THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Friday, April 8, 2011

Just The Way You Are (Part 3A)

“Gini ya, Vi, rasanya naik Bus Way? Sempit banget sih! Kok lo betah naik kayak gini?” Tanya Gabriel saat mereka berada di dalam Bus Way.
“Hahaha aku kan udah biasa, Yel.. Mungkin kamu belum biasa..”Jawab Sivia.
Mereka pun berkeliling Jakarta dengan menggunakan Bus Way lalu turun saat sampai di tempat semula mereka menaiki Bus Way itu.
***
“Yel, aku selalu suka tempat ini. Tempatnya tenang dan damai banget.” Ujar Sivia ketika mereka berada di sebuah bukit. Pulang dari Pasar Malam tadi, Gabriel tidak ingin langsung pulang. Jadi, Sivia mengajak ke tempat favoritnya ini.
“Iya... Tapi kan sepi! Kamu nggak takut apa?” Tanya Gabriel.
“Hahaha... Ngapain mesti takut sih? Aku yakin tuhan ngelindungin aku..” Sivia tertawa.
“Vi, Kamu kok..... pucet?” Gabriel melihat bibir Sivia yang memutih.
“Pucet? Ah nggak kali.. Perasaan kamu doang paling.” Sivia tersenyum.
‘Ya tuhan, buat aku bertahan. Jangan sampai aku pingsan disini. Aku gak mau buat Gabriel cemas..’
Meskipun begitu, Gabriel tetap khawatir akan kondisi gadis disampingnya ini.
***
Tok Tok Tok!
“Non! Temannya jemput non! Non!” Bik Minah mengetuk pintu kamar Sivia.
“Temen aku?” Tanya Sivia saat membuka pintu kamarnya.
“Iya, Non. Temen non yang kemarin..” Jelas Bik Minah.
“Oh... Suruh tunggu aja deh bik..” Sivia kembali ke kamarnya dan mematut dirinya di depan cermin. Setelah merasa rapi, ia menemui Gabriel di bawah.
“Iyel? Kamu ngapain?”
“Ngapain? Jemput kamu lah..”
“Jemput? Aku perasaan gak minta deh... Sebelumnya kamu juga gak bilang!” Sivia menatap Gabriel heran.
“Ya nggak apa-apa kan kalo aku jemput kamu? Gak ada yang marah kan? Ehm... Maksudnya, kamu gak punya pacar kan?” Gabriel meyakinkan.
“Pacar? Hahahah nggak kok belum...” Sivia tersenyum lagi.
“Ya udah kita berangkat aja yuk.”
***
“Ras, kita gak bisa gini terus. Makin lama makin parah tau gak tu anak!” Pricila menatap Saras tajam.
“Pris! Gue mesti gimana lagi sih? Ayo lah... Lo kan biasanya ada otak kalo kayak ginian.” Saras berpikir keras.
“Shill! Udah dulu dong teleponannya! Saras lagi butuh kita. Cakka gak bakal kemana-mana kok!” Pricila menatap Shilla kesal.
“Hmm... Ya udah dulu ya sayaaang I miss you! Muah!” Shilla menekan tombol untuk memutuskan hubungan telepon.
“Gini deh. Ini rencana terakhir. Dan gue yakin, kali ini rencana kita bakal berjalan lancar dan sukses. Hmm... Sini-sini...” Pricilla menyuruh kedua temannya mendekat.
***
“Iya, Yel. Aku harus fotokopi ini dulu di seberang sekolah.” Sivia menunjukkan selembar kertas pengumuman yang berada di tangannya.
“Ya udah. Kalo selesai fotokopi, tungguin aku ya. Aku masih harus latihan basket.”
“Oke deh!”
Sivia pun berjalan menjauhi Gabriel.
Sejenak Gabriel merasa perasaannya tidak enak. Entah apa yang mendorongnya akhirnya ia berjalan mengikuti Sivia.
***
Sivia menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah merasa jalanan sudah cukup sepi, ia menyeberang.
Sebuah sedan berwarna hitam melesat dengan cepatnya. Belum sempat Sivia menghindar, mobil itu menabrak Sivia.
“VIA!!!!!!!!!!!!!” Gabriel berteriak histeris.
Mobil sedan itu terus melaju. Sivia masih setengah sadar ketika orang-orang mulai mengerubunginya dan suara Gabriel menyapanya panik...
***
“ERGH!!!! Saras emang keterlaluan!!! Apa sih maunya dia?!!” Gabriel terduduk di sebuah kursi panjang di lorong Rumah Sakit. Ia mengacak rambutnya sendiri. Dalam hati ia sangat cemas dengan keadaan Sivia.
Krieettt..
Pintu ruang UGD dibuka. Seorang dokter yang menangani Sivia keluar dari ruangan itu. Gabriel langsung menghampiri dokter itu.
“Dok, gimana keadaan Sivia?” Tanya Gabriel panik.
“Maaf, dik. Apa adik ini keluarganya Sivia?” Tanya dokter itu.
“Hmm... Bukan, dok. Saya... Saya temen sekolahnya.” Jawab Gabriel.
“Apa kamu sudah menghubungi orangtua Sivia?” Tanya dokter itu lagi. Gabriel menggeleng.
“Mama sama papa nya Sivia lagi ke luar negri, Dok.” Jawab Gabriel teringat cerita Sivia tadi siang, sebelum insiden itu terjadi.
“Apa kamu sudah menghubungi Bik Minah?”
Lagi-lagi Gabriel menggeleng.
“Oh.. Baiklah kalau begitu, kamu ikut saya ke ruangan saya ya.” Dokter itu melangkah mendahului Gabriel.
***
“Jadi........ Sivia punya penyakit liver, Dok?!!” Gabriel terkejut bukan main. Ternyata gadis yang dikaguminya itu...
Dokter mengangguk-angguk.
“Kebetulan, Sivia adalah pasien saya. Setiap bulan dia control disini. Memang saya tidak pernah melihat kedua orangtuanya. Saya lebih sering melihat Bik Minah yang mengantar Sivia.” Dokter itu bercerita. “Sivia mengidap penyakit ini. Tepatnya semenjak umurnya 5 tahun. Saat itulah dia datang pada saya.”
“Lalu... Gimana keadaan Sivia sekarang dok? Apa dia baik-baik aja? Dia gak apa-apa kan dok?” Gabriel menatap dokter itu penuh harap.
Dokter menggeleng-gelengkan kepalanya putus asa.
“Untuk sementara waktu, Sivia terpaksa menginap di Rumah Sakit ini, Dik. Karena dia...” Dokter sengaja menggantung kalimatnya. Takut-takut Gabriel tidak dapat menerima kenyataan ini. “Dia koma.”
Gabriel melongo tidak percaya. Semua terasa seperti mimpi.
“Apa? Koma, Dok? Tapi.... Tapi berapa lama?!!” Gabriel mulai putus asa.
“Ya. Koma. Tidak ada yang tahu berapa lama. Bisa dalam hitungan jam... hari... minggu... bulan... atau bahkan tahun.” Jelas dokter.
Gabriel menggeleng-geleng tak percaya. Ia memijit-mijit pelipisnya yang terasa pusing. Tidak menyangka akhirnya akan seperti ini.
***
Gabriel terus memandangi tubuh Sivia yang terbaring tak bergerak. Menelusuri setiap lekukan wajahnya. Membuat Gabriel serasa terpukul. Senyumnya yang selalu membuat hati Gabriel berdesir, kini tidak dapat dinikmati Gabriel lagi.
“Vi... Bangun dong. Aku nungguin kamu terus nih sampai kamu sadar..” Gabriel mengelus lembut tangan Sivia.
Drrrttt... Drrttt...
Gabriel meraih ponselnya lemas.

From: Rio
Ieeeellll lo kemana ajaaaaaa td knp ga latihan? Anak2 pada nyariin lo!

Gabriel segera membalas pesan singkat itu.

To: Rio
Yo, maaf gw td gbs dtg latihan. Ada sesuatu. Bsk ksini ya, RS permata hati

Gabriel menghela nafas. Pandangannya kosong.
“Vi... Aku bakal nungguin kamu sampe kamu sadar. Berapa lamapun kamu bakal sadar.”
***
Gabriel mengucek matanya. Ia tersenyum pada suster yang baru saja membuka tirai gorden kamar Sivia.
“Pagi, sus.”
“Pagi, dik.” Suster itu balas tersenyum lalu keluar dari kamar Sivia setelah permisi pada Gabriel.
Gabriel menatap tubuh gadis itu lagi.
Hari kedua.
“Vi, ini hari kedua. Aku berharap banget kamu sadar hari ini, Vi.” Gabriel mengusap rambut Sivia yang panjang.
Seharusnya, hari ini Gabriel berangkat ke sekolah. Tetapi ia buru-buru berpesan pada Rio supaya Rio bilang pada Bu Okky bahwa Gabriel izin.

To: Rio
Yo tlg blg bu okky gw g msk hr ini. Jgn lp plg sklh ksni. Gw mw pnjem ctetan.

***
Gabriel terus menunggu. Tak henti-hentinya ia berdoa agar Sivia cepat sadar.
Dalam hati Gabriel terus merutuki Saras. Ia benar-benar tak habis pikir bahwa mantan gadisnya itu dapat berbuat nekat seperti kemarin.
Gabriel menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Rasanya sumpek. Ia butuh udara segar, namun ada yang lebih penting. Ya, menjaga Sivia sampai gadis itu sadar.
Ia memandang pakaiannya. Masih menggunakan seragam sekolahnya yang kemarin.
Kemudian ponselnya berdering.
“Halo... Iya ma... Nggak kok... Ih nggak iel gak ke tempat itu lagi... Iel lagi nemenin temen iel di rumah sakit... Iya iel izin... Koma ma... Please dong maaa jangan over gitu, iel gak apa-apa kok... Oke... Ya, Bye...” Iel mengakhiri percakapan dengan mamanya lewat telepon itu.
***
Tok! Tok!
Gabriel membuka pintu kamar rawat Sivia, tahu siapa yang baru saja mengetuk pintu kamar itu.
“Siapa sih, yang sakit? Sampe lo bela-belain izin gitu?” Rio mengikuti langkah Gabriel yang lesu. Kemudian ia terkejut ketika mendapati Sivia terbaring lemah di kasur Rumah Sakit itu.
“Sivia?!!” Ify, kekasih Rio sekaligus teman sebangku Sivia terkejut juga melihat Sivia terbaring. “Iel kenapa lo ga bilang kalo yang sakit itu...”
“Hhh... Ceritanya panjang Fy, Yo..”
Kemudian Gabriel mulai bercerita dengan sangat detail tanpa ada yang kurang sesuatu apapun, begitupun tentang kekesalannya pada Saras.
“Sabar, iel... Ambil hikmahnya aja... Lo sayang sama Sivia kan?” Rio bertanya tepat pada sasaran.
Gabriel bungkam. Sesuatu yang tak pernah terpikir oleh otaknya. Ia-Sayang-Sivia.
“Oke oke. Lo belom makan dari kemaren kan? Kalo gitu kita makan dulu yuk di bawah ada kantin.” Rio menatap Gabriel yang sedang melamun.
“Nggak deh, Yo.” Gabriel menggeleng.
“Ayolah, yel. Sivia gak akan seneng kalo nanti pas dia sadar, lo malah sakit gara-gara lo gak mau makan karena jagain dia. Gue yakin, lo pasti laper kan?” Rio sedikit memohon.
Gabriel berpikir sejenak.
“Boleh minta tolong, Yo? Gue mau makan, tapi disini aja. Lo mau beliin buat gue? Ini uangnya...” Kata Gabriel sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas.
Rio mengangguk.
“Mau makan apa?” Tanya Ify.
“Apa aja.” Jawab Gabriel.
Rio mengangguk lagi. Akhirnya ia dan Ify keluar dari kamar rawat Sivia.
“Kamu liat kan, Vi? Mereka khawatir sama kamu. Apalagi aku...” Ucap Gabriel sambil mengelus rambut Sivia.
***
Tak lama setelah Rio dan Ify pulang, terdengar lagi suara ketukan pintu.
Tok! Tok!
Gabriel dengan malasnya membukakan pintu. Ia sedikit terkejut ketika didapatinya Cakka berdiri di depan pintu kamar rawat Sivia.
“Iel my brother! Kemana aja lo?” Tanya Cakka menepuk-nepuk pundak Gabriel.
“Ngapain lo disini? Tau darimana gue ada disini?” Gabriel bertanya balik.
“Halaaaah santai ajaaaa. Lo gak tau gue punya banyak mata bahahah... Eh gue denger-denger Sivia kecelakaan ya?”
Gabriel melengos. Tak tahukah temannya yang satu itu bahwa kekasihnya adalah salah satu komplotan Saras yang telah berhasil mencelakai Sivia?
“Hey bro! Daripada lo stress gini nungguin Sivia yang gak tau kapan bangunnya dan lo tersiksa karena lo butuh udara segar, kita clubbing aja yukkkk! Tempat biasa loooh!” Cakka berujar.
“Halah, Kka... Gue udah ga clubbing lagi. Gue udah berhenti.” Kata Gabriel.
“Ayo lah, Yel. Sekali lagi aja. Ini terakhir gue ngajakin lo deh janji. Yuk yuk!”
“Nggak, Kka... Gue udah gak mau pergi kesana lagi.”
“Please, Yel. Nih yaaa daripada lo berantakan gini kayak orang stress, mending lo ikut gue. Ayooo sekali ini aja, Yel.” Cakka tetap memaksa.
“Kka.. Kalo lo mau kesana, ya kesana aja. Gak usah ajak gue.” Gabriel menatap Cakka dingin.
“Ah gak asik lo!” Cakka pun pergi tanpa meninggalkan sepatah katapun.
Gabriel menghela nafas.
“Kamu liat, Vi! Aku udah berhasil nolak ajakan Cakka!” Gabriel tersenyum bangga.
***
Hari demi hari pun dilewati Gabriel dengan sangat sabar. Kadang dia pulang ke rumahnya sebentar untuk mengambil beberapa pakaiannya. Ia pun sudah mulai mau sekolah berkat bujukan Rio dan Ify. Hingga akhirnya, hari itu. Hari ketujuh.
Gabriel sedang membaca komik favoritnya di samping ranjang Sivia. Tangan kanannya memegang komiknya sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Sivia.
Hening.
Sejurus kemudian, tubuh yang sudah terbaring selama tujuh hari itu menggeliat kecil.
Dengan sigap Gabriel menutup komiknya dan menoleh ke arah Sivia. Matanya berbinar. Mulutnya setengah terbuka, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Gabriel menekan-nekan tombol bel yang ada di kamar Sivia. Bel itu memang disediakan untuk memanggil dokter/suster jika ada sesuatu.
Penantian itu tidak sia-sia. Penantian itu berakhir...
***
“Aku........” Sivia memegangi kepalanya yang terasa berat ketika dokter keluar dari kamarnya. “Aku dimana?”
“Sivia, udah kamu jangan banyak gerak dulu.” Gabriel menahan Sivia yang berniat untuk duduk.
“Iel? Aku dimana?” Tanya Sivia.
“Kamu di Rumah Sakit.” Jawab Gabriel tersenyum.
“Rumah sakit? Ngapain aku disini?”
“Udah kamu istirahat dulu. Nanti aku ceritain.”
“Sekarang aja, Yel.”
Gabriel pun menceritakan semuanya. Mulai dari kejadian Sivia yang ditabrak mobil Saras, Gabriel yang mengetahui penyakitnya, Sivia yang koma selama 7 hari, dan lain sebagainya.
“Jadi... Kamu udah tau penyakit aku?” Sivia menunduk.
Gabriel mengangguk.
“Buat apa kamu nyembunyiin itu semua dari aku, Vi?”
“Aku Cuma gak mau, orang-orang di sekitar aku khawatir sama aku.” Sivia menghela nafas.
“Bukan kayak gitu caranya, Vi. Secara gak langsung kamu udah ngebohongin aku.”
“Maafin aku, Yel.”
Gabriel mengangguk.
“Kamu jangan salahin Saras, ya? Ini kan Cuma kecelakaan..” Kata Sivia memandang pemuda tampan di sebelahnya.
“Gimana aku gak salahin dia, Vi? Ini bukan Cuma sekedar kecelakaan! Dia sengaja celakain kamu!” Gabriel melengos.
“Ya udah... Anggap aja ini Cuma kecelakaan.” Sivia tersenyum.
“Kamu tuh, Vi. Kamu itu terlalu baik.” Gabriel berkata sambil menatap Sivia lembut.
“Udah lah, Yel. Gak apa-apa. Eh gimana? Bik Minah gak cariin aku? Kamu bilang aku koma tujuh hari?”
“Bik Minah udah aku hubungin, Vi. Dia juga udah coba hubungin mama sama papa kamu. Tapi gak diangkat katanya.”
Sivia mengangguk wajar.
Gabriel menatap gadis itu nanar. Pandangan gadis itu seolah terluka.
“Mereka bakal khawatirin aku gak ya, Yel, kalo mereka tau keadaan aku kayak gini?” Sivia menerawang.
Gabriel mengangguk bersemangat.
“Pasti, Vi! Orangtua gak ada yang gak bakal khawatir sama anaknya.”
Sivia tersenyum.
“Makasih ya, Yel.” Ucap Sivia tulus.
“Untuk?” Gabriel menatapnya heran.
“Untuk semuanya.” Sivia tersenyum. “Kapan aku bisa pulang?”
“Besok.” Jawab Gabriel.
***
From: Sivia
Aku udh gpp. Jd aku sklh aj.

Gabriel menatap ponselnya bingung. Segera ia membalas pesan singkat itu.
To: Sivia
Ngga! Pokoknya km g blh sklh dulu!

Tak berapa lama kemudian, muncul balasan dari Sivia.

From: Sivia
Aku gpp. Pokoknya ak hrs sklh.

To: Sivia
Ok trsrh km. Tp ak yg jmput km. Tunggu 5 mnt lg y.

Gabriel segera membelokkan mobilnya ke arah rumah Sivia.
***
“Kamu tuh belum sembuh banget, Vi.” Kata Gabriel.
“Aku udah sembuh. Aku gak apa-apa. Kamu liat kan, aku sehat-sehat aja?”
“Duh, kamu tuh gak tau ya aku olahraga jantung tau. Aku khawatir sama kamu!” Kata-kata spontan itu melayang begitu saja dari mulut Gabriel.
Gabriel terkejut sendiri dengan ucapannya. Tapi sudah terlanjur, mau diapakan lagi? Keki juga sebenarnya. Tapi, ya sudahlah.
Sivia hanya tertawa kecil. Semburat merah itu mulai terlihat lagi di pipinya.
***
Gabriel menggandeng tangan Sivia memasuki sekolah mereka.
“OH MY GOD! Shill, Ras! Liat sini!” Pricilla heboh melihat adegan yang baru saja dilihatnya.
Shilla dan Saras segera menghampiri Pricilla dan sama-sama menyaksikan adegan itu.
Saras berdecak kesal.
“Sorry, sorry. Rencana kita gak berhasil lagi. Gue udah bener-bener kehabisan akal. Sorry ya gue gak bisa bantuin lo lagi, Ras.” Pricilla tersenyum tidak enak.
“Udah lah, Pris. Mungkin dia emang bukan buat gue.” Mendadak Saras merendahkan diri.
“Lo kok gitu, Ras? Ini gak bisa dibiarin lagi! Kita harus buat rencana baru lagi! Jangan mau kalah sama cewek murahan itu!” Shilla mengompori.
“Gue gak tau mesti ngapain lagi, Shill.” Saras menggeleng kecewa.
“Aduuuuh udah deh ikutin kata gue aja!” Shilla mulai berpikir keras. “Lo harus terang-terangan nunjukkin ke seluruh murid Taruna Bangsa kalo lo itu masih pacaran sama dia! Toh gossip putusnya Regina Saras dengan Gabriel Stevent belom kesebar kan?”
“Terus?” Saras mulai tertarik.
“Ya udah! Ntar kan orang-orang pada mikir kalo emang cewek itu yang kegatelan!” Shilla tersenyum puas.
“Boleh juga ide lo. Hahaha udah turutin apa kata Shilla aja, Yas!” Pricilla tersenyum lebar.

0 comments: