THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Saturday, April 2, 2011

Just The Way You Are (Part 2)

Berkali-kali Gabriel meneleponnya semenjak Sivia masuk ke rumahnya. Namun ia selalu Reject panggilan itu hingga akhirnya Sivia mematikan handphone nya.
“Aku nggak seharusnya kayak gitu ke Iyel. Dia udah baik banget. Dia udah nolongin aku. Dia juga nggak salah apa-apa..” Kata Sivia pada dirinya sendiri di depan cermin. Ia memegang pipinya. “Kalau nggak ada Gabriel.. Aku nggak tau sekarang aku kayak gimana..”
Sivia menghela napas lalu mendesah.
“Aku harus minta maaf ke dia secara langsung..”
***
“Iya mba? Cari siapa ya mba?” Tanya seorang paruh baya yang membukakan pintu pada Sivia.
“Aku cari Gabriel.. Dia ada?”
“Oh.. Mba ini temennya Den Gabriel ya? Den Gabriel sedang pergi mba..”
“Gabriel pergi? Hmm... Dia bilang gak dia mau pergi kemana?”
“Wah.. Den Gabriel gak bilang sih mau pergi kemana. Tapi biasanya dulu malam-malam begini dia pergi ke... kemana itu ya mba? Saya juga lupa mba..” Wanita paruh baya itu memasang wajah yang menyesal.
“Club!!” Sivia tiba-tiba berseru.
“Nah iya itu mba! Den Gabriel biasanya pergi ke klep.”
“Aduuuh, Iyeeel.” Sivia mendesah dengan cemas. “Mm... Ibu siapanya Gabriel ya?”
“Saya pembantu yang bekerja di rumah ini, Mba.” Jawab wanita paruh baya itu.
“Bik, Tau nama club yang biasanya Gabriel datengin?” Tanya Sivia panik.
“Maaf, saya kurang tau, Mba.”
“Dia pergi sama siapa?” Sivia bertanya lagi.
“Tadi sih, Den Gabriel pergi sendiri, Mba..”
“Oh, Non. Kalo ndak salah, klep nya itu ada di daerah Tebet.” Si bibik memberi tahu nama suatu daerah di Jakarta.
“Oh gitu ya, Bik. Yaudah Bik, makasih ya bik aku pamit dulu!” Sivia berlari keluar pagar rumah Gabriel dan segera menaiki taksi yang sedari tadi menunggunya.
“Pak, ke club yang ada di Tebet ya pak!” Sivia panik sendiri.
“Wah, Mba. Nama club nya apa ya?” Tanya si supir taksi.
“Saya kurang tau, Pak! Kira-kira yang paling rame dikunjungi aja deh, Pak! Ayo pak jalan pak!”
“Baik, Mba.”
***
Si supir taksi membawa Sivia ke daerah Tebet dan memasuki sebuah club bernama Barbera Club.
“Makasih ya, Pak. Ini uangnya pak.” Setelah menyerahkan uangnya, Sivia langsung berlari masuk ke club itu.
Matanya bergerak kesana kemari, berharap menemukan sosok Gabriel.
“Iyelll... Kamu dimana siiiih..”
Sivia terus berjalan. Lampu kerlap-kerlip dimana-mana. Musik mengalun dengan kerasnya dan orang-orang berjoget ria mengikuti musik dengan setengah tidak sadar karena mabuk.
Tiba-tiba seseorang menubruk Sivia dan orang itu terjatuh.
“Ya ampun!!!!! Iyel!!!!” Sivia kaget mendapati orang yang menubruknya adalah Gabriel. Susah payah ia mengangkat Gabriel keluar dari club itu.
“Gue sayang lo, Sivia. Lo gak seharusnya bikin gue kayak gini.” Gabriel mabok berat. Matanya terpejam setengah terbuka tapi mulutnya terus mengeluarkan kata-kata itu.
“Iyeeeel... Sadar dong, Yel!” Sivia mencegat sebuah taksi yang kosong lalu ia dan Gabriel masuk ke dalam taksi itu.
“Kemana, Mba?” Tanya supir taksi.
“Jalan Kamboja lima nomor sepuluh ya pak!”
“Baik, Mba..”
“Iyel sadar dooong, pleaseeee... Kamu mabok berat!” Sivia menepuk-nepuk pipi Gabriel.
***
“Bik, Aku pulang dulu ya... Kalo ada apa-apa, bibik telepon saya aja. Ini nomornya.” Ucap Sivia memberikan selembar kertas pada bibiknya Gabriel.
“Iya. Makasih banget loh, Mba, udah nganterin Den Gabriel kesini. Bibik bisa kena semprot sama tuan sama nyonya kalau den Gabriel pulang pagi lagi..”
“Iya, bik. Nggak apa-apa kok. Aku pulang ya, bik.” Sivia pun melangkahkan kaki keluar pagar rumah Gabriel dan masuk taksi.
“Aku nggak nyangka ternyata orang seperfect Gabriel yang ketua OSIS dan kapten tim basket sehari-harinya mabok-mabokan.” Batin Sivia.
***
“Biiikkk!!!!” Panggil Gabriel pagi itu. Bibik tergopoh-gopoh menghampiri Gabriel.
“Iya den. Ada apa? Den Gabriel nggak apa-apa kan den?” Tanya bibik dengan wajah khawatir.
“Aku nggak apa-apa, Bik.. Siapa yang semalem nganter aku pulang? Aku nggak nyetir sendiri kan?” Tanya Gabriel heran karena di garasinya tidak terdapat mobil BMW hitamnya.
“Nggak, Den. Yang nganter Den Gabriel itu... Aduh bibik lupa nanya namanya, Den.” Jawab bibik dengan tampang merasa bersalah.
“Aduh, Bik. Gimana cara aku terimakasih sama orang itu kalo aku nggak tau siapa orangnya!” Gabriel menggaruk kepalanya bingung.
“Cewek, Den. Cantik banget orangnya. Kulitnya putih, Rambutnya panjang. Ayu sekali, Den.” Bibik menerangkan ciri-ciri orang yang mengantar Gabriel ke rumahnya.
“Sivia..........................” Gabriel bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan berangkat sekolah.
***
“Vi! Kamu yang anter aku kemarin ya?” Gabriel bertanya dengan mata yang berbinar-binar saat menemui Sivia di ruang OSIS siang itu sepulang sekolah. Namun Sivia tetap diam dan fokus pada layar monitor di depannya.
“Ayo dong, Vi. Aku kan tanya. Kamu harusnya jawab..”
“Bukan.” Jawab Sivia singkat.
“Jangan bohong, Vi. Aku tau kamu yang anter aku pulang kemarin..” Gabriel menatap Sivia dalam. Namun Sivia tetap diam. “Maafin aku, Vi. Kemarin aku stress banget gara-gara kamu marah sama aku. Jadi aku pergi kesana.”
Sivia tetap diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Vi... Ayo dong jangan marah sama aku.”
“Kamu sendiri yang janji nggak bakal dateng ke tempat itu lagi.” Kata Sivia dingin.
“Ya.... Maaf aku ngingkarin janji aku. Aku kemarin bener-bener....”
“Gak usah minta maaf ke aku. Kamu janji sama diri kamu sendiri. Itu artinya kamu harus minta maaf ke diri kamu sendiri..” Sivia mematikan komputernya.
“Gabriel, Maafin aku yaa aku udah ingkar janji sama kamu.. Aku kemarin bener-bener lupa. Aku stress banget kemaren gara-gara cewek cantik depan aku itu marah sama aku.” Gabriel seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Sivia keluar ruangan OSIS.
“Yehh Sivia! VI! VI! Pulang sama siapa?” Tanya Gabriel menyusul Sivia keluar ruangan.
“Sendiri.” Jawab Sivia.
“Ngapain pulang sendiri? Udah pulang sama aku ajaaaa!” Gabriel terus memaksa Sivia agar pulang bersamanya. Namun Sivia tetap tidak mau.
***
Sivia berada di depan rumah Gabriel malam itu. Ia berniat untuk meminta maaf atas segala yang telah diperbuatnya.
“Eh, Mba. Masuk masuk...” Bibik membukakan pintu untuk Sivia.
“Gabrielnya ada kan, Bik?” Tanya Sivia tersenyum ramah.
“Ooooh... Ada ada! Ayo masuk dulu, Mba.”
Sivia pun masuk ke dalam rumah Gabriel dan duduk di ruang tamu.
Rumah Gabriel sangat besar dan mewah. Bibik menaiki tangga yang melingkar untuk mrmanggil Gabriel.
TOK! TOK!
“Den.. Ada temannya, Den..” Bibik mengetok pintu kamar Gabriel. Tak lama kemudian Gabriel keluar dari kamarnya.
“Temenku? Siapa bik?” Tanya Gabriel sambil berjalan menuju ruang TV di lantai atas. Dari sana ia dapat melihat ke bawah.
“Sivia!” Gabriel tersenyum lebar melihat siapa yang datang. Gadis cantik dengan kulit putihnya. Gabriel segera menuruni tangga dan menghampiri Sivia.
“Vi. Tumben kesini! Ada apa nih? Kangen aku ya?” Kata Gabriel dengan pedenya.
“Eh, ng... Aku kesini cuma mau minta maaf kok.. Maaf ya yang masalah dua hari yang lalu itu. Aku nggak bermaksud marah sama kamu kok. Tadinya aku mau minta maaf sama kamu kemaren. Tapi kamu ternyata pergi.. Aku juga minta maaf soal tadi. Aku gak seharusnya marah sama kamu. Itu kan hak kamu mau pergi kemana aja. Aku bukan siapa-siapa kamu.” Ucap Sivia lalu tersenyum.
“Aduuuh udah deh serius banget nanggepinnya. Aku nggak apa-apa kok. Harusnya aku yang minta maaf sama kamu. Aku udah buat kamu kayak gini. Kemaren juga aku makasih banget sama kamu, soalnya kalo nggak ada kamu aku nggak ngerti deh gimana nasib aku sekarang. Aku nyesel banget kemarin dateng ke tempat itu lagi..” Kata Gabriel.
“Ya udah deh. Aku cuma mau sampein maaf aku aja kok. Aku pulang dulu yaa..” Sivia tersenyum dan hampir balik badan.
“Eh tunggu dong! Gak enak banget masa kamu kesini cuma mau gitu doang? Kamu belom makan kan?” Gabriel menerka-nerka asal.
“Belom, makanya ini mau pulang..” Jawab Sivia.
“Udah makan disini aja ya? Bik Sum udah masak enak loh. Aku juga gak mau makan sendirian. Abis makan kamu anterin aku ya?” Pinta Gabriel.
“Anterin? Kemana?” Tanya Sivia.
“Udah pokoknya kamu ikut aja. Sekarang makan dulu ya?” Gabriel menarik tangan Sivia ke ruang makan. Karena ditarik, Siviapun terpaksa mengikuti permintaan Gabriel.
***
“Kita mau kemana?” Tanya Sivia setelah mereka selesai makan.
“Aku mau ngajak kamu liat Jakarta kalo malem..” Jawab Gabriel.
“Kenapa kamu nggak sendiri aja?”
“Gak mau. Aku mau ditemenin. Nggak asik banget kalo Cuma sendirian.”
“Kita naik apa?” Tanya Sivia lagi.
“Jalan kaki ya? Pulangnya naik taksi... Hehehe..”
“Hmm... Ya udah. Tapi ntar kamu anter aku pulang ya? Harus selamat loh!” Ancam Sivia.
“Siap tuan putri... Hahahaha..”
***
“Bagus banget ya, Yel! Jakarta kalo malem.. Bertahun-tahun aku tinggal disini, aku tetep ngagumin Jakarta..” Kata Sivia begitu mereka sampai di bunderan HI.
“Kenapa?” Tanya Gabriel penuh selidik.
“Jakarta itu ibu kota. Banyak banget orang yang mau kerja disini. Kota ini seolah-olah jadi kota mimpi. Aku kagum sama Jakarta karena kalo siang, Jakarta keliatan sibuk banget! Kendaraan, orang jualan, pengamen, pengemis, pejalan kaki, gedung-gedung tinggi... Semua campur jadi satu. Kalo pas malem... Jakarta juga tetep keliatan sibuk banget... Tapi lebih tenang. Lampu dimana-mana nyala. Indah banget hahaha...” Sivia menerawang.
Gabriel menatap kagum cewek di sebelahnya. Pikirannya panjang dan luas sekali. Belum pernah ia menemukan gadis macam Sivia.
“Besok kamu mau anter aku lagi kan?” Tanya Gabriel tiba-tiba.
“LAGI? Kemana lagi, Yel?” Sivia tersentak kaget ketika Gabriel meminta untuk ditemani lagi besok.
“Besok kan hari Minggu.. Pagi-pagi aku pengen naik busway. Keliling Jakarta. Malem aku pengen ke pasar malam. Aku belom pernah naik busway, apalagi ke pasar malam. Ke pasar biasa aja aku belom pernah.” Terang Gabriel.
“Kamu belom pernah naik busway? Kamu belom pernah ke pasar? Yang bener aja! Kamu tuh udah 17 tahun hidup! Masa belom pernah?” Sivia terkejut bukan main.
“Iya, Vi. Aku belom pernah naik busway, belom pernah ke Pasar. Dari kecil aku mainnya ke mal, dan kamu tau sendiri waktu udah gede, aku mainnya kemana kalo malem. Aku udah dibiasain sama mama papa aku dari kecil, Vi. Makanya dulu aku manja banget, soalnya apa yang aku minta pasti diturutin..” Kata Gabriel.
“Hmm... Kalo dari kecil aku kayak kamu... Sekarang aku mungkin gak yaaa gak pernah naik busway atau gak pernah ke pasar? Aku sih dari kecil ngikut Bik Minah ke Pasar. Aku malah ngerasa Bik Minah itu ibu aku. Terus waktu SMP aku juga suka naik busway pulang-pergi kalo lagi gak cukup uang untuk naik taksi..” Sivia mengakhiri ceritanya dengan sebuah cengiran lebar.
“Kamu tuh ada-ada aja sih, Vi. Hahaha...” Gabriel mengacak rambut Sivia. “Pokoknya besok anterin aku! Ok?”
Sivia akhirnya mengangguk sambil tersenyum. Membuat hati Gabriel berdesir untuk yang kesekian kalinya.
***
Ting Tong!
Bel rumah Sivia berbunyi pada Minggu pagi itu. Bik Minah dengan sangat tergesa-gesa membuka pintu.
“Permisi, Bik.” Gabriel tersenyum pada Bik Minah.
“Eh, iya. Cari siapa toh mas?” Tanya Bik Minah bingung sekaligus takjub dengan makhluk tampan di hadapannya ini.
”Mau cari Sivia. Sivia nya ada?”
“Oh Non Sivia ada kok, Mas. Mari mari masuk..” Bik Minah mempersilakan Gabriel masuk dan duduk di ruang tamu. “Sebentar ya, Mas. Saya panggilkan dulu Non Sivianya..”
Gabriel mengangguk dan tersenyum.
Bik Minah segera naik ke lantai atas.
“Non... Non Sivia... Ada temannya non..” Bik Minah mengetuk pintu kamar Sivia.
“Iya, Bik. Aku ke bawah..” Sahut Sivia dari dalam kamar.
Beberapa menit kemudian, Sivia turun ke bawah.
“Eh, udah lama kamu?” Tanya Sivia.
“Baru aja kok..” Jawab Gabriel.
“Oh.. Ya udah. Mau berangkat sekarang?”
Gabriel mengangguk.
“Bik! Aku pergi dulu yaaa!” Sivia berseru.
“Iya, Non. Non udah minum obat?” Tanya Bik Minah.
“Iya.”Jawab Sivia. Gabriel menatap Sivia bingung. Mereka berdua pun keluar dari rumah Sivia.
“Vi, Kamu sakit?” Tanya Gabriel.
“Sakit? Ngga hahaha..” Sivia tertawa.
“Terus tadi bibik kamu bilang, Minum obat apa?”
“Oh.. Itu... Nggak kok Cuma vitamin gitu..” Jawab Sivia. “Kita jalan lagi?”
“Iyaaa..” Jawab Gabriel.

BERSAMBUNG

Hey kamu-kamu semua jangan lupa leave commentnyaaaa hahahaha maaf ya kalo ada yang gak puas sama cerbungnya :s kan udah dibilang ini cerbung gatotku -_- Hehe ok keep comment on blogwalking,twitter,FB,dll. ;D

XOXO,

Valisha Nabila :)

0 comments: