THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Friday, April 8, 2011

Just The Way You Are (Part 3B)

“Ya ampun ini orang-orang pada kemana sih?” Gabriel menggerutu agak kesal. Karena sejak tadi pintu rumah Sivia tak kunjung dibukakan oleh Bik Minah ataupun Sivia.
Rumah Sivia pagi itu terlihat sangat sepi.
Gabriel mulai cemas. Tiba-tiba ponselnya berdering.
Dengan cepat Gabriel mengangkat telepon itu.
“Halo... Bik Minah?... Bik ak.... Apa?!! Sivia masuk rumah sakit lagi?!!... Hah?... Permata hati?... Iya iya aku kesana... Iya bik iya... Ngajak Saras?... Lho? Buat apa?... Sivia?... Aduh ada apa lagi sih?... Ya udah iya... Oke.”
Klik!
Gabriel pun segera memasuki mobilnya dan pergi ke sekolahnya.
***
“Yel, kita mau kemana sih?” Saras bertanya pada Gabriel yang sedang berkonsentrasi menyetir di sebelahnya.
“Udah deh lo gak usah banyak tanya. Gue lagi buru-buru nih!” Gabriel tetap memfokuskan pandangannya ke depan.
“Lo mau ngajak gue balikan ya?”
“Amit-amit! Kalo bukan karena Sivia, gue gak mau ngajak lo! Apalagi ngomong sama lo!”
“Ih lo kenapa sih? Orang gue nanya baik-baik! Sivia lagi Sivia lagi! Emang selalu dia kan yang bikin kita kayak gini?” Saras merengut.
“Shut Up! Jangan pikir gue gak tau kalo yang nyelakain dia waktu itu tuh elo!” Gabriel mulai tidak sabar.
“Gue? Helloooo gak salah?”
“Gak usah banyak bacot lo! Gue tau semuanya! Apalagi menyangkut Sivia!” Gabriel terlihat sangat menahan emosinya.
***
“Bik! Bik! Sivia dimana, Bik?” Gabriel menyerbu Bik Minah yang terduduk di depan sebuah ruangan bertuliskan “UGD” di pintunya.
“Mas, Non Sivia di dalem. Tadi waktu mau berangkat sekolah dia pingsan, Mas. Terus dia mimisan.” Jawab Bik Minah dengan suara bergetar.
“Ya ampun! Kenapa bisa gini sih?” Terlihat nada kekhawatiran dari kata-kata Gabriel.
“Sebelumnya, Non Sivia bilang kalo dia masuk rumah sakit lagi, bibik disuruh telepon Mas Gabriel terus Mas Gabriel disuruh ngajak Mbak Saras.” Bik Minah menyampaikan pesan dari majikan yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.
“Semoga Sivia baik-baik aja...” Gabriel mondar-mandir tak sabar. Sesekali ia melihat pintu ruang UGD itu.
Saras sibuk menekan-nekan keypad handphone nya. Kesal, ia mulai berchatting ria dengan kedua sobat kentalnya. Ya, mereka mengadakan conference chat.

Regina Saras: Guysssss gue di RS bareng gabbbbb! 
Ashilla Zahrantiara: Mi ape? Bgs dong!
Regina Saras: Bagus apanya? Orang gab jenguk si cewek itu -_-
Agatha Pricilla: Lah? Trs? Lo ngpain ikt?
Regina Saras: Gue diajak paksa sm dia. Td nya gw seneng. Ternyata ksini mls bgt gw
Agatha Pricilla: Skt ap lg dia? Hahaha bgs lah dia pnyakitan kali
Ashilla Zahrantiara: Parah hahah lol =)) tp bnr jg sih 

“Ada yang namanya Gabriel dan Saras?” Tiba-tiba seorang dokter keluat dari ruang UGD.
“Saya Gabriel dok!” Jawab Gabriel. Saras segera memasukkan HP nya dan menghampiri dokter itu.
“Oh adik ini namanya Gabriel. Lalu kamu Saras?” Tanya dokter itu pada Saras.
Saras mengangguk tak acuh.
“Dik, pergunakan kesempatan ini sebaik mungkin ya.” Dokter itu berlalu pergi. Tanpa tahu maksudnya, Gabriel masuk ruangan itu diikuti Saras.
“Sivia...” Gabriel menghampiri Sivia. Sedangkan Saras tepat di tempatnya.
“Iel... Aku... Aku udah gak tahan lagi.” Sivia menghela nafasnya berat.
“Apa maksud kamu, Vi? Kamu gak boleh ngomong gitu!” Gabriel mulai khawatir. Ia memegang tangan Sivia erat.
“Aku gak bakalan hidup lama lagi. Aku... sa... yang... sama... kamu...” Ucap Sivia terbata.
“Aku sayang sama kamu juga, Vi. Kamu gak boleh ngomong gitu dong!” Gabriel panik.
Sivia menggeleng putus asa.
“Aku capek. Lebih baik aku pergi, Yel. Tuhan lebih sayang sama aku. Makasih buat semuanya ya, Yel. Aku gak bisa ngomong apa-apa lagi selain makasih dan... maaf. Maaf buat semua kesalahan aku.”
Gabriel menggeleng. Sekuat mungkin ia menahan airmatanya.
“Saras...” Sivia memanggil Saras pelan. Dengan ragu, Saras menghampiri ranjang Sivia dan berdiri di sisi kiri ranjang itu. Berhadapan dengan Gabriel yang berdiri di sisi kanan ranjang Sivia.
“Ras... Maafin aku ya... Maaf kalo aku udah bikin hubungan kamu sama Gabriel hancur. Aku bener-bener minta maaf. Aku... aku udah gak kuat lagi. To... tolong jaga Gabriel ya. Buat dia menjadi yang lebih baik.” Sivia meraih tangan kanan Saras dan tangan kiri Gabriel. Kemudian ia menyatukan tangan Gabriel dan Saras.
“Kalian harus bersatu lagi. Aku yakin kalo kamu itu sebenernya baik, Yas. Gabriel, kamu jaga Saras ya, dan Ras, kamu juga jagain Gabriel. Kalian harus bersatu. Ini pesan dari aku. Iel, kamu baik-baik sama Ayas. Jangan pernah kecewain dia. Aku emang akan pergi. Tapi jangan lupain aku. Seenggaknya, simpen aku dalam hati kamu yang paling dalam, di sudut hati kamu. Salam buat semua temen-temen kita ya. Bilang makasih sama mereka semua dari aku. Dan bilang maaf sama mereka soal semua kesalahan aku. Gab...riel... Jangan sedih. Jangan takut kehilangan aku. Kalo kamu liat bintang, liat bintang yang paling terang. Itu aku. Aku bakal terus ada walaupun dalam wujud yang ber.....bed......a.” Sivia memejamkan matanya perlahan lalu menghembuskan nafas terakhirnya.
“Vi... Bangun, Vi... Vi! Bangun! Jangan tinggalin aku, Vi! Via!” Gabriel histeris. Tanpa bisa dibendungnya, Gabriel meneteskan air matanya.
Sivia pergi. Meninggalkan Gabriel yang kecewa karena belum sempat mengungkapkan perasaannya. Meninggalkan Saras yang menyesal dalam hatinya. Meninggalkan Bik Minah yang menangis di ambang pintu ruang UGD. Meninggalkan mama dan papa nya yang bahkan belum juga hadir. Meninggalkan dunia ini... Untuk selama-lamanya. Meninggalkan semuanya......
***
Pemakaman Sivia terasa begitu lama bagi Gabriel. Ia terus saja menunduk. Menatapi batu nisan Sivia. Mama dan Papa Sivia hadir. Mereka meneteskan bulir-bulir air mata. Ada perasaan menyesal dalam hati mereka karena belum bisa membahagiakan anak tunggal mereka. Saras, Shilla, dan Pricilla hadir. Menyesal. Mereka tidak menyangka bahwa ternyata Sivia adalah gadis yang sangat baik hati. Ada Ify. Ia yang paling histeris. Kehilangan sobat kentalnya. Kehilangan teman sebangkunya yang selalu tersenyum. Sebenarnya Gabriel yang paling histeris. Namun ia menyimpan histerianya itu dalam hati. Ia tidak mau membuat Sivia sedih. Ada Rio, Cakka, dan teman-teman sekolah yang lainnya. Guru-gurupun turut hadir dalam pemakaman itu.
“Iel... Udah ya, jangan sedih lagi. Nanti Sivia ikutan sedih.” Saras menatap Gabriel yang menggandeng tangannya.
Gabriel tersenyum kecil.
Inikah yang disebut Happy Ending? Gabriel rasa tidak. Tapi setidaknya, seiring dengan berjalannya waktu, Gabriel akan melupakan kesedihan dan luka di hatinya. Semoga. Tapi ia berjanji, akan menyimpan Sivia selalu dalam hatinya. Di sudut hatinya yang terdalam.
-THE END-

Epilog
Bulan pun terus berganti. Seiring dengan berjalannya waktu, Gabriel mulai dapat melupakan kesedihan hatinya.
Malam itu, ia dan Saras sedang duduk di sebuah bukit. Ya. Bukit kenangannya dengan Sivia.
“Sivia....” Ujar Gabriel sambil menatap langit di atasnya.
“Sivia? Mana?” Saras agak merinding ketika menyadari kekasihnya itu memanggil nama Sivia.
Gabriel menunjuk ke arah bintang yang paling terang di langit.
“Kamu inget, Yas? Sivia pernah bilang, kalo kita liat bintang dan ada bintang yang paling terang, bintang yang paling terang itu dia. Dan itu... Kamu liat bintang itu? Itu bintang yang paling terang di antara semua bintang. Itu Sivia, Yas!” Seru Gabriel.
Saras tersenyum.
“Ya. Dia pasti seneng bisa liat kamu senyum lagi.” Saras tersenyum. Dalam hati ia sangat senang dapat kembali lagi bersama Gabriel. Dan... Siapa yang paling berjasa dalam urusan hatinya itu? Shilla? Pricilla? Bukan! Tentu saja... Sivia! 
=======
Mihihi akhirnya selesai juga cerbung saya yang satu ini. Aneh ya? Emang-_- ini kan cerbung gagal total yang nekat saya post wakakaka. Oke lah. Kalo begitu tetap saya tunggu saran dan komentarnya ya :3 Bisa lewat mana aja haha blogwalking, twitter, FB, fme, YM, MSN, FME, dll. ;3 And btw, maaf ya judul sama isi ceritanya gak ada nyambung-nyambungnya hahaha abis gak kepikiran judul lain -___- Okay bye all see you!

Cheers,
Your majesty, Valisha ;3

0 comments: