
“Iya... Tapi kan sepi! Kamu nggak takut apa?” Tanya Gabriel.
“Hahaha... Ngapain mesti takut sih? Aku yakin tuhan ngelindungin aku..” Sivia tertawa.
“Vi, Kamu kok..... pucet?” Gabriel melihat bibir Sivia yang memutih.
“Pucet? Ah nggak kali.. Perasaan kamu doang paling.” Sivia tersenyum.
‘Ya tuhan, buat aku bertahan. Jangan sampai aku pingsan disini. Aku gak mau buat Gabriel cemas..’
Meskipun begitu, Gabriel tetap khawatir akan kondisi gadis disampingnya ini.
***
Tok Tok Tok!
“Non! Temannya jemput non! Non!” Bik Minah mengetuk pintu kamar Sivia.
“Temen aku?” Tanya Sivia saat membuka pintu kamarnya.
“Iya, Non. Temen non yang kemarin..” Jelas Bik Minah.
“Oh... Suruh tunggu aja deh bik..” Sivia kembali ke kamarnya dan mematut dirinya di depan cermin. Setelah merasa rapi, ia menemui Gabriel di bawah.
“Iyel? Kamu ngapain?”
“Ngapain? Jemput kamu lah..”
“Jemput? Aku perasaan gak minta deh... Sebelumnya kamu juga gak bilang!” Sivia menatap Gabriel heran.
“Ya nggak apa-apa kan kalo aku jemput kamu? Gak ada yang marah kan? Ehm... Maksudnya, kamu gak punya pacar kan?” Gabriel meyakinkan.
“Pacar? Hahahah nggak kok belum...” Sivia tersenyum lagi.
“Ya udah kita berangkat aja yuk.”
***
“Ras, kita gak bisa gini terus. Makin lama makin parah tau gak tu anak!” Pricila menatap Saras tajam.
“Pris! Gue mesti gimana lagi sih? Ayo lah... Lo kan biasanya ada otak kalo kayak ginian.” Saras berpikir keras.
“Shill! Udah dulu dong teleponannya! Saras lagi butuh kita. Cakka gak bakal kemana-mana kok!” Pricila menatap Shilla kesal.
“Hmm... Ya udah dulu ya sayaaang I miss you! Muah!” Shilla menekan tombol untuk memutuskan hubungan telepon.
“Gini deh. Ini rencana terakhir. Dan gue yakin, kali ini rencana kita bakal berjalan lancar dan sukses. Hmm... Sini-sini...” Pricilla menyuruh kedua temannya mendekat.
***
“Iya, Yel. Aku harus fotokopi ini dulu di seberang sekolah.” Sivia menunjukkan selembar kertas pengumuman yang berada di tangannya.
“Ya udah. Kalo selesai fotokopi, tungguin aku ya. Aku masih harus latihan basket.”
“Oke deh!”
Sivia pun berjalan menjauhi Gabriel.
Sejenak Gabriel merasa perasaannya tidak enak. Entah apa yang mendorongnya akhirnya ia berjalan mengikuti Sivia.
***
Sivia menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah merasa jalanan sudah cukup sepi, ia menyeberang.
Sebuah sedan berwarna hitam melesat dengan cepatnya. Belum sempat Sivia menghindar, mobil itu menabrak Sivia.
“VIA!!!!!!!!!!!!!” Gabriel berteriak histeris.
Mobil sedan itu terus melaju. Sivia masih setengah sadar ketika orang-orang mulai mengerubunginya dan suara Gabriel menyapanya panik...
***
“ERGH!!!! Saras emang keterlaluan!!! Apa sih maunya dia?!!” Gabriel terduduk di sebuah kursi panjang di lorong Rumah Sakit. Ia mengacak rambutnya sendiri. Dalam hati ia sangat cemas dengan keadaan Sivia.
Krieettt..
Pintu ruang UGD dibuka. Seorang dokter yang menangani Sivia keluar dari ruangan itu. Gabriel langsung menghampiri dokter itu.
“Dok, gimana keadaan Sivia?” Tanya Gabriel panik.
“Maaf, dik. Apa adik ini keluarganya Sivia?” Tanya dokter itu.
“Hmm... Bukan, dok. Saya... Saya temen sekolahnya.” Jawab Gabriel.
“Apa kamu sudah menghubungi orangtua Sivia?” Tanya dokter itu lagi. Gabriel menggeleng.
“Mama sama papa nya Sivia lagi ke luar negri, Dok.” Jawab Gabriel teringat cerita Sivia tadi siang, sebelum insiden itu terjadi.
“Apa kamu sudah menghubungi Bik Minah?”
Lagi-lagi Gabriel menggeleng.
“Oh.. Baiklah kalau begitu, kamu ikut saya ke ruangan saya ya.” Dokter itu melangkah mendahului Gabriel.
***
“Jadi........ Sivia punya penyakit liver, Dok?!!” Gabriel terkejut bukan main. Ternyata gadis yang dikaguminya itu...
Dokter mengangguk-angguk.
“Kebetulan, Sivia adalah pasien saya. Setiap bulan dia control disini. Memang saya tidak pernah melihat kedua orangtuanya. Saya lebih sering melihat Bik Minah yang mengantar Sivia.” Dokter itu bercerita. “Sivia mengidap penyakit ini. Tepatnya semenjak umurnya 5 tahun. Saat itulah dia datang pada saya.”
“Lalu... Gimana keadaan Sivia sekarang dok? Apa dia baik-baik aja? Dia gak apa-apa kan dok?” Gabriel menatap dokter itu penuh harap.
Dokter menggeleng-gelengkan kepalanya putus asa.
“Untuk sementara waktu, Sivia terpaksa menginap di Rumah Sakit ini, Dik. Karena dia...” Dokter sengaja menggantung kalimatnya. Takut-takut Gabriel tidak dapat menerima kenyataan ini. “Dia koma.”
Gabriel melongo tidak percaya. Semua terasa seperti mimpi.
“Apa? Koma, Dok? Tapi.... Tapi berapa lama?!!” Gabriel mulai putus asa.
“Ya. Koma. Tidak ada yang tahu berapa lama. Bisa dalam hitungan jam... hari... minggu... bulan... atau bahkan tahun.” Jelas dokter.
Gabriel menggeleng-geleng tak percaya. Ia memijit-mijit pelipisnya yang terasa pusing. Tidak menyangka akhirnya akan seperti ini.
***
Gabriel terus memandangi tubuh Sivia yang terbaring tak bergerak. Menelusuri setiap lekukan wajahnya. Membuat Gabriel serasa terpukul. Senyumnya yang selalu membuat hati Gabriel berdesir, kini tidak dapat dinikmati Gabriel lagi.
“Vi... Bangun dong. Aku nungguin kamu terus nih sampai kamu sadar..” Gabriel mengelus lembut tangan Sivia.
Drrrttt... Drrttt...
Gabriel meraih ponselnya lemas.

From: Rio
Ieeeellll lo kemana ajaaaaaa td knp ga latihan? Anak2 pada nyariin lo!

Gabriel segera membalas pesan singkat itu.

To: Rio
Yo, maaf gw td gbs dtg latihan. Ada sesuatu. Bsk ksini ya, RS permata hati

Gabriel menghela nafas. Pandangannya kosong.
“Vi... Aku bakal nungguin kamu sampe kamu sadar. Berapa lamapun kamu bakal sadar.”
***
Gabriel mengucek matanya. Ia tersenyum pada suster yang baru saja membuka tirai gorden kamar Sivia.
“Pagi, sus.”
“Pagi, dik.” Suster itu balas tersenyum lalu keluar dari kamar Sivia setelah permisi pada Gabriel.
Gabriel menatap tubuh gadis itu lagi.
Hari kedua.
“Vi, ini hari kedua. Aku berharap banget kamu sadar hari ini, Vi.” Gabriel mengusap rambut Sivia yang panjang.
Seharusnya, hari ini Gabriel berangkat ke sekolah. Tetapi ia buru-buru berpesan pada Rio supaya Rio bilang pada Bu Okky bahwa Gabriel izin.

To: Rio
Yo tlg blg bu okky gw g msk hr ini. Jgn lp plg sklh ksni. Gw mw pnjem ctetan.

***
Gabriel terus menunggu. Tak henti-hentinya ia berdoa agar Sivia cepat sadar.
Dalam hati Gabriel terus merutuki Saras. Ia benar-benar tak habis pikir bahwa mantan gadisnya itu dapat berbuat nekat seperti kemarin.
Gabriel menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Rasanya sumpek. Ia butuh udara segar, namun ada yang lebih penting. Ya, menjaga Sivia sampai gadis itu sadar.
Ia memandang pakaiannya. Masih menggunakan seragam sekolahnya yang kemarin.
Kemudian ponselnya berdering.
“Halo... Iya ma... Nggak kok... Ih nggak iel gak ke tempat itu lagi... Iel lagi nemenin temen iel di rumah sakit... Iya iel izin... Koma ma... Please dong maaa jangan over gitu, iel gak apa-apa kok... Oke... Ya, Bye...” Iel mengakhiri percakapan dengan mamanya lewat telepon itu.
***
Tok! Tok!
Gabriel membuka pintu kamar rawat Sivia, tahu siapa yang baru saja mengetuk pintu kamar itu.
“Siapa sih, yang sakit? Sampe lo bela-belain izin gitu?” Rio mengikuti langkah Gabriel yang lesu. Kemudian ia terkejut ketika mendapati Sivia terbaring lemah di kasur Rumah Sakit itu.
“Sivia?!!” Ify, kekasih Rio sekaligus teman sebangku Sivia terkejut juga melihat Sivia terbaring. “Iel kenapa lo ga bilang kalo yang sakit itu...”
“Hhh... Ceritanya panjang Fy, Yo..”
Kemudian Gabriel mulai bercerita dengan sangat detail tanpa ada yang kurang sesuatu apapun, begitupun tentang kekesalannya pada Saras.
“Sabar, iel... Ambil hikmahnya aja... Lo sayang sama Sivia kan?” Rio bertanya tepat pada sasaran.
Gabriel bungkam. Sesuatu yang tak pernah terpikir oleh otaknya. Ia-Sayang-Sivia.
“Oke oke. Lo belom makan dari kemaren kan? Kalo gitu kita makan dulu yuk di bawah ada kantin.” Rio menatap Gabriel yang sedang melamun.
“Nggak deh, Yo.” Gabriel menggeleng.
“Ayolah, yel. Sivia gak akan seneng kalo nanti pas dia sadar, lo malah sakit gara-gara lo gak mau makan karena jagain dia. Gue yakin, lo pasti laper kan?” Rio sedikit memohon.
Gabriel berpikir sejenak.
“Boleh minta tolong, Yo? Gue mau makan, tapi disini aja. Lo mau beliin buat gue? Ini uangnya...” Kata Gabriel sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas.
Rio mengangguk.
“Mau makan apa?” Tanya Ify.
“Apa aja.” Jawab Gabriel.
Rio mengangguk lagi. Akhirnya ia dan Ify keluar dari kamar rawat Sivia.
“Kamu liat kan, Vi? Mereka khawatir sama kamu. Apalagi aku...” Ucap Gabriel sambil mengelus rambut Sivia.
***
Tak lama setelah Rio dan Ify pulang, terdengar lagi suara ketukan pintu.
Tok! Tok!
Gabriel dengan malasnya membukakan pintu. Ia sedikit terkejut ketika didapatinya Cakka berdiri di depan pintu kamar rawat Sivia.
“Iel my brother! Kemana aja lo?” Tanya Cakka menepuk-nepuk pundak Gabriel.
“Ngapain lo disini? Tau darimana gue ada disini?” Gabriel bertanya balik.
“Halaaaah santai ajaaaa. Lo gak tau gue punya banyak mata bahahah... Eh gue denger-denger Sivia kecelakaan ya?”
Gabriel melengos. Tak tahukah temannya yang satu itu bahwa kekasihnya adalah salah satu komplotan Saras yang telah berhasil mencelakai Sivia?
“Hey bro! Daripada lo stress gini nungguin Sivia yang gak tau kapan bangunnya dan lo tersiksa karena lo butuh udara segar, kita clubbing aja yukkkk! Tempat biasa loooh!” Cakka berujar.
“Halah, Kka... Gue udah ga clubbing lagi. Gue udah berhenti.” Kata Gabriel.
“Ayo lah, Yel. Sekali lagi aja. Ini terakhir gue ngajakin lo deh janji. Yuk yuk!”
“Nggak, Kka... Gue udah gak mau pergi kesana lagi.”
“Please, Yel. Nih yaaa daripada lo berantakan gini kayak orang stress, mending lo ikut gue. Ayooo sekali ini aja, Yel.” Cakka tetap memaksa.
“Kka.. Kalo lo mau kesana, ya kesana aja. Gak usah ajak gue.” Gabriel menatap Cakka dingin.
“Ah gak asik lo!” Cakka pun pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun.
Gabriel menghela nafas.
“Kamu liat, Vi! Aku udah berhasil nolak ajakan Cakka!” Gabriel tersenyum bangga.
***
Hari demi hari pun dilewati Gabriel dengan sangat sabar. Kadang dia pulang ke rumahnya sebentar untuk mengambil beberapa pakaiannya. Ia pun sudah mulai mau sekolah berkat bujukan Rio dan Ify. Hingga akhirnya, hari itu. Hari ketujuh.
Gabriel sedang membaca komik favoritnya di samping ranjang Sivia. Tangan kanannya memegang komiknya sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Sivia.
Hening.
Sejurus kemudian, tubuh yang sudah terbaring selama tujuh hari itu menggeliat kecil.
Dengan sigap Gabriel menutup komiknya dan menoleh ke arah Sivia. Matanya berbinar. Mulutnya setengah terbuka, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Gabriel menekan-nekan tombol bel yang ada di kamar Sivia. Bel itu memang disediakan untuk memanggil dokter/suster jika ada sesuatu.
Penantian itu tidak sia-sia. Penantian itu berakhir...
***
“Aku........” Sivia memegangi kepalanya yang terasa berat ketika dokter keluar dari kamarnya. “Aku dimana?”
“Sivia, udah kamu jangan banyak gerak dulu.” Gabriel menahan Sivia yang berniat untuk duduk.
“Iel? Aku dimana?” Tanya Sivia.
“Kamu di Rumah Sakit.” Jawab Gabriel tersenyum.
“Rumah sakit? Ngapain aku disini?”
“Udah kamu istirahat dulu. Nanti aku ceritain.”
“Sekarang aja, Yel.”
Gabriel pun menceritakan semuanya. Mulai dari kejadian Sivia yang ditabrak mobil Saras, Gabriel yang mengetahui penyakitnya, Sivia yang koma selama 7 hari, dan lain sebagainya.
“Jadi... Kamu udah tau penyakit aku?” Sivia menunduk.
Gabriel mengangguk.
“Buat apa kamu nyembunyiin itu semua dari aku, Vi?”
“Aku Cuma gak mau, orang-orang di sekitar aku khawatir sama aku.” Sivia menghela nafas.
“Bukan kayak gitu caranya, Vi. Secara gak langsung kamu udah ngebohongin aku.”
“Maafin aku, Yel.”
Gabriel mengangguk.
“Kamu jangan salahin Saras, ya? Ini kan Cuma kecelakaan..” Kata Sivia memandang pemuda tampan di sebelahnya.
“Gimana aku gak salahin dia, Vi? Ini bukan Cuma sekedar kecelakaan! Dia sengaja celakain kamu!” Gabriel melengos.
“Ya udah... Anggap aja ini Cuma kecelakaan.” Sivia tersenyum.
“Kamu tuh, Vi. Kamu itu terlalu baik.” Gabriel berkata sambil menatap Sivia lembut.
“Udah lah, Yel. Gak apa-apa. Eh gimana? Bik Minah gak cariin aku? Kamu bilang aku koma tujuh hari?”
“Bik Minah udah aku hubungin, Vi. Dia juga udah coba hubungin mama sama papa kamu. Tapi gak diangkat katanya.”
Sivia mengangguk wajar.
Gabriel menatap gadis itu nanar. Pandangan gadis itu seolah terluka.
“Mereka bakal khawatirin aku gak ya, Yel, kalo mereka tau keadaan aku kayak gini?” Sivia menerawang.
Gabriel mengangguk bersemangat.
“Pasti, Vi! Orangtua gak ada yang gak bakal khawatir sama anaknya.”
Sivia tersenyum.
“Makasih ya, Yel.” Ucap Sivia tulus.
“Untuk?” Gabriel menatapnya heran.
“Untuk semuanya.” Sivia tersenyum. “Kapan aku bisa pulang?”
“Besok.” Jawab Gabriel.
***
From: Sivia
Aku udh gpp. Jd aku sklh aj.

Gabriel menatap ponselnya bingung. Segera ia membalas pesan singkat itu.
To: Sivia
Ngga! Pokoknya km g blh sklh dulu!

Tak berapa lama kemudian, muncul balasan dari Sivia.

From: Sivia
Aku gpp. Pokoknya ak hrs sklh.

To: Sivia
Ok trsrh km. Tp ak yg jmput km. Tunggu 5 mnt lg y.

Gabriel segera membelokkan mobilnya ke arah rumah Sivia.
***
“Kamu tuh belum sembuh banget, Vi.” Kata Gabriel.
“Aku udah sembuh. Aku gak apa-apa. Kamu liat kan, aku sehat-sehat aja?”
“Duh, kamu tuh gak tau ya aku olahraga jantung tau. Aku khawatir sama kamu!” Kata-kata spontan itu melayang begitu saja dari mulut Gabriel.
Gabriel terkejut sendiri dengan ucapannya. Tapi sudah terlanjur, mau diapakan lagi? Keki juga sebenarnya. Tapi, ya sudahlah.
Sivia hanya tertawa kecil. Semburat merah itu mulai terlihat lagi di pipinya.
***
Gabriel menggandeng tangan Sivia memasuki sekolah mereka.
“OH MY GOD! Shill, Ras! Liat sini!” Pricilla heboh melihat adegan yang baru saja dilihatnya.
Shilla dan Saras segera menghampiri Pricilla dan sama-sama menyaksikan adegan itu.
Saras berdecak kesal.
“Sorry, sorry. Rencana kita gak berhasil lagi. Gue udah bener-bener kehabisan akal. Sorry ya gue gak bisa bantuin lo lagi, Ras.” Pricilla tersenyum tidak enak.
“Udah lah, Pris. Mungkin dia emang bukan buat gue.” Mendadak Saras merendahkan diri.
“Lo kok gitu, Ras? Ini gak bisa dibiarin lagi! Kita harus buat rencana baru lagi! Jangan mau kalah sama cewek murahan itu!” Shilla mengompori.
“Gue gak tau mesti ngapain lagi, Shill.” Saras menggeleng kecewa.
“Aduuuuh udah deh ikutin kata gue aja!” Shilla mulai berpikir keras. “Lo harus terang-terangan nunjukkin ke seluruh murid Taruna Bangsa kalo lo itu masih pacaran sama dia! Toh gossip putusnya Regina Saras dengan Gabriel Stevent belom kesebar kan?”
“Terus?” Saras mulai tertarik.
“Ya udah! Ntar kan orang-orang pada mikir kalo emang cewek itu yang kegatelan!” Shilla tersenyum puas.
“Boleh juga ide lo. Hahaha udah turutin apa kata Shilla aja, Yas!” Pricilla tersenyum lebar.

Saturday, April 2, 2011

Just The Way You Are (Part 2)

Berkali-kali Gabriel meneleponnya semenjak Sivia masuk ke rumahnya. Namun ia selalu Reject panggilan itu hingga akhirnya Sivia mematikan handphone nya.
“Aku nggak seharusnya kayak gitu ke Iyel. Dia udah baik banget. Dia udah nolongin aku. Dia juga nggak salah apa-apa..” Kata Sivia pada dirinya sendiri di depan cermin. Ia memegang pipinya. “Kalau nggak ada Gabriel.. Aku nggak tau sekarang aku kayak gimana..”
Sivia menghela napas lalu mendesah.
“Aku harus minta maaf ke dia secara langsung..”
***
“Iya mba? Cari siapa ya mba?” Tanya seorang paruh baya yang membukakan pintu pada Sivia.
“Aku cari Gabriel.. Dia ada?”
“Oh.. Mba ini temennya Den Gabriel ya? Den Gabriel sedang pergi mba..”
“Gabriel pergi? Hmm... Dia bilang gak dia mau pergi kemana?”
“Wah.. Den Gabriel gak bilang sih mau pergi kemana. Tapi biasanya dulu malam-malam begini dia pergi ke... kemana itu ya mba? Saya juga lupa mba..” Wanita paruh baya itu memasang wajah yang menyesal.
“Club!!” Sivia tiba-tiba berseru.
“Nah iya itu mba! Den Gabriel biasanya pergi ke klep.”
“Aduuuh, Iyeeel.” Sivia mendesah dengan cemas. “Mm... Ibu siapanya Gabriel ya?”
“Saya pembantu yang bekerja di rumah ini, Mba.” Jawab wanita paruh baya itu.
“Bik, Tau nama club yang biasanya Gabriel datengin?” Tanya Sivia panik.
“Maaf, saya kurang tau, Mba.”
“Dia pergi sama siapa?” Sivia bertanya lagi.
“Tadi sih, Den Gabriel pergi sendiri, Mba..”
“Oh, Non. Kalo ndak salah, klep nya itu ada di daerah Tebet.” Si bibik memberi tahu nama suatu daerah di Jakarta.
“Oh gitu ya, Bik. Yaudah Bik, makasih ya bik aku pamit dulu!” Sivia berlari keluar pagar rumah Gabriel dan segera menaiki taksi yang sedari tadi menunggunya.
“Pak, ke club yang ada di Tebet ya pak!” Sivia panik sendiri.
“Wah, Mba. Nama club nya apa ya?” Tanya si supir taksi.
“Saya kurang tau, Pak! Kira-kira yang paling rame dikunjungi aja deh, Pak! Ayo pak jalan pak!”
“Baik, Mba.”
***
Si supir taksi membawa Sivia ke daerah Tebet dan memasuki sebuah club bernama Barbera Club.
“Makasih ya, Pak. Ini uangnya pak.” Setelah menyerahkan uangnya, Sivia langsung berlari masuk ke club itu.
Matanya bergerak kesana kemari, berharap menemukan sosok Gabriel.
“Iyelll... Kamu dimana siiiih..”
Sivia terus berjalan. Lampu kerlap-kerlip dimana-mana. Musik mengalun dengan kerasnya dan orang-orang berjoget ria mengikuti musik dengan setengah tidak sadar karena mabuk.
Tiba-tiba seseorang menubruk Sivia dan orang itu terjatuh.
“Ya ampun!!!!! Iyel!!!!” Sivia kaget mendapati orang yang menubruknya adalah Gabriel. Susah payah ia mengangkat Gabriel keluar dari club itu.
“Gue sayang lo, Sivia. Lo gak seharusnya bikin gue kayak gini.” Gabriel mabok berat. Matanya terpejam setengah terbuka tapi mulutnya terus mengeluarkan kata-kata itu.
“Iyeeeel... Sadar dong, Yel!” Sivia mencegat sebuah taksi yang kosong lalu ia dan Gabriel masuk ke dalam taksi itu.
“Kemana, Mba?” Tanya supir taksi.
“Jalan Kamboja lima nomor sepuluh ya pak!”
“Baik, Mba..”
“Iyel sadar dooong, pleaseeee... Kamu mabok berat!” Sivia menepuk-nepuk pipi Gabriel.
***
“Bik, Aku pulang dulu ya... Kalo ada apa-apa, bibik telepon saya aja. Ini nomornya.” Ucap Sivia memberikan selembar kertas pada bibiknya Gabriel.
“Iya. Makasih banget loh, Mba, udah nganterin Den Gabriel kesini. Bibik bisa kena semprot sama tuan sama nyonya kalau den Gabriel pulang pagi lagi..”
“Iya, bik. Nggak apa-apa kok. Aku pulang ya, bik.” Sivia pun melangkahkan kaki keluar pagar rumah Gabriel dan masuk taksi.
“Aku nggak nyangka ternyata orang seperfect Gabriel yang ketua OSIS dan kapten tim basket sehari-harinya mabok-mabokan.” Batin Sivia.
***
“Biiikkk!!!!” Panggil Gabriel pagi itu. Bibik tergopoh-gopoh menghampiri Gabriel.
“Iya den. Ada apa? Den Gabriel nggak apa-apa kan den?” Tanya bibik dengan wajah khawatir.
“Aku nggak apa-apa, Bik.. Siapa yang semalem nganter aku pulang? Aku nggak nyetir sendiri kan?” Tanya Gabriel heran karena di garasinya tidak terdapat mobil BMW hitamnya.
“Nggak, Den. Yang nganter Den Gabriel itu... Aduh bibik lupa nanya namanya, Den.” Jawab bibik dengan tampang merasa bersalah.
“Aduh, Bik. Gimana cara aku terimakasih sama orang itu kalo aku nggak tau siapa orangnya!” Gabriel menggaruk kepalanya bingung.
“Cewek, Den. Cantik banget orangnya. Kulitnya putih, Rambutnya panjang. Ayu sekali, Den.” Bibik menerangkan ciri-ciri orang yang mengantar Gabriel ke rumahnya.
“Sivia..........................” Gabriel bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan berangkat sekolah.
***
“Vi! Kamu yang anter aku kemarin ya?” Gabriel bertanya dengan mata yang berbinar-binar saat menemui Sivia di ruang OSIS siang itu sepulang sekolah. Namun Sivia tetap diam dan fokus pada layar monitor di depannya.
“Ayo dong, Vi. Aku kan tanya. Kamu harusnya jawab..”
“Bukan.” Jawab Sivia singkat.
“Jangan bohong, Vi. Aku tau kamu yang anter aku pulang kemarin..” Gabriel menatap Sivia dalam. Namun Sivia tetap diam. “Maafin aku, Vi. Kemarin aku stress banget gara-gara kamu marah sama aku. Jadi aku pergi kesana.”
Sivia tetap diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Vi... Ayo dong jangan marah sama aku.”
“Kamu sendiri yang janji nggak bakal dateng ke tempat itu lagi.” Kata Sivia dingin.
“Ya.... Maaf aku ngingkarin janji aku. Aku kemarin bener-bener....”
“Gak usah minta maaf ke aku. Kamu janji sama diri kamu sendiri. Itu artinya kamu harus minta maaf ke diri kamu sendiri..” Sivia mematikan komputernya.
“Gabriel, Maafin aku yaa aku udah ingkar janji sama kamu.. Aku kemarin bener-bener lupa. Aku stress banget kemaren gara-gara cewek cantik depan aku itu marah sama aku.” Gabriel seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Sivia keluar ruangan OSIS.
“Yehh Sivia! VI! VI! Pulang sama siapa?” Tanya Gabriel menyusul Sivia keluar ruangan.
“Sendiri.” Jawab Sivia.
“Ngapain pulang sendiri? Udah pulang sama aku ajaaaa!” Gabriel terus memaksa Sivia agar pulang bersamanya. Namun Sivia tetap tidak mau.
***
Sivia berada di depan rumah Gabriel malam itu. Ia berniat untuk meminta maaf atas segala yang telah diperbuatnya.
“Eh, Mba. Masuk masuk...” Bibik membukakan pintu untuk Sivia.
“Gabrielnya ada kan, Bik?” Tanya Sivia tersenyum ramah.
“Ooooh... Ada ada! Ayo masuk dulu, Mba.”
Sivia pun masuk ke dalam rumah Gabriel dan duduk di ruang tamu.
Rumah Gabriel sangat besar dan mewah. Bibik menaiki tangga yang melingkar untuk mrmanggil Gabriel.
TOK! TOK!
“Den.. Ada temannya, Den..” Bibik mengetok pintu kamar Gabriel. Tak lama kemudian Gabriel keluar dari kamarnya.
“Temenku? Siapa bik?” Tanya Gabriel sambil berjalan menuju ruang TV di lantai atas. Dari sana ia dapat melihat ke bawah.
“Sivia!” Gabriel tersenyum lebar melihat siapa yang datang. Gadis cantik dengan kulit putihnya. Gabriel segera menuruni tangga dan menghampiri Sivia.
“Vi. Tumben kesini! Ada apa nih? Kangen aku ya?” Kata Gabriel dengan pedenya.
“Eh, ng... Aku kesini cuma mau minta maaf kok.. Maaf ya yang masalah dua hari yang lalu itu. Aku nggak bermaksud marah sama kamu kok. Tadinya aku mau minta maaf sama kamu kemaren. Tapi kamu ternyata pergi.. Aku juga minta maaf soal tadi. Aku gak seharusnya marah sama kamu. Itu kan hak kamu mau pergi kemana aja. Aku bukan siapa-siapa kamu.” Ucap Sivia lalu tersenyum.
“Aduuuh udah deh serius banget nanggepinnya. Aku nggak apa-apa kok. Harusnya aku yang minta maaf sama kamu. Aku udah buat kamu kayak gini. Kemaren juga aku makasih banget sama kamu, soalnya kalo nggak ada kamu aku nggak ngerti deh gimana nasib aku sekarang. Aku nyesel banget kemarin dateng ke tempat itu lagi..” Kata Gabriel.
“Ya udah deh. Aku cuma mau sampein maaf aku aja kok. Aku pulang dulu yaa..” Sivia tersenyum dan hampir balik badan.
“Eh tunggu dong! Gak enak banget masa kamu kesini cuma mau gitu doang? Kamu belom makan kan?” Gabriel menerka-nerka asal.
“Belom, makanya ini mau pulang..” Jawab Sivia.
“Udah makan disini aja ya? Bik Sum udah masak enak loh. Aku juga gak mau makan sendirian. Abis makan kamu anterin aku ya?” Pinta Gabriel.
“Anterin? Kemana?” Tanya Sivia.
“Udah pokoknya kamu ikut aja. Sekarang makan dulu ya?” Gabriel menarik tangan Sivia ke ruang makan. Karena ditarik, Siviapun terpaksa mengikuti permintaan Gabriel.
***
“Kita mau kemana?” Tanya Sivia setelah mereka selesai makan.
“Aku mau ngajak kamu liat Jakarta kalo malem..” Jawab Gabriel.
“Kenapa kamu nggak sendiri aja?”
“Gak mau. Aku mau ditemenin. Nggak asik banget kalo Cuma sendirian.”
“Kita naik apa?” Tanya Sivia lagi.
“Jalan kaki ya? Pulangnya naik taksi... Hehehe..”
“Hmm... Ya udah. Tapi ntar kamu anter aku pulang ya? Harus selamat loh!” Ancam Sivia.
“Siap tuan putri... Hahahaha..”
***
“Bagus banget ya, Yel! Jakarta kalo malem.. Bertahun-tahun aku tinggal disini, aku tetep ngagumin Jakarta..” Kata Sivia begitu mereka sampai di bunderan HI.
“Kenapa?” Tanya Gabriel penuh selidik.
“Jakarta itu ibu kota. Banyak banget orang yang mau kerja disini. Kota ini seolah-olah jadi kota mimpi. Aku kagum sama Jakarta karena kalo siang, Jakarta keliatan sibuk banget! Kendaraan, orang jualan, pengamen, pengemis, pejalan kaki, gedung-gedung tinggi... Semua campur jadi satu. Kalo pas malem... Jakarta juga tetep keliatan sibuk banget... Tapi lebih tenang. Lampu dimana-mana nyala. Indah banget hahaha...” Sivia menerawang.
Gabriel menatap kagum cewek di sebelahnya. Pikirannya panjang dan luas sekali. Belum pernah ia menemukan gadis macam Sivia.
“Besok kamu mau anter aku lagi kan?” Tanya Gabriel tiba-tiba.
“LAGI? Kemana lagi, Yel?” Sivia tersentak kaget ketika Gabriel meminta untuk ditemani lagi besok.
“Besok kan hari Minggu.. Pagi-pagi aku pengen naik busway. Keliling Jakarta. Malem aku pengen ke pasar malam. Aku belom pernah naik busway, apalagi ke pasar malam. Ke pasar biasa aja aku belom pernah.” Terang Gabriel.
“Kamu belom pernah naik busway? Kamu belom pernah ke pasar? Yang bener aja! Kamu tuh udah 17 tahun hidup! Masa belom pernah?” Sivia terkejut bukan main.
“Iya, Vi. Aku belom pernah naik busway, belom pernah ke Pasar. Dari kecil aku mainnya ke mal, dan kamu tau sendiri waktu udah gede, aku mainnya kemana kalo malem. Aku udah dibiasain sama mama papa aku dari kecil, Vi. Makanya dulu aku manja banget, soalnya apa yang aku minta pasti diturutin..” Kata Gabriel.
“Hmm... Kalo dari kecil aku kayak kamu... Sekarang aku mungkin gak yaaa gak pernah naik busway atau gak pernah ke pasar? Aku sih dari kecil ngikut Bik Minah ke Pasar. Aku malah ngerasa Bik Minah itu ibu aku. Terus waktu SMP aku juga suka naik busway pulang-pergi kalo lagi gak cukup uang untuk naik taksi..” Sivia mengakhiri ceritanya dengan sebuah cengiran lebar.
“Kamu tuh ada-ada aja sih, Vi. Hahaha...” Gabriel mengacak rambut Sivia. “Pokoknya besok anterin aku! Ok?”
Sivia akhirnya mengangguk sambil tersenyum. Membuat hati Gabriel berdesir untuk yang kesekian kalinya.
***
Ting Tong!
Bel rumah Sivia berbunyi pada Minggu pagi itu. Bik Minah dengan sangat tergesa-gesa membuka pintu.
“Permisi, Bik.” Gabriel tersenyum pada Bik Minah.
“Eh, iya. Cari siapa toh mas?” Tanya Bik Minah bingung sekaligus takjub dengan makhluk tampan di hadapannya ini.
”Mau cari Sivia. Sivia nya ada?”
“Oh Non Sivia ada kok, Mas. Mari mari masuk..” Bik Minah mempersilakan Gabriel masuk dan duduk di ruang tamu. “Sebentar ya, Mas. Saya panggilkan dulu Non Sivianya..”
Gabriel mengangguk dan tersenyum.
Bik Minah segera naik ke lantai atas.
“Non... Non Sivia... Ada temannya non..” Bik Minah mengetuk pintu kamar Sivia.
“Iya, Bik. Aku ke bawah..” Sahut Sivia dari dalam kamar.
Beberapa menit kemudian, Sivia turun ke bawah.
“Eh, udah lama kamu?” Tanya Sivia.
“Baru aja kok..” Jawab Gabriel.
“Oh.. Ya udah. Mau berangkat sekarang?”
Gabriel mengangguk.
“Bik! Aku pergi dulu yaaa!” Sivia berseru.
“Iya, Non. Non udah minum obat?” Tanya Bik Minah.
“Iya.”Jawab Sivia. Gabriel menatap Sivia bingung. Mereka berdua pun keluar dari rumah Sivia.
“Vi, Kamu sakit?” Tanya Gabriel.
“Sakit? Ngga hahaha..” Sivia tertawa.
“Terus tadi bibik kamu bilang, Minum obat apa?”
“Oh.. Itu... Nggak kok Cuma vitamin gitu..” Jawab Sivia. “Kita jalan lagi?”
“Iyaaa..” Jawab Gabriel.

BERSAMBUNG

Hey kamu-kamu semua jangan lupa leave commentnyaaaa hahahaha maaf ya kalo ada yang gak puas sama cerbungnya :s kan udah dibilang ini cerbung gatotku -_- Hehe ok keep comment on blogwalking,twitter,FB,dll. ;D

XOXO,

Valisha Nabila :)