THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Thursday, April 21, 2011

Love Risk (Part 2)

“Kali ini gak ada pake kayak kemaren lagi!” Kata Rio pada istirahat kedua hari itu.
“Kenapa? Takut kalah ya lo?” Shilla tertawa meremehkan. Dagunya diangkat tinggi-tinggi.
“Enak aja! Gue pasti menang! Tapi kan ya kalo ya KALO seandainya lo lagi hoki lagi hari ini masa gue harus nurutin kemauan lo lagi sih? Iuuuh kemaren udah bangkrut gue!” Rio melengos.
“Halah gue tau lo takut kalah. CE-MEN!” Shilla tambah puas melihat nyali Rio yang mulai ciut.
“Udah lah sekarang kayak biasa aja. Gocengan aja. Gue gak punya uang tau!” Rio menempeleng kepala Shilla.
“Oke oke!” Shilla akhirnya menyerah.
“Siap ya... Satu.... Dua.... TIGA!” Alvin membunyikan peluitnya dengan tangannya.
Dan seperti biasa. Rio mempertahankan pertahanannya dengan tenang dilawan Shilla yang terus mendorong tangannya dengan sekuat tenaga.
“Gil....a lo! Kuli banget sih?!!” Shilla sekuat tenaga melontarkan kalimat andalannya.
“Apaan sih lo? Udah terima kekalahan aja yaaaa..” Rio mulai mendorong tangan Shilla. Dan....
BRAK!
Shilla berhasil ditumbangkan!!!!
“Ya dan pemenang kita hari ini adalah....... MARIO STEVANO!!!” Alvin berseru.
Seluruh pendukung Rio histeris.
Rio mengeluarkan senyum mautnya.
“IIIHHHH BETE BETE!” Shilla menggerutu kesal.
“Eh gue berubah pikiran. Gimana kalo perjanjian kemaren tetep berlaku?” Rio tersenyum licik pada Shilla.
“Apaan sih?!! GAK ADA YA!! Curang banget lo!!!” Shilla protes diikuti seluruh pendukung Shilla yang lainnya.
“Curang? Perasaan nggak deh yaaa...” Rio menaik turunkan alisnya. “Gimana kalo lo...”
“KUNYUUUUUUUUUUUUUKKK!!!!!!!!!!!” Shilla berteriak histeris bersiap mencubit lengan Rio yang lari terbirit-birit.
***
Huh.
Shilla melengos ketika bel pulang berbunyi.
Suasana sepi rumahnya itu sudah menunggu. Dalam hati ia merutuki kenapa ia tidak masuk asrama saja sekalian?
Mood Shilla yang memang sudah jelek semenjak kekalahannya hari itu bertambah jelek. Sehingga tanpa sadar murutnya tambah mengerucut.
“Udah kali, Bek. Masih ada besok. Semoga aja sih lo menang besok yaaa..” Rio menempeleng kepala Shilla yang sedang membereskan alat tulisnya.
“Lo apaan sih daritadi nempeleng gue mulu? Lo kira pala gua bola basket?!!” Shilla merengut kesal.
“Wetsah ampun kaka.” Rio lari terbirit meninggalkan Shilla yang sudah mengambil ancang-ancang.
“Shill! Ayo jadi anterin gue beli tas gak?” Sivia menjawil lengan Shilla yang duduk di depannya.
“Eh iya! Gue sampe lupa! Ayo ayo!” Shilla dengan semangat 45 menarik tangan Sivia keluar dari kelas.
“By the way, lo udah bilang nyokap lo kalo mau pergi?” Tanya Shilla saat mereka sampai di mobil Shilla.
“Udah kok, Shill.” Sivia tersenyum. Merekapun masuk ke dalam mobil Shilla.
Shilla diam seperti biasanya.
“Mau kemana iki, non?” Tanya supir Shilla.
Shilla menoleh pada Sivia. Memberi isyarat untuk memberitahu supirnya kemana mereka akan berkunjung.
“Senayan City ya, Pak.”
Supir Shilla mengangguk.
***
Selama perjalanan Shilla tidak berusaha untuk mengajak Sivia berbicara. Malah ia asyik mendengarkan iPod nya.
Sivia yang sudah bersahabat dengan Shila semenjak SMP tentu tidak heran. Begitulah kelakuan Shilla jika di luar sekolah.
“Shill...” Sivia memecah keheningan itu. Shilla menoleh pada Sivia dengan earphone yang masih tercantol di telinganya.
“Lo kok jadi kayak Rio sih ngacangin orang gara-gara dengerin iPod?” Sivia tersenyum geli. Shilla langsung melepas earphonenya dan terdiam.
“Lo... Suka sama Rio gak, Shill?” Tanya Sivia berlagak seperti orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa.
Shilla mendelik tajam pada Sivia.
“GAK.” Jawab Shilla. Namun hatinya seakan memaksanya untuk berkata jujur.
‘Jujur? Jujur buat apa? Emang gue suka sama Rio? Ih amit-amit jabang baby jangan sampe deh.’ Batin Shilla. Shilla sendiri tidak mengerti apa yang sedang hatinya lakukan itu.
***
“Menurut lo ya, Shill. Lucuan yang ini atau yang ini?” Sivia memegang tas berwarna putih di tangan kanannya dan tas berwarna soft pink di tangan kirinya.
“Yang itu.” Shilla menengadahkan dagunya pad sebuah tas ransel berwarna hitam.
“Iiiih Shillaaaa! Lo tuh cewek atau cowok sih?” Sivia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Shilla hanya tertawa geli.
“Vi, Gue toilet dulu ya? Kebelet bangeeet!” Kata Shilla. Sivia mengangguk.
“Jangan lama-lama lho, Shill! Hati-hati ketemu Rio! Hahaha...” Sivia iseng. Shilla beranjak dari toko itu setelah sebelumnya mendelik ke arah Sivia yang sedang cengengesan.
Shilla mulai mendengarkan iPodnya sambil berjalan menuju toilet.
BRUK!!
Seseorang tak sengaja menubruk Shilla.
“Adoooh ati-ati dong jalan pake kaki jangan pake pala!” Gerutu Shilla yang hampir jatuh.
“Wetttsss bebek my sistah!” Orang itu malah menutupi wajah Shilla dengan tangannya. Shilla megap-megap kehabisan oksigen.
“SINTING LO YA!!” Kata Shilla ketika orang itu –Rio melepaskan tangan dari wajahnya.
“Ganaaasss ngeri kakaaaa~” Rio melepas earphonenya. Begitupun Shilla.
“Gak liat apa orang lagi buru-buru? Gue itu kebelet pipis! Lo ngapain sih disini? Ngikutin gue ya?” Shilla sewot sendiri.
“Enak aja! Pede amat sih lo! Orang gue lagi refreshing!”
“TERUS? Emang gue peduli? Ih sorry aja ya!” Shilla langsung melangkah melanjutkan perjalanannya ke toilet.
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Shilla.
“Rio? Lo beneran ada disini? Hahaha kocak deh lo.”
Shilla langsung menoleh ke belakang sekilas lalu mulai melangkah lagi.
“Lah? Kenapa?” Tanya Rio pada orang itu yang ternyata adalah Sivia.
“Nggak. Tadi gue isengin Shilla ati-ati nanti ketemu sama lo. Eh ternyata beneran ada lo disini hahahaha...” Sivia tertawa puas.
“Ya elah hahaha...” Rio ikut tertawa.
Dalam hati, Shilla merasa hawa di mal itu semakin panas.
‘Gila nih mal suhu AC nya dinaikin ya? Panas amat!’ Shilla mengipas-ngipas dirinya sendiri karena merasa kegerahan walau tidak tampak satu tetespun keringat yang meluncur keluar dari tubuhnya.
***
Sivia Azizah: Shill, gw udh d parkiran. Lama bgt sh lo! Pipis apa ngapain? -_-
Shilla mengerucutkan bibirnya ketika membaca bbm dari Sivia. Ia pun segera membalasnya.
Ashilla Zahrantiara: Gw otw ksana. Td beli minum dulu. Haus tau!

Shilla segera memasukkan HP nya kembali ke dalam saku.
Saat ia berbalik badan menuju escalator, hampir saja ia menabrak seseorang lagi. Dan ternyata orang yang sama. Shilla tidak menanggapi apa-apa. Hanya melengos lalu pergi.
***
Shilla duduk sendiri lagi. Di tempat yang seperti biasa. Ia benar-benar sangat butuh ketenangan. Ah. Entahlah. Shilla juga tidak mengerti kenapa ia merasa begitu kesepian kala malam datang.
‘Ma... Pa... Shilla kangen... Mama sama Papa dimana? Masih inget sama Shilla kan? Mama sama Papa kapan pulang?’ Shilla menatap bulan purnama di atasnya. Setetes airmata siap meluncur dari matanya namun segera dihapusnya.
Namun kesepian itu terus menggerogoti jiwanya. Membuatnya bertambah haus akan kasih sayang. Ia butuh kasih sayang! Ia ingin seperti Sivia, Ify, atau teman-teman lainnya yang berlimpahan kasih sayang orangtua mereka.
Kali ini ia tidak dapat menahan tangisnya. Pecah. Perlahan setetes airmata turun lalu disusul oleh tetesan yang lainnya.
“Eh geseran dikit bisa kali. Lo tuh ngehalangin tau gak?” Seru seseorang dari belakang. Tanpa menoleh pun kali ini Shilla tau persis siapa orang itu. Namun Shilla tidak menanggapinya. Sumpah, ia sangat sedang butuh ketenangan. Perlahan Shilla menghapus airmatanya. Namun, setiap Shilla menghapus setetes airmatanya, setetes airmata lainnya akan terus bermunculan tanpa diminta.
Sesaat kemudian terdengar suara camera.
Klik! Klik! Klik!
Berkali-kali.
Rio melihat hasil jepretan bulan purnamanya dengan senyum lebar. Namun ia agak kecewa ketika Shilla sama sekali tidak menanggapi ocehannya.
Rio sama sekali tidak berminat datang ke tempat ini hanya untuk melakukan ‘photo session’. Ia hanya mencari alasan agar bisa datang ke tempat itu tanpa harus dicurigai gadis yang sedang duduk membelakanginya itu. Gah, Mana peduli Rio soal foto-memfoto yang baginya sama sekali tidak mengasyikkan itu?
Namun Rio mulai tersentak saat mendengar suara pelan. Lebih mirip isakan. Namun seperti bisikan. Ragu, Rio menghampiri Shilla.
“Bek?” Rio duduk di sebelah Shilla.
Shilla memalingkan wajahnya. Tidak berusaha untuk menghapus sisa-sisa airmatanya. Tahu bahwa usahanya akan sia-sia. Ia sudah tertangkap basah.
“Lo... kenapa?” Tanya Rio ragu.
Shilla terdiam dan terus membiarkan airmatanya jatuh.
Rio menatap Shilla yang kini memandang ke depan dengan tatapan kosong dan penuh luka.
Tanpa perintah apapun, Rio menarik tubuh Shilla ke dalam pelukannya. Rio merengkuhnya.
Shilla tersentak namun membiarkan tubuhnya berada dalam kehangatan tubuh Rio.
“Gue nggak apa-apa...” Shilla menghapus airmatanya. “Gue Cuma kangen sama bokap nyokap gue.”
Setelah tuntas menghapus airmatanya yang –ajaibnya- airmata lainnya tidak keluar lagi dengan sendirinya, Shilla segera berdiri.
“Lupain aja yang tadi. Sorry gue udah cengeng. Gue emang payah. Lupain aja.” Shilla segera berlari menjauh dari Rio yang terbengong-bengong.
‘Are you okay, Shill? Don’t make me worrying about you.’ Batin Rio pada dirinya sendiri. Suatu saat nanti, Rio harap ia dapat berkata langsung seperti ini pada gadis yang baru saja berlari meninggalkannya.
Rio meneguk ludah. Apa sebenarnya yang tengah terjadi pada gadis itu? Sumpah. Baru kali ini Rio melihat gadis itu mengeluarkan airmatanya. Satu yang bisa Rio tangkap dan mengerti. Gadis itu rindu. Rindu pada mama dan papanya.
***
Rio gatal ingin mengirim sebuah pesan singkat pada gadis itu. Namun ia menahan diri untuk tidak melakukannya. Rio terus memandangi foto yang dipasang gadis itu sebagai Display Picture Blackberry Messenger nya.





Rio pernah tidak sengaja menguping pembicaraan Shilla dan Sivia kemarin-kemarin. Yang Rio tahu sih, orang yang berada di foto itu bersama Shilla namanya Kak Gita, sepupu Sivia yang sekaligus penyanyi. Ya. Dan Rio tahu siapa orang itu. Gita Gutawa.
Ah, tapi bukan itu yang Rio sedang pikirkan.
Senyum gadis itu. Senyum Shilla.
Tadi. Pertama kali Rio melihatnya meneteskan airmata dengan pandangan terluka yang amat dalam. Rio yang terbiasa melihat senyum Shilla tentu saja merasa gelisah saat mendapati gadis itu sedang menangis sendirian. Seolah kesepian.
Rio menaruh handphone di meja sebelah tempat tidurnya kemudian berjalan ke jendela kamarnya. Rio membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Teringat lagi perkataan Shilla tadi.
“Gue Cuma kangen sama bokap nyokap gue.”
Hah! Rio menghela napas. Bahkan udara malam yang biasanya terasa sejuk saja menjadi penuh sesak ketika Rio mengingat kata-kata gadis itu.
Ah! Kali ini Rio tidak dapat membohongi perasaannya lagi. Ia khawatir pada gadis itu. Karena..... Ia sayang Shilla.
***
Rio berjalan sewajar mungkin ke kelasnya. Tetap dengan wajah yang tenang dengan earphone terpasang di telinganya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.
Rio masuk ke kelas pada saat Shilla sedang tertawa mendengar cerita Sivia yang sedang merengut.
Ah gadis itu. Cepat sekali merubah moodnya.
“Iiih lo kok jahat sih, Shill!” Sivia menepuk lengan Shilla kecil.
“Abis kocak banget! Dibilang gendutan sama Kak Gita aja muka lo udah berlipet-lipet gitu hahahah... Gapapa kali, Vi, kalo lo gendut! Kan lucu, kayak badut! Wakakakakk...” Shilla melepas tawanya lagi. Ia tahu Rio sudah datang dan berusaha mengabaikannya. Ia masih malu dengan kejadian semalam. Tetapi ia sadar dan akan berusaha bersikap sewajar mungkin dan berusaha berpikir bahwa tak pernah ada kejadian semalam itu.
Rio-Memeluk-Shilla. Shilla-Dipeluk-Rio. HAH?!! Apa kata dunia nanti?
Tiba-tiba handphone Shilla bergetar. Shilla langsung terdiam dan membuka SMS itu. Ternyata, tanpa disadari, Rio, yang duduk di sebelahnya pun melakukan hal yang sama.

Angelica Pieters: Guys, malem ini dateng ya ke my birthday party! At Pacific Paragoon Hotel, 7 pm. Dresscode nya yang cewek pake dress dan yang cowok pake kemeja. I’m waiting for you. See you soon!

Shilla melengos. Malas sekali ia datang ke pesta ulangtahun seperti itu. Walaupun, Angel, Sepupunya lah yang berulang tahun pada hari itu. Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, Shilla tidak akan pernah bisa menolak. Karena sepupunya yang kelewat baik hati itu akan selalu mengiriminya kostum untuk dipakai ke pesta ulang tahun Angel. Shilla yakin pulang sekolah nanti ia akan menerima paket berisi dress yang –menurutnya- cewek banget dan gak banget.
“Kenapa, Shill?” Tanya Sivia.
“Nggak apa-apa hahaha...” Jawab Shilla tepat pada saat Pak Duta memasuki kelas XI.III.
***
Anak-anak langsung merubungi meja Shilla dan Rio saat bel istirahat berdering dan Pak Duta keluar kelas.
“Masih berani ya, lo lawan gue?” Rio menatap Shilla ‘sewajar’ mungkin.
“Halaaahhh lo mah Cuma setitik kuku gue! Secuil!” Shilla tersenyum sinis. Walau hatinya berdebar hebat. Takut-takut Rio membongkar seluruh kejadian semalam.
“Oke fine! Liat aja!” Rio sudah bersiap. Shilla pun mengikutinya.
“Siap ya...” Alvin mulai memberi aba-aba. “1... 2... 3...”
Rio dan Shilla pun langsung mengeluarkan energi mereka sebesar-besarnya.
“Pake perjanjian gak, nih?” Rio tersenyum meremehkan.
“GAK ADA YA! Boleh aja sebenernya kalo lo mau bangkrut hari ini juga!” Shilla mulai menantang.
“Eits tidak bisaaaa. Mau pake perjanjian gak nih jadinya? Feeling gue mengatakan gue bakalan menang nih kayaknya.”
“KALO FEELING GUE BILANG GUE BAKAL JADI THE WINNER DAN LO JADI LOSER!” Shilla terus mendorong tangan Rio sekuat tenaga. “Udah gak usah sok jago lo pake nantangin gue segala. Kalo kalah gue bakal bantai lo abis loh!”
Dan....
BRUKK!!!!!!
Tangan Rio berhasil ditumbangkan oleh Shilla.
“Dan pemenangnya adalaaaah.... ASHILLA ZAHRANTIARA!” Alvin bersorak pada seluruh murid-murid.
Shilla tersenyum puas. Ia bangga kali ini ia menang tanpa curang sedikitpun.
“Gimana lo? Masih mau nantangin gue lagi? Hahaha...” Shilla tertawa puas. “Ternyata, tenaga kunyuk sekalipun masih bisa dikalahkan sama tenaga bebek.”
“Iya lah! Bebeknya kayak elo!” Celetuk Rio.
“Udah terima aja kekalahan dengan lapang dada! Hahaha... Yuk, Vi.” Shilla menarik tangan Sivia menuju kantin.
Rio mengelus dadanya perlahan.
‘Untung aja hati, jantung, dan otak gue bisa diajak bekerja sama.’ Batin Rio. Kemudian ia tersenyum kecil.
“Wey, bro! Senyam-senyum sendiri lo! Kenapa? Lo suka yaaa sama Shillaaaa?” Alvin menaik-turunkan alisnya.
“Hiiiy amit-amit jabang baby suka sama bebek!” Rio ngeloyor pergi begitu saja.
***
“Non. Ini tadi non Angelica nitip ini ke saya. Katanya suruh dipake sama non nanti malam.” Ucap salah seorang pelayan ketika Shilla sampai di rumah. Shilla mengangguk lalu mengambil bungkusan itu. Ia mengeluarkan isinya. Dress berwarna soft pink, jepit dengan warna senada dan sepatu berwarna senada namun lebih muda.
‘Ergh kenapa mesti serba pink siiih?’ Gerutu Shilla dalam hati. Ia pun bergegas ke kamarnya. ‘Hari ini gak bisa ke bukit deh. Eh apa gue gak usah dateng ke pestanya angel aja ya?’ Shilla mulai berpikir. Seakan ada setan dan malaikat dalam hatinya yang sedang berdebat. ‘Udah, Shill. Gak usah dateng. Lo ke bukit aja. Lo kan butuh ketenangan, Shill.’ Si setan meluncurkan aksinya. Kemudian si malaikat cepat berkomentar. ‘Shilla, kamu harus dateng ke pesta itu. Gimanapun juga, Angel itu sepupu kamu. Lagian gak enak kan kalo udah dibeliin baju masa kamu gak dateng?’. Lagi-lagi si setan gak mau kalah. ‘Bisa dikembaliin kali, Shill, bajunya! Bilang aja lo ada tugas kelompok jadi gak bisa dateng!’
Shilla mengacak rambutnya sendiri. Bingung keputusan mana yang harus diambilnya. Setelah beberapa lama, Shilla pun memutuskan untuk datang ke pesta ulangtahun Angel.


= TO BE CONTINUED =

halo................ apa saya ngepost kecepetan? -_- apa kependekan atau kepanjangan? Jangan tanyakan saya ya tanyakan pada penulisnya (?). Tanya langsung di blogwalking boleh, twitter, FB,dll. Ditunggu :D

0 comments: