“OH MY GOD!!! PR apaan sih?!! Kimia?!! Kok gue gak dikasih tau sih?!!!” Shilla mencak-mencak pada teman-teman sekelasnya yang sedang sibuk menyalin jawaban satu sama lain.
“Yah elah elo! Dari kemaren sama Bu Winda juga udah dikasih tau kali, Shill! Tenang aja, kita semua juga belom pada ngerjain kok! Ikut aja sini!” Sivia menyembulkan kepalanya dari tengah-tengah kerumunan teman-temannya yang sama-sama sedang menyalin PR milik Patton.
Shilla, gadis yang memang paling heboh langsung menyerbu kerumunan itu dan menyalin jawaban Patton dengan sangat lancar.
“Healah lo semua payah banget sih belom ngerjain!” Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah pintu kelas saat Shilla dan teman-teman sekelasnya sedang berkonsentrasi menyalin PR.
Semua langsung menoleh ke arah sumber suara, kecuali Shilla yang masih asyik menyalin PR milik Patton.
“Nih! Gue udah selesai dan jawabannya gue jamin tepat akurat 100 persen!” Rio menyerahkan bukunya pada Alvin yang sedang melongo. “Contek aja! Gue gak keberatan kali!”
“Sombong banget sih baru ngerjain gituan doang.” Shilla ngedumel sendiri. Kesal melihat teman sebangkunya, ups, maksudnya rival sebangkunya yang dengan sombong memamerkan PR kimia nya.
“Daripada elo! Ngerjain aja nggak!” Rio melempar tasnya ke kursi di sebelah Shilla lalu membanting tubuhnya.
“Apaan sih. Ganggu konsentrasi orang aja!” Shilla tetap konsentrasi mengerjakan PR nya. Sementara Rio yang duduk di sebelahnya dengan tenang memejamkan matanya dengan earphone yang masih terpasang di telinganya.
Shilla terdiam. Heran tidak mendengar balasan dari teman adu mulutnya. Namun, ia tidak peduli dan tetap menyalin PR dengan terburu-buru.
***
“Jadi untuk percobaan di laboratorium minggu depan. Kelompoknya berisi dua orang dan harus cewek-cowok. Hmm... kalian boleh pilih sendiri kelompoknya.” Bu Winda membenarkan posisi kacamatanya.
“Yah, bu! Ibu yang pilih aja deh! Saya males kalo pilih sendiri! Ntar banyak yang mau sama saya!” Bastian nyeletuk.
“Wooooo!!!!” Semua bersorak lalu mulai melempar bola-bola kertas pada Bastian. Kemudian mereka tertawa-tawa melihat tingkah Bastian yang menghindar dari bola-bola kertas itu.
“Tenang semua tenang! Baiklah ibu yang pilih.” Bu Winda mulai menggulung kertas yang berisi nomor-nomor yang berpasangan. Yang cewek mengambil kertas di kotak kertas yang cowok dan begitupun sebaliknya.
Shilla mengambil kertas setelah sebelumnya berdoa agar tidak berpasangan dengan cowok rese di sebelahnya.
“Tolong jangan dulu dibuka!” Perintah Bu Winda.
Setelah semua mengambil kertas mereka masing-masing, barulah Bu Winda menyuruh mereka membuka kertas itu.
Perlahan tapi pasti Shilla membuka kertasnya... Dan...
“Nomor...................................................6.” Shilla ragu. Kemudian ia membalik kertasnya. “Nomor 9?”
Shilla merutuki Bu Winda. Ia bingung nomor berapakah yang didapatnya?
“Nyuk! Nomor berapa lo?” Shilla menyikut cowok rese di sebelahnya.
“Mau tau aja sih lo!” Rio melirik cewek Shilla sinis.
“Elah!! Orang Cuma nanya!” Shilla menggerutu kesal.
“Noh!” Rio memberikan kertasnya.
Shilla terbelalak kaget melihat kertas Rio. Kemudian ia tersenyum jahil.
“Nomor berapa nih? 9 apa 6?” Tanya Shilla.
“Auk dah! 6 aja deh!” Jawab Rio tak acuh.
“Okeee berarti gue nomor 9 hahaha...” Shilla tertawa puas. Akhirnyaaaa bisa juga ia tidak satu kelompok dengan makhluk rese itu.
“Ayo semua berpasangan dengan pasangannya.” Perintah Bu Winda lagi.
“Eh! Nomor 9 siapa nih?” Shilla berteriak meminta perhatian dari teman-teman sekelasnya yang –mungkin- salah satunya memiliki nomor 9.
Alvin dan Sivia mengangkat tangan mereka.
Shilla mengernyit heran.
“Lho? Kok nomor 9 ada 2? Gimana ceritanya ini bu? Wah tidak bisa ini bu!” Shilla melancarkan aksi protesnya.
“Mana coba sini Shilla, Alvin, dan Sivia. Ibu lihat kertas kalian.”
Shilla, Alvin, dan Sivia maju ke depan dan menyerahkan kertas milik mereka pada Bu Winda.
“Alvin dan Sivia... Kalian nomor 9. Kalian boleh kembali ke tempat duduk kalian.” Ucap Bu Winda setelah meneliti ketiga kertas itu.
“Lah, Bu? Terus saya gimana?” Shilla mulai was-was.
“Shilla... Kamu ini nomor 6!” Bu Winda menghela nafas melihat tingkah Shilla yang iseng membolak-balikkan kertas dari nomor 6-9-6-9.
“Bu! Ini itu nomor 9 bu!” Shilla tetap ngotot/
“Ya ampun! Sudah-sudah! Kamu ini nomor 6! Cari teman kamu yang nomor 6 juga!” Perintah Bu Winda. “Siapa yang dapat nomor 6?” Tanya Bu Winda pada seluruh murid kelas XI.III
Hening.
Tak ada yang bernomor 6.
Tak lama kemudian, seorang pemuda mengangkat tangannya.
“Ya! Shilla kamu dengan Rio!” Bu Winda menoleh ke arah Shilla yang sedang memejamkan matanya. Berharap ketika membuka matanya, mimpi buruk itu sirna. Tapi ternyata...
“ASTAGA NAGA YA TUHANKU!! COBAAN APA LAGI INIIIII?!!” Shilla mengepalkan tangannya lalu menutup wajahnya sendiri.
Tawa anak-anak sekelas langsung membahana di seluruh penjuru kelas. Tahu bagaimana kelakuan Shilla dan Rio kalau dipersatukan. Layaknya Kucing dan Anjing.
“Bu tolong ya bu, please deh hari gini bu. Bu, saya gak mau tau. Saya mau pindah kelompok, atau lebih mending saya kerja sendi...”
“SHILLA! Kamu ini! Sudah sudah. Gak ada protes-protesan lagi! Semua kembali ke tempatnya masing-masing dengan pasangan kalian. Ibu akan menjelaskan apa yang akan kita lakukan minggu depan.”
Shilla menghentakkan kakinya sebal.
KENAPA COBAAN UNTUKNYA TIDAK PERNAH BERAKHIR?!!!!!
***
Bel istirahat berbunyi. Anak-anak seperti biasanya mengerumuni meja Shilla dan Rio.
“Masih berani lo nantangin gue?” Rio memasukan iPod nya ke dalam saku seragamnya.
“Belagu lo!” Shilla menarik kursinya sehingga berhadapan dengan Rio. Ia menaruh tangannya dengan siku yang bertumpu pada mejanya. Begitupun dengan Rio.
Mereka bersiap untuk melakukan rutinitas mereka setiap istirahat. LOMBA PANCO.
“Siap ya...” Alvin memberi aba-aba. “1...2...3...”
“KYAAAAAAAA!!!! Ayo Riooooo!!!” Teriak anak-anak yang sebagian besar cewek-cewek histeris.
“Ayo Shill! Ayo lo pasti bisa ngalahin dia!!” Sebagian besar anak-anak lain pendukung Shilla bersorak menyemangati Shilla.
Shilla terus mendorong tangan Rio yang tetap dengan tenang mempertahankan pertahanannya. Rio tersenyum meremehkan.
“Sampe kapaaan lo mau kayak gini? Jelas-jelas gue yang menang! Kali ini gimana kalo kita taruhan? Yang menang boleh minta apa aja sama yang kalah! Gimana gimana?” Rio memberikan tawaran yang menggiurkan karena sudah yakin bahwa dialah yang akan memenangi kompetisi kecil panco ini.
“Please ya gak usah belagu! Lagak lo udah kayak dewa panco aja! Belom tau siapa gue!” Shilla terus mendorong tangan Rio yang tidak goyah-goyah.
“Halah udah laaah! Deal? Or No Deal?” Tanya Rio lagi.
“DEAL! Siapa takut?” Shilla memberi energi tambahan pada tangannya. Namun Rio memang susah dikalahkan. “Gila lo ceking-ceking tenaga lo kayak kuli tau gak?”
“Sialan! Daripada elo! Badan besar tenaga bebek!” Rio tak mau kalah.
Anak-anak sontak langsung tertawa.
DUK!!
Shilla menendang tulang kering Rio saat juri –Alvin sedang lengah karena sedang tertawa terpingkal-pingkal.
BYAR!
Hilang sudah konsentrasi Rio dan dengan mudahnya Shilla menumbangkan Rio.
Shilla tersenyum puas dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
“Yak dan pemenangnya adalah........... ASHILLA ZAHRANTIARA!!!!” Alvin berseru sok heboh.
Pendukung Shilla langsung berteriak-teriak histeris.
“Eh apa-apaan nih? Lo gak liat apa, Vin? Tadi nih bebek nendang tulang kering gue? Sakit tau!” Rio protes pada Alvin.
“Hah? Gue gak liat, Yo!” Alvin malah kebingungan.
“Alah looooo udah kalah mah ya kalah aja! Sportif dong! HAHAHAHA...” Shilla tertawa puas.
“Ergh! Oke oke kalo gitu kali ini gue ngalah! Bukan berarti gue kalah!” Kata Rio sebal.
“Eits, mau kemana kunyuuukkk? Kayaknya lo masih punya hutang nih sama gue.” Shilla menaik-turunkan alisnya.
“Huh... Yayaya sekarang mau lo apa? Awas kalo nyusahin!” Rio melengos.
“Hmm... Oke oke.” Shilla sok-sok berpikir keras. “Gimana kalo.... gue mau lo traktir kita sekelas!” Seru Shilla bangga.
Teman-teman sekelasnya langsung menatap Shilla dengan pandangan oh-terima-kasih-banyak-ashilla-zahrantiara.
“NAAAAHHH!! Betul itu Shill gila lo emang temen gue yang paling TOP!” Bastian menepuk-nepuk pundak Shilla yang lebih tinggi darinya.
“HAH?!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Rio terperanjat.
***
Bel masuk pun berbunyi. Setelah merasa sangat kenyang, anak-anak kelas XI.III langsung kembali ke kelas mereka meninggalkan Rio yang dikejar-kejar tukang jualan di kantin bagaikan dikejar-kejar dept collector.
Rio masuk ke kelas paling belakangan dengan bercucuran keringat.
“Sarap lo semua! Makan porsinya kuli semua ya?” Rio menyindir teman-teman sekelasnya.
Teman-teman sekelasnya langsung pada nyengir.
“Baru dikasih tantangan gitu doang udah KO! Gimana gue suruh bangun rumah buat kita semua?” Shilla tersenyum meremehkan.
“Gila lo! Cewek edan!” Rio melengos saat membanting tubuhnya di bangkunya.
“Hahahah...” Shilla hanya tertawa kecil.
***
“Siang, Non. Gimana sekolahnya non?” Tanya supir Shilla saat membukakan pintu untuk Shilla. Shilla hanya tersenyum kecil membalas pertanyaan supirnya itu.
Ia mulai memasang earphonenya sambil menyalakan lagu sambil melihat keluar lewat jendela mobilnya.
Ia melihat Sivia yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Shilla membalas lambaian Sivia. Kemudian Sivia memasuki mobilnya dan duduk di kursi penumpang sebelah kursi pengemudi. Di sebelah mamanya. Ya, mamanya lah yang rutin mengantar-jemput Sivia. Bukan supirnya.
Sebersit rasa iri timbul di hatinya. Kapan ia akan diantar-jemput mamanya? Setelah matahari terbelah menjadi dua?
***
Ashilla Zahrantiara. Putri tunggal dari keluarga Zahrantiara yang perusahaannya tersebar dimana-mana. Kedua orangtuanya sangat sibuk. Shilla hanya bertemu orangtuanya satu bulan sekali karena kesibukan orangtuanya itu.
Di sekolah, Shilla adalah gadis yang sangat periang dan ceria. Di rumah, bagaikan memiliki kepribadian ganda, ia sangat pendiam. Nyaris tidak pernah berbicara jika tidak penting. Mungkin faktor orangtuanya yang sangat sibuk itu. Ia sangat kesepian. Seringkali ia merutuki rumahnya yang terkesan mewah namun sepi itu.
***
Shilla duduk sendirian di bukit itu. Seperti malam-malam biasanya. Merenung. Menerawang.
“Mama sama Papa apa kabar? Masih inget sama aku, Ma? Pa?” Shilla berbicara pada bintang-bintang di langit malam itu.
Bulan kedua, Shilla belum lagi bertemu mama dan papanya.
“WHOAAAAA!!” Teriak seseorang persis di belakang Shilla. Shilla mengernyit heran. Tumben-tumbennya ada orang di bukit ini. Biasanya hanya Shilla sendiri yang berada di bukit ini. Tapi sebodo lah. Shilla juga tidak peduli. Shilla hanya sedang ingin menenangkan hatinya yang rindu pada Mama dan Papanya yang entah berada di negara bagian mana sekarang.
“Gila lo! Udah cewek, rambutnya panjang, pake baju putih, sendirian lagi di tempat kayak gini! Sumpah gue kira lo kuntilanak atau genderuwo atau apa lah itu hantu-hantu.” Kata seseorang tadi di belakang Shilla.
Shilla menoleh. Hanya ingin tahu siapa yang mengganggu ketenangannya.
“Lah? Elo?” Seseorang itu menggaruk kepalanya ketika mendapati Shilla, orang yang dikenalnya. Orang itu duduk di sebelah Shilla yang tidak menanggapinya sama sekali.
“Gue lagi gak mau cari ribut sama lo, Nyuk.” Kata Shilla pelan.
“Nyuk? Siapa deh lo sok kenal amat sama gue.” Orang itu –Rio ngedumel sendiri.
“Gue lagi gak mau bercanda.” Shilla memalingkan wajahnya.
“Apaan sih lo? Lo siapa sebenernya? Pernah kenal?” Rio menatap wajah Shilla yang –walau malam hari pun tetap terlihat cantik. Ya. Rio tidak dapat berbohong kali ini.
“Shilla. Ashilla Zahrantiara.” Jawab Shilla sekenanya. Malas ditanya-tanyai lagi dengan orang yang –sok- amnesia.
“Shilla? Shilla temen sebangku gue yang bawel kayak bebek itu? Wakakakak jangan ngaku-ngaku lo! Shilla yang gue kenal mah gak pernah sedih kayak gini! Orang kerjaannya ngakak mulu kalo di sekolah. Malah Shilla yang gue kenal gue kira orang gila! Bukan orang stress yang pendiem dan suka menyendiri gini.” Rio terus nyerocos. Namun tatapan Shilla tetap fokus ke depan. “Bek?” Rio melambaikan tangannya di depan wajah Shilla hingga Shilla tersadar dari lamunannya.
“Lo ngapain sih ngelamun-ngelamun di tempat sepi kayak gini? Kesambet aja hiiiy merinding gue.” Rio bergidik ngeri.
Shilla langsung bangkit dari duduknya dan berlari meninggalkan Rio.
“Woy! Bebek! Mau kemana lo?” Teriak Rio. Namun Shilla sudah berlari jauh.
Rio menatap punggung Shilla yang berlari semakin jauh. Jantungnya bergetar kecil.
“Lah? Gue kenapa?” Rio memegangi dadanya sendiri dengan bingung.
***
Shilla membuka akun twitternya sesampainya ia di rumah lewat handphonenya kemudian ia membuka “Replies & Mentions”.
riostevadit: @ashillazhrtiara masa tadi gue ketemu kembaran lu. Mirip bgt sm lu sumpah tp dia kgk bawel kyk lu!
Shilla tersenyum membaca mention dari Rio tersebut. Eh? Tersenyum? Untuk Rio? Cih. Shilla langsung mengubah ekspresinya dan membalas mention dari Rio itu.
@riostevadit apaan sih lo lawak bgt HA-HA lucu
Shilla langsung menutup akun twitternya itu untuk berangkat tidur sebelum handphonenya bergetar. Ada BBM –Blackberry Messenger masuk ke handphonenya.
Shilla langsung membuka bbm nya.
‘Paling Cuma BM –Broadcast Message-‘ pikirnya.
Namun perkiraan Shilla tadi salah. Seorang contact bbm nya yang bernama “Rio Haling” menyapa bbm nya.
Rio Haling: Woy
Shilla mengerutkan keningnya. Ia tiduran di ranjangnya lalu membalas bbm Rio tersebut.
Ashilla Zahrantiara: Apasih fans?
Rio Haling: Itu beneran lo tadi yg di bukit?
Ashilla Zahrantiara: Knp sih lo pgn tau bgt
Rio Haling: Y udh sih spele gt doang ngambek dasar bbk
Ashilla Zahrantiara: Kangen sama gw blg aja kli gausah pk alibi nanya2 gtuan
Rio Haling: Ih sry ya amit2 jabang baby gw kgn sm lo cih :&
Ashilla Zahrantiara: Tau ah ap kt lo. Bye nyuk bad dream ya ;p
Shilla segera menaruh handphone di laci kamarnya kemudian mulai memejamkan mata.
***
Rio tersenyum membaca pesan terakhir dari Shilla. Ah, gadis itu. Setelah beberapa saat, kemudian Rio tersadar lagi.
‘Duh gue kenapa sih? Kenapa gue jadi kayak deg-degan terus?’
Rio berjalan ke jendela kamarnya kemudian membuka jendela itu. Udara malam membuat rongga paru-parunya terasa segar.
“Ya ampun! Kok gue baru kepikiran ya? Kenapa tadi si Shilla keliatan sedih gitu? Jangan-jangan yang gue liat di bukit tadi emang Shilla jadi-jadian lagi! Hiiiyyy..”
Karena ketakutan, Rio akhirnya menutup jendelanya lagi dan segera tidur.
***
“Masa ya, Shill. Kemaren gue liat tas lucu banget! Lo mau yaaa temenin gue nanti beli tas itu! Sumpah deh lucu banget!” Sivia memohon-mohon pada Shilla yang lagi-lagi sedang menyalin PR milik Patton.
“Hmm...” Shilla tampak berpikir. “Minta anter yang lain aja ya? Gue males nih, Vi. Ngantuk banget hari ini.”
“Alah alesan aja. Bilang aja lo mau jadi zombie di bukit itu kemaren ya?” Tiba-tiba sebuah suara berkomentar.
“Lo apaan sih nimbrung aja!” Tanpa menoleh pun, Shilla tahu siapa yang sudah ikut-ikutan perbincangannya dengan Sivia.
“Mulut mulut gue! Emang lo yang ngatur? Emang ada larangan dari pemerintah? Emang dosa?” Rio semakin ngotot.
“Yayaya apa kata lo deh emang gue pikirin.” Shilla melengos.
“Zombie? Maksud lo apaan sih, Yo?” Tanya Sivia dengan pandangan penasaran pada Rio.
“Eh nggak! Itu lo percaya aja sama dia. Iya deh ntar gue anterin lo beli tas itu.” Kata Shilla sebelum Rio menjawab pertanyaan Sivia.
“Nah gitu dooong, Shill!” Sivia tersenyum puas.
“Mau aja, Vi. Dianterin sama dia.” Rio memasang earphonenya.
“Berisik banget sih lo! YOU KNOW WHAT? AN-NOY-YING!” Shilla mencubit lengan Rio.
“AW AW AW!” Rio meringis kesakitan lalu melihat lengannya yang membiru. “Emang edan lo ya, bek! Gak bisa liat orang seneng dikit ya?”
“NGGAK! Terus kenapa?” Shilla menjulurkan lidahnya kemudian melanjutkan menyalin PR Patton.
Sivia hanya tertawa melihat tingkah kedua teman sekelasnya itu.
“Jangan gitu kalian! Ntar benci jadi cinta lho! Kata orang-orang, benci sama cinta itu bedanya tipis banget!” Sivia tersenyum geli saat melihat Rio yang malah asyik mendengarkan lagu dan Shilla yang asyik menyalin PR Patton pura-pura tidak mendengar perkataan Sivia. Sivia yakin 100% bahwa Shilla dan Rio sama-sama mendengar kata-katanya.
“Kalian cocok kok!” Sivia tersenyum geli lagi saat melihat kini keduanya melotot kearahnya. Sivia langsung membuat tanda peace dengan jarinya. Lagian, Sivia tidak sepenuhnya berbohong kan? Shilla dan Rio itu memang cocok!
***
“Psst...ssstt...” Rio menyikut Shilla yang sedang asyik mengerjakan soal ulangannya.
“Ish apaan sih?” Shilla yang merasa terganggu menoleh pada Rio.
Rio membuat angka “3” dengan jarinya dengan wajah memelas. Shilla menggeleng kasar kemudian mulai asyik mengerjakan lagi.
“Ssstt... Woy...” Bisik Rio sambil menyikut Shilla lagi.
“Apaan sih lo?” Geram Shilla.
“RIO! SHILLA! Peringatan pertama!” Pak Duta memberikan peringatan pertama pada Shilla dan Rio.
“Elo sih!” Shilla mengerucutkan bibirnya lucu.
***
“Ah gila lo! Pelit dasar!” Rio menempeleng kepala Shilla seusai ulangan hari itu selesai.
“Apaan sih lo? Gak sopan tau gak?!!” Shilla bersiap untuk mencubit lengan Rio lagi.
“Gak lagi deh!” Rio menahan tangan Shilla yang hendak mencubitnya.
“Ergh rese banget sih lo!” Shilla menghentakkan kakinya sebal lalu mengeluarkan handphone dari sakunya.
Ada bbm masuk. Shilla segera membacanya.
Sivia Azizah: Shill gw k kantin dluan brg ify. Td gw mau ngajak lo tp ga enak lo lg sm Rio hhe piss ._.v
“IIIIH gara-gara lo sih!!!” Gerutu Shilla kesal sambil menoleh ke arah Rio.
“Apaan sih! Gue gak ngapa-ngapain juga!” Dengan santainya Rio memasang earphonenya.
“Gue jadi ditinggal Sivia kan! Uh dasar nyebelin!” Shilla terus ngedumel sambil berjalan terus keluar dari kelasnya menuju kantin.
Rio yang bingung hanya menggeleng-geleng kepalanya. Lalu memejamkan matanya mendengarkan lagu yang sedang terputar di iPodnya.
Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Oh... Karena hati telah letih
Rio segera membuka matanya.
“Lagu ini kok...”
=To Be Continued=
Yea cerbung gue datang lagi hahaha. Baru part pertama nih belum panas (?) yang jelas kalian harus ninggalin jejak kalian yaaa cuma buat informasi aku kalo kalian udah baca part ini (?) sumpah kalo kalian comment saya akan senang sekali hahaha. By the way, keep reading ya :p tunggu part 2 nya :)
Sunday, April 17, 2011
Love Risk (Part 1)
Posted by Valisha Nabila at 4:24 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


1 comments:
Halo kak Valisha Nabila!
Gatau kamu bakal baca ini atau enggak, cuma mau bilang beruntung banget bisa nemuin tulisan kamu dan baca cerbungnya anak-anak ICIL ini. Aku udah baca ini dulu lama banget. Terus beberapa tahun setelahnya, aku coba cari lagi ternyata masih ada, terus aku baca ulang lagi. Sekarang aku iseng cari lagi, masih ada! Kayaknya bakal aku baca ulang lagi nih. Hehe.
Terima kasih udah nulisin cerita yang bagus banget ini!
Post a Comment