“Hey, Shilla!” Angel melambaikan tangan ke arah Shilla. Shilla tersenyum dan menghampiri Angel.
“Happy birthday yaaa..” Shilla memberikan kado yang tadi dibelinya sebelum datang ke pesta itu pada Angel.
“Wow! Thanks lho yaa... Eh lo cantik banget, Shill! Muat ternyata dressnya ya? Hahaha gila kurus banget lo! Ayo masuk!” Angel mempersilakan Shilla masuk. Shilla hanya tersenyum walau dalam hati mengucap sumpah serapah pada Angel yang membelikannya dress berwarna pink.
Shilla langsung duduk di sebuah tempat duduk dekat meja bar. Ia sama sekali tidak tertarik untuk bergabung dengan sepupu-sepupunya yang lain yang hadir malam itu. Mereka hanya menyapa Shilla kemudian berlalu karena tahu Shilla adalah gadis yang pendiam. Shilla pun tak masalah sebenarnya. Hanya melempar senyum lalu kembali fokus mengaduk orange juice nya lagi.
Sementara tak jauh dari sana, Angel yang sedang heboh mengobrol dengan teman-temannya.
“Ngel.” Panggil seseorang.
Angel menoleh dan mendapati Rio, anak teman relasi mama dan papanya.
“Eh, Hey, yo!” Angel menyambut Rio dengan senyum lebarnya.
“Happy birthday ya! Semoga cepet dapet pacar hahaha...” Rio menyalami Angel.
“Hahaha iya iya thanks ya, Yo, udah mau dateng.” Angel tersenyum lagi.
“Noprob lah, Ngel. Gue lagi gak ada kerjaan apa-apa kok hehehe...” Rio mengedarkan pandangannya. Mengamati pesta ulangtahun Angel yang terkesan ‘waw’ itu.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang gadis ‘pinky’ yang sedang asyik mengaduk orange juicenya. Tampaknya gadis itu tidak begitu menikmati pesta yang belum mulai itu. Rio menyipitkan matanya dan... Ah! Gadis itu lagi. Cantik sekali dia malam ini. Tetapi tatapan matanya yang kosong itu mengingatkan Rio lagi pada kejadian kemarin malam.
“Ngel, itu...” Rio ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar Shilla sebelum ia menghampirinya.
“Itu Shilla namanya, Yo. Sepupu gue. Dia emang anaknya pendiem. Samperin aja gih. Siapa tau dia jinak sama elo. Hahaha canda kok canda. Samperin gih! Cantik banget loooh orangnya!” Angel tertawa. “Gue kesana dulu, ya!” Angel pun berlalu pergi sebelum Rio sempat mengatakan ya-ngel-dia-temen-sebangku-gue-di-sekolah.
Rio terdiam sejenak sebelum menghampiri Shilla. ‘Dia emang anaknya pendiem’. Terbayang kata-kata Angel. Shilla? Pendiam? Bahkan Rio tidak yakin jika Shilla pernah berhenti berbicara selama hidupnya.
Rio pun bergegas menghampiri Shilla yang masih saja asyik mengaduk-aduk orange juicenya dengan pandangan kosong. Rio duduk di sebelah Shilla yang tampaknya tidak sadar.
“Ceilaaah... Si pinky ngelamun aja nih daritadi.” Rio meneguk orange juicenya yang disediakan di meja bar.
Shilla tersentak. Suara itu lagi... Argh jangan-jangan hanya halusinasinya saja.
“Gue dikacangin, lagi!” Rio membuka mulutnya lagi.
Kali ini Shilla terdiam dan yakin bahwa suara itu benar-benar ada. Bukan sekedar halusinasinya saja. Shilla menoleh ke sebelah kirinya dan matanya melebar.
“Elah! Elo lagi, elo lagi! Kenapa sih lo mesti ada dimana-mana! Ganggu hidup orang aja!” Shilla melengos.
“Pertanda, kali. Hahaha...”
Shilla menoleh lagi pada Rio. Matanya seakan bertanya ‘Maksud loooo?’
“Pertanda lo gak bisa hidup tanpa gue hahahahahahaha...” Rio tertawa terpingkal-pingkal walaupun hatinya dag-dig-dug karena sebenarnya ia agak salah berbicara.
Shilla melotot.
“Ati-ati tuh mata ntar copot, lagi!” Komentar Rio.
“Berisik lo, ya! Gak tau, apa, gue lagi butuh kedamaian? Lo malah ngehancurin semuanya!” Shilla merengut.
“Yeee iye dah maap maap! Gitu doang ngambek neeeng, neng!”
Shilla terdiam. Hancurlah sudah semua. Ketentraman yang sedang ia buat dalam hatinya rubuh seketika ketika Rio datang.
“Eh kalian udah akrab aja. Cepet banget! Padahal Shilla kan biasanya susah lho bersosialisasi sama orang lain.” Angel tiba-tiba datang. Agak kaget melihat Shilla yang –tadi dilihatnya sedang mencak-mencak.
Rio terdiam sejenak. Terkejut juga mendengar perkataan Angel tadi. Shilla? Susah bersosialisasi? Yang benar saja! Tukang somay sekolah juga dia ajak kenalan kali!
“Oh..Ehem... Iya lah gue gitu pintar memikat hati cewek.” Rio menepuk-nepuk dadanya sendiri.
“Nggak, Ngel. Dia temen sebangku gue di sekolah hehe.” Shilla menahan caci makiannya untuk Rio.
“Oh ya ampun! Jadi kalian udah saling kenal? Pantesan aja! Eh, Yo, emang Shilla gimana kalo di sekolah? Pendiem juga? Hahaha...” Tanya Angel.
“Oh... Dia? Ya ng... Aw!” Rio memegang lengannya yang kesakitan karena baru saja mendapat cubitan dahsyat Shilla.
Angel memperhatikan Shilla dan Rio bingung namun ia tertawa kecil.
“Ngel, ada temen lo lagi, tuh!” Sepupu Angel dan Shilla yang bernama Oik menepuk pundak Angel pelan.
“Eh, iya, Ik.” Angel pun segera berlalu dari hadapan Rio dan Shilla. Begitupun dengan Oik.
“Huft...” Shilla menghela nafas lega.
“Sinting lo ya? Sakit tau!” Rio menempeleng kepala Shilla.
“Pokoknya jangan pernah lo ngomong apa-apa soal gue ke Angel atau siapapun! Kalo nggak, lo bakalan habis di tangan gue!” Ancam Shilla sambil menatap Rio tajam.
Rio terperangah. Bukan karena ancaman Shilla. Tetapi karena gadis itu, menatapnya tajam. Membuat bola mata Shilla hanya tertuju padanya. Padanya. Pada Rio.
“Apa lo liat-liat? SUKA?” Shilla bertanya sangat pada tempatnya. Rio tersadar dan langsung memasang tampang pura-pura ingin muntah.
“Bek, gue mau tanya boleh? Ini serius.” Kata Rio mengubah nada suaranya menjadi serius.
Shilla mendelik pada Rio lalu mengangguk pasrah.
“Emang lo beneran pendiem kalo di luar sekolah? Lo susah bersosialisasi? Atau....”
“Tanya apa aja. Tapi jangan tanya itu.” Ucap Shilla dingin.
Rio terdiam. Shilla pun terdiam. Mereka berdua diam dalam keramaian pesta yang semakin meriah.
“Gak jadi nanya?” Shilla menoleh pada Rio yang terdiam. Rio menggeleng pelan.
Shilla mengeluarkan iPod dari tasnya dan mulai mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Bukannya ia tidak sopan atau apa. Tapi, apa lagi yang harus dilakukannya? Sangat tidak mungkin, kan, ia terjun dari lantai 6 –tempat pesta angel berada saat ini- ke bawah?
Shilla memejamkan matanya. Berusaha mengabaikan suasana di sekitarnya. Sementara Rio sibuk dengan pikirannya. Ia tidak dapat menahan untuk selalu menoleh ke sampingnya. Gadis itu memang terlihat benar-benar cantik malam ini.
Tampaknya pesta akan segera dimulai.
“Woy!” Rio menepuk-nepuk pundak Shilla.
“Apaan sih. Udah lo aja yang kesana. Gue males. Ngantuk tau.” Shilla sama sekali tidak membuka matanya. Tampaknya sedang menghayati lagu yang sedang didengarkannya lewat iPod.
Rio pun memutuskan untuk duduk saja bersama Shilla disana. Tidak mau bergabung dengan suasana meriah pesta ulangtahun Angelica Pieters. Putri kedua dari keluarga ‘Pieters’.
Samar-samar terdengar lagu yang sedang didengar Shilla dari iPod nya. Terdorong rasa penasaran, Rio mendengarkan lagu itu.
Ku tak tau apa yang terjadi
Pada hatiku ini
Tak ku mengerti
Getar ini belum pernah ada
Tak pernah kurasakan selama ini
Malu-malu aku mengakuinya
Karena aku kini belum dewasa
Reff: Berjuta cahaya datang padaku
Menari denganku
Nyanyikan lagu tentangnya
Duhai bintang mungkinkah yang kurasa
Apakah sudah saatnya untukku menyukainya
Sekarangku sering melamun
Dan juga ku senang bercermin
Oh mengapa ini
Malu malu aku mengakuinya
Karena ku belum dewasa
(Apa Kata Bintang – Gita Gutawa)
Rio tersentak. Rio tahu lagu ini. ‘Apa Kata Bintang’ judulnya. Gita Gutawa yang menyanyikannya. Ya. Sepupu Sivia itu. Rio, sebagai penikmat musik ini jelas tahu siapa Gita Gutawa. Anak dari seorang musisi terkenal, Erwin Gutawa. Namun Rio baru menyadari dan mengerti makna lagu itu. Seseorang yang sedang jatuh cinta.
Rio menoleh pada Shilla yang terlihat begitu menikmati lagu itu.
Apa Shilla sedang jatuh cinta? Pada Siapa? Muncul keresahan di hati Rio, namun sebisa mungkin ia menutupinya dan berpikir bahwa Shilla hanya mendengarkan dan menikmati lagu itu.
***
“Vi, I think I’m in love with someone!” Kata Shilla tepat saat Rio memasuki kelas. Rio jelas terkejut namun tetap stay cool.
“Really? Sama siapa?” Sivia antusias menunggu jawaban Shilla. Begitupun dengan Rio.
“Heh! Nguping ya lo?” Shilla mendelik ke arah Rio yang baru saja membanting tubuhnya.
“Apaan sih? Orang baru juga dateng!” Rio pura-pura tak acuh. Mengambil iPod dari sakunya.
Shilla dan Sivia menunggu hingga Rio memasang earphonenya. Shilla dan Sivia menatap Rio seakan penuh kebencian.
“Etdah elo berdua serem amat! Iye iye gue gak dengerin. Selow bae. Dasar cewek gossip gak penting semua!” Rio memasang earphonenya namun sengaja tidak memutar lagu. Dia masih penasaran, siapa orang yang telah membuat Shilla takluk.
Shilla kembali menatap Sivia.
“Gue jadi suka sama............. Justin Bieber, Vi!” Ucap Shilla dengan mata yang berbinar-binar.
“Astaga Shillaaaaaaaa! Gue kirain siapa! Rio atau siapa gitu. Eh malah JB! JB mah semua orang juga suka kali! Rio aja suka tuh!” Sivia menunjuk Rio dengan dagunya. “Iya kan, Yo?”
“Kagak. Ngapain juga gue suka sama dia. Gue juga udah mirip dia.” Rio menghela napas perlahan. Hanya Justin Bieber ternyata. Cowok yang menurutnya sudah gila kanker otak stadium 4! Gila tuh cowok. Hampir seluruh cewek di dunia suka sama dia coba!
“Hayo lhooooo! Lo nguping ya, yo, daritadi?” Sivia memandangnya penuh selidik sambil tersenyum penuh selidik.
“Dih! Enggak. Sorry aja ya ngapain juga gue nguping kalian?” Rio memasang tampang tak pedulinya.
“Terus? Kok tau kita lagi ngomongin JB?” Tanya Sivia. “Ooh... Lo mau tau yaaaa Shilla suka sama siapaaa? Cemburu yaaa? Jealous yaaa?” Goda Sivia.
“Iyuuuhhh.” Cibir Rio lalu mulai benar-benar mendengarkan musik. Lagu favorit terbarunya. Dealova.
***
“Shill, gue duluan ya. Nyokap udah nunggu.” Ucap Sivia.
“Oh. Iya iya, Vi! Duluan aja. Gue juga udah dijemput kok hehehe.” Kata Shilla sengaja meminuskan kata ‘supir’ setelah kata ‘dijemput’.
Sivia melambaikan tangan. Shilla tersenyum.
Setelah Sivia pulang, Shilla berjalan menuju mobilnya sambil memainkan handphonenya. Ia menyempatkan diri untuk mengganti display picture dan display name bbm nya.
Beberapa saat kemudian, ada bbm masuk. Tepat saat Shilla masuk ke dalam mobilnya.
Rio Haling: JB kan aslinya kakek2.
Ashilla Bieber: Duh pls deh y. Lo idup d jmn brp sh? It kn gossip lama. Udh basi!
Rio Haling: Emang bnr kok. Gw pny videony
Ashilla Bieber: That one jg udh lama. BA-SI
Rio Haling: Bodo. Pokoknya gw prcaya kl JB kakek2, maho lg.
Ashilla Bieber: STFU. Trnyt bnr lo it beliebers y? HAHA
Rio Haling: Beliebers paan si?
Ashilla Bieber: NORAK! Fansny JB tau!
Rio Haling: Iyuh sry y gw ga level ngefans sm jb.
Ashilla Bieber: Bktiny lo nyimpen video jb sgala?
Rio Haling: It kn bwt hburan kl gw bsn gw liat video it psti ngakak.
Ashilla Bieber: whtvr gw sbuk. BYE!!!!!!!
Shilla memasukan handphonenya. Kemudian mengambil iPodnya.
“Non. Tadi tuan sama nyonya telepon ke rumah.” Ucap supir Shilla menghentikan sejenak kegiatan mengobrak-abrik tasnya mencari iPod.
Melihat majikannya yang diam saja, supir itu melanjutkan perkataannya kembali.
“Nanya gimana kabarnya non.”
“Kapan mereka pulang?” Tanya Shilla dingin. Tidak terlalu banyak berharap.
“Ndak bilang mereka non. Mereka bilang mereka masih di Inggris.” Jawab supir itu dengan aksen medoknya yang kental.
Shilla mengangguk kecewa.
***
Hah! Rasanya sudah lama sekali Shilla tidak mengunjungi tempat ini. Padahal hanya kemarin saja Shilla absen mengunjungi tempat ini.
Shilla duduk kemudian menengadah melihat langit malam yang terlihat cerah malam itu.
“Mama sama Papa kapan pulang? Shilla capek kalo harus nunggu mama sama papa selama ini. Shilla kangen banget sama kalian.”
“And I was like baby baby baby nooo I’m like baby baby baby nooo I’m like baby baby baby nooo I thought you’d always be mine... mine...” Tiba-tiba terdengar suara yang cukup mengejutkan Shilla. Shilla langsung menoleh ke belakang.
“ELO LAGI!!!! LO TUH KENAPA SIH SENENG BANGET BUNTUTIN GUE? SUKA YA?!!” Shilla mendelik pada Rio yang sedang asyik memainkan gitarnya.
“Kalo nggak kenapa, kalo iya kenapa?” Rio menghampiri Shilla dan duduk di sebelahnya. “Sedih mulu, lo!” Rio mengenjreng gitarnya asal namun tetap enak didengar.
“Kenapa sih lo selalu ada dimana-mana?” Tanya Shilla mengalihkan pembicaraan.
“Kan gue bilang, mungkin ini pertanda.” Jawab Rio lalu nyengir kuda.
“Apaan sih! Sini sini gue pinjem gitarnya!” Shilla hendak merebut gitar Rio.
“Halah kayak yang bisa aja lo!” Cela Rio.
“Sialan. Gini gini gue gitaris men! Hahaha...” Tawa Shilla lepas.
Rio tersenyum saat Shilla tertawa. Akhirnya. Rio pun menyerahkan gitarnya.
“Coba nih. Gue pengen tau gitaris kacangan kayak elo gimana mainnya.”
Shilla meraih gitar itu.
“Lagu apa nih?” Tanya Shilla.
“Apa aja yang lo bisa.” Jawab Rio.
“Yah... Semua lagu gue bisa kaliiii!” Ucap Shilla meremehkan. “Hmm... Oke lagu ini aja.”
Shilla mulai menggenjrengkan gitarnya dari intro.
You’re on the phone
With your girlfriend she’s upset
She’s going off about something that you
Said
She doesnt get your humor like I do
I’m in the room
Its a typical Tuesday night
I’m listening to the kind of music she
Doesn’t like
And she’ll never know your story like I do
But she wears short skirts
I wear T-shirts
She’s cheer captain and I’m on the
Bleachers
Dreaming ‘bout the day when you wake up
And find
That what your looking for
Has been here the whole time
If you could see that
I’m the one who understands you
Been here all along
So why cant you see...
You belong with me...
You belong with me...
Walk in the streets
With you and your worn-out jeans
I cant help thinking this is how it ought to
be
Laughing on the park bench thinkin’ to
myself
Hey isn’t easy...
And you’ve got a smile
That could light up this whole town
I haven’t seen it in a while
Since she brought you down
You say your fine
I know your better than that
Hey what your doing with a girl like that
She wears high heels
I wear sneakers
She’s cheer captain
And I’m on the bleachers
Dreaming ‘bout the day
When you wake up and find
That what your looking for
Has been here the whole time
If you could see that
I’m the one who understands you
Been here all along so why cant you see...
You belong with me...
Standing by and waiting at your backdoor
All this time how could you not of known
Baby... You belong with me...
You belong with me...
Oh... I remember you drive into my house
In the middle of night
I’m the one that makes you laugh
When you know ‘bout to cry
I know your favorite song
And you tell me ‘bout yout dreams
Think I know where you belong
Think I know its with me
Cant you see that I’m the one
Who understands you
Been here all along
So why cant you see...
You belong with me...
Standing by and waiting at your backdoor
All this time how could you known
Baby... You belong with me..
You belong with me
You belong with me
Habe you ever thought just maybe...
You belong with me...
You belong with me...
(You Belong With Me – Taylor Swift)
Rio ternganga. Ia kagum pada permainan gitar Shilla yang begitu memukau dan suara Shilla yang patut diacungi jempol.
“Haaahh enak nih gitarnya. Beli dimana nih, Nyuk?” Tanya Shilla.
“Eh? Ehm... Gak tau dibeliin bokap.” Jawab Rio. Shilla terdiam.
“Bokap? Oh... Hehe...” Shilla mengembalikan gitar itu pada Rio. “Lo sekarang mainin dong! Jangan-jangan aslinya lo gak bisa main gitar lagi! HAHAHA...”
“Enak aja! Gue jago tau!” Rio mulai menggenjreng gitarnya.
Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Oh karena hati telah letih
Aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Oh bayangmu seakan-akan
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
Tanpa dirimu aku merasa hilang
Dan sepi
Dan sepi
Kau seperti nyanyian dalam hatiku
Yang memanggil rinduku padamu
Seperti udara yang kuhela kau selalu ada
Selalu ada, kau selalu ada
Selalu ada, kau selalu ada
(Dealova – Once)
Rio terlalu menghayati lagu itu. Sehingga selama ia bernyanyi ia memperhatikan lekuk wajah Shilla yang cantik. Namun, Shilla tidak menyadarinya. Shilla pun terlalu hanyut dalam suara Rio yang sangat merdu itu.
“Bek! Woy, Bek! Udah selese nih gue nyanyi! Gak usah terlalu hanyut gitu bisa kali! Entar lo malah kelelep!” Kata Rio garing.
“HAHAHA lucu banget lo saking lucunya sampe gak bisa ketawa!” Cibir Shilla.
“Yeeeee judes amat sih. Hargai dikit kek. Ketawa kek.” Ucap Rio.
“Kan tadi gue ketawa.” Kata Shilla sambil membuang muka.
“Yeee... Beruntung gue kesini ngehibur lo!” Ujar Rio.
“Oh jadi lo emang sengaja ngikutin gue?” Tanya Shilla.
Rio hanya mengangguk-angguk.
“Hhh... Mending lo pulang aja deh. Ntar bokap sama nyokap lo nyariin.” Kata Shilla dengan penuh kepedihan.
“Nggak. Hahaha... Gue disini aja. Enak kan? Tenang... Damai...” Sahut Rio.
“Iya. Sebelum lo dateng ke tempat ini.”
“Santai aja. Gue kan Cuma mau hibur lo. Bosen gue liat lo cemberut mulu di tempat ini. Yaaa kalo lo gak suka gak apa-apa sih. Gue bisa pulang kapan aja dan dateng kapan aja. Tapi gue udah terlanjur betah disini sih.” Rio menerawang.
Shilla menatapnya seakan –lagi-lagi bertanya ‘Maksud lo?’
“Yah... Udah lah. Lupain aja.” Desah Rio kecewa karena melihat Shilla tampaknya tak mengerti apa yang sedang dibicarakannya. “Boleh gue tanya sesuatu?”
Shilla mengangguk. “Asal jangan pertanyaan yang kemarin.”
“Boleh apa aja kan? Asal jangan yang kemarin?” Tanya Rio lagi.
Shilla menatap Rio heran namun tetap mengangguk. Toh, pertanyaan apalagi yang akan dilontarkan seorang Mario Stevano selain pertanyaan konyol yang tidak penting?
“Jangan tersinggung ya! Tapi... Emang bokap sama nyokap lo kemana? Sumpah ya lo jangan tersinggung. Bukannya gue mau tau urusan orang atau apa tapi...” Rio jadi tidak enak sendiri.
“Hahaha... Iya lah. Santai aja, Nyuk. Mereka? Ya kerja lah! Mereka itu orang sibuk. Mereka gak kerja di Indonesia.” Ucap Shilla nanar.
“Uhm, sorry ya kalo udah buat lo sedih?” Ucap Rio.
“Hey! Kesambet apaan lo? Bisa-bisanya ngomong sorry ke gue hahaha ya udah sih santai aja. Toh, Siapa juga yang sedih?” Shilla tersenyum.
“Nah gitu dong. Senyum! Gak enak tau liat lo murung terus. Lo jadi kayak punya kepribadian ganda. Sumpah!” Kata Rio. Rio melirik jam tangannya. Pukul 21.22.
“Udah daripada takut dimarahin karena pulang malem mending lo pulang aja deh! Lagian gue bosen liat lo mulu! Hahaha...” Kata Shilla melihat Rio yang memandangi jam tangan digitalnya.
“Hah! Lucu banget lo, saking lucunya gak bisa ketawa!” Rio membalikkan kata-kata Shilla. Kemudian ia berdiri. “Gue pulang dulu ya! Ati-ati lo jangan kemaleman kalo pulang! Ntar kesambet! Hahaha... Bye.... Shill.” Rio mengacak rambut Shilla kemudian pergi. Untuk yang kedua kali dalam hidupnya, Rio memanggil Shilla dengan nama aslinya. Yang pertama sewaktu perkenalan ketika masa MOS kelas 10.
Shilla tersenyum kecil.
“R... RIO!” Panggil Shilla ketika Rio belum melangkah terlalu jauh. Rio menoleh pada Shilla. Agak kaget sebenarnya gadis itu memanggil namanya. “Thanks ya!” Seru Shilla.
Rio mengangguk sambil tersenyum manis. Ya. Tersenyum manis. Bukan tersenyum geli, tersenyum sinis, ataupun tersenyum meremehkan. Kemudian Rio kembali berjalan meninggalkan Shilla.
Ah, Rio. Selalu saja ada caranya untuk menghibur Shilla.
***
Shilla tengah berjalan sambil mendengarkan iPod. Hari itu hari Jumat. Hari terakhirnya sekolah di minggu ini. Seseorang menepuk pundaknya hingga ia terlonjak.
“Astaga!” Shilla membalikkan badannya. “Eh, maaf kak. Aku kira tadi siapa hehehe.” Shilla malu sendiri ketika mendapati Gabriel, kakak kelas yang notabenenya adalah Ketua OSIS. Shilla buru-buru melepas earphonenya.
“Iya. Nggak apa-apa kok. Saya tadi ke kelas kamu. Cari ketua kelas tapi gak ada.” Ucap Kak Gabriel. Shilla berpikir sejenak. Lupa sesaat siapa Ketua Kelasnya. Dan dia baru ingat jika ketua kelasnya itu adalah Rio.
“Oh. Iya. Dia emang gitu lah anaknya. Ada apa ya kak?” Tanya Shilla sopan.
“Kamu wakil ketua kelas kan?” Kak Gabriel bertanya balik.
Shilla sempat ragu sesaat. Ia bahkan lupa bahwa ia adalah wakil ketua kelas. Belum pernah selama kelas 11 ini Rio absen. Jadi, belum pernah pula Shilla menggantikan tugasnya.
“I... Iya, kak.” Jawab Shilla.
“Ini. Tolong ya, bilang ke ketua kelas suruh bagikan ini ke seluruh murid. Suruh jelaskan apa yang akan kita adakan hari Senin besok.” Gabriel menyerahkan setumpuk kertas pada Shilla.
“Emang hari senin ada apa ya, kak?” Tanya Shilla heran.
“Oh. Ini lho. Sekolah kita dari kelas 10 sampai kelas 12 bakal ngadain camping.” Jelas Kak Gabriel. “Semua ada disitu kok. Tentang tempat, waktu, dan peralatan apa aja yang harus dibawa.”
Shilla mengangguk tanda mengerti.
“Ya udah. Jangan lupa ya.” Gabriel tersenyum lalu berlalu. Shilla sempat terperangah. Ah, senyum Gabriel. Manis sekali.
Shilla pun berjalan menuju kelasnya sambil membaca sekilas setumpuk surat yang ada di genggamannya.
‘Loh? Kok ada amplop warna pink?’ Pikir Shilla. Kemudian ia menarik amplop yang menarik perhatiannya itu.
To: Sivia
From: Gabriel
Shilla cekikikan sendiri.
‘Aduh. Ada-ada aja nih. Pasti ini surat cinta. Hmm... Pantesan aja Kak Gabriel nitipin surat-surat ini ke gue. Ckckck... Buka jangan yaaaa?’
Shilla sempat berniat ingin membuka surat itu. Namun segera diurungkan niatnya itu karena ia sadar bahwa itu bukan perilaku yang sopan. Shilla terus tersenyum sendiri bahkan ketika ia menaiki lift yang mengantarkannya ke lantai 4, dimana kelasnya berada.
“Woy! Ngapain lo senyam-senyum sendiri?” Sapa sebuah suara ketika Shilla memencet tombol dengan angka ‘4’ dalam lift.
“Tuh kan. Elo lagi hahaha...” Kali ini Shilla tertawa, bukan merengut. Tampaknya moodnya hari itu sedang sangat bagus. Maka tak seorangpun yang boleh merusaknya. Termasuk cowok dengan tubuh tegap di depannya itu.
Rio bergidik ngeri. Shilla sedaritadi hanya tersenyum bahkan kadang tertawa sendiri.
“HEH! Lo tuh kenapa sih? Seneng ketemu gue ya?” Sewot Rio ketika mereka keluar dari lift dan berjalan berdampingan menuju kelas mereka.
Shilla hanya menggeleng lalu menyerahkan setumpuk kertas pada Rio. Shilla berlari mendahului Rio yang kebingungan. Ada sesuatu yang dipegang gadis itu. Seperti sebuah surat...... cinta? Lagi-lagi hatinya mulai resah. Namun segera ditepisnya pikiran-pikiran negatif itu. Rio memandangi setumpuk kertas di tangannya.
No. Surat: 112.33.6510
Perihal: Camping SMA Taruna Harapan
Dengan hormat.
Kami dari OSIS SMA Taruna Harapan, memberitahukan bahwa, kegiatan camping yang dilaksanakan pada hari Senin, 20-02-2011 sampai dengan Rabu, 23-02-2011 wajib diikuti oleh seluruh Siswa dan Siswi SMA Taruna Harapan kecuali jika siswa/i itu sedang sakit. Camping tersebut akan dilaksanakan pada:
Hari: Senin, 20-02-2011 s.d. Rabu, 23-02-2011
Tempat: Villa Archalego, Cipanas
Peralatan yang harus dibawa:
-Pakaian secukupnya
-Sandal
-Senter
-Baju Hangat / Jaket / Sweater
-Alat Mandi
-Obat-obatan jika perlu
-dll.
Terima kasih atas perhatian anda semua.
Salam,
Gabriel Stevent
Ketua Osis 2010-2011
“Bah. Ini apa lagi?” Rio melengos ketika selesai membaca surat itu. Tentu saja Camping yang diadakan SMA Taruna Harapan bukan camping yang layaknya sekolah biasa lakukan. Mereka akan menginap di sebuah Villa mewah selama 3 hari. Bukan menginap di tenda seperti camping kebanyakan. Namun kegiatan yang dilakukan selama camping SMA Taruna Harapan agaknya sedikit sama dengan kegiatan-kegiatan camping sekolah lainnya.
Rio berjalan memasuki kelasnya.
“Bek, ini maksudnya gue disuruh ngapa...” Ucapan Rio terhenti ketika melihat Shilla sedang asyik mengobrol dengan Sivia. Shilla yang terus mengoceh dan Sivia yang dengan antusiasnya mendengarkan. Seperti biasa.
‘Mereka ngomongin apa, ya? Apa tentang surat yang tadi dipegang dia?’ Pikir Rio mulai gelisah.
Rio membanting tasnya lalu menaruh tumpukan kertas itu di mejanya.
Sivia dan Shilla langsung terdiam lantaran kaget. Namun mereka melanjutkan mengobrol lagi.
“Jadi, tadi lo sama...” Belum sempat Sivia menyelesaikan perkataannya, Rio sudah memotongnya.
“Bek, ini maksudnya gue disuruh ngapain?” Tanya Rio.
“Kata kak Gabriel, lo bagiin ini ke anak-anak, terus lo jelasin kita suruh ngapain aja.” Jelas Shilla.
“Gabriel?” Tanya Rio. Ia mulai berpikir bahwa tadi, Shilla bertemu Gabriel yang memberinya setumpuk kertas... Lalu Gabriel memberikan surat itu pada...
“Iya! Kak Gabriel yang ketua osis itu!” Jawab Shilla antusias.
“Kenapa gak lo aja sih yang bagiin?” Tanya Rio lalu melangkah keluar kelas membawa iPodnya.
Shilla dan Sivia bertatapan kemudian mereka sama-sama mengedikkan bahu.
***
“...Jadi, kalian semua kalo mau tanya jangan ke gue! Kalian tanya aja sama si kunyuk! Gue disini itu disuruh dia. Berhubung gue baik dan tidak sombong ya gue mau aja lah.” Shilla mengakhiri pidatonya dengan heboh. “Oh iya tadi Kak Gabriel juga bilang...”
Rio melengos sementara Shilla terus mengoceh di depan kelas.
“Hoy lo kenapa? Jealous, ya? Perasaan setiap Shilla ngomong Gabriel lo kayak males gitu?” Sivia menepuk pundak Rio sambil tersenyum geli.
“Gak lah! Ngapain juga?” Sewot Rio.
“Woy elah! Kunyuk, Sivia! Kalo gue lagi ngomong tuh wajib didengerin. Penting tau! Masih mending juga gue mau gantiin lo ngomong di depan sini!” Dumel Shilla.
Sivia nyengir kuda. Rio tetap melengos tak acuh.
“Kayaknya Shilla jealous sama gue, Yo...” Sivia terkikik geli.
=TO BE CONTINUED=
Sebelumnya saya minta maaaaf banget kayaknya saya buat cerita pede bgt ya udah dipost aja padahal masih jauh banget dari kata bagus. Tapi namanya orang mencoba gak apa-apa kan? dan kalo ada yang gak suka sama cerita-cerita saya atau bahkan sama saya sendiri, ngomong langsung ke saya ya jangan ngomong di belakang. Kritik saya kalo saya punya salah. However, gue bakal tetep lanjutin cerita ini meskipun gak ada yang baca sekalipun. Keep comment c:



